SeanNinda

SeanNinda
Sebuah Peringatan



"BRENGSEK!!!!! " Tubuh Raga terhuyung kebelakang ketika seseorang memukulnya dari depan.




Sean Alfabeth.




Raga menyeka darah yang ada di ujung bibirnya dan meringis pelan. Cukup kuat ternyata pukulan itu hingga membuat tulang selangkanya seakan mau remuk. Aninda terkejut mendengar rintihan Raga, Aninda mencoba untuk membantunya namun di tarik kembali oleh Sean.



"Jangan peduli'in dia. "



"Dia sahabat lo Sean?! " Aninda memberontak agar Sean melepaskannya.



"Dia.." Sean menunjuk dengan jari telunjuknya. " Bukan sahabat gue. "



"Gue terima itu. " Raga berdiri dari posisi duduknya, tangannya merapikan kerah seragam Sekolahnya. "Aninda punya pilihan, dan itu haknya. Kalo lo yang gak jadi di pilih, gue beruntung. "



Sean berdecak sebal. " Hm, gue rasa, itu lebih baik Aninda gak milih gue, tapi gue harap, Aninda juga gak bakal milih lo jadi pendamping hidupnya. "



"I-ini apa-apaan sih? Sean lepas gak?! "



"Gue gak bakal ngelepasin lo. " ucap Sean pelan penuh penegasan. Tangan kekarnya memeluk posesif ke pinggang Aninda, melihat itu, semua anak-anak histeris sekaligus iri.



"Lo udah bikin Aninda jatuh ke jurang paling dalem, dengan perilaku lo yang seperti itu, gue yakin, hal buruk bakal menimpa Aninda. "



"Gue gak ngerti maksud lo. " Sean berkata datar. Tak sekali pun mengalihkan atensinya dari Raga.



"Ck ck! Lo selain goblok, ternyata otak lo lemot, maksud gue, mungkin karena sikap lo yang kek gitu ke Aninda, pasti lo tahu gimana semua cewek di sini yang suka sama lo? di tambah si Vanya udah lama suka sama lo, jangan heran kalo Vanya bakal ngasi peringatan ke Aninda. "



Sean jadi teringat bagaimana gengnya Vanya membully Aninda waktu itu, ketakutan itu melanda lagi di hatinya.



"Gue sekarang yang bakal jaga dia, lo.. " Sean menjeda." Jangan pernah lagi muncul di hadapan gue atau pun Aninda. "



"Kalo yang itu, mungkin gue gak bakal ngelakuinnya, untuk yang ini, gue akan tetep merjuanginya, karena hal yang berharga gak bakal gue sia-siakan. "



"Maka dari itu, karena Aninda berharga banget bagi gue, gue gak akan ngebiarin cowok brengsek kek lo nyentuh sedikit pun kulitnya, ngerti? "



"Intinya, lo meringatin gue? "



"Hm, " Sean mengangguk samar. " Lebih tepatnya gitu. " Semua penghuni kantin saling mencibir satu sama lain. Adegan di deoannya ini adalah hal yang sangat langkah, bagsimana tidak?



Seorang 2 pangeran tampan yang dulunya sangat akur, kini saling memperebutkan satu cewek yang notabenya siswi baru di Sekolahnya. Meskipun Aninda tak dapat melihat, tapi telinganya masih menangkap cibiran yang menyayat hatinya.



Ternyata, Sekolah barunya ini mengundang banyak kesialan di hidupnya. Baru kali ini Aninda merasakan kejahatan selain buta yang di alaminya. Di Sekolahnya dulu, malah Aninda banyak teman yang mau berteman dengannya. Berbeda dengan Sekolah barunya ini, seorang cowok yang saling adu mulut di karenakan dirinya, bahkan Aninda tidak tahu, bagaimana wajahnya sekarang. Secantik dulu apa sudah berubah??



Sean menuntun Aninda untuk keluar dari keramaian tersebut. Raga menyeringai.



"Apapun yang udah jadi milik gue, selamanya milik gue. "







"Maaf.. " Saat ini mereka berdua sedang berada di mobil, lebih di mobil milik Sean. Ya, Seanlah yang membawa Aninda ke mobilnya, Aninda hanya menurut, menolak pun tidak ada gunanya. Aninda merasakan ke hangatan di tangan kanannya, namun Aninda masih sibuk dengan dunianya sendiri. "Aninda Sakura. "



Nyali Aninda menciut mendengar suara yang begitu tegas di telinganya. Sungguh, Sean tidak suka di achkan.



"Gue, gak tahu lagi Sean. " Kening Sean mengkerut, mungkin Aninda cukup merasa terbebani oleh sesuatu yang menimpanya. Hembusan nafas pelan mengenai wajah cantiknya. Namun mata tajam itu masih betah memperhatikan wajah cantik bak bidadari itu.



"Lo tahu, Aninda. Hal apa yang membuat lo semakin menarik di mata gue? " Aninda masih diam. "Karena lo beda, Aninda. "



"Gue tahu. "



"Bukan dalam artian fisik, tapi emang karena lo beda, lo istimewa di mata gue, kabaikan lo, cara sabar lo menghadapi kenyataan pahit di depan lo, gue suka dengan cara lo, maka dari itu gue ingin sekali melindungi lo dari siapa pum termasuk Raga. "



Aninda mendengarnya, ia hanya pura-pura tertidur, menyimpan setiap kata yang di ucapkan Sean barusan, ada sesuatu yang menjanggal di Hatinya, Aninda sedikit bahagia mendengarnya.



"Lo mencoba menghibur gue, Sean Alfabeth. " Sean menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis.



"Gue serius mengatakannya, Aninda Sakura. " Sean melihat jam tangannya. "Bentar lagi jam Sekolah usai, mau jalan-jalan dulu atau-"



"Pulang. " Satu kata yang keluar dari bibir Aninda. Sean diam sejenak hingga akhirnya terkekeh.



"Ternyata, bidadari gue bisa ngambek. "



"Gak lucu. "



" Ngambek aja masih tetep cantik. " Sean melajukan mobilnya, Sean melirik ke arah Aninda, tangan kekarnya menyentuh jemari lentik milik gadisnya lalu mengecupnya.



"Sean!!!"



"Hm. " Aninda protes mendapat perlakuan seperti itu, mirip sekali di mana waktu itu Genta mencium lama tangannya. Aninda tiba-tiba saja merasakan Euphoria, Sean terkekeh.



"Berhenti bersikap kek gitu. "



"Kenapa? " Sean menaikkan sebelah alisnya.



"Ya pokoknya gak usah. "



"Kalo gue nyium bibir lo?"



"Lo!! " Sean kali tertawa keras, melihat respon dan raut wajah Aninda, membuatnya semakin gencar untuk menggodanya.



"Maaf... "