SeanNinda

SeanNinda
Sebuah Jawaban



"Guoblok!!!! " Satu jitakan mendarat di kepala cowok yang kini sedang duduk dan menatap layar ponselnya tak berselera. Beberapa kali Sean mengirimkan pesan pada Aninda namun tak kunjung di balas, di baca saja tidak. Sean menjadi merasa bersalah padanya. "Lo kalo mau nembak cewek lihat kawasan dong! dungu banget sih! "



"Gue reflek ngomongnya. " Matanya melirik ke arah Sandra seraya melepas pakaiannya. Malam ini memang terasa panas, padahal di luar hujan, mungkin karena kericuhan di restoran tadi. "Lo tahu kan, gue gak pernah pengalaman masalah cinta? ini aja baru pertama kali. Anggap aja gue ini anak kecil yang baru aja belajar jalan. "



"Anak kecil yang belajar jalan aja ngerti dimana tempat yang pas buat nembak cewek, nah lo?! harus di ajari dulu, dasar gak peka lo! "



"Bacot! "



"Wajah triplek lo! "



"Diem lo corong bensin! "



"Idih!!! sensi bang?!! "



"Gue cipok juga lama-lama!! " Sandra bergidig ngeri mendengar candaan sang kakaknya itu. Sandra memilih untuk membaca novelnya dari pada harus meladeni perkataan tak bermutu dari saudaranya.



"Baca apaan lo? serius amat. " Sandra menulikan pendengarannya, matanya melirik sekilas ke arah buku itu, Sean tersenyum miring.



"Biasa aja dong senyumnya?! pengen gue gampar?! " Sandra bersiap mengangkat tangan kanannya, namun Sean berkata kembali.



"Adek gue ngerti cinta-cintaan, bangga gue. "



"Apaan sih? gak jelas tahu gak. "



"Gini nih? lama-lama ngejomblo, jadi korban novel. "



"Gini nih? kalo udah gak laku-laku, di tambah gak ada cewek yang mau, jadi korban pembullian deh, kasihan.... "



"Anjiirrrr!!! pergi ah gue! sepet mata gue lihat muka sok imut lo. " Sean melangkah keluar mengabaikan Sandra yang kini tertawa puas karena berhasil mengerjai Sean.



"Gini nih? lama-lama ngejomblo, bawaannya ngambek mulu!! "



"Bacot lo!!!! "





🌺🌺🌺🌺



"Aninda!!! " Suara cempreng itu menghentikan langkahnya, siapa lagi jika bukan Dakira Queen, teman sebangkunya. " Gue nyari'in lo tahu gak?! sumpah capek gue nyari lo, bisa-bisa habis stok oksigen gue. "



"Lo ngapain ngos-ngossan kek habis lari marathon gitu? "



"Anjirr! gue ngejar lo! padahal lo-nya cuma jalan biasa, tapi tenaganya nyaingi kipli. "



"Ngapain ngejar gue? "




"Hah?!! "




*****



"Ra-raga... "



"Hm. " Raga masih setia memandang keindahan di depan matanya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Terlalu sayang jika tidak di nikmati. Aninda nampak tak nyaman saat ini, hampir setengah jam mereka berdua diam tanpa obrolan. Sebenarnya Aninda menolak ajakan Raga untuk bertemu, karena Aninda tahu jika berakhir seperti ini.



"Kita udah duduk lama di sini selama hampir setengah jam, tapi lo gak mau ngomong. "



"Gue sengaja. "



"Eh?! " Raga kini membenarkan posisi duduknya, menatap instens cewek di hadapannya ini dengan pandangan lembut. " Gue cuma pengen ngelihat lo aja sih, kangen soalnya. "



"Eh?!" Aninda semakin tidak mengerti mendengar racauan nyeleneh dari Raga.



"Lo tahu kan gue suka sama lo? " Aninda diam sebentar, lalu mengangguk kaku. " Dan mungkin, kita bakal bersaing buat dapetin lo, ralat! bukan cuma lo, tapi hati lo, Aninda. "



"G-gue gak ngerti maksud lo. " Raga memaklumi kondisi Aninda saat ini, mungkin cewek di depannya ini sedang bingung, namun Raga tidak peduli Apa yang telah menjadi miliknya, harus selamanya jadi miliknya.



"Sahabat gue suka sama lo, bahkan sebelum gue suka sama lo, Sean udah nemu lo duluan. "




LO KIRA GUE BARANG?!!!!!!!




Umpatnya dalam hati. Aninda mendengus sebal.



"Sejak kecil kita berdua selalu menyukai sesuatu yang sama, entah itu barang, makanan, hobi. Dan sekarang... cewek di delan gue. " Aninda masih diam, terlalu malas untuk merespon.



"Mungkin yang satu ini, gak bakalan ada yang ngalah, kecuali.. MATI!!! "



"Jangan pernah lo sakitin Sean BRENGSEK!!!!"



"Gue terima makian lo. "



"Stres lo!!!"



"Dan sekarang... gue nembak lo. " Raga mendekatkan bibirnya ke telinga Aninda. " Gue butuh jawaban lo, Aninda... "