
Setelah kejadian tadi pagi, Aninda lebih banyak melamun bahkan mengabaikan pelajaran Bu Erika. Tatapannya semakin kosong karena memikirkan perseteruan antara dirinya dan juga Sean. Ada banyak hal yang Aninda fikirkan sehingga otaknya tak sanggup mencerna materi saat ini. Kira selaku teman sebangkunya mengernyit heran lantaran sang teman diam tanpa ada kata sedikit pun. Kira berfikir mungkin Aninda lagi ada masalah, tapi Aninda tidak akan se galau itu sampai harus mengabaikan pelajaran. Kira hendak menyentuh lengan Aninda namun suara Bu Erika berkumandang terlebih dahulu di pendengarannya. Kira menoleh.
"Aninda, kamu dari tadi saya perhatikan tidak fokus sama pelajaran saya, apa kamu sakit? " Aninda terkejut, ia mengerjap beberapa kali guna membuyarkan lamunannya. Aninda meringis kikuk.
"Nggak kok Bu, cuma pusing sedikit. "
"Apa kamu ke UKS aja? sepertinya muka kamu pucat. " Kira melihat wajah Aninda, memang benar sedikit pucat.
"Nin, kalo lo sakit gue bisa nganterin lo ke UKS. " Kira sedikit khawatir atas kondisi temannya itu, meskipun baru beberapa hari Aninda menjadi murid baru, tapi Kira benar-benar tulus menyayanginya. Aninda menggeleng pelan.
"Gak kok Ra, gue gak papa, cuma pusing dikit beneran. " Ucapnya guna meyakinkan pada temannya bahwa ia baik-baik saja.
"Bener gak papa? mumpung Bu Erika lagi bolong nih hatinya. " Sekali lagi Kira meyakinkannya, tapi di tolak halus oleh Aninda. Ya mau bagaimana lagi kan, Aninda tetaplah Aninda, cewek berhati lembut dan sehalus sutra.
"Tapi kalo lo ngeluh, gue bakal bertindak loh ya.. "
Aninda mengangguk. " Hm. "
Tapi bukan Kira namanya jika ia tidak se-kepo itu, meskipun ia tidak bertanya lagi soal keadaan Aninda, diam-diam Kira memperhatikan wajah Aninda, seperti ada perasaan kecewa dan juga kekhawatiran. Kira tidak tahu kenapa apa sebabnya, tapi yang jelas sikap Aninda tidak seperti biasanya.
****
"Lo tunggu di sini dulu, gue pesen makanan ok? " Aninda mengangguk, terkekeh sedikit menyadari kekhawatiran sang temannya itu. " Pokoknya lo tunggu di sini, kalo ada apa-apa lo tinggal teriakin nama gue. "
"Iya Ra. "
"Pokonya lo kudu hati-hat-"
"Iya astaga! cerewet amat deh lo. " Kira menghela nafas panjang, ia membenarkan tongkat milik Aninda di sebelah kanannya, sebenarnya Kira sedikit khawatir, barangkali Joanna tiba-tiba mengganggu ataupun menyakiti Aninda.
Dengan berat hati Kira meninggalkannya lalu menuju ke tempat makanan. Aninda duduk sembari bersenandung pelan, main ponsel pun percuma, ia jarang sekali menggunakannya.
Sejak pertengkarannya dengan Sean, cowok itu sama sekali tidak terlihat, bahkan mendengar suaranya pun tidak. Sepertinya dugaannya kali ini benar, dan sebaiknya memang seperti itu. Sean tidak akan merasa terbebani oleh keberadaannya. Lagi pula Aninda tidak ada rasa apa-apa pada cowok itu, jadi Aninda tidak akan merasa keberatan sedikit pun.
"Eh, ada si Aninda nih, tumben sendirian. " Aninda terkejut, seketika hawa di sekitarnya terasa panas. "Bodyguard lo mana? " Tanyanya sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Manda dan juga Mella mengambil alih tempat duduk di sisi kiri dan kanan Aninda. Joanna tersenyum mengejek.
"Lo, cantik juga. " Puji Manda sambil membelai pelan rambut miliknya, Aninda bergidig ngeri. Ingin rasanya ia berteriak tapi ia sendiri tidak ingin mempersulit Kira. "Tapi sayang, buta. "
Mereka bertiga tertawa.
Aninda menunduk dalam, tidak lama lagi air matanya akan turun. Di permalukan seperti itu sudah terbiasa baginya, tapi jika harus di depan semua orang, apa mungkin Aninda sanggup menahannya sendirian? Biasanya Sean akan menjaganya dan tidak akan membiarkan seseorang sedikit pun menyakiti dirinya, tapi hari ini tidak, ralat! bukan hari ino, mungkin seterusnya ia akan sendiri lagi tanpa ada yang menjaganya, selain Kira.
"Lo, takut? " Ucapan sinis dari Joanna membuat seluruh tubuhnya kaku. Jika saja ia tidak buta mungkin ia bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi Aninda tidak akan bersikap sok karena ia juga menyadari kekurangan pada dirinya. "Padahal, belom di apa-apain. "
"Gue gak takut sama sekali. " Semua bungkam, terkecuali Joanna dan juga teman-temannya. Mereka bertiga tampak tersinggung oleh perkataannya barusan. Meskipun Aninda mengatakan hal itu di mulutnya, tapi berbeda sekali dengan hatinya yang begitu takut dengan Joanna. Aninda memang tidak bisa melihat bagaimana sosok Joanna, tapi jika berdekatan dengannya, Aninda bisa merasakan hawa permusuhan dari cewek itu.
"Bisa kalian bertiga pergi, kursi ini cuma ada dua, temen gue mau duduk soalnya. " Manda melihat ke arah Kira yang kini sedang membawa dua mangkok mie ayam di atas nampan, melemparkan tatapan bengis pada cewek berandal itu. Kira menaruh nampan itu cukup keras dan berkacak pinggang dengan gaya angkuhnya.
"Heh! lo pada ngapain ganggu acara makan siang gue sama Aninda?! pengen gue hajar?! " Kira berdiri dengan mengangkat dagunya, ternyata bukan namanya saja yang terbesit dengan nama Dakira Queen, tapi sosoknya dan jiwanya sangat persis dengan Ratu seperti di film-film. Dalam hati Aninda bersyukur karena Kira datang di waktu yang tepat.
"Cih! gaya cuma sebiji ketumbar aja bangga, perlu gue sumbangin biji mangga tah? "
"Lo-"
"Udah, lo gak usah ngeladenin dia. " Joanna mencekal lengan milik Mella yang hendak mencakar wajah Kira, Kira tersenyum meremehkan, merasa jijik dengan penampilan cewek-cewek berandalan itu. Baju ketat, bibir merah, itu habis minum darah ayam apa gimana?
cuih! cuih! cuih!
Kira berdecih dalam hati. Setidaknya ia bisa berguna untuk temannya itu.
"Pergi sana! dasar cewek cabe-cabean! " Kira mengangkat jari tengahnya yang di sambut oleh gelak tawa seisi kantin. Ya Dakira Queen, cewek yang terkenal karena sifat cuek dan juga dinginnya itu, begitu sangat di kagumi oleh banyak cowok di Sekolahnya.
Aninda tersenyum lega, Kira memang teman yang baik.
"Lo gak papa? lo gak di apa-apain sama mereka kan Nin? " Aninda menggeleng, pertanda bahwa ia baik-baik saja, ya meskipin dirinya sendiri merasa takut. " Gue gak tahan sama sikap mereka, apalagi sama si Joanna. "
"Kenapa lo benci banget sama dia? "
"Siapa? Joanna maksud lo? " Kira menjawab lempeng sembari menopang dagu. " Dia musuh gue dari SMP soalnya. "
****
Sean terus saja melihat bagaimana Aninda di perlakukan tidak baik oleh Joanna. Perasaannya bingung, antara marah dan kecewa, marah karena ia tidak bisa melindunginya dan begitu kecewa karena Aninda begitu mudahnya mecampakkan ketulusan hatinya. Sean benar-benar mencintai Aninda lebih dari apapun. Andai saja Aninda merasakannya, mungkin Aninda akan menerimanya meskipun cewek itu masih belum bisa mencintainya.
Sean sudah bertekad bulat, mulai hari ini dan seterusnya ia tidak lagi mengganggu Aninda, meskipun hatinya berkata lain, tapi itulah yang terbaik baginya dan juga Aninda. Mungkin mulai saat itu Aninda tidak akan merasa terbebani oleh kehadiran dirinya.
Tangannya terkepal kuat ketika tangan milik Manda mengusap lembut tapi terlihat begitu ngeri di matanya itu pada rambut Aninda. Tidak dapat yang ia lalukan selain memperhatikan dari jauh.
"Ck ck! Lo, ngapain ada di sini? tuh lihat. " Sean menoleh ketika Raga menunjuk di mana Aninda berada dengan dagunya, Raga terkekeh sinis. " Kalo lo masih di sini, dia bakalan terluka. "
"Bukan urusan lo. " Sean menjawab cuek, tidak begitu memperdulikan ocehan sang mantan sahabatnya itu. Semua keadaan menjadi rumit ketika Raga jujur dengan perasaannya.
"Tapi, lo sadar gak apa yang bikin Aninda di tindas kek gini? " Raga bertanya, namun Sean memilih diam. " Itu semua karena lo."
Sean menoleh, keningnya mengernyit heran atas ungkapan Raga. Raga tersenyum sinis melihat keterkejutan dari wajah cowok di depannya itu.
"Lo gak punya alasan buat nyalahin gue. " Ucapnya datar tanpa ekspresi. Sean menghela nafas panjang, ia meminum air mineralnya hingga habis, Raga berusaha memanasinya. "Dan gue gak peduli. "
"Lo peduli! " Sean menghentikan langkahnya. " Dan gue peduli. Kita sama-sama peduli, tapi gue gak akan peduli kalo lo pergi dari kehidupan Aninda. "
Panas.
Sean melepas kancing atasnya, suasananya mendadak panas, ia melagkah mundur lalu dengan segera memukul wajah Sean. Seluruh kantin diam, untungnya Aninda dan Kira sudah pergi dari 5 menit yang lalu.
"Lumayan. " Raga meringis mendapati sebuah luka lebam di bagian bawah bibirnya, Sean mendecih. " Tapi, itu gak ada gunanya. "
"Denger, gue gak peduli lo deketin Aninda atau apapun itu, karena gue udah gak peduli lagi. "