SeanNinda

SeanNinda
Mulai Ingin Tahu



"Napa lo?! muka kok kusut amat? kek jemuran belom di setrika 2 minggu aja. " Tanya Sandra dengan kening mengkerut ketika menemukan kakak satu-satunya berbaring di atas kasur miliknya dan membuang tasnya ke sembarang arah. Sandra memekik tidak terima. "Eh eh!!! Singkiran gak tas jelek lo?! kamar gue jadi gak enak di pandang entar!! "



"Berisik! " Celetuk Sean. Memejamkan ke dua matanya dan mulai memakai headseat di telinganya. "Gue numpang tidur bentar kagak lama. "



"Gak lama tapi molor sampek maghrib!! " Protesnya, Sandra sebenarnya ingin mengerjakan tugasnya yang belum sempat di kerjakan di kamar, tapi Sean tiba-tiba saja masuk dan mengganggu aktifitasnya. Sandra mendengus sebal. Matanya melihat ke arah Sean garang, namun yang di lihatnya hanya tidur dan mengabaikannya.



"SETAN!!! bangun gak lo?! kasur gue banyak kuman gegara di tidurin sama lo! " Sandra mulai menaikki tubuh Sean dan memukulinya menggunakan bantal. Sean masih diam. "Bangun gak lo setan!! kalo lo kagak bangun, gue panggilin dukun sakti ke sini. " Seketika Sean bangun dengan posisi duduk dan memandang Sandra dengan mata sayunya.



Mengapa adiknya ini tidak mengizinkannya tidur sedikit saja??




Ahhh!! Menyebalkan!!!



"Gue lakban juga mulut lo!! punya adek kok bawelnya gak ketulungan. "



"Lagian lo sih, baru dateng bukannya mandi, malah rebahan di kasur gue, mana bau keringet lagi. "



"Keringet orang ganteng baunya wangi. "



"Teori dari mana tuh?!! " Sandra mengambil bukunya dan mulai mengerjakannya. "Mending lo pergi deh? gue lagi sibuk. "



"Tunben-tumbenan lo? takut kena sarapan pagi lagi ya? " Tanyanya dengan nada mengejek. Sandra mendengus sebal.



"Jangan lo kira gue anaknya bandel setelah lo, gue gak pernah ngerja'in tugas ya? nilai gue aja lebih gede dari lo. "



Sean tersenyum remeh. " PD amat. "



"Ya iya lah!! " Celetuk Sandra. "Eh, kok lo bau melati sih? " Sean menaikkan sebelah alisnya,




Bau melati???



Sean menciumi sendiri seragamnya, matanya membulat sempurna ketika menemukan bunga melati di seragamnya. Sean meneguk ludahnya pelan. Sean memegang tengkuknya yang tiba-tiba saja merasa merinding.


Fikirannya kembali teringat dengan kejadian di kuburan tadi. Apa arwah Genta tadi menghantui dirinya??



Sean menggeleng cepat, mencoba menghapus fikiran negatif itu.



Sandra menepuk pelan pundak Sean. " Lo kenapa bang? " Melihat wajah Sean yang tiba-tiba saja menegang, membuat Sandra penasaran.



Sean menggeleng. " Gak pa pa. Tumben lo manggil gue abang? "



"Lah?!! kan lo abang gue? " Jawabnya polos sambil menunjuk dirinya sendiri.



"Lo nganggep gue abang lo juga ternyata. " Ucapnya lalu berlalu dan menghilang dari pandangannya.



"Setress kali tuh orang. "





Sean berjalan gontai di sepanjang koridor Sekolah, mengabaikan semua sorakan pujian dari para cewek. Sean lebih memilih untuk cuek dan mendengarkan lagu.



Sean bernafas lelah.



Sebenarnya Sean tidak ingin bersekolah hari ini, bukan karena sakit ataupun malas, tapi alasan hanya satu, alasan yang begitu langkah bagi Seandra Alfabeth, dan baru pertama kali merasakannya.




Patah hati.



Well??? Sean mulai patah hati ketika mengetahui fakta bahwa cewek yang di sukainya ternyata telah mempunyai kekasih. Harapannya pupus ketika melihat betapa sayangnya Aninda dengan kekasihnya itu.




Meskipun kekasihnya sudah tidak ada.



Aninda yang berhasil membuatnya jatuh cinta saat Sean pertama kali melihatnya, terutama matanya, mata kucing yang begitu menghipnotisnya di saat setip kali Sean melihatnya, apa mungkin Sean bisa menjaganya walaupun tidak berada di sampingnya??



Bahkan Aninda saja tidak menginginkan keberadaannya.



Sean berhenti dan mengernyit ketika matanya melihat suasana kelas yang begitu ramai.



Bukannya itu kelas Aninda??



Sean menghampirinya. Hatinya mulai panik tak karuan. Fikirannya kalang kabut. Membayangkan jika Aninda yang sedang mereka bully, Sean bersumpah akan menyakiti mereka yang berani menyakiti Aninda-nya.



Aninda-nya???



Sejak kapan??



Sean mengesampingkan egonya yang berusaha menjauhi Aninda dan lebih memilih menyelamatkan cewek itu.



tak!!!



Batu berukuran sedang berhasil mengenai kening Aninda. Darahnya mengalir di area wajahnya. Aninda takut sekarang. Ketakutannya bertambah ketika mereka lebih diam dan hanya melihatnya.



"Dasar cewek jalang!! bitch!!! "



Tak!!!!



"Arghhh!!!" Dua batu lagi mengenai kepalanya. Aninda mulai pusing dan merasakan sakit di area kepalanya. Hingga sedikit kesadarannya merasakan seseorang mengangkat tubuhnya. Seseorang itu membisikkan sesuatu di telinganya.



"Bertahanlah, demi gue, Aninda. "