SeanNinda

SeanNinda
Tak Kan Kembali



Seperti yang di bilang oleh banyak orang, mati itu ada saatnya, hanya saja beda bagaimana caranya mereka menghadapinya. Kenangan demi kenangan tersimpan rapat di ingatannya. Tak mudah baginya untuk melupakan momen di mana seseorang yang sangat tulus mencintai kita telah tiada. Sebuah pertanyaan gamblang selalu saja berputar di otaknya. Kenapa harus mereka? Kenapa harus mereka yang pergi meninggalkannya?


Kenangan pahit akan masa lalu terus saja menghantui dirinya. Genta, kekasihnya dulu pergi untuk selamanya karena sebuah insiden kecelakaan. Berdebatan kecil dan sepele yang di awali dengan dirinya, membuat Genta meninggalkannya.


Dan hari ini pun terjadi lagi.


Aninda benar-benar tak menyangka jika Sean harus secepat itu pergi meninggalkannya. Meninggalkan semua kenangan bersamanya saat di Sekolah dulu. Sean rela mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya.


Aninda harus di liputi rasa bersalah dalam hidupnya. Kematian dua orang yang dia cintai harus pergi karenanya. Semua ada masanya, di mana semua orang yang kita sayang pasti akan meninggalkan kita. Tapi kali ini... Aninda berfikir apa Tuhan sengaja menghukum dirinya atas dosanya dulu? Apa sebesar itu dosanumya hingga Tuhan harus menghukum dan menyulitkan hidupnya?


Dunia ini terasa begitu kejam. Tak ada temlat lagi baginya untuk bersandar. Aninda telah kehilangan seluruh kebahagiaannya. Kejadian di masa lalu menimbulkan luka dan membuat mentalnya terganggu. Kehadiran Sean dalam hidupnya, sempat mengurangi rasa kesepiannya dulu. Hatinya yang dulunya kosong, telah terisi oleh suara dan juga perlakuan manis dari Sean. Tapi... kenapa dia harus pergi? Seharusnya biarkan saja dirinya yang terbunuh waktu itu.


Rasa egoisnya mampu merusak kebahagiaannya. Tak pernah percaya akan ketulusan Sean, hingga membuat cowok itu lelah dan memilih untuk pergi dari pada harus berjuang lagi.


Aninda menyentuh lembut batu nisan itu. Aroma bunga yang masih segar begitu menyeruak di indera penciumannya. Sebuah nama yang akan selalu tersemat dalam hatinya, kini terpampang jelas di depan matanya.


Semua orang sudah pulang, tinggal dirinya, Raina, Dan juga Raga. Sandra dan Reano pamit pulang terlebih dahulu. Rasa sakit kembali menyelimuti hatinya.


"Gu-gue-" Suaranya tercekat, hanya sekedar berbicara pun begitu sulit. Apa seperti ini rasanya kehilangan untuk yang kedua kalinya? " Gue berharap di saat gue bisa ngelihat dunia, hal pertama yang pengen gue lihat adalah wajah lo, tapi-"


Aninda kembali menangis. Dadanya kian menyesak. Raga ikut berjongkok di depan gundukan pasir itu. Raga memeluk erat tubuh mungil itu.


"Tapi kenapa lo ngingkari itu? Lo udah ngingkari janji lo, Sean... Lo janji bakal ada di samping gue saat gue bisa ngelihat lagi. Gue berharap bisa jalin hubungan lebih dari yang sebelumnya sama lo, tapi kenapa lo harus pergi? Kenapa?!!! " Tangis Aninda pecah. Dadanya seperti di pompa begitu cepat. Rasa sakit ini begitu amat dalam di banding di saat Genta meninggalkannya. Sean adalah hidupnya, Sean adalah segalanya, dan Sean adalah pelindungnya.


Raina pun tak kuasa melihat pemandangan itu. Putrinya kembali lagi di masa-masa kesedihannya. Padahal baru saja putrinya itu bahagia, namun sekarang tergantikan oleh rasa duka.


"Gue minta maaf kalo dulu sempet nyia'in lo, mengabaikan semua ketulusan cinta lo terhadap gue. Apa sejahat itu gue sampek lo harus ninggalin gue? Apa gue sejahat itu, Sean?! JAWAB GUE?! "


"Aninda tenangin diri kamu, ok? " Raga mencoba menenangkan. Pasalnya Aninda sudah seharian menangis tiada henti. Mustahil jika Raga tidak mengkhawatirkan kondisinya. Mengingat bahwa saat ini mereka masih berstatus sebagai pasangan kekasih, Raga tak segan untuk mengingatkan tentang kondisinya. " Pliss, jangan nyiksa diri kamu kek gini, bukan cuma kamu aja yang kehilangan. Aku sama keluarganya Sean juga. Sean udah bahagia di sana Ann, dia rela pergi hanya ingin ngeliat kamu hidup bahagia. Jadi, bisa kamu gak nyia-nyia'in pengorbanannya, hm? "


"Tapi kenapa harus pake cara seperti ini? Aku ngerasa bersalah, semuanya mati karena aku, Genta mati karena aku-"


"Ssst, pliss jangan di lanjutin ok? Semuanya udah selesai. Kamu gak sendiri, kamu gak perlu ngerasa bersalah atas kepergian mereka. Mereka pergi karena udah waktunya. Genta, Sean mereka semua tulus mencintai kamu, jadi jangan pernah merasa bersalah ataupun sendiri. Ada aku Aninda... ada aku. Aku mohon anggap aku ada. Aku tulus sayang sama kamu. "


Aninda bungkam. Terpana akan bola mata abu itu, seolah membawanya masuk ke dasar jurang yang paling dalam.



Mata teduh itu menghipnotisnya. Aninda mengangguk pelan. Beban yang tadinya begitu berat, kini sedikit berangsur menghilang hanya karena sebuah kalimat yang mampu menenangkan hatinya. Aninda percaya itu, jika Raga tulus mencintainya. Aninda berharap hidupnya sekarang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


"Kita pulang ya? " Aninda mengangguk sebagai jawaban. Diam saja saat Raga membawa tubuhnya berdiri dan mulai berjalan menjauh dari pusara itu. Aninda tersenyum, melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal.


Tak ada lagi tawa, senyum, canda dan gurau dari seorang Sean. Cowok humoris yang penuh akan kata-kata puitis, selalu mengucapkan kalimat yang mampu membuat si pendengar lulub saat itu juga. Namun meskipun begitu, Aninda tidak akan pernah melupakannya.


Karena dirinya, juga sangat mencintainya.



Arrrrggggghhhhh!!!


Gak sabar-gak sabar-gak sabarrrrr. Pengen banget nyelesain nih cerita. Bikin cerita baru tentang sequelnya si Aninda Raga. Yang dulunya SeanNinda, sekarang ganti RagaNinda, gak terlalu buruk kok. Sama-sama ganteng juga...


Sorry, part ini cuma mentok sampe segitu, gak bisa ngelanjutin sampe 1000, susah mikirin alurnya, tapi yang penting udah up. Butuh tunjangan dan juga pengorbanan extra buat bikim part ini. Pas banget momentnya di saat ujan-ujan gini sambil mikirin ngelanjutin cerita.


Haleh-halehhhh, jadi curhat kan?? 😅😅😅 Ya udah nyampek sink dulu.


Salam dari penulis gak ada akhlak, wkwkwkwk