SeanNinda

SeanNinda
Memperhatikan



"Cantik. " Satu kata berhasil keluar dari bibir sang pemuda tampan yang kini sedang duduk di samping jendela dengan kedua mata tak teralihkan dari cewek itu. Entah mengapa, perasaan itu semakin tumbuh dan tumbuh ketika melihat senyumnya. Terkadang Sean sendiri ingin sekali Aninda tertawa karenanya.



"Ga. "



"Hm. " Raga menjawab asal tanpa minat, menghiraukan obrolan yang sudah di duga tidak ada gunanya.



"Menurut lo, Aninda itu cantik gak? " Seketika Raga menoleh dan mengernyit, untuk apa Sean mempertanyakan hal itu?



"Cantik! menurut gue sih. " Sean hanya ber oh ria sebagai jawaban. Melihat lagi pemandangan terindah yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Sean tersenyum geli mengingat pertemuan singkat dirinya dengan Aninda waktu itu, mungkin Tuhan punya maksud sendiri membawa Aninda di dalam hidupnya, bahkan Sean tidak pernah berfikir sejauh ini. Sekarang yang akan di lakukan oleh Sean adalah menjaganya, mencintainya setiap saat.



"Jantung gue kok berdebar-debar gak karuan gini sih?! " Protesnya sambil memegang dada kirinya.



"Anjirrr!! kek drama aja lo! " Raga bergidig ngeri melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat labil.



"Senyumannya bikin gue meleleh. " Ucapnya tanpa sadar sambil berdecak sebal. Sean sampai tqk habis fikir, sepertinya Tuhan salah mengirim manusia, aninda itu bidadari kah?? "Lo tahu ga? gue sangat bersyukur sekali karena Aninda muncul di kehidupan gue, mungkin pertemuan singkat waktu itu adalah bukti kalo Aninda jodoh gue. Hah... gue gak nyangka. "



"Keknya Aninda terlalu baik buat lo. "



"Maksud lo? " Sean tak lagi melihat ke arah luar, mengalihkan atensinya untuk memperhatikan sang sahabat, apa maksud Raga berbicara seperti itu? Raga menutup bukunya lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja sebelum berkata.



"Seharusnya lo udah ngerti maksud dari perkataan gue, Sean. Aninda itu spesial, ya meskipun dia gak sempurna. Tapi kalo Aninda di sandingin sama lo, keknya kagak cocok, secara lo itu cowok urakan yang gak punya tata krama. "



"Apa maksud lo ngomong kek gitu?! " Suasana menjadi panas. Perkataan Raga membuatnya tersingung. Jujur, Sean memang cowok nakal, urakan, bad boy, tapi Sean juga ingin merasakan namanya cinta. "Gue curiga. "



"Lo gak perlu curiga ke gue. " Kini kepala Raga tidak lagi telungkup, menatap instens sang sahabatnya yang menatapnya datar. "Lo ngerti apa yang gue maksud barusan? gue juga capek kali kalo ngode-ngode lo terus. "



"Gak usah bertele-tele, cepet katakan. " Ucap Sean tidak sabar. Raga terkekeh melihat kemarahan di wajah Sean.



"Gue juga ngerasa'in yang lo rasa'in! Lebih tepatnya-"





Bugh!!



Bugh!!



Sebuah bogeman Sean tujukan pada Raga. Sean mengepal kuat kedua tangannya. Raga meringis merasakan sakit di bagian tulang selangkanya.



"Pukulan lo lumayan. "



"GILA!!!" Nafas Sean tampak memburu. Dapat dilihat dari mata Raga, bahwa cowok itu benar-benar menyukai Aninda. Ah!!! kalau begini jadinya, Sean tidak akan membiarkannya. "Sejak kapan? "



"Widihh!! santai dong bro.. "



"Gue tanya sejak kapan!!!"



"Sejak gue sengaja nyamperin dia." Jawabnya dengan senyuman bangga di bibirnya. "Lo tahu, gue udah suka sama Aninda. "



"BRENGSEK!!!"



"Sean!!!!! " Sandra datang dengan langkah tergopoh-gopoh, menghiraukan tatapan takut dari semua orang. "Lo ngapain sih smack down di kelas?! kagak ada tempat lain apa?! "



"Dia duluan. " Wajah mereka sudah di penuhi lebam, namun tidak sedikit pun mengurangi rasa sakitnya.



"Keknya, mulai sekarang kita saingan. "



"Bacot!!!! "