
Aryasa memejamkan matanya, berharap hari ulang tahun berikutnya, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayanginya dengan tulus.
Fuh! Aryasa meniup lilinnya setelah membuat doa.
Kedua sudut bibir Ayana mengembang, ia senang karena Aryasa bisa menerima kejutan ulang tahun yang ia dan ketiga sahabat Aryasa berikan.
Aryasa menatap Ayana lekat. "Hidung lo sakit ya?" tanyanya ketika melihat hidung Ayana yang memerah.
Ayana menggeleng. "Nggak kok, hidung Ayana baik-baik aja," jawabnya.
Aryasa mengambil kue ulang tahun dari tangan Ayana, memberikan kue tersebut pada Nio.
Aryasa langsung menarik Ayana ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. "Gue takut lo marah, Ay. Gue takut lo ngejauh dari gue."
"Ayana nggak marah kok," ucap Ayana dalam dekapan Aryasa.
Aryasa melepaskan pelukannya, tangannya menyentuh wajah Ayana lembut. "Jangan bikin gue takut kehilangan lo ya, Ay."
Ayana menganggukan kepalanya.
"Padahal yang datang kesini bukan cuma Ayana, tapi dari tadi yang diajak ngomong cuma Ayana aja," celetuk Satria.
"Kita bertiga cuma dianggap angin sepoi-sepoi," ucap Qausar.
Aryasa menyipitkan matanya, timbul sebuah kecurigaan pada ketiga sahabatnya itu. "Jangan-jangan di kampus tadi itu cuma akal-akalan lo bertiga?"
"Demi bumi yang katanya bulat, nggak Yas! Omongan gue tadi di kampus nggak sengaja keluar dari mulut gue," ucap Qausar.
"Demi para jomlo yang masih nyari cowok dari aplikasi dating, kejadian tadi di kampus itu sama sekali murni kesalahan Qausar," ucap Nio.
"Gue minta maaf ya, Yas, nggak seharusnya gue ngomong kayak tadi," ucap Qausar.
"Gue juga minta maaf, tadi udah mukulin lo. Untuk biaya berobat nanti gue transfer ke rekening lo, gue tanggung jawab kok," ucap Aryasa.
Qausar tersenyum senang. "Nah gitu dong, gue tunggu transferannya ya."
"Tadinya kita emang berniat untuk ngasih lo surprise, tapi keributan di kampus tadi sama sekali nggak ada di skenario, Yas, itu murni gara-gara mulut si jamblang ini yang asal ngomong," ucap Nio seraya menyenggol Qausar yang berdiri di sampingnya.
"Yaudah sih nggak usah dibahas lagi, gue udah minta maaf ke Aryasa, Aryasa juga udah maafin," ucap Qausar.
"Kita tadinya udah nyiapin surprise ulang tahun lo itu di cafe dekat kampus, mangkanya Nio tadi ngajak lo ke cafe, cuma ya karena kejadian tadi, jadi kita mutusin buat ngasih surprise lo ya disini," jelas Satria.
Ayana memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang ia keluarkan dari dalam tasnya. "Buat Aryasa," ucapnya.
"Hadiah buat gue?" tanya Aryasa.
Ayana mengangguk.
Aryasa menerimanya dengan senang hati. "Boleh dibuka?"
Ayana terdiam sejenak, ia takut jika Aryasa tidak suka saat melihat isi hadiah yang ia berikan.
"Boleh dibuka, Ay?" tanya Aryasa lagi, menyadarkan Ayana dari lamunannya.
"Bo-boleh," jawab Ayana gugup.
Aryasa membuka kotak tersebut, mengeluarkan hadiah yang diberikan oleh Ayana. Sebuah roll film yang dicustom menjadi sebuah gantungan kunci yang berisi beberapa foto Aryasa dan juga kebersamaannya dengan Ayana.
Aryasa tersenyum saat melihat satu per satu foto yang berada di roll film, semua fotonya bersama Ayana lengkap tidak ada satu pun foto yang terlewat, mulai dari foto saat mereka di pantai hingga saat mereka bersepeda bersama beberapa hari lalu. Sebuah hadiah manis yang tentunya akan membuat Aryasa selalu mengingat Ayana.
"Aryasa suka nggak sama hadiahnya?" tanya Ayana, takut jika Aryasa tidak menyukai hadiahnya.
Kedua sudut bibir Aryasa mengembang. "Suka, suka banget. Makasih ya, Ay."
"Aryasa beneran suka?" tanya Ayana memastikan.
Aryasa mengangguk senang.
Ayana lega mendengarnya, kecemasan yang sedari tadi menyelimuti Ayana kini sirna, Aryasa bisa menerima hadiah darinya yang bisa dikategorikan bukan hadiah yang mahal.
"Sekali lagi makasih ya Ay, lo udah bikin ulang tahun gue hari ini benar-benar berkesan," ucap Aryasa hangat.
"Aryasa berhenti," ucap Ayana pada pria disampingnya yang sedang menyetir.
Aryasa menepikan mobilnya, menuruti ucapan Ayana yang memintanya untuk berhenti.
"Main ke pasar malam dulu yuk," ajak Ayana.
"Ayo."
Ayana tersenyum senang, ia segera melepas seat belt-nya dan keluar dari mobil Aryasa.
"Ayo." Ayana menarik tangan Aryasa agar pria itu mengikutinya.
Ayana dan Aryasa berkeliling, melihat-lihat semua yang ada di pasar malam tersebut.
Ayana berjalan di belakang Aryasa, namun tiba-tiba Ayana menarik jaket pria itu, membuat Aryasa menghentikan langkahnya dan menoleh ke Ayana. "Kenapa, Ay?" tanyanya.
Ayana menunjuk ke arah penjual kembang api yang berada tidak jauh dari mereka.
"Mau main kembang api?" tanya Aryasa.
Ayana mengangguk bak seorang anak kecil.
Aryasa tersenyum, ia mengajak Ayana ke penjual kembang api tersebut.
"Mau beli yang mana, Mas?" tanya penjual tersebut pada Aryasa.
"Mau kembang api yang kecil sa—"
"Kembang api yang besar dua ya pak," ucap Aryasa seraya memberikan uang seratus ribu pada penjual tersebut.
Kedua mata Ayana membulat sempurna, antara senang dan terkejut bercampur jadi satu di dalam dirinya.
"Ini mas kembaliannya." Penjual tersebut mengembalikan uang lima puluh ribu pada Aryasa.
"Pak, jual korek juga nggak? Soalnya nggak ada warung dekat sini buat beli korek, saya nggak punya korek," ucap Aryasa.
"Saya nggak jual korek mas, tapi saya punya korek, kalau mas mau ini buat mas aja." Penjual tersebut memberikan korek gas yang berada di atas meja dagangannya.
"Sesudah saya nyalain kembang apinya, nanti saya balikin lagi koreknya ya pak, saya cuma main disana," ucap Aryasa mengambil korek yang diberikan penjual tersebut seraya menunjuk ke arah mobilnya.
"Iya mas," sahut penjual tersebut.
Aryasa mengajak Ayana untuk bermain kembang api di dekat ia memarkirkan mobilnya, kebetulan sangat sepi, tidak ada siapapun kecuali Aryasa dan Ayana.
Ayana sangat antusias ketika Aryasa bersiap untuk menyalakan kembang api. Senyum di bibirnya mengembang dengan sangat lebar.
Saat kembang api tersulut api, Aryasa pun memberikannya pada Ayana. Gadis itu sangat senang, seperti anak kecil yang bermain kembang api, Ayana mencoba menggambar bentuk hati dan bulat-bulat dengan percikan kembang api.
Aryasa tersenyum, mungkin ini hanya salah satu hal kecil menurut Aryasa, tapi menurut Ayana ini adalah satu hal yang menyenangkan.
Ayana memberikan satu kembang api pada Aryasa agar pria itu ikut bermain bersamanya.
"Ayo main bareng," ajak Ayana.
Tanpa ada penolakan, Aryasa mengambil kembang api yang diberikan Ayana dan mengikuti apa yang Ayana lakukan.
"Jadi gimana, Ay?" ucap Aryasa membuka pembicaraan.
"Gimana apanya?" tanya Ayana seraya menoleh ke pria yang bermain kembang api di sampingnya.
"Gimana jawaban lo tentang pertanyaan gue waktu di pantai?"
Deg! Ayana terdiam sejenak. Jujur, ia sendiri saja masih bingung dengan perasaannya. Ayana masih mencintai Argatha, tapi ia juga ingin membuka hati untuk Aryasa, sedangkan disisi lain ada juga sebuah rasa yang sangat sulit dijelaskan.
"Belum bisa jawab ya?" Aryasa memperhatikan raut wajah Ayana yang tadinya ceria mendadak tegang.
Kedua sudut bibir Aryasa mengembang. "Kalau belum bisa jawab nggak apa-apa kok, gue tunggu."