SeanNinda

SeanNinda
Skenario Sean



Bugh!!!


Sean terjungkal kebelakang akibat sebuah hantaman yang jelas bukan main-main rasa sakitnya. Sean menyeka darah di sudut bibirnya, menyeringai puas tatkala sosok yang di tunggu-tunggu datang. Dengan langkah besarnya, Raga meraih kerah seragam Sean dan menariknya ke lapangan.


Satu persatu siswa datang berkerumun melihat apa yang akan telah terjadi. Semua mata tampak syok ketika dua pangeran sekolah yang notabenya adalah sepasang sahabat, harus berkelahi untuk yang pertama kalinya. Raga menyerangnya membabi buta.


Tanpa ampun, Raga memukul lagi rahang tegas milik pemuda bermarga Alfabeth itu hingga mengeluarkan bunyi retakan yang amat keras. Sean meringis ngilu, namun ia masih bisa berdiri dengan bantuan tangan kirinya.


"MAKSUD LO APA HAH?! " Raga berteriak kuat. Menyumpah serapah dirinya ketika Sean hanya tertawa dengan sintingnya. " Lo mau ambil Sakura dari gue? Iya?!"


"Sakura? " Sean membeo. Tersenyum mengejek hingga mengundang sebuah bogeman keras lagi dari Raga.


"Berhenti bercanda. " Raga mendesis tajam. Mata elangnya tak luput dari sosok sahabat yang kini tengah terkapar di aspalan. " Apa maksud lo macari Sakura? Lo tahu sendiri kan kalo Sakura pacar gue? "


Sean mengangguk lumrah. " Gue tahu. Tapi, lo tahu sendiri orang yang dia cinta bukan lo, tapi gue. "


"Brengsek lo! " Lagi-lagi Sean terjungkal kebelakang. Diam saja ketika Raga terus-menerus memukulnya, ia tidak akan menghindarinya. Membiarkan Aninda tahu akan hal itu.


"Aninda cuma butuh gue, bukan lo. " Desisnya tajam. Tersenyum ketika mendapati seorang cewek di antara kerumunan para siswa. Dapat Sean lihat tubuh mungil itu tampak bergetar, Sean menyadari hal itu.


Raga tersenyum mencemo'oh. Tak dapat membendung tawanya karena Sean mengatakan hal itu tanpa rasa malu.


" Butuh lo? Emangnya kapan Sakura bisa tersenyum pas dia di samping lo? "


Bungkam.


Sean menelan ludah gugup, keringat mulai mengalir hingga mengenai lukanya masih basah.


"Lo itu gak ada apa-apanya sama gue. Tapi yang harus lo perlu tahu, Sakura lebih bahagia bersama gue. "


"Hm, tapi gue gak peduli. " Sean berkata santai. Menatap sendu cewek mungil di depan itu dengan hati yang amat sakit. Mungkin dengan cara ini Sean bisa bersama lagi dengan Aninda. Rasanya begitu sakit jika harus melihat orang yang dia sayang bersama orang lain. " Apa mungkin sebaiknya, kita bertarung secara halus, ah maksud gue, gimana kalo kita bersaing secara halus dan bukti'in siapa yang cocok untuk bersanding sama Aninda.


" Ogah! " Raga menjawab tidak minat. Apa-apaan ini? Sadarkan Sean jika ucapannya itu sangat tidak masuk akal? " Gue menolak. "


"Ok! Jawaban lo gue anggap setuju. "


"Lo-"


Sean mengangkat tangannya seolah berkata bahwa pertarungan ini sudah selesai. " Gue gak mau denger apa pun lagi, bye. "


"Astagaa!! "


******


Sean masuk ke kelas.


Lebih tepatnya ke kelas Aninda. Menghela nafas panjang, dan menginstruksi Kira untuk keluar lewat ekor matanya. Kira mendengus malas.


Sean duduk di sebelah Aninda. Cewek itu kini tengah menangis dengan kepala di telungkup di antara lipatan kedua tangannya. Sean ini bicara, namun otaknya selalu tidak kontras dengan hatinya.


Suara isak tangis semakin menggema ketika kelas itu sudah kosong dan hanya di isi oleh mereka berdua.


Akhirnya setelah sekian lama menangis, Sean bisa mendengar lagi suara cewek itu, tak dapat di pungkiri jika dirinya juga begitu gemas melihat tingkah Aninda yang kelewat lucu. Sean menumpu kepalanya dengan satu tangan.


"Gue ngerasa bersalah, gak seharusnya gue Sekolah disini kan? Kehadiran gue justru buat persahabatan mereka hancur. " Aninda mulai mengadu, mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini.


"Selama ini gue jauhi Sean bukan karena gue benci, tapi gue gak mau dia ikutan malu kalo harus pacaran sama cewek cacat kek gue, gue sadar diri.. " Sean tersenyum sendiri mendengarnya, setidaknya masih ada peluang baginya untuk menjalin hubungan serius dengan Aninda.


"Gue juga cinta sama Sean, tapi lo tahu sendiri kan Ra? Kalo gue ini cacat, tapi gue gak tahu kenapa gue harus nerima aja Raga nembak gue. " Senyum Sean menghilang, namun guratan penuh rasa ingin tahu itu di dahinya itu semakin bertambah liar.


"Gue pacaran sama Raga biar gue bisa ngelupain Sean, tapi nyatanya gue gak bisa. "


Aninda semakin menangis keras. Dadanya kian sesak mendengar sebuah sorakan ketika Raga semakin gencar memukulnya.


"Ra, kenapa lo diem aja? Tumben lo banyak diemnya? " Merasa aneh dengan temannya, Aninda menegakkan tubuhnya dan menghadap sepenuhnya ke arah Sean. Matanya sembab oleh air mata, hingga membuat beberapa anak rambutnya ikut basah.


"Hm, aku tahu, dan aku menyadari itu. "


Tubuh Aninda menegang.


Syok dengan apa yang ia dengar. Jadi selama ia menangis, Sean sudah ada di dekatnya dan mendengar semua keluh kesahnya? Aninda gugup. Jantungnya 2 kali berpacu dengan cepat.


"Aku udah pernah bilang kan ke kamu, kalo aku gak akan pernah ninggalin kamu. Se-cacat apapun kamu aku gak akan peduli. " Sean menyelipkan anak rambut itu di belakang telinga Aninda, ia berbisik. " Karena yang aku mau, cuma kamu. "


Ia tak bisa berkata apa-apa. Dirinya merasa jika saat ini telah kelewat batas. Memacari dua orang sekaligus adalah suatu hal yang mustahil.


"T-tapi gue udah punya pacar, Se.. " Kepala Aninda menggeleng lemah, memasang mimik sedih ketika Sean semakin melebarkan senyumannya. " Gue udah punya Raga.. "


"Putusin dia, putusin dia sekarang juga. "


Aninda cengo.


Tak habis fikir jalan fikiran cowok di depannya ini. Apa jadinya jika Raga mengetahui hal itu? Mungkin Raga akan benar-benar marah dan akan melukai Sean.


"Kalo kamu gak mau mutusin dia, biar aku yang bunuh dia, gimana? " Sean memiringkan kepalanya guna mendapatkan sebuah anggukan dari sang pacar. Hal itu justru semakin membuat Aninda kewalahan akan sikap Sean. Cowok itu benar-benar berubah ketika dirinya menjauhinya.


"Se, lo itu kenapa sih? Lo harusnya ngerti.. " Sean mengerjap lucu, berpura-pura berfikir layaknya seorang bocah yang sedang memikirkan sesuatu. " Sean-"


"Aku tahu. " Aninda diam. Sikap Sean tadi sungguh membuatnya terkejut bukan main. " Bagaimana kalo kita datengin Raga, terus bilang kalo kamu adalah pacar aku? Ya, meskipun aku tahu kalo Raga gak bakalan mau, tapi ini juga demi hubungan kita kan? "


Hubungan?


Aninda tertawa miris dalam hati. Bahkan Sean pun tidak pernah menembaknya sedikit pun. Lalu apa yang dia sebut sebagai hubungan?


Aninda mulai menggerakkan tongkatnya, berjalan untuk menghindari cowok itu. Namun Sean dengan sigap menahannya dan merengkuh tubuh mungil itu. Sean menghela nafas panjang. Kehangatan inilah yang ia harapkan selama ini, bisa memeluk tubuh milik Aninda dan menghirup kuat-kuat aroma manis vanilla dari tubuhnya.


Sean, menginginkannya. Ingin memilikinya sekarang juga.


Namun, dirinya tahu betul bahwa saat ini Raga bukanlah lawan yang bisa ia lawan.


"Kamu, selamanya jadi milik aku. "