
Satu tangan Aldi melepas kemudi dan mengelus rambut Ayana dengan lembut. Aldi terus mengkhawatirkan kondisi Ayana. Beberapa kali Aldi mencoba untuk mengajak Ayana ke dokter, tapi gadis itu terus menolaknya.
Mobil Aldi tiba di depan rumah Ayana. Aldi melihat Ayana yang tertidur dengan pulas seraya menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.
Aldi menghela napasnya, menepuk-nepuk pipi Ayana dengan sangat pelan seraya membangunkan gadis itu dari tidurnya.
Ayana membuka matanya perlahan, melihat Aldi dengan pandangan yang belum begitu jelas.
"Udah sampai rumah Ayana?" tanya gadis itu.
"Udah," jawab Aldi.
Ayana terus memegang kepalanya yang terasa berat.
"Pusing?" tanya Aldi.
Ayana mengangguk lemah.
"Kita ke dokter aja yuk," ajak Aldi.
Ayana menggeleng lemah. Lagi-lagi Ayana menolak untuk dibawa ke dokter oleh Aldi. "Ayana mau tidur aja di kamar," jawab Ayana.
"Aldi, bisa tolong anterin Ayana ke kamar nggak?"
Aldi mematung sejenak. Aldi melihat kondisi rumah Ayana yang nampak sepi. "Di rumah lo ada siapa?" tanya Aldi.
"Nggak ada siapa-siapa, Papa Ayana masih dinas di luar kota," jawab Ayana lemas.
Aldi menghela napasnya, sebenarnya Aldi tidak ingin masuk ke rumah Ayana dengan kondisi rumah yang kosong, tapi Aldi juga tidak bisa membiarkan Ayana di rumah sendirian dalam kondisinya yang sedang sakit.
"Ayo gue anter ke kamar," ucap Aldi.
Aldi pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayana. Jantung Aldi berdegup dengan sangat kencang saat ia menggenggam tangan gadis itu. Jika menggenggam tangan saja dapat membuat jantung Aldi berdegup kencang, lantas bagaimana jika perasaan Aldi terbalaskan?
Aldi membaringkan Ayana di tempat tidurnya dengan sangat hati-hati. Aldi juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayana.
"Dapur lo dimana? Gue ambilin air hangat dulu ya," ucap Aldi.
"Dari tangga belok ke kiri," jawab Ayana yang disahuti oleh anggukan dari Aldi.
Aldi bergegas ke dapur untuk mengambilkan Ayana air hangat. Tidak hanya air hangat untuk minum Ayana, tapi Aldi juga mengambil mangkuk yang ia isikan air hangat untuk mengompres Ayana yang sedang demam. Sedangkan handuk kecilnya ia ambil dari dalam mobil.
Aldi kembali lagi ke kamar Ayana membawa apa yang tadi ia ambil. Aldi menaruh segelas air hangat di atas meja, tidak jadi ia berikan pada Ayana karena saat Aldi kembali ke kamar, Ayana sudah tertidur.
Aldi memasukkan handuk kecil ke dalam mangkok yang berisi air hangat, lalu memerasnya dan ia kompreskan di kening Ayana.
Ayana membuka matanya saat merasakan sesuatu yang basah mendarat di keningnya.
"Aldi ngapain?" tanya Ayana seraya memegang sapu tangannya yang berada di keningnya.
"Main catur," jawab Aldi asal.
Ayana membenarkan posisinya menjadi duduk dengan kepala yang ia sandarkan di headboard tempat tidur.
"Lo istirahat dulu ya, gue mau beli obat dulu di apotek," ucap Aldi.
Aldi langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke apotek. Aldi bertanya pada penjaga apotek mana obat demam yang paling bagus. Sang penjaga apotek pun merekomendasikan obat demam dengan harga yang cukup mahal, tanpa tanya-tanya lagi, Aldi langsung membelinya.
Setelah dari apotek, Aldi menepikan mobilnya di depan sebuah gerobak bubur ayam yang berada di tidak jauh dari apotek. Aldi mengingat sejak pulang kampus tadi Ayana belum makan, dan Aldi yakin kalau di rumah Ayana juga tidak ada makanan. Aldi langsung memesan satu bubur ayam tanpa kacang dan daun seledri untuk Ayana.
*****
Aldi menaruh obat dan bubur yang ia beli di atas meja yang berada di samping tempat tidur Ayana. Aldi sengaja tidak mau membangunkan gadis itu.
Aldi duduk lantai dengan kedua sorot matanya tidak lepas dari Ayana yang tertidur. Aldi tiba-tiba teringat dengan Argatha, ia pun memutuskan untuk memberi tahu Argatha kalau saat ini Ayana sedang sakit.
Aldi mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan singkat yang akan ia kirim pada Argatha.
Angkasa Mahaldi : Argatha, lo beneran udah nggak mau kasih kabar ke Ayana? Sekarang Ayana lagi sakit. Apa lo nggak mau sekali aja ngehubungin Ayana?
Entah dibalas atau tidak dengan Argatha pesan yang dikirimkan oleh Aldi, ia tetap mengirimkannya, karena Aldi hanya ingin Argatha tahu kondisi Ayana saat ini.
Aldi menaruh ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya di tangan Ayana.
Aldi memejamkan kedua matanya yang terasa berat. Ia pun tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidur Ayana.
*****
Ayana membuka matanya perlahan, ia merasa seperti ada sesuatu di dekat tangannya. Ayana melihat Aldi yang tertidur di samping tempat tidurnya. Kedua sudut bibir Ayana mengembang, tangannya mengelus rambut Aldi pelan. "Cewek yang nantinya jadi pasangan Aldi pasti akan merasa beruntung banget," ucap Ayana.
Ayana menoleh ke meja, melihat obat dan bubur yang ada di atasnya. Ayana merubah posisinya menjadi duduk, lalu memakan bubur yang tadi Aldi beli untuknya, setelah itu ia meminum obatnya.
Ayana memandangi Aldi yang masih tertidur pulas. Sepertinya Aldi sangat kelelahan.
Ayana mengambil ponsel Aldi yang berada di atas meja, berniat untuk memotret wajah Aldi yang sedang tertidur, karena Ayana tahu password ponsel Aldi adalah pin ATM pria itu, jadi dengan mudah Ayana membukanya. Namun saat Ayana membuka ponsel Aldi, ia terdiam melihat sebuah pesan singkat yang Aldi kirimkan kepada seseorang. Ayana langsung membaca pesan di atasnya, yaitu pesan yang beberapa waktu lalu Argatha kirimkan pada Aldi.
Kedua mata Ayana memanas, rasa demamnya seolah hilang dan tergantikan dengan rasa yang sangat menyakitkan di hatinya. Seseorang yang ia tunggu kabarnya, bahkan ia tunggu kedatangan, ternyata malah menganggapnya sebagai penghambat masa depan.
"Apa ini alasan Aldi yang selama ini baik ke Ayana?" lirih Ayana.
Aldi membuka matanya yang masih sayup-sayup, melihat Ayana yang sudah bangun. "Ay, lo udah bangun?"
Ayana cepat-cepat menaruh ponsel Aldi kembali di atas meja. Ayana menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan, berusaha bersikap baik-baik saja pada Aldi, seolah tadi ia tidak melihat pesan singkat tersebut.
Aldi menoleh ke meja lalu melihat Ayana, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Lo udah makan?" tanya Aldi melihat sterofom buburnya sudah kosong.
Ayana mengangguk seraya tersenyum getir. "Udah minum obat juga malah," jawab Ayana.
Aldi tersenyum seraya mengacak-acak pucuk rambut Ayana pelan. "Anak pintar," ucap Aldi.
Ayana mengulum bibirnya, dadanya terasa sesak karena menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan Aldi. Ayana tidak ingin Aldi tahu kalau ia sudah membaca pesan yang Argatha kirimkan.
"Udah merasa mendingan, Ay?" tanya Aldi.
Ayana menggeleng lemah. "Masih sakit, sakit banget," ucap Ayana dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
Aldi bangkit, merubah posisi duduknya jadi di pinggir tempat tidur gadis itu. "Apa yang sakit? Kepala lo masih pusing? Mau ke dokter, Ay?"