
Aldi memainkan bolpoinnya di kelas, ia merasa ada yang kurang saat Ayana tidak masuk kampus. Sudah tiga hari gadis itu tidak masuk dan juga tidak mengabari Aldi.
Aldi menoleh ke kursi yang berada disampingnya, kursi yang biasa ditempati oleh Ayana.
Satria memutar posisi duduknya, "Ayana masih sakit, Di?" tanyanya.
"Nggak tahu," jawab Aldi.
Satria mengerutkan keningnya. Melihat Aldi bingung. "Kok nggak tahu? Lo kan temannya," ucap Satria.
"Lo lagi berantem sama Ayana?" sambar Nio.
Aryasa langsung menghentikan kegiatan menulisnya saat mendengar nama Ayana disebut.
"Ayana nggak balas chat gue, gue ke rumahnya juga nggak di bukain pintu," ucap Aldi dengan raut wajah putus asa.
"Ayana marah kali sama lo," sambar Qausar.
Ayana tiba-tiba masuk ke dalam kelas, berjalan ke kursinya, tidak peduli dengan Nio dan Qausar yang membelalakkan mata mereka saat melihat Ayana.
"Kenapa ngelihatin Ayana?" tanya gadis itu saat sudah duduk di kursinya.
"Ayana cantik ya?" tanya Ayana polos.
Nio melihat ke Qausar, "Ya emang cantik sih," ucapnya.
"Ya gimana ya mau jawabnya," sahut Qausar.
Aldi langsung memegang kening Ayana, memastikan kalau gadis itu sudah baik-baik saja sekarang.
"Lo udah sembuh, Ay?" tanya Aldi.
Ayana hanya mengangguk, tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Aldi tersenyum lega, "Syukur deh. Jangan bikin gue khawatir, Ay," ucapnya.
"Oh iya Ay, ini—" Aldi membuka tasnya, berniat mengambil buku catatannya.
Aryasa bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Ayana seraya membawa buku catatannya.
"Nih, kemarin ada catatan, nanti di rumah lo catat ya, biar lo nggak ketinggalan materi," ucap Aryasa.
Melihat Aryasa yang sudah lebih dulu memberikan buku catatan pada Ayana, Aldi pun kembali memasukkan bukunya ke dalam tas, mengurungkan niatnya untuk memberikannya pada Ayana.
Kedua sudut bibir Ayana mengembang. "Makasih ya Aryasa, nanti di rumah langsung Ayana catat," ucapnya senang.
"Kalau ada yang nggak lo ngerti, kita bisa kok belajar bareng biar lo paham."
"Beneran?"
"Iya."
"Okey, nanti pulang kampus kita belajar bareng ya," ucap Ayana.
*****
Saat kelas selesai, Ayana langsung memasukkan bukunya ke dalam tas. Aldi merasa ada yang aneh dengan Ayana, gadis itu tidak seperti sosok Ayana yang Aldi kenal sebelumnya. Beberapa kali Aldi mengajak Ayana berbicara saat kelas tadi, tapi Ayana hanya merespon Aldi dengan jawaban singkat, bahkan nada bicara Ayana terdengar dingin.
"Lo pulang bareng Aryasa, Ay?" tanya Aldi.
"Iya," jawab Ayana singkat.
Aldi mengangguk mengerti. "Kalau nanti udah mau pulang, lo kabarin gue aja Ay, nanti gue jemput," ucap Aldi.
"Nggak usah, Aldi nggak usah jemput, Ayana bisa pulang sendiri," sahut Ayana dengan nada bicara yang terdengar dingin.
Aryasa mendekati Aldi, menepuk pundak Aldi pelan. "Lo tenang aja, nanti Ayana biar gue aja yang antar pulang."
*****
Ayana memutuskan untuk belajar bersama di apartemen Aryasa, karena Ayana sengaja menghindari Aldi.
Ayana terus mengikuti Aryasa hingga mereka tiba di depan sebuah unit apartemen dengan nomor 903. Aryasa menempelkan kartu akses apartemennya.
Bip! Lampu berwarna merah yang berada di pintu apartemen Aryasa berubah menjadi hijau, menandakan pintu berhasil dibuka.
"Silahkan," ucap Aryasa mempersilahkan Ayana untuk masuk ke dalam apartemennya.
Ayana melihat sekeliling unit apartemen milik Aryasa, sangat rapi dan bersih. "Aryasa tinggal sendiri?" tanya Ayana seraya duduk di sofa berwarna putih yang berada di ruang tengah.
"Iya," jawab Aryasa.
"Lo mau minum apa?" tanya Aryasa.
"Di apartemen Aryasa adanya apa?"
"Lo maunya apa?"
"Ice lemon tea ada?" tanya Ayana.
"Lo mau? Gue pesan dulu ya," ucap Aryasa seraya mengambil ponselnya untuk memesan ice lemon Tea yang Ayana inginkan.
Kedua mata Ayana membulat. Ayana refleks mengambil ponsel Aryasa dari tangan pria itu. "Nggak, nggak usah. Ayana tadi bercanda aja kok. Ayana minum seadanya aja." Ayana tidak menyangka dengan respon yang Aryasa berikan.
"Gue adanya air keran, mau?" goda Aryasa.
Ayana berpura-pura merapikan bukunya, lalu bangkit. "Kayaknya lebih baik aja pulang aja deh," sahut Ayana terkekeh.
*****
Kurang lebih satu jam Aryasa dan Ayana sudah belajar bersama, membahas beberapa materi yang diajarkan oleh dosen saat Ayana tidak masuk.
Tiba-tiba pulpen Ayana terjatuh ke kolong meja, gadis itu pun mengambilnya. Tanpa Ayana sadari, tangan Aryasa refleks menutupi ujung meja agar tidak mengenai kepala Ayana.
"Pakai jatuh-jatuh segala," ucap Ayana setelah mengambil pulpennya yang terjatuh.
Ayana merenggangkan tangannya, seraya meluruskan urat-uratnya yang tegang.
"Capek ya?" tanya Aryasa.
Ayana mengangguk, "Capek banget," jawab Ayana.
"Yaudah kita udahan dulu belajarnya," ucap Aryasa seraya merapikan buku-buku yang berada di atas meja.
Ayana mengecek ponselnya, tapi tidak ada satu pun notifikasi dari Aldi.
"Aryasa, Ayana pamit pulang ya," ucapnya seraya mengemasi buku-bukunya.
"Yaudah gue antar ya," ucap Aryasa.
Ayana mengangguk setuju. Aryasa pun langsung mengambil jaket dan juga kunci mobilnya.
*****
Mobil Aryasa berhenti tepat di depan rumah Ayana. Kedua mata Ayana fokus pada mobil Tesla berwarna hitam yang terparkir.
"Ini rumah lo?" tanya Aryasa seraya menunjuk rumah dengan gerbang berwarna coklat dari dalam mobilnya.
Ayana mengangguk.
Ayana melepas seat belt-nya, "Aryasa, makasih ya udah anter Ayana pulang," ucapnya.
"Gue yang harus berterima kasih ke lo," sahut Aryasa tersenyum.
Ayana mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kok berterima kasih ke Ayana?" tanya gadis itu.
"Nggak apa-apa," jawab Aryasa.
Ayana mengangguk mengerti, ia pun segera membuka pintu mobil Aryasa dan turun.
Tak lama kemudian mobil Aryasa pun langsung berjalan menjauh dari rumah Ayana.
Ayana memperlambat langkahnya, sorot matanya tak lepas dari mobil Tesla berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari gerbangnya.
Seseorang turun dari mobil tersebut, sorot matanya pun tidak lepas juga dari Ayana, membuat mereka saling menatap dari kejauhan.
"Aldi ngapain?" tanya Ayana.
"Gue mau ngomong sama lo sebentar, Ay," jawab Aldi.
"Ayana capek, mau istirahat," sahut Ayana seraya berjalan menuju gerbang rumahnya.
Aldi mendekatkan langkahnya dengan Ayana. "Ay, gue minta maaf kalau gue ada salah sama lo," ucap Aldi dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
Kerutan-kerutan kecil terlihat di kening Aldi. Ayana sedikit merasa bingung dengan ucapan Aldi yang tiba-tiba meminta maaf padanya. "Ha? Maksudnya? Aldi kenapa minta maaf?" tanya Ayana.
"Gue nggak tahu apa kesalahan gue yang bikin lo jadi cuek ke gue, kalau emang gue salah, maafin gue, Ay," ucap Aldi.
"Aldi lagi mabuk?" tanya Ayana.
Aldi menggeleng. "Gue dalam keadaan sadar, Ay," jawabnya.
"Kenapa Aldi tiba-tiba minta maaf?"
"Gue merasa seharian ini lo beda. Di kampus lo cuek banget ke gue, nggak kayak biasanya," jelas Aldi.
Ayana terdiam. Memang benar ucapan Aldi, mulai masuk kampus hari ini, Ayana selalu menjawab ucapan Aldi seadanya, tidak mengajak Aldi berbicara terlalu banyak, bahkan saat ingin belajar bersama dengan Aryasa, gadis itu tidak bilang pada Aldi. Aldi memang bukan orang spesial yang harus Ayana beri laporan kemana pun ia akan pergi, tapi hari ini Ayana benar-benar tidak seperti biasanya, seperti menjaga jarak dengan Aldi, itu membuat Aldi merasa janggal dan merasa membuat kesalahan pada Ayana.
"Ay, kasih tahu salah gue dimana? Jangan cuek kayak gini ke gue," ucap Aldi.
"Maafin Ayana ya Aldi, Ayana nggak mau Aldi selalu dekat sama Ayana karena Aldi disuruh Argatha," ucap Ayana dalam hati.
"Aldi nggak salah kok," sahut Ayana dengan nada bicara yang dipaksa untuk terdengar dingin.
"Terus kenapa lo cuek gini, Ay?" tanya Aldi.
"Karena kita cuma teman Di, Aldi mau nya Ayana tuh gimana? Selalu dekat sama Aldi? Selalu laporan kemana pun Ayana pergi? Atau Aldi mau ngelarang Ayana supaya nggak dekat sama Aryasa?"
Aldi terdiam. Ia hanya melihat wajah Ayana lekat.
"Ayana minta Aldi untuk berhenti terlalu dekat sama Ayana, Ayana mau Aldi seperti sosok Aldi yang Ayana kenal di SMA." Ayana mengepal tangannya kuat, berusaha untuk menahan tangannya yang gemetar saat berbicara seperti itu pada Aldi.
Kedua sudut bibir Aldi terangkat sedikit. "Lo mau gue seperti sosok Aldi yang lo kenal di SMA kan? Oke. Gue akan lakuin itu, tapi kalau lo butuh gue, gue akan selalu siap buat lo, Ay. Jangan sungkan untuk hubungi gue," ucap Aldi.
"Oh iya, besok pagi gue nggak akan jemput lo lagi, karena Aldi yang lo kenal di SMA nggak pernah ngajak lo untuk berangkat bareng."
"Gue pamit ya, Ay," tambahnya.
Aldi berjalan menuju mobilnya dengan perasaannya yang sangat sakit. Aldi masuk ke dalam mobil, menyeka air matanya yang tiba-tiba terjatuh.
"Maafin Ayana ya Aldi," ucap Ayana dalam hati seraya melihat mobil Aldi yang perlahan menjauh.