School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Jujur



Setelah kelas selesai, Ayana benar-benar ikut dengan Aldi. Pria itu mengajak Ayana ke taman yang berada tidak jauh dari kampus.


"Aldi kenapa ngajak Ayana ke sini?" tanya Ayana saat Aldi membukakan pintu mobil untuknya.


Aldi berkali-kali mengatur napasnya, berusaha untuk membuat dirinya tenang dan tidak gugup.


"Aldi nggak pengen langsung pulang ya? Mau main di taman dulu sama Ayana? Kenapa nggak bilang dari tadi di kampus, kirain Aldi mau ngajak kemana gitu," ucap Ayana seraya berjalan disamping Aldi.


Aldi menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah bangku panjang yang berada di taman. "Duduk sini dulu, Ay," ucap Aldi.


Ayana pun menuruti ucapan Aldi, ia duduk di bangku panjang tersebut seraya memainkan sepatunya.


"Ramai juga ya disini, Ayana baru tahu kalau dekat kampus ada taman," ucap Ayana.


Aldi merasa bingung harus mulai dari mana untuk membicarakan tentang pesan dari Argatha. Apakah Ayana akan marah padanya karena ia tidak jujur?


"Ay.," ucap Aldi dengan detak jantungnya yang berdegup dengan sangat cepat dari biasanya.


"Iya?"


"Ay gue—" Aldi benar-benar merasa takut untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Ayana.


"Aldi kenapa sih? Kok sampai keringetan gitu?" Ayana melihat kening Aldi yang berkeringat, padahal cuaca saat ini terbilang mendung.


Ayana membuka tasnya, mengambil tisu lalu mengelap keringat yang membasahi kening Aldi.


Aldi menggenggam tangan Ayana, melihat gadis itu dengan lekat. "Ay, gue minta maaf," ucap Aldi dengan seluruh keberaniannya yang terkumpul.


"Minta maaf untuk apa? Kan belum waktunya lebaran, minta maafnya nanti aja, tunggu lebaran," jawab Ayana sedikit terkekeh.


"Ay gue serius, gue benar-benar minta maaf," ucap Aldi dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.


Ayana tersenyum, ia melepaskan genggaman tangan Aldi. "Aldi nggak perlu minta maaf," ucapnya.


"Gue udah nggak jujur ke lo, gue udah nutupin pesan dari Argatha," ucap Aldi.


"Ayana yakin pasti Aldi punya alasan kenapa Aldi nggak mau bilang yang sebenarnya ke Ayana, karena Aldi nggak mau Ayana sedih kan?"


Ayana memegang pundak Aldi, membalas tatapan pria itu. "Jujur Ayana sedih, hati Ayana juga sakit banget, tapi Ayana nggak pernah nyalahin Aldi tentang ini semua. Ayana tahu Aldi orang baik, pasti Aldi punya alasan untuk sembunyiin semuanya."


"Benar lo nggak marah?" tanya Aldi.


Ayana mengangguk.


"Beneran?" tanya Aldi memastikan.


"Benar," jawab Ayana tersenyum.


"Aldi kenapa tiba-tiba baru ngomong ini?" tanya Ayana.


Aldi menceritakan pertemuannya dengan Farah tadi kantin kampus, lalu menceritakan juga bagaimana Farah marah-marah dengannya karena tidak jujur dengan Ayana.


"Aldi tenang aja, Ayana nggak marah kok," ucap Ayana seraya menunjukkan kedua senyumannya yang cantik.


Aldi menghela napasnya, akhirnya ia bisa bernapas lega, ketakutan yang sedari tadi ia pikirkan tidak terjadi, Ayana bisa mengerti kenapa Aldi tidak menceritakan yang sebenarnya.


"Jantung gue udah hampir copot, gue takut lo marah," lirih Aldi.


Ayana terkekeh, "Kalau Ayana marah, dari kemarin-kemarin pasti Ayana udah marah sama Aldi, tapi dari kemarin Ayana biasa aja kan?"


Aldi langsung memeluk Ayana, mengelus rambut gadis itu lembut. "Gue benar-benar takut lo marah Ay, gue nggak siap kalau lo ngejauh dari gue."


Ayana melepaskan pelukan Aldi, "Tapi Aldi janji ya nggak boleh kayak gini lagi? Aldi harus jujur ke Ayana, nggak boleh bohong lagi, nggak boleh ada yang Aldi tutup-tutupi lagi," ucapnya seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada pria yang sedang menatapnya lekat.


*****


Aldi dan Ayana menghabiskan waktu mereka di taman seraya meminum es boba dan makan beberapa jajanan yang di jual oleh seorang laki-laki paruh baya yang berada di sana.


"Aldi, kemarin Ayana ke mall loh sama Aryasa," cerita Ayana.


"Ngapain?" tanya Aldi.


"Ya jalan-jalan lah, masa ngasih makan beruang," jawab Ayana.


Aldi menoleh ke gadis yang duduk disampingnya, lalu menepuk kening gadis itu pelan. "Eh monokrobo! Gue juga tahu lo jalan-jalan di mall, cuma maksudnya tuh lo ngapain aja gitu? Makan atau apa gitu?"


Ayana terkekeh. "Biasa aja dong, jangan ngegas," sahutnya.


"Lagi ngeselin banget jawaban lo," gerutu Aldi dengan bibirnya yang maju beberapa sentimeter.


Waktu yang tepat untuk membalas dendam, Ayana langsung menarik bibir di pelan. "Biasa aja dong bibirnya jangan maju-maju gitu," goda Ayana.


"Terus aja Ay, terus," ucap Aldi.


"Aldi, Ayana tuh kemarin senang banget, Aldi tahu nggak, perasaan Ayana tuh kalau dekat sama Aryasa jadi nggak karuan gitu, rasanya sama persis kayak Ayana lagi sama Argatha," ucap Ayana.


Deg! Aldi terdiam sejenak. Perlahan kedua sudut bibirnya ia paksakan untuk menunjukkan sebuah senyuman, walaupun sangat sedikit.


"Bagus dong, berarti lo nggak perlu nungguin Argatha lagi," ucap Aldi seraya menyedot es boba yang berada di tangannya.


"Tapi Ayana merasa aneh, kayak masih ada yang mengganjal di hati Ayana," ucap Ayana.


"Kalau emang lo suka sama Aryasa, coba dekat aja dulu, saat lo dekat sama dia, nanti lo akan ngerasain, kalau jantung lo berdetak lebih cepat dari biasanya saat sama Aryasa, berarti lo jatuh cinta, tapi kalau biasa aja, ya udah pasti lo tahu jawabannya kan?"


"Jadi Ayana coba dekat dulu ya sama Aryasa?" tanya Ayana.


Aldi menganggukkan kepalanya. "Iya, Ay," jawabnya.


Aldi mengalihkan pandangannya ke arah seorang anak laki-laki yang sendirian bermain ayunan. Anak itu berada di keramaian tapi asyik dengan permainannya sendiri, sama seperti Aldi yang asyik dengan perasaannya sendiri.


"Kayaknya gue harus ngejauh dari lo, Ay, supaya lo bisa dekat sama Aryasa dan bisa ngelupain Argatha," ucap Aldi dalam hati.


"Aldi," panggil Ayana.


Aldi masih mengalihkan pandangannya ke anak laki-laki tersebut.


"Aldi," panggil Ayana seraya menepuk pundak Aldi, membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"Ha?" Aldi langsung menoleh ke Ayana.


"Ha? Ha? Aldi lagi main keong?" oceh Ayana.


"Kenapa Ay? maaf tadi lagi lihatin anak itu." Aldi menunjuk seorang anak laki-laki yang bermain ayunan tidak jauh dari mereka.


"Disamping anak itu banyak anak-anak seusianya yang main bareng, tapi dia asyik dengan ayunannya sendiri, seolah nggak peduli sama orang-orang di sekitarnya," ucap Aldi.


Ayana menitik fokuskan pandangannya ke arah anak itu dan juga orang-orang yang berada sekitarnya. "Menurut Ayana nggak gitu, menurut Ayana anak itu diabaikan sama orang-orang disekelilingnya, padahal anak itu noleh-noleh terus seolah berharap untuk diajak main bareng, tapi nyatanya nggak, anak itu tetap diabaikan dan akhirnya dia asyik dengan ayunannya sendiri," sahut Ayana.


"Kasihan ya anak itu," ucap Aldi.


"Iya, harusnya orang-orang disekitarnya itu harus ngerti, kalau ada itu mau main bareng juga, bukan malah diabaikan," sahut Ayana.


"Lo benar Ay, tapi ini bukan tentang anak itu, ayunan ataupun orang-orang yang berada sekitarnya," lirih Aldi.