School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Gugup



Ayana mencolek punggung tangan Aldi saat ia tiba di dalam kelas. Aldi menoleh ke arah Ayana seraya melepaskan earphone-nya. "Kenapa?" tanyanya.


"Aldi marah ya?" tanya Ayana.


"Nggak," jawab Aldi.


"Ayana nggak enak kalau harus nolak ajakan Aryasa lagi. Ayana minta maaf ya," ucap Ayana.


"Itu pilihan lo. Nggak perlu minta maaf, belum lebaran," sahut Aldi, lalu kembali memasang earphone di telinganya.


Ayana termenung. Ia yakin pasti Aldi marahnya, dari cara bicara Aldi sudah terdengar jelas kalau Aldi sebenarnya marah.


*****


Aldi bergegas mengemasi bukunya saat kelas selesai, lalu keluar kelas tanpa berpamitan pada gadis yang duduk di sampingnya.


Ayana hanya bisa terdiam melihat Aldi yang berjalan menjauh. Melihat Aldi yang sudah pulang terlebih dulu, membuat Aryasa mendapat peluang untuk mendekati Ayana.


Aryasa berjalan ke kursi belakang, menghampiri Ayana yang masih melihat punggung Aldi yang perlahan tidak terlihat lagi.


"Ayo pulang," ajak Aryasa.


Ayana menganggukkan kepalanya.


Aryasa langsung menggandeng tangan Ayana. "Duluan ya," ucapnya pada Satria, Nio dan Qausar yang masih berada di kursinya masing-masing.


"Mantap langsung sat set sat set tuh anak," ucap Nio.


"Sesuai arahan lah ya," sahut Qausar.


Satria menggendong tasnya, lalu keluar kelas meninggalkan Nio dan Qausar tanpa berkata apapun.


"Satria kenapa sih?" tanya Nio.


"Nggak sepemikiran sama kita, terlalu lurus hidupnya," jawab Qausar.


Aryasa tersenyum senang, rencananya untuk mendekati Ayana seolah di dukung oleh semesta, ia tidak perlu repot-repot untuk membujuk Ayana untuk pulang bersamanya karena Aldi tidak mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya.


"Main dulu yuk," ajak Aryasa.


"Boleh."


"Mau kemana?"


"Terserah."


Aryasa mengangguk. Ia memikirkan cara bagaimana membuat Ayana tidak memikirkan Aldi lagi, karena terlihat jelas di wajah gadis itu kalau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.


*****


Aryasa dan Ayana tiba di salah satu mall. Mereka sudah berkeliling sekitar lima belas menit, tapi belum menemukan tempat dan apa yang ingin mereka lakukan.


"Aryasa lapar nggak?" tanya Ayana setelah beberapa menit lalu hanya diam dan berjalan mengikuti kemana langkah kaki Aryasa.


Sebenarnya Ayana tidak merasa lapar, bahkan cenderung tidak ingin makan, tapi ia bingung jika harus luntang-lantung tidak jelas di mall, jadi ia memutuskan untuk makan saja, siapa tahu setelah itu jadi memiliki ide untuk mencari tempat yang ingin ia datangi dengan Aryasa.


"Ayo makan," ucap Aryasa.


Mereka pun pergi ke restoran sushi dan memesan beberapa menu yang berada di sana.


"Mau nambah lagi nggak?" tanya Aryasa.


"Nggak, Ayana udah kenyang," jawab gadis itu seraya memundurkan piring yang berada di hadapannya.


"Oke."


Aryasa pun memanggil pelayan disana, meminta bill makanan yang tadi mereka pesan.


Ayana mengambil dompetnya, mengeluarkan debit card-nya. "Bayar pakai ini mba," ucapnya pada pelayan yang memberikan bill.


"Pakai ini aja mba." Aryasa langsung mengeluarkan black card-nya dan memberikannya pada pelayan tersebut.


"Baik." Pelayan tersebut pun mengambil black card Aryasa dan langsung melakukan transaksi sebesar tiga ratus dua puluh tujuh ribu rupiah.


"Makasih mba," ucap Aryasa yang disahuti anggukan oleh pelayan tersebut.


Ayana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, bersiap untuk membayar biaya makanannya pada Aryasa menggunakan mobile banking.


"Kenapa?"


"Mau transfer."


"Buat apa?"


Ayana mendesis pelan. "Ya biaya makan Ayana lah," jawab gadis itu.


Aryasa tersenyum. "Kayak sama siapa aja, santai aja sih, Ay," sahut Aryasa.


"Nggak, Ayana nggak terbiasa kayak gini, apalagi sama orang lain," ucap Ayana menyodorkan ponselnya pada Aryasa agar pria itu memasukkan nomor rekeningnya.


Aryasa mendorong kembali ponsel Ayana ke arah gadis itu. "Gue masih orang lain di mata lo?" ucap Aryasa seraya menatap Ayana.


Ayana mengalihkan pandangannya, enggan untuk berlama-lama menatap pria itu. "Yaudah makasih," ucap Ayana salah tingkah.


Ayana langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bangkit.


Aryasa ikut bangkit, berjalan keluar dari restoran sushi bersama Ayana.


"Aryasa mau ke toko buku dulu nggak?" tanya Ayana.


"Lo mau ke toko buku?"


"Nggak, Ayana mau ke kolam renang," jawab Ayana asal.


Aryasa terkekeh pelan, ia langsung mengacak-acak pucuk rambut Ayana gemas. "Lucu banget sih lo, jawaban lo bisa diluar nalar gitu."


Ayana ikut terkekeh. "Ayo kita toko buku," ucapnya.


"Nggak jadi ke kolam renang?" goda Aryasa.


Ayana langsung menggandeng tangan Aryasa, mengajak pria itu untuk menemaninya ke toko buku.


Ayana menjinjitkan kakinya untuk mengambil sebuah buku yang berada di rak atas. Aryasa yang berada di rak sebelah melihat Ayana yang kesulitan mengambil buku.


Tiba-tiba buku yang berada di rak atas berjatuhan. Dengan sigap Aryasa menghalangi buku-buku yang jatuh dengan tangannya agar tidak mengenai kepala Ayana.


Reflek, Ayana menundukkan kepalanya seraya menutup matanya.


Ayana membuka matanya perlahan, merasa aneh karena ia tidak merasa tertimpa buku-buku yang jatuh dari rak atas.


Ayana mengangkat kepalanya, melihat tangan Aryasa yang menghalangi buku-buku yang akan mengenai kepalanya.


Jantung Ayana berdegup sangat kencang saat kedua matanya dan Aryasa saling menatap satu sama lain. Tidak hanya Ayana, Aryasa juga merasakan hal yang sama seperti gadis itu. Aryasa memperhatikan wajah Ayana dari jarak yang sangat dekat, gadis itu terlihat sangat cantik, sangat sempurna untuk masuk ke dalam tipe gadis idaman Aryasa. Jujur, sangat sulit bagi Aryasa untuk mengalihkan pandangannya saat ini.


Ayana mengalihkan pandangannya dan menggeser posisinya sedikit untuk mengurangi rasa gugupnya. "Aryasa makasih ya, udah nolongin Ayana," ucap gadis itu.


Aryasa menarik napasnya panjang, berusaha untuk terlihat biasa saja di depan Ayana. "Sama-sama, Ay," sahutnya.


Ayana melihat buku-buku yang berserakan di lantai, ia segera mengambilnya. "Harus dirapihin lagi buku-bukunya," ucap Ayana salah tingkah.


"Iya benar, harus dirapihin lagi, harus ditaruh lagi di tempatnya semula." Aryasa ikut mengambil buku yang berada di lantai dan menaruhnya kembali di rak atas.


*****


Ayana dan Aryasa nampak sangat canggung setelah kejadian di toko buku tadi, bahkan mereka enggan untuk jalan berdampingan.


"Aryasa," Ayana membuka pembicaraan.


"Iya?"


"A-Ayana ke toilet dulu ya," ucap gadis itu gugup.


"Oke, gue tunggu sini ya," sahut Aryasa.


Ayana segera berlari ke toilet. Ayana berdiri di depan cermin berukuran besar yang berada di dalam toilet. Gadis itu memegang dadanya, merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


Ayana berkali-kali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan, tapi itu tidak membuat rasa gugupnya berkurang. Padahal tadi ia dan Aryasa hanya saling menatap, tapi kenapa rasanya sangat gugup sekali?


"Aduh Ayana, jangan baper! Tahan! Tahan!" ucapnya sendiri.


"Apa jangan-jangan Ayana suka sama Aryasa ya?" ucap gadis itu lagi.