
"Ayana mana?" tanya Aldi pada Farah dan Gaeun yang baru saja kembali ke camp tanpa kehadiran Ayana.
Farah dan Gaeun saling melihat satu sama lain. "Ayana belum balik?" tanya Farah dengan raut wajahnya yang sedikit panik.
"Kok malah nanya balik sih? Emang Ayana nggak sama kalian?" ucap Azka ikut berbicara.
"Tadi Ayana sama kalian kan?" Nada bicara Aldi terdengar sangat khawatir.
Gaeun mengangguk. Gaeun menceritakan kalau tadi ia dan Farah memang bersama dengan Ayana, tapi saat ia dan Farah ingin ber-foto di dekat air terjun, Ayana menolak untuk ikut dengan mereka dan bilang ingin jalan-jalan sendiri dan akan balik ke camp setelahnya.
Mendengar penjelasan Gaeun, Aldi langsung bangkit dari duduknya. Terlihat dengan sangat jelas kalau Aldi khawatir. Tanpa berkata apapun pada ketiga temannya, Aldi langsung mencari Ayana.
Aldi mencari ke tempat saat Ayana duduk tadi, tapi gadis itu tidak ada di sana. Aldi berjalan ke air terjun, gadis itu juga tidak ada di sana. Aldi terdiam sejenak, berusaha untuk tenang dan berpikir dengan kepala dingin.
Aldi sudah mencoba menghubungi Ayana beberapa kali, tapi nomor gadis itu tidak aktif.
"Lo dimana sih, Ay?" ucap Aldi khawatir.
Langkah Aldi terhenti saat mendengar suara tangisan. Aldi memberanikan dirinya untuk mencari sumber suara tangisan tersebut. Pandangan Aldi tidak terlalu jelas karena langit yang mulai gelap dan banyak asap-asap yang entah muncul dari mana.
Hiks.. Hiks..
Suara tangisan tersebut mulai terdengar jelas. Aldi mempercepat langkahnya untuk menemukan sumber suara tangisan tersebut.
Aldi memperlambat langkahnya. Aldi tersenyum lega, akhirnya ia menemukan Ayana. Gadis itu tengah duduk seraya menundukkan kepalanya.
"Ayana," panggil Aldi lembut seraya berjalan mendekati Ayana.
Ayana mengangkat kepalanya. Ayana segera berdiri dan memeluk Aldi erat. Aldi dapat merasakan tubuh Ayana yang gemetar hebat, sepertinya gadis itu sangat ketakutan.
Aldi membiarkan Ayana yang terisak di dalam pelukannya. Perlahan tangan Aldi menepuk-nepuk punggung Ayana dengan lembut. "Ada gue Ay, disini," ucapnya.
Merasa sudah tenang, Ayana segera melepaskan pelukannya.
"Lo baik-baik aja kan, Ay?" tanya Aldi.
Ayana memukul tubuh Aldi pelan. "Ayana takut nggak akan ketemu Aldi lagi," ucapnya seraya menghapus air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.
Aldi tersenyum, ia langsung memeluk Ayana. "Jangan bikin gue khawatir, Ay."
Ayana mengangguk dalam pelukan Aldi. "Kita pelukan terus kayak Teletubbies ya," ucap Aldi.
Ayana melepaskan pelukan Aldi, melihat pria itu bingung. "Kok Aldi tahu Ayana ada di sini?" tanyanya.
"Gue dengar ada suara orang nangis, jadi gue cari sumber suaranya, ternyata lo yang nangis," jawab Aldi.
"Aldi nggak takut? Kalau ternyata itu suara tangisannya mbak Kunti gimana? Aldi nggak takut?" tanya Ayana dengan raut wajahnya yang polos.
Aldi tertawa kecil seraya mengacak-acak pucuk rambut Ayana pelan.
"Gue lebih takut kalau gue nggak bisa nemuin lo daripada ketemu sama mbak Kunti," jawab Aldi.
Srek.. Srek..
Tiba-tiba semak-semak bergoyang dengan sendirinya. Aldi dan Ayana menoleh. Aldi segera menarik Ayana ke belakang tubuhnya. Ayana memegangi lengan Aldi dengan erat.
"Aldi itu suara apa? Jangan-jangan itu mbak Kunti? mungkin Mbak Kunti nggak suka kali ya kalau kita ngomongin dia," ucap Ayana.
"Lo sih, ngoceh mulu dari tadi," sahut Aldi.
Semak-semak bergoyang semakin kuat. Ayana segera menarik tangan Aldi dan mengajak pria itu berlari. Ayana memperlambat langkahnya, Ayana melihat sekelilingnya, semuanya adalah pohon-pohon besar, kini entah berada dimana mereka sekarang?
"Aldi, kita ada dimana?" Raut wajah Ayana terlihat ketakutan.
Aldi melihat sekelilingnya, jujur ia juga tidak tahu kini berada dimana, hanya pohon-pohon besar dan asap putih.
Rintikan air hujan terjatuh tepat mengenai wajah Aldi. "Gerimis Ay, kita harus segera balik ke camp. Azka, Gaeun dan Farah pasti nungguin kita."
Ayana mendesis pelan. "Balik gimana? Kita aja sekarang nggak tahu ada dimana, jalan balik ke camp aja kita nggak tahu?"
"Aldi, Ayana takut, kalau kita nggak bisa keluar dari sini gimana?" lirih Ayana.
"Kalau nggak bisa keluar dari sini ya berarti kita jadi penghuni hutan," jawab Aldi asal.
"Lo pikir gue pernah masuk hutan kayak gini? Kalau lo nggak narik tangan gue tadi dan lari, kita nggak akan jadi masuk hutan kayak gini," ucap Aldi dalam hati. Ia tidak mungkin meluapkannya pada Ayana, pasti gadis itu akan semakin takut.
Aldi menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Aldi memegang tangan Ayana dengan erat. Aldi merasakan tangan Ayana yang gemetar.
Aldi menatap kedua bola mata Ayana dengan lekat seraya menenangkan gadis itu. "Ada gue. Lo percaya kan sama gue? Kita akan keluar dari sini, Ay."
Kedua mata Ayana berkaca-kaca. Ayana sangat takut, apalagi langit mulai gelap.
"Ay, lihat gue. Lo percaya kan sama gue?"
Ayana mengangguk lemah.
"Kita akan keluar dari sini, Ay," ucap Aldi tegas.
Aldi dan Ayana berusaha mencari jalan keluar dari hutan untuk kembali ke tempat camp mereka.
Ayana menghentikan langkahnya, kakinya terasa sangat sakit. "Aldi, Ayana udah nggak kuat jalan lagi, kaki Ayana sakit," lirihnya.
Sejujurnya bukan hanya Ayana yang merasa lelah, Aldi juga merasakannya. Namun Aldi berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Ayana.
Aldi menghela napasnya. Aldi menyuruh Ayana untuk duduk di salah satu batu besar yang berada tidak jauh dari mereka.
Aldi berjongkok di depan Ayana, lalu membukakan sepatu gadis itu. Kaki Ayana memerah dan bengkak.
"Aldi ngapain? Kok sepatu Ayana di buka?"
Aldi mengikatkan tali sepatu Ayana ke tali yang satunya lagi, lalu memberikannya pada gadis itu. "Nih pegang, lo nggak usah pakai sepatu dulu, kaki lo lecet."
Ayana memegang sepatunya, ia melihat Aldi sedih.
"Nanti gue obatin kalau kita udah sampai camp," ucap Aldi.
Aldi memutar posisinya, berjongkok membelakangi gadis itu. "Cepat naik."
Ayana terdiam.
"Cepat naik Ay, ini semakin gelap, nanti malah susah untuk cari jalan keluar," ucap Aldi lembut.
Ayana menuruti ucapan Aldi. Ia pun segera naik ke punggung Aldi. Mereka bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut dan kembali mencari jalan keluar.
Ayana menyeka air matanya, ia merasa sedih karena Aldi telah memperlakukannya dengan sangat baik. Ayana merasa malu karena ia tidak peka dengan perasaan Aldi dan mengabaikan pria itu selama tiga tahun.
"Ay, lo setiap hari makannya apa sih? Berat banget," ucap Aldi memecah keheningan.
Ayana menarik rambut Aldi pelan, membuat pria itu sedikit meringis. "Ih! Aldi! Udah turunin Ayana aja," kesal gadis itu.
Aldi terkekeh, "Bercanda Ay, lagian lo diam aja, gue kira lo tidur," goda Aldi.
"Dari tadi gue coba nelponin lo, Ay, tapi nomor lo nggak aktif," ucap Aldi seraya mengalihkan pikiran Ayana agar melupakan rasa takutnya hingga mereka berhasil menemukan jalan keluar.
"Baterai handphone Ayana habis karena dari tadi Ayana foto-foto pemandangan terus," jawab Ayana.
Aldi mengangguk mengerti.
"Aldi pernah naik gunung?" tanya Ayana.
"Kenapa?" tanya Aldi.
"Aldi kuat banget jalan sambil gendong Ayana di tempat kayak gini, kontur jalannya kan naik turun gini," ucap Ayana.
Aldi terkekeh. "Kayaknya gara-gara dari kecil gue udah sering memikul beban yang berat deh."
"Jadi maksud Aldi itu Ayana berat? Aldi samain Ayana sama beban hidup Aldi?" decak gadis itu.
"Iya lo berat, gue hampir kehilangan napas nih gara-gara gendong lo," sahut Aldi.
"Tempat di sini bagus ya, nanti kalau Argatha ke Jakarta pas libur kuliah, Ayana mau ajak Argatha ke sini, Argatha harus lihat tempat ini," ucap Ayana.
Aldi menghentikan langkahnya. Pasti Ayana berharap kalau Argatha akan pulang ke Jakarta ketika liburan dan menemuinya, tapi apa mungkin Argatha akan menemui Ayana? Sedangkan Argatha saja menginginkan Ayana untuk melupakannya.