School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Berdamai Dengan Keadaan?



Aldi masuk ke rumah dengan raut wajahnya yang tidak seperti biasanya. Membuat para asisten rumah tangganya yang menyambut heran, tidak seperti biasanya tuan muda mereka memasang raut wajah sedih.


"Kamu baru pulang, Di?" tanya Tante Dinda saat melihat Aldi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Iya," jawab Aldi singkat.


Tante Dinda tersenyum, ia segera berjalan ke ruang makan, berinisiatif untuk membawakan makanan ke kamar Aldi.


Setelah sampai di kamar, Aldi langsung membuang tasnya ke sembarang arah, lalu melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.


"Harus sampai kapan ya gue pura-pura terus ke Ayana?"


Aldi mengusap wajahnya gusar, mengambil ponselnya, berniat menghubungi Ayana, tapi tiba-tiba ia teringat kembali ucapan Ayana.


"Nggak, gue harus ingat kalau gue itu cuma teman biasa bagi Ayana, nggak boleh berlebihan," ucapnya.


Aldi menaruh ponselnya di meja yang berada di samping tempat tidurnya, mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ayana, karena ia harus bersikap seperti Aldi yang Ayana kenal di SMA, dimana Aldi bersikap biasa-biasa saja pada Ayana, bukan biasa saja, lebih tepatnya saat itu Aldi sedang menyembunyikan rasa sukanya pada gadis itu.


Tante Dinda mengambilkan nasi dan juga beberapa lauk dan langsung membawanya ke kamar Aldi.


Tok.. Tok.. Tok..! Tante Dinda mengetuk pintu kamar Aldi hati-hati, takut membuat pria itu marah jika mengetuknya terlalu keras.


Aldi bangkit, membuka pintu kamarnya saat mendengar pintunya di ketuk.


"Tante bawa makanan buat kamu, kamu belum makan kan?" tanya Tante Dinda lembut.


Aldi melihat Tante Dinda lekat, begitupun Tante Dinda yang melihat Aldi sedikit takut, karena pria itu tidak berkata satu patah kata pun.


"Boleh Tante taruh makannya di sana?" tanya Tante Dinda seraya menunjuk meja yang berada di samping tempat tidur Aldi.


Aldi mengangguk.


Tante Dinda pun masuk ke dalam kamar dan menaruhnya di atas meja.


Perlahan kedua sudut bibir Aldi terangkat sedikit, sangat sedikit, bahkan hampir tidak terlihat kalau pria itu tersenyum.


"Makasih Tante," ucap Aldi.


Sebuah ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Aldi mampu membuat perasaan Tante Dinda bahagia. Memang terdengar seperti ucapan yang sederhana, tapi menurut Tante Dinda, ucapan Aldi memiliki makna yang sangat besar, apalagi dalam hubungannya dengan Aldi.


Tante Dinda tersenyum senang. "Bagaimana kuliahnya hari ini? Lancar?" Tante Dinda mencoba untuk berinteraksi lebih jauh dengan Aldi.


Aldi masih melihat Tante Dinda dengan tatapan dingin. "Lancar," jawab Aldi seadanya.


Aldi melihat makanan yang berada di meja, lalu melihat ke arah Tante Dinda. Aldi merasa rindu saat-saat seperti ini, dimana dulu saat mendiang Mamanya masih hidup, Aldi sering sekali dibawakan makanan oleh mendiang Mamanya ke kamarnya, setelah lima tahun akhirnya Aldi kembali merasakannya.


"Aldi nggak suka sama makanannya ya?" tanya Tante Dinda.


"Suka kok," jawab Aldi.


Aldi menarik kursi belajarnya, mengarahkannya ke Tante Dinda. "Duduk Tan, berdiri terus nggak capek?" ucapnya masih dengan nada bicara yang terdengar dingin.


Tante Dinda pun duduk, begitu juga dengan Aldi yang duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Tante udah makan?" tanya Aldi dengan pandangannya yang enggan melihat ke Tante Dinda.


"Belum," jawab Tante Dinda.


Aldi langsung bangkit seraya mengambil makanannya yang berada di atas meja. "Ayo kita ke ruang makan aja, makan bareng," ucap Aldi berjalan lebih dulu, meninggalkan Tante Dinda yang masih mencermati kata-kata Aldi.


Aldi berjalan ke ruang makan seraya membawa makanannya, diikuti Tante Dinda yang berjalan di belakangnya.


Aldi menyantap makanannya, begitu juga dengan Tante Dinda yang duduk di samping pria itu. Kedua mata Tante Dinda memanas, ia ingin meneteskan air matanya karena merasa sangat bahagia bisa makan berdua dengan Aldi, walaupun raut wajah Aldi masih terlihat dingin, tapi ini semua sudah lebih dari cukup untuknya.


Air mata yang sedari tadi Tante Dinda tahan akhirnya terjatuh juga, tapi dengan cepat ia menyekanya, tidak ingin Aldi melihatnya menangis.


"Aldi suka puding coklat nggak? Tadi pagi Tante bikin puding coklat loh," ucap Tante Dinda membuka pembicaraan.


Deg! Puding coklat, itu mengingatkan Aldi kepada mendiang mamanya. Aldi sangat suka puding coklat, apalagi jika puding coklat itu dingin, Aldi sangat menyukainya.


"Suka," jawab Aldi seraya menjauhkan makanannya yang sudah habis dari hadapannya.


"Aldi mau?"


"Boleh."


"Tunggu sebentar ya, Tante ambil di kulkas dulu." Tante Dinda bergegas mengambil puding coklat buatannya di kulkas, tidak ingin membuat Aldi menunggu terlalu lama, ia sangat senang karena Aldi ingin mencobanya.


"Tara...," Tante Dinda menaruh puding coklat buatannya di hadapan Aldi.


Aldi menarik napasnya panjang, membuangnya perlahan. Aldi berusaha untuk menyembunyikan rasa sedihnya, karena sejujurnya ia sedikit tersentuh dengan perlakuan kecil Tante Dinda hari ini, mulai dari makanan yang dibawakan ke kamar, hingga puding coklat yang mengingatkannya kepada mendiang mamanya.


Aldi mencicipinya. Merasakan puding tersebut sangat manis dan dingin, sama persis seperti puding coklat yang terakhir kali ia makan lima tahun yang lalu.


"Enak?" tanya Tante Dinda, takut jika pudingnya tidak disukai Aldi.


"Enak," jawab Aldi, kembali menyantap puding coklat tersebut.


Tante Dinda tersenyum, ia sangat senang jika Aldi menyukai puding coklat buatannya.


"Aldi suka makanan apa lagi? Nanti Tante buatkan untuk Aldi," ucap Tante Dinda yang ingin segera memperbaiki kedekatannya dengan Aldi.


"Nggak usah Tante, Aldi nggak mau ngerepotin orang lain," jawab Aldi.


"Tante nggak merasa di repotkan kok, malah Tante senang kalau Aldi makan buatan Tante," ucap Tante Dinda.


Pak Derawan yang baru masuk ke dalam rumah, merasa heran kenapa para asisten rumah tangganya berada di balik dinding. Pak Derawan mendekati mereka, ikut melihat apa yang sedari tadi menjadi tontonan para asisten rumah tangganya tersebut.


Kedua mata Pak Derawan membulat saat melihat Aldi dan Tante Dinda yang berada di ruang makan bersama.


"Kok mereka—"


Mendengar suara Pak Derawan, para asisten rumah tangga tersebut langsung menoleh ke arah Pak Derawan. Alangkah terkejutnya mereka saat tahu Pak Derawan ikut mengintip.


"Astagfirullah! Tuan bikin kaget aja," ucap Bu Retno.


"Kok Aldi sama Dinda bisa makan bareng?" tanya Pak Derawan tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.


"Saya juga bingung Tuan, tadi Mas Aldi tiba-tiba bawa makanan dan makan bareng sama Nyonya," jelas Bu Umi.


Kedua sudut bibir Pak Derawan mengembang, setidaknya langkahnya memilih untuk pindah ke rumah ini membuat Dinda sedikit lebih dekat dengan Aldi. Tidak sia-sia ia berbohong bahwa rumahnya sedang di renovasi.


Pak Derawan ingin mendekati Aldi dan Tante Dinda, namun Bu Retno menarik tangan Pak Derawan, seraya mencegah majikannya itu agar tidak merusak suasana yang sudah dibangun Tante Dinda untuk mendekati Aldi.


"Kenapa kamu narik tangan saya?" tanya Pak Derawan.


"Tuan jangan kesana, kalau nanti Tuan kesana pasti Mas Aldi balik ke kamarnya," jelas Bu Retno.


Pak Derawan mengangguk mengerti, benar juga ucapan Bu Retno, jika ia menghampiri Aldi dan Dinda, pasti Aldi akan langsung pergi. "Iya juga ya, Bu Retno pintar juga," ucap Pak Derawan.