
Tante Dinda membuka gorden di ruang rawat Aldi, membiarkan sinar matahari masuk.
"Makanannya nggak dimakan?" tanya Tante Dinda melihat makanan dari rumah sakit yang masih berada di atas meja.
"Makanannya nggak enak," jawab Aldi dengan sorot matanya yang fokus ke ponselnya.
"Kamu maunya makan apa?" tanya Tante Dinda lembut.
"Aldi boleh makan selain makanan rumah sakit?" tanya Aldi seraya melihat ke arah Tante Dinda.
"Boleh. Kalau Aldi mau bisa Tante beliin," jawab Tante Dinda.
"Tapi kalau ada Dokter, Suster ataupun Papa, kamu nggak boleh bilang ya kalau kamu makan makanan dari luar, nanti kita berdua bisa dimarahin," tambah Tante Dinda.
Aldi mengangguk setuju. "Aldi mau makan burger," ucapnya, karena tiba-tiba terlintas sebuah bayangan burger dengan double beef.
"Oke, Tante pesan dulu ya." Tante Dinda mengambil ponselnya untuk memesankan burger yang Aldi mau.
Aldi memperhatikan Tante Dinda dari tempat tidurnya. Tante Dinda sepertinya sangat tulus menyayangi Aldi, bahkan saat tidak ada Pak Derawan, Tante Dinda tetap memperlakukan Aldi dengan baik, tapi entah kenapa Aldi masih berat untuk menerima Tante Dinda sebagai mama sambungnya.
Setelah hampir setengah jam, burger yang dipesan Tante Dinda pun sudah tiba.
"Tante ambil burgernya dulu ya," ucap Tante Dinda seraya berjalan keluar ruang rawat Aldi menuju lobi untuk mengambil pesannya.
*****
"Taraa..." Tante Dinda membawa paper bag berisi burger.
Kedua sudut bibir Aldi mengembang. "Makasih Tante," ucapnya dengan hangat.
Tante Dinda tersenyum senang. Untuk pertama kalinya ia melihat Aldi tersenyum dengan hangat padanya.
Aldi langsung menyantap burger tersebut dengan lahap, sampai ia lupa untuk menawarkan burger tersebut ke Tante Dinda.
"Kamu udah merasa lebih baik? Atau masih merasa ada yang sakit?" tanya Tante Dinda.
"Udah merasa jauh lebih baik," jawab Aldi.
Aldi ingin mengambil gelas yang berada di atas meja, tapi dengan sigap Tante Dinda mengambilkannya untuk Aldi.
"Makasih Tante."
"Sama-sama, Aldi."
"Tante kalau mau pulang nggak apa-apa, Aldi bisa sendirian kok," ucap Aldi.
"Tante mau di sini aja nemenin kamu, kamu nggak keberatan kan kalau Tante disini?"
"Nggak," jawab Aldi singkat.
Tante Dinda mendekati Aldi, memegang jari jemari Aldi. "Kalau kamu pengen sesuatu, bilang ya ke Tante, jangan sungkan."
*****
Seperti biasa Ayana ke kampus bersama Aryasa, sudah beberapa minggu lalu Aldi memutuskan untuk tidak berangkat bersama lagi dengan Ayana.
Ayana melihat kursi disampingnya, kursi yang biasa ditempati Aldi masih kosong, tidak seperti biasanya Aldi datang terlambat.
Ayana mengambil ponselnya, mengirimkan pesan singkat ke Aldi.
Ayana R Udara : Aldi nggak kuliah?
Ayana merasa gelisah, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Ayana pun kembali mengirimkan pesan.
Ayana R Udara: Aldi balas dong!
Ayana R Udara : Aldi dimana? Aldi nggak apa-apa kan?
Ayana R Udara : Aldi baik-baik aja kan? Kenapa nggak kuliah?
Namun tetap tidak ada jawaban dari Aldi.
"Aldi kenapa nggak kuliah ya hari ini? Kenapa juga Aldi nggak ngabarin Ayana?" ucap Ayana sendiri.
Aryasa menghampiri Ayana. "Lo kenapa Ay? Kok kayak nggak tenang gitu?" tanya Aryasa seraya duduk di kursi yang biasa di tempati Aldi.
"Ayana kepikiran Aldi, Ayana takut Aldi kenapa-napa," lirihnya.
Aryasa mengusap pundak Ayana, seraya menenangkan gadis itu. "Udah coba chat Aldi?"
Kedua sorot mata Ayana terlihat berkaca-kaca. "Aryasa, kira-kira Aldi kenapa ya nggak kuliah? Sampai chat Ayana aja nggak dibalas. Aldi pasti baik-baik aja kan?"
"Aldi pasti baik-baik aja, Ay. Mungkin Aldi lagi nggak pegang handphone, jadi nggak tahu kalau ada pesan masuk dari lo," ucap Aryasa.
"Ay, segitu khawatirnya lo ke Aldi, sampai saat Aldi nggak masuk lo kelihatan nggak tenang gini. Beruntung banget Aldi bisa jadi teman yang lo khawatirin," ucap Aryasa dalam hati.
*****
"Ay, ayo pulang," ajak Aryasa seraya menggendong tasnya.
"Maaf Aryasa, hari ini Ayana nggak bisa pulang bareng sama Aryasa," tolak Ayana dengan wajah cemas.
"Kenapa?" tanya Aryasa.
"Ayana harus ke rumah Aldi, Ayana harus pastiin kalau Aldi benar-benar baik-baik aja, karena perasaan Ayana nggak tenang banget," jawab gadis itu.
"Gue antar ya ke rumah Aldi."
"Nggak usah, Ayana bisa sendiri," ucap Ayana, lalu ia berjalan meninggalkan Aryasa.
Pulang kampus hari ini Ayana menolak untuk pulang bersama Aryasa. Ayana memutuskan untuk ke rumah Aldi, karena pria itu tidak membalas pesan dan juga tidak menerima panggilan dari Ayana.
Ayana terus membunyikan bel rumah Aldi, hingga salah satu penjaga membukakan gerbang untuk Ayana.
"Selamat sore Non, ada yang bisa dibantu?" tanya penjaga tersebut yang mengenal Ayana sebagai pacar Aldi.
"Sore pak, Aldi nya ada di rumah?" tanya Ayana.
"Mas Aldi lagi nggak ada di rumah Non," jawab penjaga tersebut.
"Kemana pak? Soalnya Ayana chat nggak balas, Ayana telepon juga nggak diangkat sama Aldi."
"Non emang nggak tahu kalau Mas Aldi dirawat di rumah sakit?" tanya Penjaga tersebut bingung.
Ayana menggeleng.
"Walah! Non kan pacarnya Mas Aldi, masa nggak tahu sih kalau Mas Aldi dirawat di rumah sakit?"
"Di rawat kenapa pak? Aldi sakit apa?" tanya Ayana dengan raut wajahnya yang terlihat panik.
"Kemarin Mas Aldi kecelakaan, mobilnya aja sampai rusak parah, katanya Umi sama Retno sih Mas Aldi keadaannya kritis," jelas Penjaga tersebut.
Kakinya terasa lemas saat mendengar penjelasan dari Penjaga tersebut. Kedua matanya pun langsung memanas.
"Rumah sakitnya dimana Pak?" tanya Ayana dengan kedua sorot matanya yang berkaca-kaca.
"Rumah sakit Medika Lestari, Non."
"Makasih ya Pak informasinya." Ayana bergegas ke rumah sakit Medika Lestari untuk mengetahui kondisi Aldi.
Ayana mencoba untuk memesan ojek online, tapi sangat sulit untuk mendapatkan driver terdekat. "Aduh kok susah banget sih," gerutunya seraya melihat aplikasi di ponselnya yang terus mencari driver.
Ayana mendecak kesal, disaat genting seperti ini kenapa ia tidak bisa langsung mendapatkan driver?
Ayana langsung membatalkan pesanannya. Ia memutuskan untuk berlari ke rumah sakit Medika Lestari, karena juga sangat sulit untuk menemukan taksi ataupun bus, perlu memerlukan waktu lagi.
Sepanjang perjalanan pikiran Ayana benar-benar tidak tenang, ia takut terjadi apa-apa dengan Aldi. Apakah tadi penjaga tersebut berkata kalau kondisi Aldi kritis? Bagaimana jika Aldi mengalami amnesia? Bagaimana jika Aldi melupakannya? Saat ini Ayana benar-benar tidak bisa berpikir jernih, berbagai pikiran tidak karuan terlintas memenuhi kepalanya. Ia ingin secepatnya sampai di rumah sakit dan bertemu Aldi, untuk memastikan kalau kondisi Aldi baik-baik saja sekarang.
"Aldi kenapa bikin Ayana khawatir sih? Aldi udah janji nggak akan bikin Ayana khawatir, tapi apa? Aldi malah bikin Ayana nggak tenang gini," ucapnya seraya terus berlari.
*****
Ayana memperlambat langkahnya saat tiba di lobi rumah sakit Medika Lestari. Ayana mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Selamat sore, ada yang bisa dibantu?'
"Sore, Ayana mau tanya, pasien atas nama Angkasa Mahaldi dirawat di ruangan mana ya?" tanya Ayana.
"Pasien atas nama Angkasa Mahaldi ada di lantai enam, ruang VIP no 103."
"Baik, terima kasih."
Ayana bergegas menaiki lift menuju lantai enam. Ayana *******-***** jarinya saat melihat tanda lift yang perlahan bergerak ke atas.
Tling! Pintu lift terbuka di lantai enam. Ayana langsung mencari ruang rawat VIP no. 103.