SeanNinda

SeanNinda
Sebuah Perhatian Dari Raga



Kali ini Raga benar-benar menunjukukkan perhatiannya pada dirinya, menjemputnya ke rumah lalu berangkat bersama. Aninda pun tidak bisa menolak, ketika dirinya sudah terikat kuat dengan cowok bermarga Pradipta itu. Aninda tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut dan mematuhinya.


Aninda, merasa dejavu.


Fikirannya terbesit waktu dimana Sean menjemput dirinya dulu. Tapi Aninda segera menyadarinya bahwa itu semua hanyalah masa lalu, dan sekarang dirinya kekasih dari Raga. Raga berhenti dan menoleh kebelakang melihat Aninda yang tiba-tiba diam, Raga mengerutkan kening heran.


"Aninda? "


"Ya? " Aninda tersentak kaget. Suara bariton yang masih asing di telinganya mengejutkan dirinya. Raga mengangkat alisnya ke atas ketika melihat reaksi Aninda.


Apa yang sedang cewek itu fikirkan?


"Kamu kenapa? "


Kamu??


Aninda tersenyum getir, dulunya ia berharap jika panggilan itu hanya di ucapkan oleh Sean, namun kali ini tidak. Raga mengingatkan itu dengan Sean, semua kenangan-kenangannya meskipun Aninda dan juga Sean tidak menjalin hubungan serius, karena Aninda yang masih saja menolaknya, Aninda tak dapat melupakan itu semua.


"Gak, cuma lagi kepikiran aja. " Aninda berucap pelan. Tersenyum tipis guna menenangkan cowok yang kini berstatus sebagai kekasihnya.


"Awas aja kalo mikir yang macem-macem. " Raga menghela nafas pelan ketika melihat tubuh tegang Aninda, Raga berucap kemudian. " Aku khawatir sama kamu, Ra. "


Ra?? Apa lagi ini??


Panggilan apa lagi ini? Aninda tidak ingin panggilan yang begitu asing baginya harus terdengar. Cowok ini? Entahlah, bahkan Aninda sendiri pun tak dapat menolak. Raga terlalu posesif padanya.


"R-Ra? " Aninda bertanya bingung.


Raga tersenyum membalikkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh ringkih itu. Aninda terkesiap di buatnya.


"Sakura. Aku suka dengan nama itu. Bunga sakura itu cantik kayak kamu. " Aninda tak dapat bergerak, lidahnya pun terasa keluh ketika harus mendengar ucapan tulus dari Raga. "Selamanya, aku bakalan jaga'in kamu. "


Aninda menelan ludah gusar. Hatinya merasa bersalah pada Sean. Seharusnya cowok itu yang ada di sampingnya bukan Raga. Tapi bagaimana lagi? Semua ini adalah salahnya, salahnya karena menolak semua pernyataan cinta dari Sean.


"Kamu itu cinta pertama aku, Ra. Jadi, kalo kamu menangis karena aku, maka aku gak akan pernah maafin diri aku sendiri. "


Raga, begitu mencintai Aninda, sangat-sangat mencintainya. Saat pertama kali melihatnya Raga merasakan hatinya berdesir hebat. Cara Aninda menatap sangatlah kosong namun matanya begitu indah ketika di pandang. Seketika Raga terkagum dengan mata kucing itu, Aninda begitu sangat kesepian. Maka dari itu Raga harus menjaganya. Mendengar bahwa Sean juga menaruh hati padanya, Raga saat itu benar-benar di buat bingung. Fikirannya kalang kabut. Dulu maupun sekarang Raga selalu mengalah pada Sean, tapi tidak untuk ini. Aninda adalah miliknya, tak ada yang bisa merebutnya dari dirinya. Raga telah mengklaim milik Aninda.


"Hm, aku percaya sama kamu. Aku akan selalu percaya sama kamu. "


Entah kenapa Aninda begitu percaya pada Raga, pertemuan pertamanya saja ia telah lupa atau mungkin tidak ingat. Yang Aninda ingat saat pertama kali dirinya bertemua dengan Sean.


"Hm, itulah yang seharusnya aku dengar dari kamu. "


*****


"Aku tinggal ya? " Aninda terkekeh geli mendengar penuturan yang penuh kehati-hatian dari bibir Raga. Sepertinya cowok itu tengah khawatir padanya.


"Hm." Aninda hanya bergumam menjawab pertanyaan dari Raga. Lagipula sebentar lagi Kira pasti datang.


"Aku udah ngancem Joanna buat gak nyakitin kamu lagi, jadi kamu gak perlu khawatir. " Lagi-lagi ia merasa di khawatirkan. Tapi bukannya senang, Aninda merasa bersalah dan merasa bahwa dirinya telah membebani mereka, termasuk Kira.


"Gak perlu sampe ngamcem dia juga." Raga mengangkat sebelah alisnya. " Aku gak papa, ada Kira yang nemenin aku. "


"Dia meskipun cewek, tapi dia jago berantem. Lumayan loh bisa jaga'in aku. "


"Udah ada aku, jadi kamu gak perlu minta bantuan cewek itu, dia berandalan. "


"Raga! " Aninda menegurnya, cowok ini meksipun terkenal cuek dan juga irit bicara, namun jika sekali berucap akan terasa begitu pedas jika di dengar. Aninda berharap Kira belum datang dan mendengarnya. " Ya udah, kamu pergi ya? aku mau masuk dulu. "


"Tunggu. " Aninda mengernyit. Merasakan sebuah cekalan di pergelangan tangannya. " Setidaknya tunggu sahabat kamu datang, baru kamu bisa masuk. Untuk saat ini kamu di sini aja, sama aku. "


Raga menggiring tubuh Aninda pelan menuju sebuah kursi di depan kelas, mendudukkannya pelan lalu menaruh tasnya di sebelah. Aninda terhenyak seketika.


"Kamu udah makan? " Aninda menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari Raga.


"Tadi kan, kamu keburu dateng, jadi aku gak sempet makan. " Aninda berkata jujur. Sebenarnya Aninda juga lapar sedari tadi. Namun ia urungkan mengingat sikap Raga yang protektif padanya.


"Kenapa kamu gak bilang? Kamu mau bikin aku khawatir? " Aninda menggeleng cepat. Mendengar nada kekhawatiran Dari Raga membuatnya merasa bersalah.


"Bukan gitu, aku cuma gak mau kamu terlalu mikirin aku. "


"Justru sikap kamu itu yang bikin aku harus mikirin kamu! " Raga menaikkan sedikit nada suaranya. Aninda tersentak kaget, namun dengan cepat ia merubahnya. " Maaf, aku gak bermaksud buat bikin kamu takut. "


Iya, Aninda begitu takut pada cowok di depannya ini, Raga begitu mengekangnya, kalau saja Sean yang sekarang menjadi kekasihnya mungkin Sean tidak melakukan hal ini seperti Raga.


"Aku ngerti kok. " Raga menjauhkan sedikit wajahnya guna melihat Aninda, seketika Raga di buat terkesima. Wajah Aninda begitu menghipnotisnya. Tatapan sendu itu sanggup mencuil hatinya yang paling dalam.


"Aku bawa bekel dari rumah, kamu makan ya? "


Aninda tertegun sesaat.


Bahkan Raga sampai repot-repot membuatkan makanan untuknya.


"Kamu, yang buat sendiri? " Raga mengangguk pelan. Mengambil sebuah lauk dengan sendok lalu mengarahkannya pada Aninda. Raga menyuapinya.


"Buka mulut kamu. "


"Ngh? " Aninda melenguh pelan. Raga terkekeh geli melihat wajah bingung Aninda.


"Buka mulut kamu, Ra. Aku lagi nyuapin kamu, tangan aku pegel ini. " Buru-buru Aninda membuka mulutnya sedikit lebar lalu memakannya.


Enak.


Ternyata Raga sangat pandai dalam bidang memasak. Aninda merasa malu sendiri.


"Masakan kamu enak, lumayan. "


"Lumayan buat jadi calon suami kamu maksudnya? " Raga tersenyum menggoda. Aninda di buat kagum saat itu. Di balik diamnya Raga cowok itu ternyata begitu romantis. Tak sungkan untuk mengumbar rasa sayangnya di Sekolah.


"Apa sih, Ga? Gak usah ngaco deh. " Bisa di rasa jika saat ini dirinya merasakan pipinya memerah. Aninda malu mendengar perkataan itu. Raga terlalu frontal jika menyangkut tentang dirinya.


"Kamu cantik, aku makin suka sama kamu. "


Di saat itu juga Aninda di landa rasa dilema yang tak beraturan.