SeanNinda

SeanNinda
Sebuah Pengorbanan



Rasa takut, gelisah, dan khawatir kian mengguncang tatkala pintu yang sedari tadi mereka lihat belum terbuka juga. Sandra menangis di dalam dekapan sang papa, tangisnya kian mendalam ketika mendengar bahwa saudara kembarnya tengah terluka parah. Jonathan pun tak sanggup menyembunyikan kekhawatirannya pada sang putra. Meskipun kerap kali membuat onar, sebagai orang tua kasih sayang terhadap anaknya tak perlu di tanyakan lagi.


Raina, kini wanita itu duduk sesekali menutup mulutnya guna mencegah tangisnya yang akan pecah. Raina tak ada bedanya sama mereka, melihat kondisi putrinya yang selalu nampak kacau, membuat hati kecil Raina ikut terluka. Putrinya sudah terlalu banyak menanggung luka, di tinggal oleh seseorang yang sangat di cintainya, Aninda sering kali menyalahkan dirinya sendiri.


Dan sekarang kejadian itu harus terulang lagi. Putrinya sangat mencintai Sean. Aninda selalu menceritakan cowok itu pada dirinya. Jika Sean harus meninggalkannya, entah apa yang akan di rasakan oleh Aninda saat ini.


Semua orang ikut terluka, namun disini yang paling terluka ialah Raga. Cowok itu tengah duduk di kursi dengan pandangan kosong. Kejadian di gudang tadi, sungguh tak dapat hilang dari kepalanya.


Raga... melihatnya.


Bahwa Sean sangat mencintai Aninda. Bahkan Sean berani mempertaruhkan nyawanya demi Aninda. Rasa bersalah kian menyelimuti hatinya. Tubuhnya berkeringat dingin. Bohong jika dirinya tidak ikut mengkhawatirkan keadaan sang sahabat, meskipun tengah bertengkar hebat, nyatanya persahabatan mereka masih tersemat di hatinya.


Raga tidak tahu bagaimana caranya, yang ia tahu ketika membuka pintu, matanya sudah di suguhkan oleh pemandangan yang begitu menakjubkan namun menyakitkan.


Cewek itu tengah menusukkan pisaunya ke dada Sean, saat itu Raga tak bisa berfikir jernih, apalagi melihat kondisi Aninda yang jauh dari kata baik-baik saja, membuat Raga kelimpungan. Yang lebih mengejutkan lagi dalang di balik penculikan itu adalah sahabat dari kekasihnya, Kira.


Pintu terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya dengan raut wajah khawatir di sana. Mereka nampak bergetar, Raga melirik lewat ekor matanya bahwa Sandra juga ikut takut juga.


"Pasien ingin bicara dengan saudara Raga. "


Kening Raga mengernyit, heran kenapa harus dirinya yang di panggil. Padahal disini ada keluarganya, meskipun tak enak hati, namun Raga mengangguk mengiyakan. Matanya menatap ke arah Jonathan, pria itu tersenyum. Raga pun masuk.


Disana, Sean tengah duduk sembari memainkan ponselnya, Raga lagi-lagi mengernyit heran. Padahal di luar sudah pada ketar-ketir mengkhawatirkan dia, tapi melihat kondisi sang sahabat yang tengah tersenyum di depan layar ponsel, Raga pun siap melontarkan bsrbagai hal pertanyaan.


Raga berjalan pelan, menyadari kehadiran seseorang, Sean menoleh lalu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


"Lo.... bahkan gue bingung mau ngomong apa sama lo. " Benar-benar tak habis fikir, pun Raga bahkan menutup bibirnya kembali lantaran tak dapat menyusun kalimat. Matanya masih fokus melihat kondisi Sean. " Lo bener-bener gak kenapa-napa kan? "


Sean mengernyit, lalu menggeleng.


Helaan nafas keluar dari bibirnya. Masih kurang puas Raga masih ingin menginterogasi sang sahabat.


"Dada lo... apa gak sakit? "


"Gak tuh. " Jawabnya asal tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Penasaran apa yang di lihat itu, Raga meliriknya, hanya sebuah chattan biasa.


"Lo, sebenernya gue masih belum puas. Sekarang jawab jujur pertanyaan gue. Lo... bener-bener gak papa? Sakit gitu? "


Jengah.


Sean akhirnya menghentikan kegiatannya, kini matanya menatap sepenuhnya ke arah Raga.


"Gue baik. "


"Kenapa baik? "


Sean melotot murka. " Lo pengen gue sekarat gitu?! " Tidak terima seolah dirinya memang tidak di butuhkan keberadaannya, Sean mau tak mau di buat kesal.


"Ya habisnya ini gak masuk akal. " Raga mulai bercerita. " Gue ngelihat dengan mata kepala gue sendiri, kalo piso itu nancep di dada lo! Ya gue sempet heran, kenapa lo masih baik-baik aja. "


"Berarti Allah gak ngizinin gue ninggalin Aninda, ngerti ente?! " Raga menatapnya datar, lebih memilih diam dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Ngapain lo manggil gue? " Hampir saja lupa akan tujuannya ke sini, lantaran sebuah perdebatan kecil yang selalu menguras tenaganya itu.


"Kapan? "


"Tadi. "


"Tadi kapan? "


Sean ini.....


Bolehkah jika dirinya memukul kepala Sean menggunakan palu? Sifat jailnya masih saja menempel di saat dia sedang sakit.


"Lo nyuruh Dokter buat manggil gue, bego! Pikun nih orang. " Raga mulai memaki, tak tahan lagi menghadapi sifat pelupa Sean di setiap harinya.


"Oh.... itu? Kupasin apel itu buat gue. "


Raga melongo.


Tangannya terkepal siap melayangkan sebuah tinjuan pada wajah mengesalkan itu.


"Dosa loh julidin orang yang lagi sakit... " Sean memperingatinya, wajah reseknya benar-benar membuat Raga jengkel. Raga mendengus, mengambil apel itu lalu mengupasnya.


"Kenpa gak lo kupas sendiri sih? Nyusahin aja lo. " Ucapnya menggerutu tidak jelas. Sean teraenyum guyon.


"Yang sakit dada lo. " Sean merengut, lalu mengambil potongan buah apel itu. Raga masih mengupasnya. " Tadi itu... seharusnya lo bisa ngehindar, piso itu mungkin gak bakalan ngelukain lo. "


"Tapi.. Aninda yang bakal terluka. " Suaranya berubah lirih, pandangannya berubah sendu ketika mengingat betapa takutnya Aninda saat itu. " Gue, gak bisa bayangin kalo misalnya Aninda yang bakal terluka. Kita sama-sama mencintai satu cewek, mungkin kalo lo di posisi gue, lo bakal ngelakuin hal yang sama kek gue. "


Raga diam.


Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Kepalan tangannya kian mengerat.


"Sorry... " Raga berkata tulus. Ucapannya benar-benar tulus. Sean menoleh lalu tersenyum tipis.


"Hm, lo gak usah ngerasa bersalah, kita sama-sama tahu kan, kalo kita sama-sama mencintai dia? " Raga mengangguk. Senyuman terbit di bibirnya. " Gue pengen lo ngelakuin satu permintaan gue."


Kepala Raga mendongak. " Permintaan apaan? " Karena termasuk hal yang langkah jika Sean harus meminta sesuatu dengan wajah serius itu.


"Lo bisa jaga Aninda buat gue kan? "


"Jaga? " Raga semakin di buat bingung. " Jaga apanya maksud lo? " Raga bertanya skeptis.


"Gue serius, tolong jaga Aninda buat gue. Gue... gak yakin bisa jaga dia di setiap waktunya dengan keadaan gue yang kek gini. Lo.. mau nurutin permintaan gue kan? "


"Lo tuh ngomong apa sih? Lo lagi ngigo? "


Atmosfer di sekitarnya mulai tidak nyaman.


Mustahil jika Raga tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Sean. Tapi dirinya masih belum siap.


"Ini permintaan terakhir gue. "


"Lo ngomong gitu seolah lo mau mati tahu gak! " Suaranya meninggi. Tak dapat menyembunyikan kemarahannya. " Kita bakal jaga Aninda sama-sama. "


Sean menggeleng, lalu tersenyum. " Gue gak bisa. Jalan satu-satunya cuma lo. Gue.. gak bisa bayangin kalo Aninda bakal kelempar lagi di masa lalunya. Cukup Genta aja yang ninggalin dia. "


"JUSTRU ITU YANG BIKIN GUE GAK NGERTI SAMA LO?! " Deru nafasnya tersengal-sengal. Raga menatap sengit Sean. " Justru itu, Aninda cinta sama lo, kalo ninggalin dia seperti Genta, apa itu gak sama aja? Mikir. "


Kepala Sean menunduk. " Gue.. gue gak bisa bertahan lebih lama lagi. Lo tahu, sedari tadi gue nahan dada gue? Sakitnya bener-bener gak ketolong. "


Raga menatap dada Sean, Sean meringis sesekali menyentuh dadanya.


"Se-"


"Gue mohon.. gue mohon lo ngelakuin itu buat gue, buat Aninda juga. "


"Tapi-"


"Ini. " Raga melihat sebuah surat yang ada di genggaman Sean? Kapan dia menulisnya? Tapi Raga menerimanya. " Kasi surat ini ke dia saat dia bener-bener bisa ngeliat dunia. Gue bakal donorin mata gue buat dia. "


"SEAN! " Sean tersentak mendengar bentakan dari Raga. " Sandra sama bokap lo di luar, mereka lagi nungguin lo. Tante Raina juga ada di sana! 5 jam, 5 jam kita nungguin lo berharap lo bisa sembuh. Tapi apa yang kita dapet? Lo mau nyakitin mereka? Lo gak kasian sama adek lo?! Dia nangis, bego! "


Sumpah!!


Raga benar-benar di buat emosi hari ini. Namun Sean hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Tolong kasi ini ke dia. "


"Gak-"


"Gue udah gak kuat lagi. "


Sean Alfabeth



Raga Dirgantara



Aninda Sakura



Sandra Alfabeth