School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Hari Minggu



Aryasa dan Ayana membawa dua mangkok mie yang telah mereka masak.


"Wih, enak banget kayaknya nih," ucap Ayana senang.


"Kayaknya gampang banget ya bikin lo senang, cukup disediain mie kayak gini aja lo udah senang," goda Aryasa.


Ayana terkekeh. "Selamat makan," ucapnya seraya menyantap mie dan telur setengah matang yang berada di hadapannya.


Ayana mengangkat kepalanya, melihat Aryasa yang tidak menyantap mienya, melainkan terus melihat Ayana.


"Aryasa nggak makan?" tanya Ayana.


Aryasa tersadar, kalau sedari tadi ia terpesona dengan Ayana yang tidak jaim ketika menyantap mienya dengan lahap.


"Lo lapar, Ay?" goda Aryasa.


Ayana menghentikan makannya. "Aryasa ilfeel ya karena Ayana rakus?"


"Nggak, nggak sama sekali, malah gue senang lihat lo lahap banget makan mienya," jawab Aryasa.


Ayana tersenyum, lalu melanjutkan makannya, begitu juga dengan Aryasa yang menyantap mienya.


*****


Ayana mengusap perutnya yang terasa sangat penuh. "Kenyang banget," ucap gadis itu seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Kalau beliin lo makanan nggak harus yang mahal ya," ucap Aryasa.


Ayana terkekeh. "Ayana suka banget sama mie instan, kalau Aryasa mau beliin, beliin aja Ayana mie instan satu kardus, dibeliin itu aja Ayana udah senang banget," sahut gadis itu.


"Beneran? Gue beliin langsung sama agennya nih," goda Aryasa.


"Eh jangan, nanti Ayana malah jadi usus buntu gara-gara setiap hari makan mie instan."


Aryasa merapikan bukunya, "Kayaknya kita nggak jadi belajar hari ini deh," ucap Aryasa.


"Kenapa? Aryasa marah? Tadi Ayana bercanda doang kok, nggak serius minta dibeliin mie instan satu kardus."


"Nggak Ay, bukan gitu maksud gue, udah kenyang gini enaknya nyantai-nyantai aja."


"Oh begitu," sahut Ayana seraya menganggukan kepalanya.


Aryasa bangkit seraya membawa mangkok bekas mereka makan ke dapur.


"Biar Ayana aja yang cuci mangkoknya." Ayana ikut bangkit mengejar Aryasa, namun Aryasa menghentikan langkahnya dan menghadap ke Ayana.


"Tuan putri duduk saja di sofa, biarkan ini semua saya  yang kerjakan," ucap Aryasa dengan nada bicara seperti pelayan kerajaan.


Ayana terkekeh. "Baik, tuan putri akan kembali duduk di sofa," sahut Ayana, lalu berjalan kembali ke sofa.


Setelah kurang lebih lima  menit. Aryasa pun kembali menghampiri Ayana yang berada di ruang tengah.


"Jadi belajar?" tanya Aryasa.


Ayana menggeleng seraya menyeringai. "Ayana udah malas, kapan-kapan lagi aja ya belajarnya."


Aryasa mengacak-acak pucuk rambut Ayana gemas. "Udah gue duga," ucapnya.


"Aryasa, besok ada acara nggak?" tanya Ayana.


"Nggak ada."


"Mau sepedaan sama Ayana nggak?" tanya gadis itu.


"Mau."


"Serius?"


Aryasa menganggukkan kepalanya.


"Oke, besok pagi Ayana tunggu di rumah ya, jam tujuh pagi," ucap Ayana.


"Siap, gue akan datang tepat waktu," sahut Aryasa.


*****


Ayana dirumah sibuk mencari baju yang cocok untuk ia pakai saat bersepeda besok dengan Aryasa. Haruskah ia menggunakan dress atau sweater saja?


Ayana mencoba beberapa bajunya, mencari baju mana yang paling pas dan membuat ia terlihat cantik.


"Ayana pakai baju apa ya?" bingung gadis itu.


Ayana melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, merasa lelah karena telah membongkar lemarinya hanya untuk mencari baju yang cocok untuknya, karena terlalu berpikir keras, Ayana pun terlelap dalam tidurnya.


Kring....!


Suara alarm berbunyi dengan sangat keras, membuat Ayana membuka matanya sayup-sayup seraya meraba-raba jam yang berada di atas meja.


Ayana bangkit, ia melihat baju-bajunya yang masih berantakan. Ayana kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata lagi.


Drtttt! Drttttt!


Dering ponsel Ayana terus berbunyi, gadis itu mendengus kesal karena suara tersebut sangat mengganggu tidurnya. "Ih! Apa sih hari Minggu gini telepon pagi-pagi," gerutu Ayana.


Ayana mengambil ponselnya yang berada di bawah bantal, menerima panggilan tersebut.


"Halo?" ucap Ayana dengan suara khas orang baru bangun tidur.


"Ay, gue udah di depan rumah lo nih," ucap Aryasa dari telepon.


Kedua mata Ayana membulat. Ia langsung beranjak dari tempat tidurnya, berlari menuju kamar mandi.


Tidak perlu waktu lama, hanya perlu waktu lima menit bagi Ayana untuk mandi. Gadis itu langsung mengambil baju dan sweater yang ia lihat saat keluar dari kamar mandi.


Ayana bergegas keluar rumah untuk menemui Aryasa yang entah sudah sejak kapan tiba di rumahnya.


Ayana membuka gerbang, melihat Aryasa yang sudah berada di depan rumahnya bersama sepeda yang ia bawa.


"Kesiangan lo ya?" tanya Aryasa.


"Maaf ya, Ayana lupa kalau ada janji sepedaan sama Aryasa," jawab Ayana.


"Nggak apa-apa kok, santai aja."


"Aryasa nunggu lama ya?"


"Nggak kok. Yaudah yuk kita berangkat."


"Ayo."


Aryasa dan Ayana berkeliling dengan sepeda, menghirup udara pagi yang segar seraya menyaksikan para makhluk-makhluk di bumi sedang menghabiskan waktu akhir pekan mereka.


Ayana berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret stang sepedanya untuk ia upload ke sosial medianya.


Aryasa tertawa. "Cewek banget lo ya, nggak lupa untuk update story di sosmed," ucapnya.


"Sesuatu itu harus kita abadikan, jadi kalau suatu saat nanti kita nggak bisa ngerasain hal itu lagi, kita masih punya kenangannya untuk diingat."


Aryasa turun dari sepedanya, merangkul gadis itu. "Ayo kita bikin kenangan."


Ayana merubah kameranya, lalu tersenyum menghadap kamera.


Cekrek!


"Ay, gimana jawaban lo?" tanya Aryasa.


"Jawaban? Maksudnya?" tanya Ayana seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ayana masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Aryasa.


"Pertanyaan gue di pantai."


Deg! Ayana baru ingat, kalau pada saat di pantai Aryasa bertanya apakah Ayana mengizinkan Aryasa untuk masuk ke dalam hatinya.


"Eh ternyata ada rambu larangan berhenti disini, ayo kita lanjut jalan yuk, nanti kalau ketahuan pak Polisi kita bisa diomelin loh," ucap Ayana mengalihkan pembicaraan.


Ayana kembali menggoes sepedanya, meninggalkan Aryasa.


"Aryasa ayo, mau sampai kapan diam aja disitu?" teriak Ayana seraya menoleh ke belakang.


Aryasa tersenyum, ia langsung menggoes sepedanya sedikit lebih cepat agar berhasil mengejar Ayana yang semakin menjauh.


Ayana kembali berhenti, "Aryasa," ucapnya.


"Apa? Mau foto lagi?"


Ayana menggeleng. "Aryasa mau berhenti dulu nggak?"


"Lo capek?"


"Ayana mau beli es krim," ucapnya seraya menunjuk seorang penjual es krim yang sedang dikerubuti oleh beberapa orang.


"Yaudah lo duduk di bangku itu dulu, nanti gue beliin es krimnya."


"Oke Aryasa."


Ayana pun menuruti ucapan Aryasa, ia duduk di bangku panjang seraya menunggu Aryasa yang tengah membelikannya es krim.


Tak lama kemudian, Aryasa pun menghampiri Ayana membawa satu es krim coklat. "Nih," ucapnya.


"Makasih Aryasa."


Aryasa mengelap keringat di kening Ayana dengan handuk kecil yang ia bawa. "Capek ya?"


"Sedikit," jawab Ayana tersenyum.


"Aryasa mau es krim nggak?" tanya Ayana seraya menyodorkan es krimnya pada pria itu.


Aryasa menggeleng seraya mengelus rambut Ayana pelan. "Nggak, buat lo aja."