School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Perhatian



Mobil Aldi masuk ke dalam garasi. Saat Aldi turun, ia sedikit terkejut saat membalikkan tubuhnya ada Bu Umi dan Bu Retno yang sudah berada di belakangnya.


"Astagfirullah! Bikin kaget aja, Bu," ucap Aldi.


Bu Umi memukul tubuh Aldi pelan. "Mas Aldi dari mana aja sih? Ibu khawatir takut Mas Aldi kenapa-napa."


Aldi menepuk-nepuk pundak Bu Umi dengan hati-hati. "Aldi abis ketemu Mama, Bu Umi tenang aja ya, Aldi baik-baik aja kok," ucap Aldi tersenyum.


"Mas Aldi tadi pacarnya Mas Aldi ke sini loh. Mas Aldi lagi berantem ya sama si Non cantik?" tanya Bu Retno.


"Nggak Bu, Aldi sama Ayana baik-baik aja kok. Tadi juga di jalan ketemu, sempat Aldi antar pulang juga," jelas Aldi.


Bu Umi dan Bu Retno lega mendengarnya.


Aldi melihat BMW hitam yang terparkir tepat di samping mobilnya. "Ada Papa, Bu?" tanya Aldi.


Bu Umi dan Bu Retno mengangguk.


Aldi menghela napasnya berat. Mau tidak mau ia harus masuk ke dalam rumah, walaupun ada sang Papa dan Tante Dinda yang berada di dalam.


"Aldi," sapa Tante Dinda saat melihat Aldi yang ingin menaiki tangga.


Aldi menoleh, ia hanya merespon sapaan Tante Dinda dengan anggukan kepala.


"Aldi, Papa dan Mama tinggal sementara disini ya, soalnya rumah Papa lagi di renovasi," ucap Pak Derawan.


"Terserah," jawab Aldi singkat. Ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Aldi melemparkan tasnya ke sembarang arah. Aldi merasa menyesal karena tidak membalas pesan Ayana sebelum baterai ponselnya habis, mungkin jika Aldi membalasnya, gadis itu tidak akan mencarinya hingga malam seperti tadi. Aldi merutuki dirinya sendiri karena telah termakan rasa cemburunya, karena perbuatan Aldi lah Ayana berjalan sendiri malam-malam. Jika terjadi sesuatu dengan Ayana, Aldi tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Aldi mengambil ponselnya di dalam tas, lalu men- chargernya.


Saat Aldi menyalakan ponselnya, banyak sekali notifikasi dan panggilan tidak terjawab dari Ayana.


Tling! Sebuah pesan masuk baru muncul di layar ponsel Aldi.


Ayana R Udara :  Aldi besok pagi Ayana tunggu ya.


Kedua sudut bibir Aldi mengembang getir. Semakin ia dekat dengan Ayana, semakin besar juga rasa cintanya pada gadis itu. Tapi Aldi sadar, ia dan Ayana tidak mungkin bisa lebih dari seorang teman, karena di hati Ayana masih milik Argatha.


Tok.. Tok.. Tok..! Suara ketukan pintu kamar Aldi terdengar sangat pelan.


"Masuk," ucap Aldi dingin.


Tante Dinda membuka pintu kamar Aldi perlahan. Sebuah senyuman hangat ia tunjukkan pada anak sambungnya itu.


"Aldi, kamu udah makan?" tanya Tante Dinda dengan sangat ramah.


"Belum," jawab Aldi.


"Kamu mau makan? Nanti Mama bawain makanannya ke kamar kamu."


Aldi memasang raut wajah datarnya. "Nggak usah, Aldi capek, mau langsung tidur aja," jawab Aldi.


Tante Dinda mengangguk mengerti.


"Udah kan Tante? Nggak ada yang perlu di omongin lagi?" tanya Aldi dingin.


"Silahkan keluar dari kamar Aldi dan jangan lupa tutup pintunya lagi," tambah Aldi seraya membuka satu per satu kancing kemejanya.


Tante Dinda tersenyum. "Selamat tidur, Aldi," ucapnya, lalu menutup pintu kamar Aldi dengan rapat.


Pak Derawan yang menunggu di depan kamar Aldi sedikit tersenyum saat istrinya keluar dari kamar Aldi. "Sepertinya Aldi sudah mulai membaik," ucap Pak Derawan setelah mendengar Aldi berkomunikasi dengan Tante Dinda, karena sebelumnya, Aldi selalu marah saat berhadapan dengan Tante Dinda.


"Iya Mas, aku harus lebih berusaha lagi untuk dekat sama Aldi, sampai Aldi bisa terima aku sebagai mama sambungnya," ucap Tante Dinda.


*****


Aldi menunggu Ayana di depan rumah gadis itu untuk berangkat ke kampus bersama.


Ayana tersenyum saat melihat Aldi yang bersandar di mobilnya. "Ayo berangkat," ucapnya.


Aldi membukakan pintu mobil untuk Ayana. "Aldi nggak harus loh bukain pintu untuk Ayana terus," ucap gadis itu.


"Kenapa? Ini kan mobil gue, jadi suka-suka gue mau bukain pintu buat lo apa nggak," sahut Aldi, lalu menutup pintu mobilnya dengan sangat hati-hati, khawatir bantingan pintu tersebut mengenai Ayana.


"Aldi bawa charger?" tanya Ayana.


"Bawa," jawab Aldi seraya menunjuk charger-nya yang berada di dashboard mobil.


"Kenapa?" tanya Aldi seraya membantu Ayana mengenakan seat belt.


Ayana terdiam saat jarak diantara ia dan Aldi sangat dekat, bahkan Ayana dapat mencium aroma parfum Aldi.


Jantung Ayana berdegup sangat kencang, rasanya sangat susah untuk menghela napas.


Aldi menoleh, melihat Ayana yang gugup. Kedua sudut bibir Aldi mengembang. "Gue cuma bantuin lo pasang seat belt, jangan grogi gitu dong," ucap Aldi.


Ayana segera memalingkan wajahnya saat Aldi sudah duduk di tempatnya.


"Lo grogi, Ay?" goda Aldi.


Aldi terkekeh pelan. "Jujur aja Ay, kalau sebenarnya lo tuh salah tingkah kan tadi?" goda Aldi lagi.


"Ayo jalan, Aldi! Nanti telat." Ayana merasa sangat malu karena Aldi tahu kalau ia salah tingkah karena seat belt tadi.


Aldi mengangguk, ia segera menjalankan mobilnya.


Sesekali Aldi melirik ke arah Ayana, membagi konsentrasi menyetirnya dengan memperhatikan Ayana yang terlihat pucat. "Ay..," panggil Aldi.


"Iya," sahut Ayana.


"Lo baik-baik aja, Ay?" tanya Aldi memastikan.


"Ayana baik-baik aja kok," jawab Ayana.


"Lo kecapean ya? Karena gue ya? Karena lo malam-malam ke rumah gue ya? Maafin gue ya Ay," ucap Aldi yang merasa kalau Ayana saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Nggak kok, Aldi nggak perlu minta maaf," sahut Ayana menenangkan Aldi.


Ayana menarik napasnya panjang, ia tidak boleh terlihat tidak baik-baik saja di depan Aldi, ia tidak ingin membuat Aldi khawatir. Walaupun sebenarnya Ayana merasa kepalanya sedikit sakit.


Ayana memejamkan matanya seraya menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. "Aldi, Ayana ngantuk, nanti kalau udah sampai kampus bangunin ya," ucap Ayana.


"Iya, Ay," sahut Aldi seraya satu tangannya mengelus rambut Ayana lembut.


*****


Mobil Aldi akhirnya tiba di Universitas Maharja. Ia mencolek tangan Ayana beberapa kali untuk membangunkan gadis itu. "Ay, udah sampai kampus," ucapnya pelan, tidak ingin membuat Ayana terkejut.


Ayana membuka matanya sayup-sayup. "Udah sampai kampus?" tanya Ayana seraya mengusap wajahnya.


"Udah," jawab Aldi.


"Lo beneran baik-baik aja, Ay?" tanya Aldi khawatir, melihat wajah Ayana yang pucat, tidak seperti biasanya.


Ayana tersenyum, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. "I'm fine," jawabnya.


*****


Aldi dan Ayana masuk ke dalam kelas, kebetulan hari ini suasana kelas sudah mulai ramai, sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dalam kelas.


Aldi dan Ayana duduk di kursi mereka. Ayana memegang kepalanya yang terasa berat. Beberapa kali Ayana menarik napasnya panjang.


Aldi menoleh, ia memegang kening Ayana, memastikan gadis itu baik-baik saja atau tidak. Kedua mata Aldi membulat saat merasakan kening Ayana yang terasa panas. "Lo demam, Ay," ucap Aldi.


Ayana menggeleng. "Nggak, Ayana baik-baik aja kok," sahut Ayana lemas.


"Lo udah makan?" tanya Aldi khawatir.


"Belum," jawab Ayana menyadarkan kepalanya di atas meja.


"Sebentar ya, gue beliin makanan dulu," Aldi langsung berdiri saat itu juga dan keluar dari kelas.


Aryasa, Satria, Nio dan Qausar saling melihat satu sama lain. "Aldi perhatian banget ke Ayana," bisik Nio pada Qausar.


"Lo yakin kalau Aldi sama Ayana cuma temenan?" bisik Qausar.


"Nggak yakin, mana ada pertemanan diantara cewek dan cowok, hoax, nggak percaya gue," sahut Nio.


Satria menepuk kedua sahabatnya itu. "Ust! Rumpi banget lo berdua jadi cowok," ucap Satria.


Aryasa bangkit, berjalan menghampiri Ayana. "Lo sakit, Ay?" tanya Aryasa seraya memegang kening Ayana.


"Ayana baik-baik aja kok," jawab Ayana lemas.


Tak lama kemudian Aldi kembali membawa roti dan teh hangat. "Lo makan ini dulu ya, biar perut lo nggak kosong," ucap Aldi penuh perhatian.


"Kenapa Ayana seperti dejavu ya?" ucap Ayana dalam hati.


Aldi menepuk pundak Ayana pelan, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Lo mau pulang aja, Ay?" tanya Aldi.


Ayana menggeleng lemas.


"Ay, lo pucat banget, kita ke dokter aja yuk, gue izin ke dosen sekarang ya," ucap Aldi dengan suara yang terdengar sangat mengkhawatirkan kondisi Ayana.


"Nggak usah Aldi, Ayana masih bisa ikut kelas hari ini kok, Aldi tenang aja ya, Ayana baik-baik aja," sahut Ayana.


"Beneran kuat ikut kelas hari ini?" tanya Aldi.


Ayana menganggukkan kepalanya.


Aryasa hanya bisa terdiam seraya melihat Aldi yang penuh perhatian pada Ayana.


"Ay, kalau lo nggak kuat bilang ya Ay, jangan diam aja, nanti gue yang minta izin kalau lo mau pulang," ucap Aldi.


"Iya, Aldi. Makasih ya," sahut Ayana.


Melihat Ayana yang sudah mendapatkan perhatian dari Aldi, Aryasa pun berjalan kembali ke kursinya.