School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Ayana Diantara Aldi dan Aryasa



Kedua mata Aldi membulat saat melihat Ayana yang sudah menunggunya di bawah tangga rumahnya.


"Selamat pagi Aldi, eh ini masih pagi apa udah siang ya?" ucap Ayana seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh.


"Masih pagi, Ay," jawab Aldi seraya menuruni anak tangga.


"Eh ada tamu," ucap Tante Dinda seraya berjalan mendekati Ayana dan Aldi.


Ayana tersenyum, lalu menyalami Tante Dinda dan Pak Derawan.


"Pacarnya Aldi ya?" tanya Pak Derawan pada Ayana.


Ayana melihat ke Aldi, ia bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Pak Derawan.


Aldi mendecak. "Ayo berangkat, Ay." Aldi langsung menarik tangan Ayana untuk pergi dari sana, ia malas berbicara dengan sang Papa.


Ayana merasa tidak enak karena tidak berpamitan kepada orang tua Aldi.


"Lo ngapain sih kesini?" tanya Aldi dengan nada yang sedikit tinggi saat berada di garasi rumah Aldi.


Ayana terdiam. Baru kali ini ia mendengar Aldi membentaknya. Ayana meremas jari jemarinya, lalu menundukkan kepalanya. "Maaf. Aldi nggak suka ya kalau Ayana ke rumah Aldi?"


Aldi langsung memeluk Ayana, merasa bersalah karena secara tidak sadar ia telah meninggikan nada bicaranya pada gadis itu. "Maaf Ay, gue nggak bermaksud untuk bentak lo kayak tadi," ucap Aldi lembut.


Aldi melepaskan pelukannya, menakupkan wajah Ayana dengan telapak tangannya. "Maafin gue ya, Ay," lirihnya.


Ayana mengangguk. Ayana bisa mengerti, pasti Aldi tidak sengaja membentaknya karena Aldi sedang dipengaruhi emosi.


"Aldi..,"


"Iya Ay?"


"Ayana lapar, belum sarapan," ucapnya manja.


Aldi tersenyum. "Ayo kita sarapan."


Ayana mengangguk semangat.


"Mau makan apa?" tanya Aldi.


"Bakso."


"Okey. Let's Go."


Aldi membukakan pintu mobil untuk Ayana, lalu segera menyalakan mobilnya dan melaju menjauh dari rumah.


*****


Aldi dan Ayana makan di warung bakso, di tempat yang biasanya Ayana makan.


"Mas pesan bakso dua ya, satu bakso telur, satu lagi bakso urat, jangan pake sayuran ataupun mie, pokoknya baksonya aja, dan es teh manis dua ya, Mas." Pesan Aldi pada penjual bakso tersebut.


"Siap Mas, ditunggu ya," jawab penjual tersebut.


Dari kejauhan Ayana tersenyum saat mendengar pesanan Aldi, Aldi sangat hapal kesukaan Ayana, yaitu bakso telur, tidak pakai sayuran dan mie.


"Udah pesannya?" tanya Ayana saat Aldi berjalan ke arahnya.


"Udah dong," jawab Aldi.


Tidak lama kemudian sang penjual pun membawakan pesanan Aldi. "Ini pesanannya, Mas," ucap penjual seraya menaruh pesanan Aldi di atas meja.


"Makasih Mas," ucap Aldi dan Ayana kompak.


Aldi dan Ayana langsung mengambil pesanan mereka masing-masing.


"Mau pakai sambal nggak?"


Ayana mengangguk.


Ayana menuangkan tujuh sendok sambal ke dalam mangkok, membuat kuah baksonya berwarna merah.


Sesekali Aldi melihat Ayana yang terus mengelap keringat di keningnya seraya menyantap bakso miliknya.


"Pedas ya? Mau tukar aja sama punya gue?" tawar Aldi.


Ayana menggeleng. "Nggak, Ayana kuat kok makannya," jawab Ayana.


Aldi menarik mangkok bakso Ayana dan menukar dengan bakso miliknya. "Makan punya gue aja, nanti lo bisa sakit perut, atau mau gue pesenin lagi?"


"Nggak usah, Ayana nggak mau ngerepotin Aldi." Ayana menukar kembali mangkok bakso miliknya dan kembali menyantap baksonya hingga habis.


*****


"Pagi Aryasa."


"Pagi Satria."


"Pagi Nio."


"Pagi Qausar."


Ayana menyapa orang-orang yang berada di baris tempat duduknya, semua disapa dengan senyuman hangat yang terlihat di wajah cantiknya.


"Ay, lo rajin ya sapa semua orang," celetuk Nio.


Ayana menyeringai tak berdosa. "Biar semangat semuanya," sahut Ayana.


"Pinjem pulpen dong," ucap Satria pada Nio dan Qausar.


"Nggak," jawab kedua pria itu kompak.


Satria mendesis pelan. "Yas, pinjam pulpen," ucapnya pada Aryasa yang berada di depan Nio dan Qausar.


Aryasa menoleh, melemparkan pulpen yang Satria pinjam, namun sayang, lemparan Aryasa terlalu kencang, sehingga mengenai kepala Ayana.


Pluk! Terdengar sangat nyaring saat pulpen Aryasa melesat mengenai kepala Ayana.


Aryasa langsung bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Ayana. "Maaf Ay, gue nggak sengaja," ucapnya seraya mengusap-usap kepala Ayana.


"Nggak apa-apa kok," jawab Ayana.


Aldi hanya bisa terdiam melihat Aryasa mengusap-usap kepala Ayana, tidak ada alasan untuk Aldi melarang Aryasa untuk dekat dengan Ayana, karena Aldi hanya sebatas teman.


"Aw..," Ayana meringis seraya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.


Aldi menoleh, "Kenapa Ay?" tanyanya khawatir. Begitu juga dengan Aryasa yang langsung berlutut di depan Ayana untuk memeriksa kondisi gadis itu.


"Lo Kenapa?" tanya Aryasa yang tidak kalah khawatir dari Aldi.


Ayana mengigit bibirnya seraya menahan perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.


"Ay, lo nggak apa-apa?"


"Perut Ayana sakit banget," jawab Aldi.


Aldi teringat kalau tadi Ayana banyak menuangkan sambal di mangkoknya. "Ini pasti karena lo pakai sambal kebanyakan nih, kan gue udah bilang tadi sama lo untuk jangan dimakan, tukar aja sama punya gue."


"Ayana nggak akan biarin Aldi sakit perut."


"Terus lo pikir gue akan ngebiarin lo sakit kayak gini?"


"Lo gimana sih, Di? Ayana bisa sakit perut kayak gini," ucap Aryasa dengan nada yang sedikit tinggi.


"Apaan sih lo!" sahut Aldi ketus.


"Lo udah tahu Ayana pakai sambal kebanyakan kenapa masih dibiarin? Lo gimana sih?" kesal Aryasa.


"Kok lo jadi nyalahin gue?" sahut Aldi tak mau kalah.


"Yaiyalah! Karena Ayana makannya sama lo!"


"Kok malah jadi lo berdua yang berantem sih?" ucap Satria seraya berjalan mendekati Aryasa dan Aldi yang terlihat ingin baku hantam.


"Aryasa jangan marah sama Aldi, tadi Aldi udah mau tukar baksonya kok, tapi Ayana yang nggak mau," jelas Ayana sembari memegang perutnya yang masih terasa sakit.


"Tuh lo dengar, lo punya kuping nggak buat dengar? Jangan asal tuduh aja. Lo pikir gue akan biarin Ayana sampai sakit perut kayak gini?" ucap Aldi dengan nada yang mulai menurun, tapi masih terdengar ketus.


Aryasa terdiam. Ia tidak ingin berdebat dengan Aldi lagi.


"Aryasa kayaknya suka deh sama Ayana," bisik Nio pada Qausar.


"Menurut gue sih iya," sahut Qausar.


Ayana memegang tangan Aldi. Kedua sudut bibirnya ia paksaan untuk menunjukkan senyuman pada pria itu. "Ayana nggak apa-apa kok, nanti juga sakit perutnya hilang sendiri," ucapnya.


Aldi menghela napasnya, membalas tangan Ayana yang memegang tangannya. "Maafin gue, Ay," lirih Aldi.


"Nggak, Aldi nggak salah kok," sahut Ayana.


"Aldi jangan minta maaf terus, apalagi kalau bukan kesalahan Aldi," tambah Ayana.


Aryasa kembali berjalan ke tempat duduknya, ia tidak bisa berkata apapun saat melihat Ayana yang membela Aldi di depannya.