SeanNinda

SeanNinda
Masa Lalu Aninda



4 Tahun yang lalu...


" Sayang dengerin aku. "


"Apa lagi yang harus aku denger dari mukut kamu! " Nafas Aninda tersengal, kini mereka tengah berada di dalam mobil milik Genta. Pertengkaran mulai mendominasi ketika Aninda semakin memalingkan wajah darinya.


"Aninda, dengerin aku dulu makanya.. " Namun ia enggan untuk mendengar, wajahnya kini sembab akibat air mata. " Kamu udah salah faham, dia cuma temen An.. "


Genta memanggilnya dengan sebutan An, dan Aninda menyukai itu.


Aninda melengos, menghapus jejak air matanya yang akan luruh lagi.


"Aku takut Ta..." Tangisnya terdengar pilu, Genta bungkam melihat betapa sakitnya Aninda saat ini. " Aku takut kejadian itu keulang lagi, aku udah kehilangan papa, aku mohon jangan ulangi itu lagi untuk yang kedua kalinya.. "


"Tapi aku gak selingkuh, semua ini gak seperti yang kamu fikirin, An. Elma temen aku-"


"Temen kamu bilang? " Aninda membeo." Aku ngelihat kamu tiga hari ini habisin waktu sama dia, apa itu yang di sebut temen? Aku gak bisa percaya sama kamu. "


"An, dengerin dulu-"


"Aku gak mau Denger-ARRGGGHHH!!! "


Aninda terbangun dari mimpinya. Keringat mulai keluar dari wajahnya. Deru nafasnya tersengal-sengal, memori itu kembali menghantui dirinya. Kalimat " Mati" Seolah menjadi sebuah kutukan baginya.


"AARRGGHHHH!!!!! " Aninda berteriak kencang. Ia takut, takut jika kejadian itu menimpa lagi padanya. Membuat mentalnya kacau dan juga seakan ingin hancur saat itu juga. Aninda menjambak rambutnya sendiri tanpa ia sadari. Ia menangis meraung, terus mengucapkan kalimat mati.


"Mati, mati, mati, MATI!! "


Sean tertegun, tenggorokannya tercekat.


Melihat bagaimana kondisi Aninda saat ini yang begitu kacau, mampu membangun rasa bersalah pada dirinya. Sean menghampiri Aninda yang kini tengah menutup rapat kedua telinganya, matanya tertutup rapat. Dia tak lagi bisa mendengar siapa pun yang berbicara pada dirinya. Semua ini salah dirinya, kalau saja Sean tidak bertengkar di depannya, mungkin Aninda tidak akan seperti ini.


"Hei ini aku. "


"Pergi! Pergi!!! " Aninda terus mencakari tubuhnya sendiri, seolah mati rasa hingga tak menyadari darah telah keluar dari infusnya. Hati Sean berdenyut sakit, menahan air matanya yang sebentar lagi akan tumpah. " Pergi!!! Semua ini salah aku, Genta mati karena aku, papa mati karena, SEMUANYA KARENA AKU!!! "


"ANINDA! "


Berhasil.


Aninda diam, namun isak tangisnya masih terdengar pilu, memori itu seolah menghantui fikirannya. Sean memang tidak tahu sesakit apa masa lalu Aninda, namun ia akan berusaha untuk selalu bersama Aninda.


"Kamu jangan takut, okay? Ada aku, ada aku Aninda. Kamu gak sendiri ada aku yang selalu di samping kamu. " Sean berulang kali mengucapkan kalimat itu untuk menenangkan Aninda. Cewek ini sudah mengalami luka yang amat dalam, goresan sedikit saja maka dia akan terluka.


Sesak,


Marah,


Itulah yang di rasakan Sean saat ini. Keterpurukan yang di alami Aninda mampu mengoyak seluruh jiwa dan raganya. Teriakan pedih Aninda, begitu dalam. Sean merengkuh kuat tubuh mungil itu, mengucapkan kalimat yang amat menenangkan bagi gadisnya.


Sean memang tidak pernah tahu apa yang telah di alami oleh Aninda selama ini, tapi jika boleh di izinkan dan waktu dapat berputar kembali, Sean berjanji akan selalu menjaganya selama ia bisa.


"Semuanya salah aku, Genta mati karena aku.." Sean benar-benar tidak tahan mendengarnya, Anindanya terluka begitu dalam, bibirnya menyatu dengan keningnya, Aninda terisak pelan.


"Kamu gak salah, semuanya bukan salah kamu, Ann. Aku mohon berhenti nyakitin diri kamu sendiri.. "


Anindanya begitu rapuh, tubuh mungilnya terlihat ringkih hingga membuat Sean ingin selalu menjaganya. Raina telah menceritakan semuanya, tak dapat di pungkiri jika hati Sean terenyuh. Sean menghembuskan nafas pelan, lalu membaringkan tubuh Aninda yang mulai terlelap, mungkin lelah karena habis menangis. Sean mengecup lagi kening itu lalu keluar dari ruangan.


Sedikit terkejut dengan adanya Raga, Sean mendengus dan tak menghiraukan keberadaan mantan sahabatnya itu. Raga mencekal lengan Sean, cowok itu berhenti.


"Ini bukan sinetron, plis! Gak usah pegang-pegang tangan gue! " Sentaknya sewot. Raga berjengit jijik.


"Jijik gue. " Gumam Raga lalu meniupi bekas tangan milik Sean .


"Sinting. "


"Gimana keadaan Aninda? " Tak berlama-lama dengannya, Raga langsung menanyakan keadaan Aninda, bagaimana pun juga Aninda adalah pacarnya.


"Baik. " Jawab Sean seadanya. Raga mendelik.


"Baik itu dalam artian apa?! Ngomong gak usah setengah-setengah ****! " Merasa tak pernah bersabar jika berbicara dengan Sean, mau tak mau Raga mengeluarkan segala umpatannya.


"Baik ya baik! Udha sana minggir! Gue mau pergi! " Raga sedikit terhuyung kebelakang ketika Sean sedikit mendorongnya.


"Gue belum selesai ngomong. "


"Udah cukup! " Raga tersentak, antara ingin tertawa tapi tertahan oleh egonya. " Capek hati Hamba ngadepin manusia gak ada akhlak kek lo! "


Nih cowok ya...


Raga mengerang frustasi. Bahkan di saat seperti ini Sean masih saja bercanda. Tatapan jijik mengarah padanya. Mungkin Sean memang tidak ingin di ganggu.


"Ok! Gue biarin lo pergi, tapi setelah itu gue pengen ngomong empat mata sama lo. "