School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Saran Papa dan Farah



Ayana menghampiri sang papa yang sedang dudukĀ  di ruang tengah. "Papa..," panggilnya.


"Apa sayang?" sahut Pak Ferdy.


"Pa, aku lagi bingung nih," ucap Ayana seraya duduk di samping Pak Ferdy.


"Ada apa sayang? Coba cerita, siapa tahu setelah cerita, kamu nggak bingung lagi."


Ayana menceritakan pada Pak Ferdy tentang hubungannya dengan Argatha, Ayana juga menceritakan tentang Aldi yang selalu menemaninya dan kedekatannya dengan Aryasa.


Pak Ferdy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. "Ikuti kata hati kamu, sayang," ucap Pak Ferdy lembut.


Ayana mendesis. "Justru itu Pa, Ayana sendiri aja nggak ngerti sama perasaan Ayana, Ayana benar-benar bingung."


"Pilihlah laki-laki yang selalu menemani kamu, karena laki-laki itulah yang akan menjadi orang pertama yang akan mengkhawatirkan kamu, dan pastinya laki-laki itu tidak akan membiarkan kamu sedih."


Ayana hanya menatap sang Papa lekat.


"Kamu masih mencintai Argatha?" tanya Pak Ferdy.


Ayana mengangguk.


"Kamu juga menyukai Aryasa?"


Ayana mengangguk lagi.


"Kalau Aldi? Kamu menyukainya juga?"


Ayana terdiam sejenak, ia sendiri tidak tahu apakah ia menyukai Aldi atau tidak, karena selama bersama Aldi, Ayana tidak merasakan sesuatu yang berbeda, terasa biasa saja.


Pak Ferdy tersenyum seraya melihat Ayana lekat. "Kamu nggak bisa jawab karena Aldi selalu ada di dekat kamu, saat Aldi tidak bersama kamu lagi, kamu akan temukan jawabannya," ucap Pak Ferdy.


*****


Ayana mencoba menghubungi Farah, ingin meminta saran dari sahabatnya itu.


"Halo, Far," ucap Ayana saat Farah menerima panggilan video darinya.


"Mau cerita apa lagi nih?" tanya Farah yang sudah hapal kenapa Ayana menghubunginya.


Ayana terkekeh. "Far, Ayana bingung deh," ucapnya.


"Bingung kenapa?"


"Menurut Farah, Ayana harus buka hati nggak buat Aryasa?" tanya Ayana.


"Kalau lo suka sama Aryasa, ya silahkan buka hati buat Aryasa. Mungkin dengan cara lo buka hati buat Aryasa, lo bisa lupain Argatha, tapi kalau lo nggak suka sama Aryasa ya jangan buka hati buat dia," jawab Farah.


"Ayana nggak mau jadiin Aryasa pelampiasan untuk ngelupain Argatha."


Farah menghela napasnya berat. "Ay, lo suka kan sama Aryasa? Berarti kedekatan lo sama Aryasa itu murni karena lo suka sama dia, jadi lo ngelupain Argatha itu sebagai bonus."


Ayana berpikir sejenak. Memang benar, ia menyukai Aryasa bukan karena untuk melupakan Argatha, melainkan memang karena perlakuan Aryasa sendiri yang membuat Ayana merasakan ada sentuhan berbeda saat ia bersama dengan pria itu.


"Masih ada yang bikin lo bingung?" tanya Farah.


Ayana menggeleng. "Nggak, makasih ya Farah, besok di kampus Ayana akan kasih jawaban ke Aryasa."


Ayana memutuskan panggilan video tersebut. Kini ia sudah menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Aryasa.


Waktu terus berjalan, Ayana tidak bisa terus mencintai Argatha, karena Argatha lah yang memutuskan hubungannya secara sepihak. Ayana memutuskan untuk membuka lembaran baru, dimana ia harus mulai menerima orang lain untuk masuk ke dalam hatinya.


*****


Pagi ini Aryasa sudah berada di depan rumah Ayana untuk menjemput gadis itu. Dengan dress berwarna biru muda dan rambut yang dibiarkan terurai, membuat sorot mata Aryasa tidak lepas sedikitpun saat Ayana keluar dari rumahnya.


"Selamat pagi, Aryasa," sapa Ayana tersenyum.


"Pagi," sahut Aryasa setelah sadar kalau Ayana sudah berada dihadapannya.


"Lo cantik," ucap Aryasa.


Ayana tersenyum malu-malu. "Makasih Aryasa," ucapnya.


"Mau berangkat ke kampus sekarang?"


Ayana terkekeh. "Ya iyalah berangkat sekarang, masa mau nunggu ibukota negara baru diresmiin," jawab Ayana.


Aryasa membukakan pintu mobil untuk Ayana, gadis itu pun masuk.


Kedua sudut bibir Ayana mengembang, pagi ini ia terasa sangat sekali.


"Lo kenapa Ay? Lagi senang?" tanya Aryasa seraya memasang seat belt-nya.


"Iya, Ayana lagi senang," jawab Ayana.


"Senang kenapa?"


"Karena Ayana udah punya jawaban dari pertanyaan Aryasa," jawab gadis itu.


Aryasa menoleh, melihat Ayana dengan raut wajah yang serius.


"Lo mau buka hati buat gue?"


Ayana tersenyum seraya menganggukan kepalanya.


Aryasa tersenyum senang, ia melepas seat belt-nya, lalu memeluk Ayana. "Berarti kita pacaran sekarang?"


Ayana melepaskan pelukannya, "Ayana belum bisa cinta sama Aryasa, Ayana baru mau coba untuk buka hati buat Aryasa."


"Gue akan bikin pacar lo itu nggak punya tempat lagi di hati lo, karena gue akan berusaha bikin lo jatuh cinta sama gue," ucap Aryasa.


"Ayo Aryasa kita berangkat ke kampus, nanti telat," ucap Ayana mengalihkan pembicaraan.


Aryasa memasang seat belt-nya kembali, lalu melajukan mobilnya.


"Maafin gue Ay, sebenarnya tujuan gue dekat sama lo cuma buat ngelupain Aruna, karena gue nggak mau bayang-bayang Aruna selalu muncul dan bikin gue merasa bersalah karena kematian dia," ucap Aryasa dalam hati.


*****


"Lebar banget tuh senyum," celetuk Nio seraya berjalan ke kursi Aryasa.


"Berisik lo!" sahut Aryasa.


Ayana berjalan ke kursinya, duduk di samping Aldi yang sudah berada di sana terlebih dahulu.


Aldi menyipitkan matanya, "Kayaknya lagi senang nih," ucap Aldi.


"Aldi tahu nggak, kemaren Ayana berhasil surprise-in Aryasa loh," ucap Ayana pelan, takut didengar oleh orang lain.


"Oh," sahut Aldi dingin.


Ayana mendesis, "Ih! Kok oh doang sih? Oh iya, Aldi tahu nggak, Ayana udah punya jawaban lo untuk jawab pertanyaan Aryasa."


"Jawaban lo apa?" tanya Aldi penasaran.


"Ayana mau buka hati buat Aryasa," ucap Ayana senang, tapi masih dengan nada bicara yang pelan.


Raut wajah Aldi mendadak berubah. Ia langsung mengalihkan pandangannya seraya menghela napasnya berat.


"Menurut Aldi gimana?"


"Apanya?"


"Ya jawaban Ayana."


"No coment."


Ayana mendecak kesal, seraya memukul tubuh Aldi pelan. "Kok Aldi jawabnya gitu sih?"


"Terus gue harus apa, Ay?" ucap Aldi dengan nada yang sedikit meninggi.


Ayana mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan nada bicara Aldi yang terdengar meninggi. "Kok Aldi kesal?"


Aldi memaksakan kedua sudut bibirnya untuk mengembang, walaupun sebenarnya hati Aldi sedang merasa sakit saat ini, karena apa yang ia lakukan selama ini tidak berpengaruh apa-apa untuk Ayana, ia tetap menjadi teman di mata Ayana.


"Selamat ya Ay, semoga langgeng sama Aryasa," ucap Aldi.


"Ayana sekarang belum pacaran sama Aryasa, Ayana baru mau buka hati aja."


"Belum? Berarti nanti akan pacaran?"


"Kalau nanti Ayana bisa jatuh cinta sama Aryasa, baru deh Ayana pacaran sama Aryasa," ucap Ayana enteng, yang tidak mengetahui kalau ucapannya membuat Aldi sakit hati.


"Kalau nggak bisa jatuh cinta?" tanya Aldi.


"Ya berarti nggak akan pacaran," jawab Ayana enteng.


Aldi mengalihkan pandangannya ke depan, enggan untuk mengobrol lagi dengan Ayana. Pagi ini Aldi jadi tidak memiliki semangat untuk kuliah, bahkan Aldi merasa hari ini adalah hari yang paling buruk.


*****


Seoul, Korea Selatan


Argatha dan dua temannya, Han Jaehyun dan Lee Seung Ho mampir ke salah satu coffe shop yang berada di daerah Gwanak Gu, Seoul.


"Kalian tunggu sini ya, biar aku yang pesan," ucap Argatha pada kedua temannya itu menggunakan bahasa Korea.


Jaehyun dan Seung Ho duduk di bangku kosong yang berada di coffe shop tersebut, sedangkan Argatha berjalan ke tempat pemesanan.


"Pesanan sudah datang," ucap Argatha pada Jaehyun dan Seung Ho seraya membawa tiga kopi dan cemilan.


"Terima kasih," sahut Jaehyun dan Seung Ho kompak.


"Aku jadi rindu sekolah ketika melihat mereka," ucap Jaehyun pada Argatha dan Seung Ho.


Argatha dan Seung Ho melihat ke arah dua murid SMA yang berada tidak jauh dari mereka.


Dua remaja SMA tersebut terlihat sangat senang saat mengobrol dan saling menggoda satu sama lain. Mereka tertawa dengan sangat lepas.


"Aku jadi teringat dengan cinta pertamaku di SMA," ucap Seung Ho.


"Argatha, apakah kamu punya cinta pertama?" tanya Jaehyun.


Argatha mengangguk. "Punya," jawabnya.


Melihat dua murid SMA tersebut, terlintas beberapa kenangan Argatha bersama Ayana di SMA, membuat Argatha teringat dengan gadis itu.


Kedua sorot mata Argatha berkaca-kaca. Sorot matanya masih menjadikan dua murid SMA tersebut sebagai titik fokus penglihatannya.


"Argatha, kamu baik-baik saja?" tanya Seung Ho.


"Aku merindukan cinta pertamaku," jawab Argatha.


"Telepon saja dia, katakan kalau merindukannya," ucap Jaehyun seraya menyodorkan ponsel Argatha, agar pria itu menghubungi cinta pertamanya.


"Aku tidak bisa menghubunginya."


"Kenapa?"


"Aku menyuruh dia untuk melupakanku," jawab Argatha.


Jaehyun menepuk-nepuk pundak Argatha pelan. "Jika kamu masih mencintainya, hubungi dia, minta maaf padanya."


"Benar sekali, jelaskan padanya kenapa kamu memintanya untuk melupakanmu," ucap Seung Ho.


Argatha menggenggam ponselnya. Haruskah ia menghubungi Ayana dan berkata pada gadis itu kalau ia merindukannya?


Sepanjang perjalan menuju ke apartemennya, Argatha terus memikirkan ucapan Jaehyun dan Seung Ho yang menyuruhnya untuk menghubungi Ayana.


Argatha duduk di halte. Perlahan air matanya terjatuh tanpa ia sadari. Ia sangat merindukan Ayana, rindu dengan tawa dan pelukan dari gadis itu.


Argatha menyeka air matanya, namun semakin Argatha berusaha untuk menghilangkan rasa sedihnya, air matanya jatuh semakin deras.


"Ay, gue akan temui lo lagi setelah gue lulus kuliah, gue akan tebus kesalahan gue ke lo," ucapnya sendiri.


"Gue janji akan memperbaiki semuanya nanti," tambah Argatha.