SeanNinda

SeanNinda
Rasa Peduli



Sean berjalan mondar-mandir sambil menggigit bibir bawahnya. Sesekali Sean berdecak dan melihat sebentar cewek yang kini terbaring di atas kasur dengan beberapa luka di keningnya. Sean menghela nafas panjang. Rasa khawatirnya semakin bertambah setelah melihat keadaan Aninda yang begitu menyedihkan.



Sean berjalan menghampiri tempat Aninda berbaring dan duduk di kursi. Menggenggam erat tangan mungil itu. Wajah damainya begitu menenangkan hati Sean. Mengecup pelan tangan Aninda dan tersenyum miris.



"Lo terluka jadinya. " Bisiknya parau. Mata tajamnya tak lepas dari wajah cantik itu. "Kenapa lo keras kepala, Aninda? " Rasa pedulinya terhadap sosok cewek ini semakin membuatnya bertambah memuncak. Apalagi melihat Aninda di perlakukan seperti itu, kemarahan Sean semakin bertambah.



"Lo cantik, tapi keras kepala. " Sean memberi jeda. " Tapi gue suka. Suka semua yang ada di diri lo, Aninda... gak peduli lo kekurangan lo, namun di mata gue, lo tetep sempurna. " Sean tertawa miris, membayangkan bagaimana Aninda tadi hanya diam dan tidak bergerak, dapat di rasakan betapa sakitnya menjadi Aninda. " Mereka ngelukai lo di bagian yang mana? di sini?" Sean menyentuh kening Aninda yang di perban. Bahkan darahnya pun masih terlihat. Sean berdecak kesal. "PMR gak berguna! make'in perban aja gak becus! " Sean sedikit berbicara keras lebih tepatnya mengumpat.



"Gue bakalan balas mereka demi lo, Aninda. " Tangan besarnya bergerak mengusap lembut kepala Aninda lalu menciumnya. Mencium keningnya saja membuat Sean tersenyum senang, apalagi Aninda menjadi pacarnya??



"Eh SETAN!!!! busyett dah!! lo apain anak orang, hah?!!! " Sandra membuka pintu UKS itu yang masih terkunci hingga terbuka. Matanya membulat melihat adegan yang seharusnya tidak dirinya Lihat. Sean menoleh dan mengernyit.



"Eh bocah!! ngapain lo kesini? " Ketus Sean tidak suka melihat kehadiran adik bungsunya. Sandra semakin melebarkan matanya.



"Seharusnya yang nanya gitu tuh gue?! lo ngapain di sini?! pake nyosor-nyosor segala lagi!"



"Lagi jaga bidadari."



Sandra mengernyit. " Bidadari? mana? "



"Lah ini?! " Tunjuk Sean ke arah Aninda. " Ini namanya bidadari gue, Aninda Sakura. Cantikkan? " Tanyanya dengan senyum bangganya. Sandra menggelengkan kepalanya pelan.



"Dia tidur?" Seketika Sean menjitak kepala Sandra keras, Sandra meringis kesakitan. " Sakit goblok!!! "




"Ya kali. " Acuh Sandra mengangkat bahunya. "Pingsan kenapa? " Ucapnya sambil duduk di kursi Sean. Sean berdecak.



"Biasa si cewek centil kurang kerja'an. " Jawabnya tanpa minat menjawabnya.



"Sampek keningnya terluka? parah tuh anak. " Sandra hanya geleng-geleng kepala. Apa mereka sesenang itu Ketika membully anak-anak di bawah mereka. "Bakalan bangun gak dia? " Senakal-nakalnya Sandra, dia masih mempunyai hati yang baik, itulah yang Sean suka dari Sandra, adiknya.



Sean menghela nafas panjang. " Gak tahu gue, khawatir gue, Dra. " Sandra menepuk pelan pundak Sean, mencoba menenangkan.



"Lo gak usah khawatir, Aninda cewek yang kuat, gue yakin itu. "



Sean tersenyum. " Ternyata, lo sebagai adik berguna juga. "



"Terharu gue anjir!!! " Sandra pura-pura sedih. Sean tertawa lepas. Mengacak gemas surai hitam milik Sandra.



"Abang laknat!!! rambut gue berantakan anjir!! "



"Hushh!! bocah gak boleh ngomong kasar. " Sandra memberengut kesal. "Oh iya? lo ngapain kesini? " Sandra terdiam sebentar mencoba mengingat apa yang membawanya kemari. Matanya melebar bahwa dirinya baru mengingat sesuatu.



"Mampus!! papa lagi nunggu lo di ruang BK!! "