
"Kenapa muka lo bonyok kek kena sengat lebah gitu? lo berantem lagi? " Sean memicingkan kedua matanya guna meneliti wajah sang adik karena baru sadar bahwa ada yang beda dari cewek itu. Sandra mengalihkan pandangannya, sesekali mendesis pelan akibat luka di sekujur wajahnya. Bisa gawat jika Sean mengetahuinya. " Orang tua nanya tuh jawab! lo gak punya mulut?! "
"Santai dikit napa sih?! ngegas mulu?! " Sandra menatapnya bengis merasa tidak terima lantaran pemuda yang lebih tua darinya itu meneriakinya. Lagipula, ini hal yang wajar bagi para pelajar SMU, mencari kesenangan adalah hal yang terindah baginya.
"Gue ngegas juga ada maksudnya! " Elaknya tak mau kalah sembari membenarkan posisi duduknya di depan layar lebar yang menampilkan beberapa iklan. Jarinya mengetik secara bergantian berharap ada chanel yang bagus untuk di tonton. Namun alih-alih mendapatkannya, justru ia merasa bosan. " Gak ada tayangan lain apa? dari jaman baheula, ituuuuu aja yang nongol, kek gorengan kemambang. " Celetuknya lalu melempar asal benda pipih itu.
"Hidup kok di buat repot, lagian emang lo sutradaranya, enggak kan? " Sandra berujar sinis, ia mengeluarkan sesuatu di dalam sakunya dan hendak menempelkan di lukanya. Namun dengan cepat Sean mengurungkannya membuat sang asik berdecak sebal. " Apaan sih?!"
"Ya jangan lo pakein gituan ****! " Umpatnya keras, Sandra melotot tak terima. Sean bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah kotak berwarna putih. " Kalo ada luka ya di obatin, apalagi ini luka dalam."
"Ya ini mau gue obatin. "
"Ya gak harus lo plester, ******! "
"Jangan ngemaki gue mulu dong! gue ini adek lo yahh!! "
"Cih! " Sean mendecih pelan, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda akibat beragumen oleh saudaranya itu. Sean menatap Sandra sebal. " Eh, gue tadi nanya belom lo jawab. "
"Yang mana? " Jawabnya acuh, fikirannya mulai was-was. Sandra meringis ketika Sean menyentil keras keningnya. " Issh! Sakit tahu gak?! "
"Jadi adek ngeles mulu, heran deh. Lo lagi ribut sama musuh lo? "
Tuh kan? Apa Sandra bilang...
Ujung-ujungnya Sean akan menanyakan hal yang tidak begitu penting. Lagipula apa salahnya ia tawuran? Mereka sendiri yang mulai mencari masalah dengannya. Jika saja sahabat dekatnya itu tidak segera melerainya, mungkin saja sekarang ia sudah berada di balik jeruji besi.
Al memang sahabat yang terbaik, fikirnya.
Sandra menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah juga pada Al karena cowok itu harus terkena imbasnya juga. Banyak orang menilai dirinya begitu buruk dan begitu tidak peduli pada sekitar, tapi kenyataannya melihat sahabatnya terluka Sandra juga merasakannya.
Karena Sandra sangat mencintai Alfaro.
Sandra tersenyum miris, sejenak ia berfikir bahwa hubungannya dengan Al saat ini adalah yang terbaik.
"Gue gak nyuruh lo ngelamun. " Sandra tersentak kaget, sedikit melupakan keberadaan kembarannya itu, Sean mengernyit, sepertinya Sandra sedang berada dalam masalah. " Kalo lo gak mau cerita, gue gak masalah. Tapi jangan sampek lo kekurangan gizi gara-gara masalah lo itu. "
"Omongan lo bang. " Gumamnya, tidak terima jika ia di katakan kekurangan gizi. "Lagian gue gak ada masalah kok, cuma lagi capek aja. "
"Capek tawuran? " Selidiknya, matanya memicing menatap raut wajah sang adik. Sandra hanya menghela nafas panjang, menghindar pun percuma, karena Sean akan tetap mengetahuinya. "Dra, bisa gak sih lo jangan nurut kebiasaan buruk gue? Cukup gue aja yang buruk lo-nya jangan. " Sean mulai ceramah, siraman rohani pun segera di mulai.
Sandra hanya bergumam pelan menanggapi perkataan sang kakak.
"Gue tahu lo butuh pelampiasan atas kemarahan dan juga masalah lo, tapi gak harus pake cara ini juga kan? Lo tuh cewek, feminim dikit napa? "
"Oii! " Sean berteriak sebal, adiknya ini memang selalu menganggap remeh perkataannya. Sean tak habis fikir, bagaimana bisa ia mempunyai adik seperti dia? "Hal apa sih yang gak pernah bikin lo ribet? Dikit-dikit berantem. "
"Lo juga gitu, malah nyeramahin gue. " Gumamnya pelan.
"Lah ya itu maksud gue! Lo jangan pernah ngelakuin hal buruk yang sama kek gue, lo sih gak merhati'in. "
"Kita ini sedarah, wajarlah kalo sifat kita sama." Elaknya membela diri.
"Perilakunya maksud lo? " Sean berkata sinis. Sandra berdecak sebal dan mengoleskan lagi cairan merah di lukanya. " Gak nyesel gue ngerestuin hubungan lo sama si Al. "
"Apaan sih?! ngelantur omongannya. " Sean berdecih lalu terkekeh ringan, tangannya terangkat mengusap pelan rambut sang adik. " Jangan sentuh rambut gue! tangan lo bau! "
"Allahu Akbar! " Sean mengusap dadanya pelan, kata-kata Sandra begitu menohok hatinya.
*****
"Beh! Tumben-tumbenan nih si kucluk subuh-subuh udah nongol, lo udah tobat Se? " Shaka, Ketua kelas yang selalu menyebut namanya begitu singkat dengan alasan terlalu panjang, lagi-lagi membuka suara, mengundang banyak mata yang tadinya sibuk kini tertuju pada Sean, ia menoleh menatapnya datar, Shaka meringis.
"Ka, lo jangan cari masalah deh sama si Sean, lo gak tahu tuh muka udah kek penggorengan panci? " Lerai sang Sekretaris karena tidak siap untuk mendengar kicauan burung dari mulut Shaka. Glory memainkan lagi ponselnya.
"Eh? Lo cukup nulis catetan yang ada di depan, gak usah lo ikut campur urusan para bangsawan ini, ngerti anda? " Shaka mulai berbicara formal guna menghentikan sang sekretaris yang begitu taat pada aturan. Glory mendengus sebal. Shaka berdecih lalu menghadap penuh ke arah Sean. " Kenapa lo? tumben diem. "
"Bacot lo! " Sentaknya keras, Shaka kicep. Sepertinya Sean berada dalam mood tidak ingin di ganggu.
"Mending lo diem deh Kha! daripada lo di telen hidup-hidup sama tuh kanibal. " Ucap Dylan yang sedari tadi tidur, merasa aktifitasnya di ganggu oleh temannya yang super ember mulutnya itu, Dylan menguap dan menunjuk Shaka dengan jari telunjuknya. " Kalo lo masih ngebacot, gue bakal tarik burung masa depan lo itu, paham? " Lantas Shaka menutup bagian dari antara kedua kakinya itu menggunakan kedua tangannya, ia tidak akan membiarkan si muka bantal itu mengambil masa depannya.
"Jahat lo Lan.. " Gumamnya pelan. Namun lagi-lagi Sean berdecak ketika Shaka berteriak di dekatnya dengan kedua mata tertuju ke pintu.
Raga datang, dengan tatapan datar.
Raga duduk di kursi bagian belakang Sean, tak ada bahan pembicaraan di antara keduanya, Shaka keheranan.
"Tumben pada diem? kalian lagi sariawan? " Shaka langsung bungkam dan tak berani berkata lagi. Tatapan Raga begitu menusuknya, Namun Shaka tetap penasaran dan merasa ada sesuatu yang tidak beres pada temannya itu.
Sean dan Raga saling melempar tatapan sengit, seolah di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Glory yang tadinya sedang serius membaca, mendadak horor dengan keadaan di sekitarnya.
"***** emang, punya temen gak ada yang bener. " Gumamnya pelan, ia keluar kelas dan meninggalkan tatapan heran dari para penghuni kelasnya.
"Ini kenapa suasana mendadak tegang kek gini?" Shaka beragumen sendiri, memang benar, tidak biasanya cowok dua itu harus saling diam seperti itu. " Mati'in gue aja ya Tuhan.. "