
Sosok wanita paruh baya sekitar berumur 35 sedang menunggu seseorang yang sampai saat ini belum datang juga. Perasaannya mulai khawatir, sudah hampir jam 12 malam, tapi Aninda belum datang juga. Apalagi malam ini hujan lebat, Raina semakin khawatir dengan keadaan Aninda saat ini.
Sesekali Raina berdo'a ketika suara petir menyambar. Membayangkan bagaimana takutnya putri satu-satunya itu. Raina menghela nafas panjang, bibirnya melengkung ke atas ketika menemukan Aninda keluar dari mobil bersama seorang teman. Raina menyipitkan matanya melihat kening Aninda yang di perban. Luka apa itu???
"Kamu dari mana saja sayang? mama khawatir sama kamu. " Bibir mungil itu tersenyum tipis, mamanya mengkhawatirkannya, dan itu membuat Aninda menyesal. "Dan apa ini? keningmu terluka?! "
"Gak pa-pa ma, Aninda sehat kok. " Raina menoleh ke samping, meminta penjelasan pada teman putrinya itu. "Aninda gak bohong ma? "
"Aninda gak pa-pa kok tante, tadi itu cuma kejedot meja karena Aninda gak hati-hati, jadinya keninngnya terluka. " Kira selaku temannya mencoba menenangkan Raina, meskipun Raina sedikit tidak percaya, tapi melihat keadaan Aninda pulang dengan selamat, itu saja sudah membuat Raina senang.
"Makasih, dan tante juga minta maaf karena tidak percaya sama kamu. " Kira hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Kira pulang ya tante. "
"Di luar hujan lebat, apalagi jalanan licin, lo gak sekalian nunggu hujan reda dulu Ra? " Sebenarnya Kira juga berfikir seperti itu, tapi di sisi lain Kira memikirkan mamanya yang saat ini menghkawatirkannya.
"Gue bakak hati-hati Nin, lo gak usah khawatirin gue. " Kira pun keluar dan menuju mobil. Raina menuntun Aninda masuk ke dalam rumah.
"Mbok? tolong bikinin Aninda air anget ya? takut Aninda kena demam. "
"Baik nyonya. " Setelah itu Raina mendudukkan Aninda di sofa, mengambil handuk dan mengusapnya di rambut basah Aninda.
Aninda tersenyum.
Raina adalah orang tua terakhir setelah kepergian Reyhan, papanya.
"Mama tumben pulang cepet? biasanya baru 2 hari pulang ke rumah. " Aninda mengerucutkan bibirnya ke depan. Melihat Raina kerja hingga tidak ada waktu untuknya, mau tak mau Aninda harus sendiri di rumah di temani oleh Mbok Mina. Raina tersenyum.
"Mama sibuk sama urusan butik sayang, jadi mama gak ada waktu, maaf ya? " Aninda menghela nafas panjang.
"Aninda takut sendirian ma, Aninda takut... " Lirih Aninda. Air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Raina menatap sendu putrinya itu, terkadang Raina berfikir, kenapa Tuhan begitu tak adil pada putrinya? "Jangan tinggalin Aninda ma.. "
Raina mengusap lembut puncak kepala Aninda. " Sayang? dengar ya? mama gak akan ninggalin Aninda, sedikit pun tidak akan pernah. Jadi jangan berfikiran seperti itu ya? "
"Iya sayang, mama ngerti, kamu sabar ya.. "
🌺🌺🌺
"Gue pengen ngomong sama Sean. " Semua mata tertuju pada suara itu, Sean sangat mengenalnya,
Aninda datang menemuinya? untuk apa??
Kira menuntun Aninda untuk duduk di kursi, saat ini mereka berdua tengah berada di kelas Sean, Aninda mengajak Kira untuk menemui Sean dan berterima kasih padanya. Kira mengambil alih tongkat milik Aninda.
"Eh, lo Nin?! ngapain lo pagi-pagi ke kelas gue?! kangen gue ya, ngaku lo.. " Aninda tersenyum mendengar gurauan yang di ciptakan oleh Sandra adik Sean.
"Gue mau ngomong sama Sean. " Sandra mengernyit, lalu memanggil Sean.
"Woyyy. setan!!! lo di cari Aninda nih!! " Dengan senang hati Sean berlari ke arah Aninda dengan senyum yang terpampang jelas di bibirnya.
"Eh, ada bidadari gue, kangen gue ya?? " Sean duduk di depan Aninda dan menaik turunkan kedua alisnya. Aninda diam dalam ekspresi datar. "Bahkan tanpa senyum aja, masih aja cantik. Ck ck! herman gue. " Sean berdecak kagum melihat kecantikkan Aninda.
"Makasih. " Aninda mengulurkan tangan kanannya, berniat untuk berterima kasih. "Lo udah bantu gue dari mereka yang udah jahatin gue. "
"Jabat oy!!! malah diem.. " Kini bukan Sandra yang bersuara, tapi Kira yang berteriak. Sean tersenyum.
"Seharusnya gue yang berterima kasih ke lo. "
"Maksud lo? " Aninda menaikkan sebelah alisnya.
"Karena lo masih bertahan sampai di sini demi gue. " Ucapnya bangga. Aninda diam. Sandra mengerjapkan matanya. Menyentuh kening Sean dengan telapak tangannya.
"Gak panas? " Gumam Sandra. " Gak waras nih bocah. "