SeanNinda

SeanNinda
Hujan Dan Obrolan



"Beneran nih, lo gak mau gue tungguin? soalnya ini hampir jam 2, lo gak takut di culik sama preman? " Lagi-lagi Kira menghawatirkannya, tapi tidak seharusnya Aninda harus melibatkan temannya itu atas ketidak mampuannya. Aninda tidak ingin membuat Kira merasa terbebani sedikit pun karenanya.


"Gue gak pa-pa kok, lo pulang aja duluan. " Kira menggigit bibir bawahnya, fikirannya mulai melayang tidak-tidak. Kira menatap tongkat yang ada di genggaman Aninda, apa Aninda bisa menjaga dirinya sendiri hanya dengan menggunakan tongkat? Kira mulai was-was. Apalagi melihat keadaan jalanan sepi dan anak-anak sudah pulang semua.


"Ra? "


"Eh?! " Kira tidak fokus, ia menggaruk pelipisnya, kepalanya pening akibat memikirkan keadaan sang teman. " Gini aja deh Nin, lo ikut mobil gue, ntar gue anter sampek rumah lo, ok? gue gak bisa ngelihat lo jalan sendirian pake tongkat. " Ada sedikit nada kekhawatiran yang di ucapkan Kira, mungkin Kira benar-benar menghawatirkannya.


"Gue gak pa-pa Ra, mending lo pulang gih, udah mau ujan juga. Lo gak takut bokap lo marahin lo? " Kira menggeleng pelan. " Beneran, lo gak usah khawatirin gue. "


"Tapi bener ya, kalo lo udah nyampek rumah jangan lupa ngasi kabar, awas lo kalo gak! " Kira menatapnya penuh selidik sesekali memberi ancaman pada sang sahabat. Masalahnya, melihat Aninda seperti ini membuat rasa peduli seorang Kira keluar, Aninda sahabatnya wajar kalau dia mengkhawatirkannya.


Kali ini Kira percaya dan tak akan memaksa Aninda, mungkin dia ada urusan penting dan tidak mengizinkan siapa pun tahu termasuk dirinya.


Kira menoleh ketika suara klakson mobil menyeruak ke dalam gendang telinganya.


"Sopir gue udah jemput, gue pulang duluan. " Aninda mengangguk, lalu tersenyum tipis. Kira menatap sekilas ke arahnya lalu melangkah pergi meninggalkannya. Saat ini tinggal dirinyalah yang masih berdiri di depan gerbang, sebenernya Aninda berbohong tentang mamanya yang akan menjemputnya, Aninda takut jika ia hanya akan merepotkan Kira saja. Aninda mulai berjalan pelan menggunakan tongkatnya, cukup jauh memang. Tapi ia akan tetap berusaha dan tidak akan jadi pengganggu bagi mereka termasuk Sean.


tatapan Aninda berubah sendu, mengapa di saat seperti ini dirinya harus memikirkan cowok itu? Aninda berusaha untuk tidak memikirkan Sean terus-terus, karena Aninda sadar diri.


ctar!!!!!


Suara petir mulai menyambar, hujan mulai turun dan menyentuh kulit putih miliknya. Aninda segera berlari dan mencari tempat berteduh.


pasti mamanya akan marah.


Tapi Raina mungkin masih berada di butik sekarang. Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya, sepertinya dari Raina.


"Halo sayang? kamu udah pulang? kok kamu belum nyampek rumah sih? "


" Maaf ma Aninda lupa ngasi tahu, sekarang Aninda lagi dirumah Kira, ntar aku pulang kok, janji. "


"Bener ya? hati-hati loh di jalan, soalnya hujan di luar. "


"Iya ma, bye.. "


Tut.


Aninda menghela nafas lelah, apalagi suara petir dan gemericik hujan semakin keras, sepertinya ia akan lama menunggu hingga hujan reda disini. Aninda tersentak kaget ketika mendapati sebuah jaket yang menggantung di pundaknya.


"Dingin soalnya. "


"M-makasih. "


"Hm. " Jawabnya pelan. " Sahabat lo? "


"Kira udah pulang duluan, gue yang nyuruh dia. "


Hening.


Tak ada lagi percakapan, semua sibuk sama fikirannya masing-masing. Sedangkan Raga, cowok itu masih sibuk menatap wajah cantik milik Aninda, dalam hati Raga berdecak kesal. Wajah cantik inilah yang sudah membuat persahabatannya dengan Sean hancur, tapi Raga tidak bisa di pungkiri jika ia juga begitu tertarik dengan cewek berwajah korea ini.


"Lo cantik, gue suka. "


"Eh? " Mata Aninda mengerjap beberapa kali, menetralkan kegugupannya. Aninda memilin jemarinya, ia benar-benar gugup saat ini.


"Tapi, kenapa kita berdua harus mencintai cewek yang sama? dan cewek itu lo Aninda Sakura. "


"K-kenapa lo harus ngomong itu di depan gue? "


Raga mengangkat sebelah alisnya heran. " Maksud lo? "


"Hm, maksud gue gak seharusnya lo ngomong itu ke gue kan, lo udah bikin gue malu. " Ucapnya pelan, sangat pelan. Kekehan ringan terdengar di telinganya, Raga mentertawakannya, Aninda tidak tahu bagaimana kondisi wajahnya sekarang.


"Lo tahu gue sama Sean itu udah kek saudara kembar, apa-apa harus sama. " Aninda hanya diam tak berniat untuk menjawab, lagipula cowok itu sendiri yang bicara dahulu padanya. " Dan sekarang pun, kita mencintai cewek yang sama, kenapa? " Aninda pun sadar, bahwa sepertinya Raga memang juga sangat lelah seperti dirinya, namun ia juga merasa bersyukur karena telah di cintai oleh dua orang yang benar-benar tulus mencintainya.


Tapi, Aninda hanya mencintai Sean kan?


Ah, pasti Sean tidak pernah menyadari hal itu, Aninda sudah mulai menyukai Sean saat ia membutuhkannya, di ia terpuruk, mulai saat itu Aninda mulai menaruh hati padanya. Tapi Aninda sadar diri, karena ia hanyalah cewek cacat yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya merepotkannya.


Aninda tersenyum getir, nyatanya menangis pun tak akan bisa membuat Sean kembali ataupun memaafkan dirinya. Ia tahu, bahwa sean tulus mencintainya. Namun Aninda berfikir bahwa tak ada secuil pun harapan untuk dirinya bahagia.


"Tapi, lo mencintai dia." Aninda mengernyit. " Lo, suka sama Sean kan? "


Deg...


Jantung Aninda berpacu dengan cepat, sebuah kalimat yang mampu membuat hatinya sakit sekaligus bahagia, Aninda diam, ia memilih bungkam.


"Gue tahu lo suka sama Sean, tapi lo tahu kan Aninda... " Raga menggantungkan kalimatnya. " Di dalam prinsip persahabatan antara gue dan Sean, kita gak bakalan ngelepasin apa yang udah jadi hak milik kita. Jadi, lo siap-siap aja. "


Tidak! Bukan ini yang Aninda harapkan, ia tidak ingin menjadi penghancur ataupun benalu antara Sean dan juga Raga. Aninda memilin kesepuluh jarinya, ia bingung. Cowok di sebelahnya ini terlalu bahaya. Mungkin setelah ini ia akan memcoba untuk tidak berurusan lagi dengannya.