School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Teman Baru



Hari pertama Ayana masuk ke kampus akhirnya tiba. Ayana sangat senang, karena Ayana bisa bertemu dengan teman-teman baru, walaupun tidak sepenuhnya senang, karena sudah beberapa bulan semenjak Argatha pindah ke Korea, pria itu menghilang bak di telan bumi, tidak ada kabar dan tidak berita yang Ayana dapat dari Argatha. Hal itu yang membuat Ayana mencoba memukul dirinya sendiri untuk mundur dan fokus pada pendidikannya, walaupun tidak semudah perkataan yang keluar dari mulut Ayana.


Ayana duduk di kursi panjang yang berada di depan ruang kelas. Ia membuka dompetnya, memastikan kalau ia tidak lupa memastikan kartu ATM-nya sudah ia masukkan kembali setelah melakukan tarik tunai.


"Ayana," panggil Aldi seraya melambaikan tangannya pada gadis itu dari kejauhan.


Ayana membalas lambaian tangan Aldi, lalu berlari kecil mendekati pria itu. "Aldi lama banget sih," ucap Ayana.


"Mobil orang kaya harus dibersihin dulu biar kinclong sebelum ke kampus," ucap Aldi santai.


Ayana terkekeh, "Iya deh, beda yang anak sultan mah," godanya.


Saat tengah mengobrol dengan Aldi, Ayana baru tersadar kalau ia tadi belum memasukkan dompetnya ke dalam tas. Ayana membuka tasnya untuk memastikan, namun tidak ada dompet miliknya.


"Aldi tunggu sini sebentar ya, dompet Ayana kayaknya ketinggian di tempat Ayana duduk tadi deh," ucapnya dengan raut wajah panik.


"Ayana kesana sebentar ya." Ayana bergegas menuju tempat dimana ia duduk tadi.


Ayana memperlambat langkahnya saat melihat seorang pria yang duduk di tempat tadi ia duduk. "Permisi, lihat ada dompet warna biru yang ketinggalan disini nggak ya?" tanyanya dengan lembut.


Pria itu melihat sekelilingnya. "Nggak ada," jawabnya dengan nada yang terdengar dingin.


"Oh nggak ada ya, makasih," Ayana segera pergi dan kembali mencari dompetnya yang seingatnya tertinggal di kursi depan kelas.


"Ada nggak, Ay?" tanya Aldi yang menghampiri Ayana.


"Nggak ada, Di," jawab Ayana.


"Mau lapor aja ke pos pengamanan? siapa tahu aja bisa dibantu cari?"


Ayana menggeleng, ia tidak mau hari pertamanya malah merepotkan orang lain, walaupun di dalam dompetnya ada tanda pengenal, kartu ATM dan uang cash, tapi Ayana tidak ingin melapor ke pos pengamanan.


*****


"Yas!" ucap seseorang mengagetkan pria yang duduk di kursi depan ruang kelas.


"Sialan bikin kaget aja lo!" decak pria yang bernama Aryasa.


Sorot mata Aryasa tertuju pada dompet berwarna biru yang dipegang oleh temannya, Qausar. "Dapat dompet ini dari mana lo?" tanya Aryasa.


"Qausar abis jambret," ucap Nio, teman Aryasa juga.


"Jambret gundulmu!" Qausar memukul Nio pelan.


"Tadi gue nemu dompet ini disini, gue cariin pemiliknya nggak ketemu," jelas Qausar.


"Pemiliknya cewek Yas, cantik," ucap Nio heboh.


"Kok lo tahu kalau pemiliknya cantik?" tanya Aryasa.


Satria, salah satu dari ketiga teman Aryasa itu tersenyum seraya menepuk pundak Aryasa. "Lo kayak nggak tahu mereka berdua aja, mereka kan kepo, langsung dibuka lah itu dompet."


"Cantik banget Yas, kalau lo ketemu pasti langsung jatuh cinta," ucap Nio.


Qausar membuka dompet tersebut dan menunjukkan tanda pengenal gadis itu pada Aryasa. "Nih, Yas lihat."


Ayana Ryandra Udara. Nama yang tertulis di kartu tanda pengenal.


Aryasa segera mengambil dompet tersebut dari tangan Qausar dan berlari mengejar gadis yang tadi bertanya tentang dompet padanya.


Aryasa berusaha mencari gadis itu untuk mengembalikan dompetnya. Beberapa ruangan ia periksa untuk menemukan gadis itu.


"Hei!" ucap Aryasa pada Ayana yang tengah bersama Aldi.


Ayana dan Aldi menoleh ke seseorang yang memanggil cukup keras.


Aryasa berlari kecil mendekati Ayana. "Ini dompet lo kan? tadi ditemuin sama temen gue."


Ayana mengambil dompetnya yang diberikan oleh Aryasa. "Makasih ya, ya ampun Ayana kira bakal hilang," ucapnya senang.


Aryasa tersenyum tipis.


"Yaudah gue cuma mau ngasih dompet lo aja sih," ucap Aryasa.


Ayana mengangguk. "Sekali lagi, makasih ya."


"Sama-sama," sahut Aryasa.


"Kenapa?" tanya Aryasa.


Ayana tersenyum seraya menyodorkan tangannya pada Aryasa. "Kenalin, Ayana."


Aryasa tersenyum sedikit, sangat sedikit. "Aryasa," ucapnya seraya membalas sodoran tangan Ayana.


"Semoga kita bisa jadi teman ya," ucap Ayana.


Aryasa mengangguk seraya mengiyakan ucapan gadis itu.


"Sekali lagi makasih ya, Aryasa," ucap Ayana.


Aryasa berbalik, namun dikejutkan dengan ketiga sahabatnya yang ternyata dari tadi melihat Aryasa berkenalan dengan Ayana, si pemilik dompet yang ditemukan Qausar.


Nio merangkul Aryasa seraya tersenyum mengejek. "Cie, baru juga jadi mahasiswa, udah dapat crush aja," goda Nio.


Qausar mencolek dagu Aryasa. "Kalau mau senyum nggak usah ditahan, Yas. Senyum aja, lepasin."


"Aryasa Ayana, kayaknya cocok juga," goda Satria.


"Nah kan! Cocok tuh, udah Yas, dekatin, kayaknya Ayana belum punya cowok," ucap Nio.


"Kalau lo nggak mau biar gue nih yang maju," tambah Nio.


Qausar menyenggol Nio keras, membuat Nio hampir terjatuh. "Mata lo nggak lihat tadi sebelah tuh cewek siapa? Pasti itu pacarnya."


*****


Ayana dan Aldi masuk ke dalam kelas, beberapa orang melihat ke arahnya, termasuk Satria, Nio dan Qausar.


"Yas, cewek yang tadi ternyata teman sekelas kita," ucap Nio seraya mencolek Aryasa yang sedari tadi sibuk dengan game di ponselnya.


"Iya," jawab Argatha singkat.


Ayana dan Aldi duduk di kursi kosong yang berada di belakang Satria. Perlahan suasana kelas semakin ramai, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berdatangan.


Semua orang terlihat antusias untuk saling mengenal satu sama lain, tapi tidak dengan Aryasa, pria itu sibuk dengan ponselnya, seolah tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.


Ayana menoleh ke Aldi, Aldi pun menoleh juga ke gadis itu. "Ayana nggak nyangka jadi satu kelas lagi sama Aldi," ucapnya tersenyum.


"Bosan gue ketemu lo terus dari kelas sepuluh sampe kuliah," sahut Aldi.


Ayana mendesis. "Ayana kesal banget sama Aldi," ucapnya.


Satria memutarkan posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Ayana dan Aldi. "Hai," sapanya.


"Hai," sahut Ayana dan Aldi kompak.


"Kenalin, Satria."


"Ayana."


"Aldi."


"Kalian pacaran?" tanya Satria pada Ayana dan Aldi.


Nio dan Qausar langsung menoleh, menyiapkan telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan jawaban yang entah nantinya akan keluar dari mulut Ayana ataupun Aldi.


"Nggak," jawab Ayana dan Aldi kompak.


Nio dan Qausar tersenyum penuh arti. "Yas, Ayana jomblo," bisik Nio pada pria yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya.


"Hai, kenalin, gue Qausar," ucapnya seraya mendekati Ayana dan Aldi.


"Hai," sahut Ayana.


"Kalian semua sebelumnya udah kenal ya?" tanya Ayana pada Qausar seraya menunjuk Satria, Nio dan Aryasa.


Qausar mengangguk. "Yaps, Gue, Aryasa, Satria dan Nio udah sahabatan dari SD," jelas Qausar.


"Wih hebat ya, bisa masuk ke fakultas yang sama," ucap Ayana.


Melihat Ayana yang mulai berkenalan dengan orang lain, Aldi hanya diam, ia membiarkan Ayana untuk membuka diri pada orang lain, siapa tahu saja dengan cara seperti ini bisa membuat Ayana perlahan melupakan Argatha dan tentunya bisa menerima kenyataan nantinya saat Ayana tahu kebenaran yang sesungguhnya tentang Argatha yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.