SeanNinda

SeanNinda
Bimbang 2



"Ma? "



"Hm? " Jawab Raina sembari mengeringkan rambut basah milik Aninda. Raina menatap putri kesayangannya lewat pantulan kaca di depannya, dapat di lihat wajah Aninda yang menyimpan banyak rahasia. Seakan mengerti hal itu, Raina tersenyum sebelum berkata. "Kalau ada yang kamu omongin, bilang aja sayang, mama siap dengerinnya. "



Aninda menghembuskan nafas pelan lalu berucap. "Tadi di Sekolah ada sedikit masalah, dan Aninda menjadi biang masalahnya. " Kening Raina mengkerut tanda tak mengerti.



"Masalah? apa? "



"Ma? apakah salah, jika ada seorang cowok mencintai cewek yang di cintainya? maksud Aninda, tadi ada cowok menyatakan perasaannya pada Aninda. "



"Untuk apa salah? itu hal yang wajar sayang, semua makhluk memang pernah merasakan cinta. "



"Tapi masalahnya Aninda masih mencintai-"



"Genta? " Satu jawaban berhasil membuat bibir Aninda bungkam. Sebuah nama yang telah singgah di hatinya hingga sampai saat ini. Mencintai seseorang yang telah tiada bukanlah hal yang bodoh bukan? meskipun Genta tidak ada di sampingnya, tapi Aninda yakin bahwa Genta selalu ada di sisinya.



"Aninda... gak yakin ma.. " Ucapnya lirih, satu butiran bening jatuh di pelupuk matanya. Raina menyentuh lembut pundak putrinya.



"Mama tahu apa yang kamu fikirkan, sayang. Mungkin terlalu mencintai seseorang itu hal yang wajar, tapi mama tahu, kalau kamu masih merasakan rasa bersalah. Tidak baik menyalahkan diri sendiri Aninda, mama tidak pernah memaksamu untuk melupakan Genta, tapi apa salahnya jika kamu berusaha untuk mencari pengganti? setiap kesempatan hanya datang 2 kali, Aninda. "



"Ta-tapi, Aninda takut dia tersakiti ma? Dia terlalu baik dan sempurna untuk Aninda. "



"Buta tidak menghalangi keinginanmu Aninda, jika memang dia tulus mencintaimu apa salahnya mencoba? mama selalu mendukungmu."



"Beri Aninda waktu ma, boleh? " Aninda memberi jeda. " Mama tahu, terkadang Aninda merasa takut jika trauma itu datang secara tiba-tiba, kecelakaan di malam itu, Aninda penyebab kepergian Genta ma, Anin-"



"Husttttt, sudah? jangan di ingat lagi, mama tahu, ok! sekarang kamu tidur, jangan lupa minum obatmu, hm? " Aninda mengangguk lemah, Raina menuntun Aninda hingga di ranjangnya, menyelimuti tubuh mungil putrinya dan mencium sekilas kening putrinya.



"Temani Aninda untuk malam ini, ma. " Raina tersenyum miris, membayangkan bagaimana takutnya Aninda yang selalu di lingkupi kegelapan. Raina mengangguk lalu mengusap lembut puncak kepala putrinya.





🌺🌺🌺🌺





"H-hai. " Jawabnya gugup. Masalahnya saat ini Aninda ada di kantin, pasti semua mata tertuju padanya. "Raga kan? "



"Kok lo tahu sih? pasti lo masang cctv kan di boxer gue? ngaku lo? "



"cctv? gak kok! "



"Cieee malu-malu kucing... "



"Gak Raga! lo ngapain kesini? " Raga meminum minumannya lalu menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Menatap lekat manik mata yang berhasil membuatnya tertarik dari kemarin.



"Pengen deketin lo. "



"Hah? " Ekspresi terkejut Aninda membuat Raga terkekeh. Kadang Raga berfikir, kenapa mata secantik itu harus di buat tidak dapat melihat?



"Gue, pengen deketin lo, Aninda Sakura. " Bisik Raga di telinga Aninda, lantas Aninda langsung menyingkir dan hampir saja jatuh jika Raga tidak cepat memegang tangannya.



"M-maksud lo? " Raga tersenyum manis.



"Lo tahu, sejak kejadian kemarin di Perpustakaan, gak salah! Maksud gue, pertama gue ngelihat lo pas di bully sama gengnya si Vanya, gue udah tertarik sama lo."



"Dan gue baru sadar, kalo gue udah jatuh cinta sama lo, Aninda. " Sesaat Aninda terdiam lalu tertawa hambar.



"Lo ngaco deh kalo ngomong. "



"Gue serius! omongan gue gak pernah bohong. Mungkin mulai sekarang, gue sama Sean bakal jadi saingan untuk ngedapetin cinta lo. "



"Tapi, kenapa harus gue??? " Cicit Aninda memelas.



"Gak tahu ya? " Raga tersenyum. " Mata lo bagus, gue suka. " Aninda diam tak berkutik. 2 cowok menyatakan cinta padanya.



"BRENGSEK!!!!! "