
"Kejadian itu membuat putri anda trauma, apalagi kebutaan yang di alaminya itu sangat berdampak buruk bagi mentalnya. Kalau tidak segera di bawa ke Psikiater besar kemungkinan putri anda akan depresi. " Raina tak sanggup untuk tak mengeluarkan air matanya. Kecelakaan itu sungguh membuat hidup putrinya hancur. Bukan hanya buta, mentalnya pun ikut terganggu.
"Putri saya masih waras Dok, putri saya tidak gila.. " Raina menampik itu semua, Dokter itupun tersenyum menenangkan.
"Selama ini, mungkin anda tidak tahu, kalau putri anda begitu tersiksa atas rasa bersalahnya. Selalu di bayangi kejadian itu setiap waktu. " Dokter itu memberi jeda. " Bu, Aninda masih muda, terlalu menyakitkan jika putri anda tidak segera di tangani. Kecelakaan itu sanggup merenggut semua kebahagiaannya. Penyakit mental yang di alami putri anda, mungkin masih standar, tapi jika di biarkan dan tidak segera di atasi, hidupnya akan menjadi kelam, dan mengalami keputus asaan. "
Tanpa di ketahui mereka, ternyata Aninda sudah ada di luar ruangan, ia mendengarnya. Tangisnya ia tahan agar tak keluar. Semua ini salahnya. Jika saja dirinya tidak egois, Genta masih di sampingnya, dan kecelakaan itu tidak mungkin terjadi.
Mimpi.
Ternyata... itu semua hanya mimpi. Aninda terbangun dari tidurnya, kepalanya tiba-tiba terasa pening. Entah kenapa setiap kali ia tidur, kejadian itu selalu menghantuinya. Masa lalunya yang begitu kelam sanggup mengoyak seluruh mentalnya.
Aninda mencoba menggerakkan tubuhnya, seperti ada sesuatu yang mengikat dirinya. Seketika matanya membola. Tubuhnya memang terikat dengan tali, dan Aninda merasakannya. Bau tak sedap menyeruak ke dalam indera penciumannya. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang-tulang.
"Sssshh, gue dimana... " Ujarnya bermonolog sendiri. Aninda benar-benar tidak tahu di mana ia sekarang. Namun tidak bisa di pungkiri jika dirinya begitu ketakutan.
"Udah bangun? " Sebuah suara yang begitu halus menyapa pendengarannya. Kedua telinganya ia pasang baik-baik guna mencari sebuah informasi melalui suara tersebut.
" Obatnya... lumayan bikin lo tidur seharian. Capek gue nunggu. "
Suara itu??
Aninda mencoba mendengarkan lagi, mengurungkan niatnya untuk bertanya terlebih dahulu pada si pemilik suara.
"Kenapa? Udah nemu jawabannya... Aninda Sakura? "
Aninda menelan ludah, tenggorokkannya tiba-tiba tercekat. Mau bertanya pun rasanya tidak kuat. Kenapa suara itu mirip sekali dengan Kira?
"L-lo siapa? " Aninda akhirnya berani bertanya dengan suara sedikit serak. Dua hari ini dirinya tidak minum sama sekali.
Terdengar suara tawa darinya, Aninda semakin waspada.
"Ayolah Aninda, come on... Seharusnya lo gak se-na'if itu buat gak tahu siapa gue. " Ujarnya dengan sedikit candaan. Aninda tahu, tapi tidak mungkin kan jika dia melakukan itu? Aninda semakin di buat dilema, perasaannya campur aduk menjadi satu. Kepalanya masih saja terasa pusing.
" Kira... " Suaranya terdengar pelan, namun masih terdengar. Cewek itu tertawa, kali ini tawanya lebih keras dan begitu sangat mengerikan.
"Iya, gue Kira. Gue sahabat lo satu-satunya... keknya sih. " Ujarnya bermonolog. " Ya gue sempet kagum sih, lo dengan mudahnya bisa nebak gue. Tapi.. gak papa lah itung-itung main tebak-tebakkan. "
Jadi.. dugaannya benar? Tapi kenapa? Kenapa harus Kira? Fikirannya masih kacau. Kira menoleh ke arah Aninda yang kini masih terikat tali di atas kursi, Kira tersenyum meremehkan.
"Kenapa lo diem? " Kira mendekat. Pandangannya kini tertuju pada kedua mata Aninda yang begitu kosong. " Kenapa lo diem dan gak nanya soal apa yang udah gue lakuin ke lo? " Sebuah pertanyaan beruntun terucap di bibirnya.
"Ke-kenapa? " Kira mengangkat sebelah alisnya. " Kenapa harus lo? KENAPA?!!!" Nafasnya tersengal-sengal, Aninda meluapkan seluruh kemarahannya. Hatinya sudah terlalu sakit, dan kali sakit itu bertambah lagi. Tangisnya kian menipis, hingga membuat dadanya terasa sesak.
Kira mengerjap, lalu kemudian tertawa keras hingga menyentuh perutnya yang terasa sakit. Aninda menghentikan tangisnya.
"Kenapa lo bilang? Lo pura-pura lupa apa emang gak tahu? " Sebuah pertanyaan skeptis terus saja menyapanya. Aninda pun juga tak dapat menjawab, akibat kejadian ini Aninda benar-benar di buat mati kutu. " Astaga Aninda! Lo bener-bener gak tahu? " Aninda menggeleng dalam diamnya.
Kira berjalan menuju sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah peralatan tajam. Kira mengambil sebuah pisau lipat kecil. Kira membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah Aninda berada.
Tubuh Aninda menegang kala sebuah suara gesekan terdengar memecah keheningan, ia menelan ludah gugup. Tubuhnya ia goyangkan agar ikatan itu semakin mengendur.
"Sshhh, hah... " Kira menghela nafas panjang, ia mengambil kursi dan duduk di hadapan Aninda, kedua matanya mengerjap polos. " Itu karena lo udah ngambil sesuatu yang harusnya gue miliki. Lo udah ngambil kebahagiaan gue, Aninda.. dan lo harus bayar akibatnya. "
Tubuh Aninda terasa kaku.
Memangnya apa yang telah ia ambil dari Kira? Setahunya selama ini hubungan pertemanannya selalu baik-baik saja tanpa ada celah sedikit pun. Pun mereka berdua nampak lebih akrab dari sekedar sebuah pertemenan.
"Gue gak pernah ngambil kebahagiaan lo, Ra. Selama ini bukannya kita baik-baik aja? Gu-gue sama sekali gak ngerti apa yang lo maksud. "
"HAHAHA!!! " Kira tertawa, lagi dan lagi. " Lo tuh bego ya? Kepolossan lo bikin otak lo gak bisa ngelihat mana temen dan mana yang enggak. "
"Maksud lo? " Aninda masih belum mengerti, Kira memutar bola matanya jengah.
"Lo pengen tahu apa alasannya kenapa gue ngelakuin inj ke lo? " Aninda mengangguk ragu, namun tidak bisa di pungkiri jika dirinya juga penasaran. " KARENA LO UDAH NGAMBIL SEAN DARI GUE!! "
Aninda bungkam, tubuhnya seolah mati rasa lantaran sebuah kalimat menghantam telinganya.
Sean? Maksudnya?
Jadi... selama ini Kira juga mencintai Sean? Dan Aninda tidak mengetahui itu.
"Coba aja kalo lo gak muncul di kehidupan gue sama Sean, mungkin hari ini yang bersanding sama dia itu gue, bukan lo. Tapi... kenapa harus lo Aninda? Kenapa harus lo?! Cewek buta yang gak ada apa-apanya itu, harus jadi cewek pertama yang di liat Sean. "
Lidah Aninda terasa keluh. Tak bisa menjawab semua penjelasan dari sang sahabat. Aninda menangis, merasa bersalah di sini.
"Tapi gue ikhlasin dia sama lo, berharap dia bahagia sama cewek yang dia cinta. " Aninda mendengarnya, bahwa disini yang tersakiti bukan dirinya saja, tapi Kira juga merasakan sakit. " Gue udah ngelupain Sean, di saat gue udah lupa sama perasaan gue, Raga tiba-tiba ngisi kekosongan gue, iya Aninda gue mencintai Raga, sampai sekarang perasaan itu masih sama. "
Lagi, kenyataan pahit menghantam dirinya. Aninda benar-benar merasa bersalah. Ternyata selama ini dirinya bahagia di atas penderitaan sahabatnya sendiri.
"Tapi dengan mudahnya lo ngambil Raga dari gue, lo ngambil semua kebahagiaan gue! Kenapa, Aninda?! KENAPA?! Kenapa cewek itu harus lo?!! "
"Maaf... gue minta maaf.. "
"Maaf? Maaf lo bilang? " Kira menatapnya tak percaya. " Setelah apa yang lo lakuin ke gue lo cuma bilang...maaf? " Kira menggeleng tidak percaya. " Gak semudah itu. Dan jangan lupa kalo gue bawa lo kesini, itu ada ada alasannya. "
Aninda mulai was-was. Kira tersenyum miring.
Ia mengambil pisau itu, Kira mengarahkannya pada pipi Aninda.
"Mata ini... " Aninda semakin ketakutan, tubuhnya tremor parah. Rasa mual, pusing dan takut saling mendominasi. " Mata ini yang bikin Sean jatuh hati sama lo, gimana kalo mata lo gue congkel? Biar sekalian gak bisa ngelihat. "
Aninda menggeleng, tubuhnya sudah terasa lemas sekali. Perutnya belum terisi sedikit pun.
"Gue mohon, Ra.. hentikan semua ini, gue minta maaf.. " Tangisnya kian sendu, Kira pura-pura memasang raut wajah sedihnya.
"Lo takut? " Tanyanya seperti anak kecil. " Lo takut? Tapi sebentar aja kok, enggak lama. Habis nyongkel mata lo gue bakal bunuh lo, gue jamin hidup lo bakal aman. " Aninda semakin ketakutan. Usahanya untuk terlepas dari ikatan itu pun tidak ada gunanya sama sekali.
"Jangan... " Kira menulikan pendengarannya. Mata pisau itu tinggal sejengkal lagi bisa mencapai mata Aninda.
brak!!!
"Aninda!!!! "
Aninda Sakura
Dakira Queen