SeanNinda

SeanNinda
Extra Part 1



Semuanya telah berbeda.


Sejak kejadian penculikan itu, kini hubungan antara dirinya dan juga Kira semakin merenggang. Kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Kira adalah dalang di balik insiden itu. Aninda begitu tidak percaya akan hal yang di lakukan oleh sang sahabat, meskipun baru menjalin hubungan persahabatan beberapa bulan, tapi mereka bisa cukup di bilang baik dalam hal pertemanan.


Aninda memandang sendu sahabatnya.


Atas kejahatan yang termasuk tindakan kriminal, Kira di penjara. Aninda mencoba untuk tersenyum, mencoba melatih kesakitan hatinya.


"Keadaan lo apa kabar, Ra? " Ia memilin beberapa jarinya. Degup jantungnya tak beraturan. Matanya masih setia memandang sang sahabat. " Gue, kangen banget sama lo. Gue harap lo gak ngelupain gue. " Kira masih diam bergeming. Nampak tak ingin berbicara walaupun sekedar untuk menoleh. Aninda menghela nafas panjang, matanya ia kedipkan beberapa kali guna menahan air matanya.


"Setelah kejadian itu-" Suaranya tercekat, Kira maaih sibuk memainkan rubik di tangannya. " Setelah kejadian itu... di mana lo nyulik gue, gue ngerasa hubungan pertemanan di antara kita beda. Lo seakan mau menjauh dari gue. Dan.. dan pengakuan lo tentang perasaan lo kepada mereka, gue bener-bener minta maaf,Gue minta maaf.. "


Tangis Aninda pecah. Namun Kira masih enggan membuka suara. Tapi aktifitasnya berhenti. Kira mendengarnya.


"Gue bener-bener minta maaf, selama ini gue gak pernah tahu apa yang tengah lo rasa'in dulu. Pasti sakit kan? Tapi kenapa lo diem Ra? Kenapa?! " Ia berteriak keras, suaranya terdengar parau. Dua hari ini Aninda tak ada berhenti menangis. Perasaan takut dan bersalah bercampur menjadi satu.


"Lo udah bikin gue merasa bersalah tahu gak?! Dengan adanya lo diem gini, membuat gue selalu di rundung rasa bersalah! "


"Emang gue peduli? " Satu kalimat yang mampu membuatnya bungkam saat itu juga. Aninda menangis sesenggukan. Kira mengangkat sebelah alisnya. " Gue emang sengaja, agar lo selalu dilema atas perasaan lo sendiri. Agar lo bisa ngerasa'in gimana rasanya di sakitin. "


"Disakitin? " Aninda membeo. " Disakitin lo bilang? Bahkan sebelum ketemu lo pun gue udah pernah di sakitin, ngerasa'in gimana radanya di tinggalin, hingga gue trauma dan depresi! Asal lo tahu Kira, gue gak normal. Gue gak sama kek cewek kebanyakan. Kecelakaan itu buat gue trauma dan mengidap self injury. Tanpa lo sakitin pun gue udah ngerasa'in hal itu. "


Ternyata selama ini Aninda menyembunyikan fakta itu, dan Kira tidak mengetahuinya. Memendam trauma itu sendiri tanpa ada yang tahu satupun.


"Gue terluka, sejak Genta pergi untuk selamanya gue udah terluka, Ra... hati gue hancur. Gue saat itu bener-bener gak bisa berfikir jernih hingga memutuskan untuk bunuh diri gue sendiri. Gue buta, Genta mati karena gue, dan sekarang Sean mati karena gue, kenapa disini harus gue yang berperan sebagai antagonis? Udah begitu banyak luka yang gue tanggung selama ini. Jadi pasien Psikiater selama 4 tahun itu gak sedikit. Berat bagi gue ngadepin itu semua. Sejak gue ketemu lo, gue ngerasa bahwa masih ada yang peduli sama gue. Lo sahabat gue satu-satunya, tapi setelah ngeliat kejadian itu, gue bener-bener terluka... hati gue hancur... "


"Gue-" Suara Kira tercekat. Pernyataan Aninda sanggup menggoyahkan rasa bencinya menjadi simpati. Kira merasa bersalah, selama ini Anindalah yang selalu terluka. Kira tak pernah tahu akan hal itu, sahabatnya itu sanggup menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. "Gue gak tahu harus ngomong apa. "


Aninda terseenyum mengusap pelan air matanya. " Lo... gak usah ngerasa bersalah, Ra. Gue emang pantes dapetin itu semua, mungkin itu hukuman karena dulu gue terlalu egois kan? Makanya tuhan ngehukum gue. "


"Ann-"


"Dan untuk kejadian kemarin, gue... gue udah ngelupain semua. Gue udah maafin lo sebelum lo minta maaf. Jadi.. jangan pernah ngelupa'in gue. "


"Aninda... " Aninda pergi. Kira tersenyum miris. Jika saja ia bisa menahan egonya untuk menyakiti Aninda, mungkin sahabatnya itu tidak akan terluka, dan mungkin dirinya tidak berada di dalam jeruji besi seperti sekarang.


Semuanya telah terlambat, mau menebus pun percuma. Meskipun Aninda telah memaafkannya, apa dia bisa menerimanya kembali?


"Maafin gue, An.. "


SELESAI.