SeanNinda

SeanNinda
Butuh Bicara



"Jadi, apa alasan seorang Seandra Alfabeth dateng nemuin cowok miskin kek gue. " Cowok itu bertanya dengan nada mengejek sembari menyeruput minumannya. Bukan Sean namanya jika dia mengajaknya bukan karena satu alasan, terkait adanya satu cewek di antara mereka berdua, sosok tegap nan netra tajam yang tak luput dari kedua matanya itu menatapnya datar, tak ada lagi tatapan bahagia ataupun senang, yang ada hanyalah kebencian yang semakin mendalam.


"Hm, gue butuh bicara empat mata sama lo. " Suara kekehan kecil keluar dari bibir cowok di depannya.


"Lo udah kek di acara TV gue aja, receh tahu gak. "


"Hm, padahal lo tahu Ga, kalo gue orangnya emang receh. " Anggukan kecil di lakukan sosok Raga yang ada di depannya saat ini. Sean butuh privasi sekarang, mungkin bicara baik-baik dengan Raga sedikit lebih mudah.


"Dari dulu sampe sekarang, bahkan apapun yang kita suka selalu sama, gue berasa lo itu saudara gue. " Ucapnya datar dengan netra tak luput dari pandangannya. Raga mengangguk setuju.


"Gue juga ngerasa gitu, awalnya gue anggep itu hanya masalah sepele, mengingat kita berdua masih orok waktu itu, bahkan abang gue ngomongin cinta pun gue anggep serius, gue pengen ketawa. " Sembari menggelengkan kepalanya. Raga berucap. " Dan sampe sekarang pun, lo yang selalu pertama Sean. "


"Maksud lo? " Pertanyaan itu tak mengenakkan di telinga seorang Seandra Alfabeth, mencoba memahami perkataan apa saja yang akan di lontarkan oleh Raga selanjutnya. " Gue harap, lo gak mojokin gue. "


"Mojokin apaan?! kalao mojokin dalam arti cinta sih gak pa-pa, karena dari dulu hingga sekarang, lo selalu dapet apa yang lo dapatkan. "


"Intinya, lo ngungkit masa lalu kita, gitu? "


"Lebih tepatnya gitu. " Raga langsung to the point. Menjelaskan saja percuma, karena menyadari kadar kepekaan cowok di depannya ini. "Gue heran deh sama lo, kenapa harus lo yang selalu menang Sean?! kenapa gak gue aja?! "


"Itu karena lo gak pernah bersyukur apa yang ada di dalam diri lo, Raga! " Kenapa obrolan mereka menjadi sangat panas, bahkan pengunjung lainnya ikut menyaksikan.


"Ah! selalu begitu, bahkan sekarang pun kita mencintai cewek yang sama. "


"Kalo itu, gue gak bisa. " Wajahnya kembali datar lebih tepatnya serius. " Karena yang satu ini terlalu berharga untuk di lepaskan, dia... istimewa. " Senyum miring terpatri di bibir Raga.


"Dia emang istimewa, oleh karena itu gue bakal merjuanginya, gak peduli apa kata orang. " Kini sudah jelas, kenapa Sean mengajaknya untuk bicara, Raga menjadi lebih mudah untuk mengalahkan sahabatnya itu. Dari dulu, Raga selalu mengalah pada Sean, apa yang di inginkannya harus kandas karena sahabatnya itu juga menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi, Aninda hanya miliknya, tidak peduli jika Sean menyukainya, Raga akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Aninda.


"Lo, udah di penuhi oleh rasa iri, Raga. gue khawatir kalo lo salah langkah. "


"Ck! Ck! Lo nyeramahin gue kek lo gak gitu aja, lo tahu? kita itu gak bedanya. " Ucapnya penuh penekanan, gigi Sean gemelatuk tertahan, mencoba menahan amarahnya karena Sean tahu, bahwa Raga sengaja memancingnya.


"Gue gak ngizinin lo deket sama Aninda. "


"Itu hak gue! gue deket atau nggaknya itu terserah gue, selama Aninda gak ngelarang, ya gue bisa apa?" Tanyanya lebih tepatnya mengejek. Ini tidak bisa di biarkan, Aninda tidak akan pernah jatuh di tangan cowok Raga, sekarang Sean bukan hanya mencintainya, tapi juga ingin menjaganya.


🌺🌺🌺🌺


"Anjirrrr!!! nih soal ribet amat! kek cinta gue ke Jungkook BTS!! " Sedari tadi, Kira tidak ada henti-hentinya mendumel bahkan mengumpat. Bagaimana tidak? tugas yang di berikan oleh salah satu Guru MTK begitu sulit, di tambah Kira tidak begitu peduli pada pelajaran itu, lebih tepatnya MEMBENCINYA!!!!


Aninda hanya bisa menggelengkan kepala pelan, memakai headsetnya di kedua telinganya, mungkin dengan cara ini, Aninda tidak akan terganggu. Kira menghela nafas panjang, tenaganya terkuras habis karena dari tadi marah-marah tidak jelas.


"Ninda? lo kan pinter? gimana kalo otak lo di tuker sama otak gue? "


"Yang ada gue yang goblok!! " Ucapnya sambil memainkan bolpoin di atas kertas putih itu. Kira berdecak.


"Gak usah ngayen!!!" Mungkin temannya ini kebanyakan nonton drama cinta ataupun korea, seluruh kepalanya isinya cowok tampan semua. "Lo kalo mau pinter, ya belajar dong?!! "


"Males mikir gue. " Celetuknya lalu menjajarkan posisi duduknya dengan Aninda. Kira mengangguk pelan, menatap Aninda dengan serius. "Lo mau kan jadi tangan kanan gue? "


"Maksud lo? " Kini Aninda menghentikan aktifitasnya, mendengarkan perkataan apa lagi yang akan di lontarkan oleh Kira.


"Hm, lebih tepatnya kalo misalnya kita ada tugas, lo aja yang ngerjain tugas gue. "


"Lah?! lonya terus ngapain?! "


"Tidur lah!!! " Aninda menggeleng keras, kali ini obrolannya dengan Kira begitu tidak masuk akal. Mana mungkin dirinya mengerjakan tugasnya dan Kira hanya keenakkan tidur?? "Mau ya??? kan lo temen gue... "


"Gue pecat lo jadi temen gue!! "


"Ah!! lo mah gak seru!!! "


"Ya habisnya? " Aninda menjeda. " Tolol lo itu udah kelewatan! lo mah mau enaknya doang!!!! "


"Sebenernya gue kalo mau masuk Universitas Kedokteran gak harus belajar sih. "


"Maksud lo? gak usah ngomong aneh-aneh deh, Ra? otak lo udah buntu. "


"Maka dari itu karena otak gue buntu, meskipun tanpa belajar pun gue bakal masuk Kedokteran. " Hembusan nafas Kira keluarkan. " Apapun bakal bokap gue lakukan demi gue, sekalipun itu dengan cara uang. " Kira tersenyum miris.


"Lo tahu kan, Nin? kalo gue gak pengen masuk Kedokteran? cita-cita gue pengen jadi penulis novel, selain itu gak ada yang gue minati. "


"Kira.. " Kalau sudah begini, Aninda bingung bagaimana menanggapinya. Sebenarnya Aninda juga tahu itu, bahwa Kira sangat ingin menjadi penulis. Beda dengan dirinya, di dalam dirinya hanya ada satu tujuan, yaitu Dokter.


"Lo tahu sendiri kan, Nin? nulis itu hobi gue, hobi sejak kecil. Mungkin menurut lo cita-cita gue gak sebanding dengan keinginan lo, tapi dengan nulis, hidup gue berasa sangat berarti. Bukan hanya hidup gue, tapi imajinasi gue itu terlihat banget. Tapi bokap gue egois Nin, dia selalu maksa dan ngekang gue... "


"Ra... " Aninda meraba jemari Kira lalu meremasnya pelan, menyalurkan rasa pedulinya. " Gue tahu lo itu cewek kuat, pribasi yang ceria, lo baik. Gue gak akan pernah nyesel karena udah menjadi temen buat lo, apapun keputusan lo gue tetep dukung lo, selagi tujuan lo itu berguna bagi hidup lo, gue bisa apa? lo enak punya tujuan hidup, Ra. Gak kek gue? selalu di penuhi rasa bersalah. " Kira menggeleng keras.


"Gak!! li juga cewek yang kuat, Aninda! lo selalu sabar, ngadepin mereka yang nyiksa lo, bahkan sampe malu'in lo. Lo tahu? gue ngerasa gue cuma jadi cewek pengecut ngelihat temennya di caci maki, sumpah!!! gue kagak demen sama hal yang begituan!! "


"Hm, gue rasa, kita harus saling menjaga satu sama, lain, karena kita tidak tahu kapan kita mati. "


"Anjirrrr!!! omongan lo.. "


Dakira Queen