
Suasana kelas hening begitu Aryasa masuk ke dalam kelas. Ketiga sahabatnya itu tidak menegur atau pun basa-basi mengucapkan selamat ulang tahun pada pria itu, tapi Aryasa tidak peduli, ia memang tidak mengharapkan sebuah ucapan ulang tahun dari siapa pun.
Kelas pun dimulai, semua mahasiswa dan mahasiswi mendengarkan materi yang dijelaskan oleh dosen.
"Ada pertanyaan?" tanya dosen.
Semua menggeleng.
Kedua sudut bibir dosen mengembang sedikit. "Nggak ada pertanyaan atau memang kalian yang nggak mau bertanya?"
Tidak ada sahutan dari para mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dalam kelas.
Sang dosen pun berjalan ke mejanya, lalu mengemasi barang-barangnya. "Kelas hari ini selesai sampai di sini, kalau masih ada yang belum kalian pahami, kalian bisa chat saya ya jangan sungkan," ucapnya seraya berjalan keluar kelas.
"Iya pak," sahut para mahasiswa dan mahasiswi.
Aldi memasukkan bukunya, lalu menggendong tasnya. "Ay, gue balik duluan ya, lo mau ngasih surprise ke Aryasa kan?" bisiknya pada Ayana.
"Iya, Aldi pulangnya hati-hati ya," sahut Ayana.
Aldi pun berjalan keluar kelas, karena ia tidak diajak terlibat untuk memberikan surprise ulang tahun pada Aryasa.
"Yas, pulang kampus hangout dulu yuk," ucap Nio seraya berjalan ke kursi Aryasa.
"Nggak," tolak Aryasa.
Qausar mendecak, "Lo juga di apartemen nggak ngapa-ngapain kan? Paling rebahan doang lo kayak ikan cue," sambarnya.
"Ayo pulang, Ay," ucap Aryasa pada Ayana.
Aryasa tidak memperdulikan ucapan dua sahabatnya itu, ia langsung menggendong tasnya dan keluar dari kelas.
Ayana segera bangkit, berjalan keluar kelas mengikuti Aryasa.
"Yas," panggil Nio seraya berlari kecil mengejar Aryasa dan Ayana.
Aryasa menghentikan langkahnya, lalu menoleh, "Apa sih?" tanyanya ketus.
"Yas, hari ini ulang tahun loh, kita main dulu yuk, nggak usah yang jauh deh, di cafe dekat kampus aja," ucap Nio.
"Nggak seru loh Yas, ini tuh hari ulang tahun loh," ucap Qausar.
"Semua hari sama aja," jawab Aryasa dingin.
Qausar menaikkan satu alisnya. "Mau sampai kapan sih lo begini, Yas?" ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Apaan maksud lo ngomong gitu?" ucap Aryasa tak mau kalah.
Qausar mendecak. "Lo nggak anggap hari ini ulang tahun lo karena lo masih mikirin Aruna kan? Di kepala lo itu masih terbayang-bayang surprise ulang tahun dari Aruna satu tahun yang lalu, iya kan?"
Aryasa mengepal tangnnya kuat, lalu mendorong Qausar, hingga pria itu tersudut ke dinding. "Gue nggak suka ya lo bawa-bawa Aruna!" kesal Aryasa.
"Gue tahu lo cinta sama Aruna, tapi caranya nggak gini Yas, hidup lo masih berlanjut, mau sampai kapan lo selalu benci sama hari ulang tahun lo yang jelas-jelas nggak ada hubungannya sama kematian Aruna?"
Bruk!! Aryasa mendaratkan pukulannya di wajah Qausar, tapi Qausar tidak memberikan perlawanan atau membalas pukulan yang diberikan Aryasa.
"Pukul Yas! Pukul! Sampai lo puas, sampai semua rasa bersalah lo ke Aruna hilang. Pukul gue, Yas!" ucap Qausar.
Beberapa orang yang berada di koridor kampus menjadikan Aryasa dan Qausar sebagai sorotan, karena kebetulan pada saat ini kondisi koridor cukup ramai.
"Yas, udah Yas," lerai Satria.
Aryasa menarik kerah baju Qausar, menyudutkan pria itu ke dinding.
"Lo nggak pernah ngerasa gimana rasanya nahan rindu selama dua belas tahun yang cuma bisa lo pendam, dan saat lo ketemu sama orang yang lo rindu, dia malah ninggalin lo untuk selama-lamanya," ucap Aryasa dengan sorot matanya yang menggambarkan emosi yang membara.
Aryasa mencengkeram rahang Qausar kuat. "Lo mau tahu kenapa gue benci sama hari ulang tahun gue? Karena saat ada yang ngasih ucapan ke gue, itu bikin gue ingat sama surprise yang terakhir kali Aruna kasih ke gue."
Bruk!! Sebuah pukulan kembali dilayangkan Aryasa ke wajah sahabatnya itu, kali ini Aryasa seolah tanpa ampun menghajar Qausar yang sudah terjatuh.
Melihat Aryasa yang semakin emosi, membuat Nio, Satria serta Ayana berusaha melerai.
Nio menarik Qausar agar menjauh dari Aryasa, namun Aryasa terus menghajar Qausar hingga pria itu babak belur dan lemas.
Ayana menarik Aryasa, berusaha menenangkan pria itu. Namun, Bruk!! Tanpa sengaja pukulan Aryasa malah mengenai Ayana, membuat gadis itu terjatuh.
Aryasa langsung menoleh, melihat Ayana yang terjatuh di belakangnya.
"Ay, maaf gue nggak sengaja," ucap Aryasa dengan nada lembut, berbeda dengan nada bicaranya beberapa menit lalu.
Pukulan Aryasa yang terlalu keras membuat darah segar keluar dari hidung Ayana, dengan cepat gadis itu mendonggakkan kepalanya agar darah tersebut berhenti keluar.
"Ayana maafin gue, Ay," ucap Aryasa merasa bersalah.
Satria membantu Ayana berdiri, mengajak gadis itu untuk menjauh dari kerumunan. "Ayo kita pulang, Ay," ucap Satria.
Ayana mengangguk, menuruti Satria yang mengajaknya pulang.
Nio dan Qausar menatap Aryasa tajam, lalu berjalan meninggalkan Aryasa sendirian.
Aryasa mengusap wajahnya gusar, ia benar-benar merasa bersalah karena tidak sengaja memukul Ayana, membuat hidung gadis itu berdarah.
"Ahhh!" kesal Aryasa seraya menendang tempat sampah besi yang berada di dekatnya.
Aryasa melemparkan tasnya ke sembarang arah saat ia tiba di apartemennya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Ayana.
Aryasa mengambil ponselnya dari dalam saku, mencoba menghubungi Ayana untuk meminta maaf pada gadis itu, namun sayang, panggilan tersebut di tolak oleh Ayana.
Aryasa semakin tidak tenang, ia semakin cemas dengan keadaan Ayana saat ini. Aryasa langsung mengambil kunci mobilnya, bersiap untuk ke rumah Ayana.
Tok! Tok! Tok!
Aryasa mendecak kesal, mengapa harus ada tamu saat ingin ke rumah Ayana.
Aryasa berjalan menuju pintu, lalu membuka pintunya.
Sorot mata Aryasa menangkap sosok Ayana yang berada di depan pintu unit apartemennya seraya tersenyum dengan membawa kue ulang tahun di tangannya. Tidak hanya ada Ayana, ada Satria, Nio dan Qausar juga yang berada di belakang gadis itu.
Tubuh Aryasa mematung sejenak, semua rasa takut dan rasa bersalahnya pada Ayana perlahan sirna ketika melihat kehadiran Ayana.
"Selamat ulang tahun, Aryasa," ucap Ayana tersenyum.
Kedua mata Aryasa berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan ulang tahun dari Ayana, apalagi tadi ia tidak sengaja melakukan hal bodoh pada gadis itu.
"Ay, gue minta maaf, tadi gue nggak—"
Ayana mendekati Aryasa, masih dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Ayana tahu kok Aryasa nggak sengaja, udah ya nggak usah dibahas lagi."
Aryasa melihat Satria, Nio dan Qausar yang berdiri di belakang Ayana dengan sorot mata yang tajam. "Lo bertiga ngerjain gue?"
"Nggak, Yas. Sumpah!" ucap Nio yang takut dihajar seperti Qausar oleh Aryasa.
Qausar menggeleng. "Nggak. Gue kesini mau minta maaf karena omongan gue tadi," ucap Qausar.
Satria menghela napasnya berat. "Aryasa, kita masuk dong, masa kita berdiri di depan pintu unit lo gini kayak ibu-ibu lagi sensus penduduk."
"Nah, benar tuh, dari tadi kita berdiri aja di luar," ucap Nio.
"Masuk," ucap Aryasa, mempersilahkan Ayana, Satria, Nio dan Qausar untuk masuk ke unitnya.
"Tiup lilinnya," ucap Ayana menyodorkan kue ulang tahun yang ia bawa pada Aryasa.