SeanNinda

SeanNinda
Ketahuan



"Sean, lo udah tahu semuanya? "




Deg....




Entah telinga yang salah, saat ini Sean benar-benar di buat takut, takut jika Aninda menjauhinya karena dia berani mengikutinya waktu itu. Mendengar suara yang ia kenal, Sean dan Sandra lantas menoleh ke ara sumber suara tersebut. Seorang cewek dengan tangan kanan memegang erat tongkatnya, siapa lagi kalau bukan Aninda. Cewek itu kini sedang berdiri mematung di ambang pintu UKS. Meskipun pandangannya kosong, tapi Sean sangat betul melihat kekecewaan di dalam mata kucing itu. Sean gugup sekaligus takut, Sandra mengisyaratkan untuk tetap tenang. Aninda mulai berjalan menghampiri mereka berdua.



"Lo, sejauh mana lo mengetahui semua tentang gue? kenapa lo ngikutin gue waktu itu, Sean? ngapain lo ngelakuin hal itu? kenapa Sean, KENAPA?!!!!! " Yang bisa di lakukan Sean hanyalah diam, membiarkan Aninda meluapkan seluruh emosinya selama ini.



"Gue dari awal emang gak suka sama lo, dari awal kita ketemu, tapi beruntung karena lo nolongin gue waktu itu, gue berusaha nerima lo untuk jadi temen gue, Sean. Gue gak butuh kasihan dari lo, gue butuh cinta dari lo, gue gak selemah yang lo kira inget itu. "



"Nin, lo tenangin diri lo, lo gak capek apa berdiri terus? "



"Gak usah ngalihin pembicaraan. " Tegas Aninda. "Dan untuk lo, Sandra. Gue sekarang udah tahu gimana lo, kalian berdua sama aja, gak ada bedanya. Mulai sekarang jangan pernah lagi lo ganggu kehidupan gue, jangan pernah lagi muncul di sekitar gue, ngerti? "



"Kok lo ngomong gitu sih? ok! gue minta maaf, gue minta maaf karena berani ngikutin lo waktu itu, tapi gue mohon, tarik omongan lo tadi, gue sayang sama lo, Aninda, gue cinta sama lo!!! " Sandra hanya di buat melongo melihat keberanian kembarannya, baru kali ini Sandra mengetahui keberanian Sean menyatakan cinta pada cewek yang di cintainya.



"Iya, gue Sean Alfabeth, sedang mencintai lo, Aninda Sakura. Gue cinta sama lo, gue sayang sama lo, gimana pun caranya lo ngejahui gue, gue sampai kapan pun bakal tetep ngejar lo sampe lo bener-bener nerima gue. Gue tahu, gue cowok urakan yang gak pantes dapetin cewek kek lo, tapi gue emang bener cinta sama lo, gak peduli kekurangan lo, Aninda. Gue tetep ngejar lo... "



"Sean. "



"Gue, cinta sama lo, Aninda Sakura. "




"Nin, gue gak tahu kapan rasa ini muncul di dalam diri gue, waktu gue pas nolong lo di kantin, entah dorongan dari mana gue tiba-tiba pengen meluk lo, rasanya gue ingin banget bisa terus jaga'in lo, gu-"



"Tapi gue udah punya pa-"



"Gue gak peduli!!! " Sean tetap bersikeukeuh. Mengepalkan kedua tangannya erat. Sandra dan Aninda lantas tersentak. "Gak peduli seberapa cinta lo ke pacar lo, gue gak peduli Aninda, gue bakal bikin lo cinta sama gue. "



"Anjir! nih bocah maksa amat. " Gumam Sandra sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sandra memijit pelipisnya, mendadak kepalanya menjadi pening setelah melihat adegan yang penuh drama di depannya itu. "Kalian berdua, terusin dramanya, gue mau tidur. "



Aninda mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Sean. Berjalan penuh hati-hati.



"Apa yang lo suka dari gue sih? gue ini gak ada apa-apanya, gue gak sempurna, gue bu-"



"Buta? Berapa kali gue bilang ke lo, Aninda? gue gak peduli, selama lo ada di deket gue, gue gak peduli." Bibir kecil itu tersenyum miris, tangannya terulur menyentuh wajah kekar cowok di depannya itu. Bisa di bayangkan, betapa tampannya Sean ini, bahkan banyak cewek yang suka padanya.



"Terima kasih karena lo udah ngasi cinta ke gue, tapi lo harus tahu satu hal Sean, gue, gak akan pernah bisa bikin lo bahagia, karena fi hati gue udah ada namanya. " Bagai teriris pisau, hati Sean begitu hancur saat ini. Mendengar kalimat yang menyakitkan dari cewek yang di sukainya berhasil membuatnya sakit. Sean mengusap lembut wajah cantik Aninda, lalu mengecup lama keningnya, entah kenapa, ciuman singkat itu menghasilkan sebuah kenyamanan tersendiri di dalam dirinya.



"Gue akan berusaha, tunggu gue, Aninda Sakura. "