SeanNinda

SeanNinda
Bertemu Kembali



"Sst! Sstt! "


Aninda mendengus sebal mendengar desisan kecil dari mulut sang sahabat. Menjadi ingin lebih tahu lantaran sebuah informasi yang mengenai tentang jalinnya hubungan dirinya dengan Raga.


"Sst! Sssssttttt!! "


"Apa sih, Ra?! " Aninda menggeram tertahan. Tak ingin membuat keributan di kelas lantaran seorang Guru kini tengan mengajar di depan. Kira meringis.


"Lo beneran pacaran sama si Raga? Cowok tembok itu?! " Mencoba untuk berbicara pelan, tak ingin di hukum karena suaranya.


"Hm. " Aninda hanya bergumam sebagai jawaban. Masih enggan untuk membahas tentang hubungan cintanya saat ini, mau tidak mau Aninda harus bungkam mulut.


"Kok hm sih? gak puas gue dengernya.. " Kira mengeluh.


"Ntar aja deh Ra, gue masih males ngomong ini. "


Kira memicingkan kedua matanya, berharap apa yang di ucapkan Aninda memang harus di buktikan. Apalagi Aninda adalah tipe cewek yang sangat tertutup, Kira sebisa mungkin untuk menguak kasus tentang desas-desus percintaan sang sahabat.


"Lo hutang jawaban ke gue. "


Ucapnya pelan penuh ancaman, namun Aninda hanya bersikap santai dan acuh tak acuh. Berharap jika istirahat nanti Kira melupakannya.


*****


Aninda berusaha berjalan pelan agar langkahnya tetap sama dengan Raga. Tidak tahu kenapa cowok di depannya ini begitu antusias untuk mengajaknya keluar di jam istirahat. Tak enak jika menolaknya takut Raga sakit hati, kini Aninda terpaksa menuruti permintaannya.


Ternyata tempat yang di maksud Raga adalah kelasnya sendiri, berarti Raga juga sekelas dengan Sean. Aninda gugup setengah mati. Meskipun dirinya tidak bisa melihat, namun dirinya masih bisa mendengar semua ocehan mereka tentang dirinya. Berasumsi bahwa dirinya telah membuat dua pangeran jatuh hati dengan mudahnya.


Aninda... tersinggung.


Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh Raga. Raga tersenyum dan menuntun Aninda menuju kursinya. Sean yang tak jauh dari sana pun lantas hanya diam dengan pandangan tak lepas dari dua manusia itu.


"Cewek mana yang lo bawa ini?! dari kayangan?! "


Dekha yang notabenya cowok paling bar-bar dan mempunyai mulut seperti toa mesjid itu, terkejut karena cowok dingin dan super jutek itu tiba-tiba membawa seorang cewek. Masih dengan ekspresi terkejutnya, Dekha masih belum bisa berkedip.


"Anak orang mana yang lo bawa ini?! "


"Berisik! " Raga berdecak sebal, membuat senyum Aninda terbit begitu saja.


"Asli! Bening, cakep kek bidadari. " Dekha memujinya, tak habis fikir jika di Sekolahnya ternyata ada seorang cewek yang begitu cantik. Mendengar pujian itu Aninda meringis dan merasa malu detik itu juga. Merasakan sebuah usapan lembut di kepalanya, Aninda diam.


"Gak papa, gak usaha dengerin bacotannya dia, orangnya emang kek gitu gak bisa di rem mulutnya. "


Dekha yang mendengarnya pun lantas melotot tidak terima. " Tolong di jaga mulutnya?!"


"Gak papa kok, lagian aku baik-baik aja kan? " Aninda mencoba menenangkan Raga merasa khawatir akan sikapnya itu Aninda mengusap pelan lengan kokoh milik Raga. Dalam diam Raga tersenyum puas ketika tanpa sengaja Sean melihatnya.


"Hm, kamu betah kan di sini? Lain kali aku bakal ngajak kamu di sini, tapi jangan sampe ada nih bayi biawak di antara kita. "


"Siapa yang lo katain bayi biawak?! "


Aninda tersenyum.


Meksipun terkesan dingin dan cuek, ternyata Raga tidak terlalu buruk di mata teman sekelasnya.


"Se'enak jidat lo ngatain gue. " Dekha melirik sekilas ke arah Sean yang kini tengah menatap mereka, Dekha berseru senang. " Sean! Sahabat lo bawa cewek nih? bening cakep lagi! "


Semuanya bungkam.


Merasa kelewat batas, lantas Dekha menutup mulutnya. Merutuki kebodohannya karena lupa akan situasi yang di alami dua sejoli itu. Raga tersenyum miring, ekspresi yang di dapatkannya sangatlah tepat. Ia berdehem keras lalu berucap.


"Ah! Iya gue lupa, kenalin dia pacar baru gue, ngh.. gak baru sih, udah dapet dua hari. " Ujarnya santai. " Namanya Sakura. "


"Sakura? " Glory membeo takjub lantaran sebuah nama mengusik indera pendengarannya. " Gila! Namanya aja Sakura, kek bunga yang ada di jepang. "


Glory bersorak takjub. Tak dapat memungkori jika cewek yang kini tengah bersanding di sebelah cowok tulen adalah cewek yang sangat di idam-idamkan oleh kaum hawa.


"Nghh Raga, kita pindah aja yuk? Aku pengen makan, laper. "


"Oh, tentu. " Raga menoleh sejenak ke arah Sean yang kini berkutat dengan ponselnya. " Pacar aku emang harua makan banyak biar sehat. "


Setelah mengatakan itu Raga pergi menuntun tangan Aninda, membawanya menuju kantin dan meninggalkan kelas. Dekha mengerjap lucu, menghampiri Sean tanpa rasa bersalah.


"Kenapa lo diem? Bukannya cewek itu pernah deket sama lo? "


"Bacot!! "


*****


"Kamu disini dulu, biar aku yang mesenin makanan. " Aninda tersenyum ketika mendapati sebuah kecupan lembut di kepalanya. Sedikit risih ketika mendengar suara bising mengenai dirinya.


"Udah berhasil dapetin si Sean, eh sekarang malah mau dapetin si Raga. "


"Iya, jadi cewek kok gak ada harga dirinya sama sekali. "


Aninda bungkam.


Pun tak dapat melakukan apa-apa. Kalimat itu benar-benar mampu menembus hatinya yang paling dalam. Mereka telah salah menilai dirinya.


"Harga diri itu penting loh guys? Kalo gue jadi dia setelah di permalu'in palingan gue bakal keluar dari Sekolah ini. "


"GAK ADA OTAK KALIAN SEMUA YA!!! " Gebrakan meja yang begitu keras membuat bungkam seluruh kantin. Semua mendadak hening. Kembaran dari Sean selalu saja membuatnya mati berdiri. Dengan gaya angkuhnya Sandra menunjuk salah satu meja yang ada di ujung yang di duduki 4 orang cewek.


"Eh Vanya?! Kalo lo gak ada omongan yang bermutu, mending lo diem kalo gak pergi dari tempat sekarang juga! "


"Siapa lo sok ngatur-ngatur hidup gue?! " Vanya berdiri, menatap bringas cewek yang akhir-akhir ini paling di takuti di Sekolahnya. " Lo bela'in cewek cacat ini?! Gak salah denger gue?! "


Sandra tersenyum miring, melipat kedua tangannya di depan dada. " Lo itu gak ada otak ya? Bisanya bully orang gak ada akhlak emang. "


Vanya menggeram tertahan, namun dengan cepat temannya mencegahnya.


"Lo jangan ceroboh, Nya? Lo tahu si Aninda di kelilingi sama makhluk utusannya iblis Lucifer? Bisa mati kita... "


Vanya memutar bola matanya jengah. " Emang gue peduli?"


"Widihhh, gak sayang sama Pendidikannya nih? Lo gak mau Sekolah di sini lagi? "


Mereka berempat gugup tak dapat berkata apa-apa. Pergi meninggalkan kantin dengan suasana yang kembali normal. Raga datang dengan sebuah piring yang terdapat nasi goreng.


"Ini kenapa cewek jadi-jadian nongkrong di sini? Kita gak ada nunggu tamu yang gak di undang. " Celetuknya tidak suka. Mengingat betapa bar-barnya sosok dari adik shabatnya itu, mau tidak mau Raga harus mempunyai stok beberapa kalimat untuk menyerang cewek di depannya ini.


"Lo harua berterima kasih ke gue karena pacar lo gak jadi di hujat habis-habisan sama si Vanya, tahu diri itu penting loh. "


"Thanks. "


"Cihh, gak ikhlas amat, tapi gue terima. "


"Makasih ya udah nolongin gue. "


"Hm, its okay. " Sandra menjawab santai. Menyeruput rakus minuman milik Aninda hingga tandas. Berdebat dengan Vanya memnag membuat kesabarannya habis dan terkuras. " Lagian gue kan temen lo, jado wajar kalo gue nolong lo. "


"Asal gak bermaksud apa-apa, gue gak masalah. "


"Raga, udah! " Aninda menegurnya, namun cowok itu hanya berdecih pelan.


"Dasar pelakor. "


"Gue cuma merjuangin apa yang seharusnya jadi milik gue, lo gak usah asal ngomong kalo gue pelakor ya?! " Sandra memutar bola matanya malas, cowok ini benar-benar tidak merasa bersalah. Mengingat betapa tersiksanya kembarannya itu akibat patah hati, Sandra harus turun tangan sendiri. Berniat untuk berbicara empat mata pada Aninda namun ia urungkan karena Raga ada bersamanya.


"Gak tahu diri emang. "


"OYYY!! "