SeanNinda

SeanNinda
Kekecewaan Sean



" Si Sean kenapa sih? dari kemaren-kemaren tuh anak udah kek cowok di tinggal sama mantan. " Gumam Shaka yang awalnya memang dekat sekali dengan Sean, Shaka cukup mengenal baik bagaimana sifat cowok itu, nyatanya selain Raga dia juga cukup mengenali bagaimana Sean.


Shaka tahu betul, bahwa sebelum itu Sean sangat dekat dengan murid baru, dan banyak rumor bahwasannya Sean juga menyukainya. Tapi kenapa Sean begitu galau dan seperti tidak memiliki semangat hidup?


Shaka bangkit dari duduknya untuk menghampiri Sean, tapi matanya tiba-tiba tertuju pada Raga yang kini duduk di sebelahnya, Shaka mengernyit.


"Ngapain lo duduk di sebelah gue?! " Tanya Shaka sewot, merasa tidak suka dengan Raga karena cowok itu telah membuat tempat persinggahannya tidak nyaman.


"Terserah gue dong! kelas, kelas gue. " Jawab Raga tak kalah sewot, Shaka mendelik sebal, mencibir dan mulai mengeluarkan berbagai umpatan-umpatan kasar. Namun karena hal itu tidak terlalu penting Shaka tidak akan memperdulikannya, ia memilih untuk meninggalkannya dan menghampiri Sean.


"Sean, bolos yo? " Sean hanya meliriknya sekilas lalu sibuk lagi dengan ponselnya. Menyumpal kedua telinganya dengan aerphone miliknya. " Tumben lo banyak diemnya? pasti lo sakit gigi ya? " Tudingnya.


Bukannya di dengar Kelakuan Shaka malah mengundang banyak gelak tawa bagi seluruh penghuni kelas, diantara mereka ada yang mentertawakannya termasuk Glory.


"Ngapain kalian pada ngetawain gue?! julita banget lo sama gue! " Kalau tidak sewot bukan Shaka namanya. Glory menutup rapat mulutnya dengan telapak tangannya, menggeleng miris karena Shaka telah di campakkan.


"Aduh, kalo gue jadi lo mungkin gue bakal nyeburin diri ke sungai. "


Lagi mereka tertawa.


Siapa sangka jika Ketua kelas dan wakil ketua kelas itu termasuk musuh bebuyutan? saling mengolok dan mengatai hingga menghujat satu sama lain. Terkadang mereka merasa terhibur jika Shaka dan Glory mulai adu konflik entah itu hanya masalah sepele.


"Gue do'ain lo lengser dari jabatan lo! " Shaka merapalkan do'a dan mengusap kedua tangannya di wajah, seolah habis berdo'a dan meminta bantuan untuk membalaskan dendam kesumat pada cewek songong itu.


"Gue takut... " Ucapnya dengan nada takut di buat-buat. Shaka hanya mendengus sebal, ia hanya mencibir dan tak ambil pusing ucapan Glory.


"Se, lo kenapa sih? ngomong dong, kelas kita kangen nih denger ocehan lo yang gak bermutu. " Sean masih diam, Shaka sih sudah tahu Sean memakai aerphone masih saja mengajaknya berbicara. " Lo lagi patah hati? "


Sean menghela nafas panjang, lalu menatap Shaka datar. " Bisa berhenti ngebacot? sakit telinga gue denger lo banyak omong. "


kit ati gue....


Sabar, Shaka mengusap dadanya penuh prihatin, ucapan Sean begitu menohok dan membuatnya kesal. Shaka akhirnya kembali ke tempat duduknya dan memutar bola matanya malas.


"Ga. " Merasa ada yang memanggilnya Raga pun menoleh dan mendapati Shaka yang menggerakkan jari telunjuknya, Raga mendekat. " Jangan terlalu deket, pe'a! "


"Kan lo yang nyuruh! " Merasa kesal karena menyesali atas pengangkatan Shaka sebagai Ketua Kelas.


"Lo kan deket sama si Sean, lo tahu kenapa Sean lebih banyak diem sekarang. "


"Gak tahu. " Celetuknya, merasa tidak terlalu penting dan mulai membaca bukunya. Shaka menganggukkan kepalanya pelan.


"Kenapa lo gak tahu? bukannya lo sahabatnya? " Dasar tukang kepo, hujat Raga dalam hati. Tidak terlalu suka jika ada orang lain yang ikut campur urusan pribadinya. Raga menatap Sean beberapa detik lalu mengalihkan lagi perhatiannya ke buku.


"Kenapa lo harus kepo?"


Shaka kehabisan kata-kata, membuka mulutnya lalu menutup lagi. Jawaban Raga berhasil membuat dirinya bungkam. Ia menghela nafas panjang dan akhirnya memilih diam tanpa banyak bertanya lagi.


*****


Kepulan asap rokok keluar dari lubang hidung dan mulutnya ketika ia menghisap dan mengeluarkannya kembali. Helaan nafas terdengar, matanya tertuju pada siswa-siswi yang berlalu lalang di bawah. Saat ini Sean tengah berada di rooftop Sekolah dan berniat membolos dari jam pertama. Rumor tentang dirinya yang terlalu bengal hingga mendapati julukan siswa most di Sekolahnya, mau tak mau para guru harus menscornya beberapa minggu. Sean tidak terlalu ambil pusing, ia malah senang dan menyempatkan hari liburnya untuk bersenag-senang.


"Gue bingung, kenapa harus di sini lo luapin semua amarah lo? " Sean masih diam, enggan untuk menjawab. Lagipula Sean begitu mengenali sosok yang ada di sebelahnya ini, kalau bukan adiknya siapa lagi. " Lo lagi patah hati? " Sandra bertanya dengan di iringi senyum guyonnya, mertertawakan saudara kembarnya itu lantaran cintanya di tolak mentah-mentah oleh sang pujaan hati. Sean berdecak kesal. "Lucu, lucu. "


"Maksud lo ngetawain gue apa? " Sandra mulai merasa tidak nyaman, bukannya menghibur dia malah mengatainya.


"Weh, nyantai. Gini gue bingung harus gimana. " Sean mendengus sebal. " Lo galau karena cinta lo di tolak sama si Aninda? "


"Gue tampok beneran loh mulut lo ntar. " Lagi Sandra tertawa, kurang ajar. Lagipula terdengar tidak masuk akal jika Sean galau hanya karena cewek. Tapi namanya manusia pasti mempunyai perasaan.


Sandra berhenti tertawa, kali ini tatapannya serius. " Lo masih cinta kan sama dia? kenapa gak lo kejar aja dia? "


"Di kejar lo kira kupu-kupu? "


"Gue serius, pe'a! " Sean mengaduh ketika Sandra memukul kepalanya cukup keras. Cowok di depannya ini jika di ajak bicara serius selalu tidak nyambung. "Gue tahu kalo Raga juga suka sama Aninda. " Ucapnya santai.


"Kenapa lo bisa tahu? " Tanyanya prnuh selidik.


"Kemaren gue gak sengaja lihat Aninda di antar pulang sama si Raga, keknya Raga dapet peluang banyak buat ngambil hati Aninda. " Sandra mulai memprovokasinya, tidak peduli jika Sean menghujatnya beberapa kali.


"Cemen! Jadi cowok jangan terlalu cupu. " Sean muali berfikir, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia pun tidak dapat memungkiri jika dirinya begitu merindukan Aninda, dan Aninda pasti mengira jika ia selama ini tidak pernah ada di sampingnya. Karena sebenarnya Sean selalu mengawasinya meskipun itu dari kejauhan. Aninda mengusirnya, Aninda tidak akan pernah menyukainya, selama ini Sean fikir jika Aninda akan senang ketika Sean mengungkapkan perasaannya. Nyatanya sebelum Sean menembaknya Aninda sudah mengusirnya terlebih dahulu.


Jika saja dia tidak muncul begitu saja di depan matanya, Sean tidak akan segila ini pada seorang cewek. Bahwa sebenarnya notabenya Sean termasuk tipikal cowok urakan dan tak terlalu memperdulikan hal yang menyangkut tentang cewek.


Aninda datang dalam hidupnya secara tiba-tiba, mengusik ketenangannya dan menjadi bayang-bayang di kepalanya. Ingin rasanya Sean memaki dan berkata bahwa semua ini kesalahan cewek itu. Tapi nyatanya, bahkan bertatapan dengannya sanggup membuat Sean ikut terhanyut dalam mata coklat muda itu. Tatapan kosongnya mampu menghipnotis bagi siapapun yang melihatnya, seolah tatapan itu begitu lemah dan membutuhkan pendamping untuk dirinya berjalan.


" Aninda itu cewek kuat, gue yakin dia bisa jaga diri. "


"Jaga diri lo bilang? " Sandra membeo, ia menatap tak percaya pada saudara kembarnya itu. " He! Dia hampir aja di siksa habis-habisan kalau aja si Kira gak nolongin dia! lo pikir kalo Kira gak ada Aninda bisa jaga diri?! mikir! " Sandra emosi, sekarang pun ia tak peduli statusnya sebagai adik, melihat kakaknya lemah seperti ini sungguh membuatnya gemas.


"Tapi, gue udah terlanjur kecewa. " Gumamnya lirih, kening Sandra mengkerut, Sean benar-benar di liputi perasaan bingung. " Dia gak butuh gue lagi. Lo tahu sendiri kan kalo dari awal dia udah gak suka sama gue. "


"Itu kan lo yang mikir kek gitu, lo belom tahu gimana perasaan Aninda. Gak usah lo berasumsi kek gitu kalo lo sendiri masih belum bisa ngeyakinin perasaan Aninda. "


"Gue udah nyerah. "


"Gue gak nyuruh lo nyerah. " Mereka debat, melupakan bahwa jam masuk kelas sudah lewat dari 10 menit yang lalu. " Kalo lo masih aja kek gini, gue bakal bilang ke bokap buat motong uang jajan lo. "


"Tega lo jadi adek. "