
"Kayaknya kejadian tiga tahun lalu akan terulang lagi nih," ucap Aldi seraya menyetir.
Ayana yang tadinya fokus pada layar ponselnya, kini menoleh ke Aldi. "Ha? Maksudnya?"
"Kejadian tiga tahun di SMA kayaknya bakal kejadian lagi di kampus. Baru hari pertama aja udah banyak cowok yang kenalan sama lo," ucap Aldi sesekali menoleh.
Ayana tersenyum penuh arti. Ia mendekatkan dirinya pada Aldi. "Aldi cemburu ya?" goda Ayana.
"Cemburu? Idih, amit-amit," sahut Aldi ketus.
"Yakin? Emang Aldi udah nggak suka sama Ayana?" tanya Ayana.
"Nggak," jawab Aldi bohong.
Ayana mengangguk percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Aldi.
"Aldi, nanti berhenti di dekat toko bunga ya," pinta Ayana seraya menunjuk toko bunga yang berjarak beberapa meter dari mereka.
"Kenapa? Lo mau beli bunga?"tanya Aldi.
Ayana menggeleng. "Nggak, Ayana mau ke rumah Argatha," jawab gadis itu.
Seketika Aldi menghentikan mobilnya, untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang mobil Aldi.
"Ngapain? Argatha kan nggak ada di rumah," ucap Aldi.
Ayana menghela napasnya. "Ayana mau tanya ke Kak Echa, kenapa nomor Argatha nggak bisa dihubungi? Ayana mau tanya ke Kak Echa, apa Argatha udah nggak mau ketemu Ayana lagi?"
Ucapan Ayana membuat keringat dingin menjalar di sekujur tubuh Aldi. Wajah Aldi pun terlihat tegang.
Ayana menoleh, melihat ada kendaraan lain yang berjalan ke arah mereka. "Aldi jalan, jangan berhenti di tengah jalan gini," ucap Ayana menyadarkan Aldi.
Aldi segera tancap gas, melaju ke rumah Argatha tanpa menurunkan Ayana di dekat toko bunga.
"Aldi berhenti disini aja," pinta Ayana saat Aldi melewati toko bunga
"Gue antar ke rumah Argatha," jawab Aldi dengan nada bicara yang terdengar dingin.
Ayana mengangguk, menuruti ucapan Aldi.
Tibalah mereka di depan gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi. Dari luar nampak sangat sepi. Ayana langsung turun dari mobil Aldi dan langsung menekan bel yang berada di samping gerbang.
Beberapa kali Ayana menekan bel, tapi tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah itu.
Raut wajah Ayana yang tadinya bersemangat untuk ke rumah Argatha, kini berubah sendu. "Ayo Aldi kita pulang," lirihnya.
Aldi tidak tega melihat Ayana yang seperti ini. Mau sampai kapan Ayana mengharapkan kabar dari Argatha? Tapi Aldi juga tidak bisa berbicara jujur pada Ayana tentang semuanya, Ayana akan jauh lebih sedih jika tahu kebenarannya.
Aldi membukakan pintu mobil untuk Ayana, gadis itu pun masuk.
"Are you okay, Ay?"
Ayana mengangguk lemah.
"Aldi, Argatha ada chat sesuatu ke Aldi nggak?" tanya Ayana.
Kedua mata Aldi membulat, pertanyaan Ayana membuat jantung Aldi berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Ng- nggak Ay," jawab Aldi gugup.
"Argatha kayaknya udah nggak mau ketemu Ayana lagi," ucap Ayana dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
Aldi memaksakan kedua sudut bibirnya untuk mengembang. "Nggak usah mikirin Argatha, Ay. Tadi di kampus banyak cowok ganteng kok, tinggal lo pilih aja, contohnya ada Aryasa tadi," ucap Aldi mencairkan suasana.
Ayana hanya diam, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
Aldi mengerti suasana hati Ayana saat ini. Tak ingin berlama-lama lagi di depan rumah Argatha, Aldi pun segera menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Argatha.
"Ay, makan yuk," ucap Aldi mencairkan suasana yang saat ini hening.
"Makan apa?" tanya Ayana.
"Makan batu," jawab Aldi asal.
Ayana mendesis seraya memukul Aldi pelan. "Ih! Ayana nanya serius malah dibecandain!"
Aldi terkekeh pelan. "Lagi kenapa harus nanya? Lo tuh harusnya jawab ayo, gitu."
Bibir Ayana maju beberapa sentimeter, membuat gadis itu terlihat menggemaskan.
"Ih, Aldi jangan tarik-tarik bibir Ayana, nanti kalau bibir Ayana jadi monyong gimana?" gerutu Ayana seraya melepaskan tangan Aldi dari bibirnya.
Aldi terkekeh seraya mengelus rambut Ayana pelan. "Mau makan apa, Ay?"
Ayana berpikir sejenak, memikirkan makanan apa yang mau ia makan bersama Aldi.
Aldi menaikkan satu alisnya, melihat Ayana yang nampak serius memikirkan menu makan siang mereka hari ini.
"Ay, gue cuma nanya lo mau makan apa loh? Bukan nanya siapa yang kasih nama matahari, lo jangan serius-serius banget," ucap Aldi.
Ayana menaruh jari telunjuknya di atas bibir Aldi, membuat pria itu terdiam.
"Ayana itu mikir makanan apa yang Aldi suka, nanti kalau Ayana mau sesuatu tapi Aldi nggak suka kan jadi nggak enak. Ayana nggak mau kejadian di Dufan ke ulang lagi," jelas Ayana, mengingat waktu di Dufan Ayana memaksa Aldi untuk menaiki wahana yang berhubungan dengan ketinggian, padahal Aldi takut ketinggian.
Aldi mendesis. "Idih, sok perhatian banget lo ke gue," ucap Aldi.
"Perhatian salah, nggak perhatian salah, emang ya jadi cewek tuh serba salah," ucap Ayana mendramatisir keadaan.
Aldi memegang kening Ayana, memastikan kalau gadis itu dalam keadaan sehat. "Kening lo nggak panas, tapi kenapa otak lo error ya?" goda Aldi.
Ayana menepis tangan Aldi dari keningnya dengan kasar. Bibirnya kembali maju beberapa sentimeter. "Aldi bisa nggak sih sehari aja nggak usah ngeledek Ayana?"
"Nggak," goda Aldi.
Ayana menghela napasnya, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Hey, jangan marah," ucap Aldi seraya mencolek tangan Ayana. Tapi tetap saja gadis itu tidak mau melihat ke arahnya.
"Ay," panggil Aldi dengan nada yang terdengar lembut, berbeda dengan yang Ayana dengar beberapa menit lalu.
"Apa sih? Siapa yang marah?"
"Lo," jawab Aldi.
"Nggak, Ayana nggak marah," ucap Ayana ketus.
"Kalau nggak marah kenapa nada bicara lo gitu?" tanya Aldi.
"Ya suka-suka Ayana," jawab gadis itu.
Ayana memutar lagu kesukaannya di audio mobil Aldi yaitu 'Nothing Gonna Change My Love For You' untuk memecah keheningan diantara ia dan Aldi.
Aldi menghela napasnya, kondisi jalanan sore ini sangat macet.
Aldi melihat seorang laki-laki paruh baya yang menjajakan lampu warna-warni pada pengendara yang terjebak kemacetan.
Aldi menoleh ke Ayana, gadis itu masih memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Aldi melirik spionnya, lalu membuka seat belt dan keluar dari mobilnya.
"Aldi mau kemana?" tanya Ayana yang reflek menoleh saat pintu mobil Aldi terbuka.
Aldi tak menjawab, ia langsung menutup pintu mobilnya.
Ayana terdiam, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. "Apa Aldi marah sama Ayana ya?"
"Aduh Ayana bodoh banget sih! Kalau Aldi marah gimana?" ucap Ayana seraya merutuki dirinya sendiri.
Ayana menundukkan kepalanya seraya menyesal dengan apa yang telah ia lakukan pada Aldi, ia sangat takut jika Aldi marah.
Aldi menghampiri bapak penjual lampu warna-warni yang berada lumayan jauh dari mobilnya. Tanpa peduli dengan orang-orang di sekitar yang melihatnya, Aldi dengan tenang membawa dua lampu warna-warni yang telah ia beli.
"Buat lo." Aldi memberikan dua lampu warna-warni yang baru saja ia beli pada Ayana ketika sudah di dalam mobil.
Ayana mengangkat kepalanya, melihat Aldi dengan sorot mata yang berbinar-binar. Ayana tidak mengira kalau Aldi keluar hanya untuk membeli lampu warna-warni itu.
"Jangan marah lagi ya, Ay," ucap Aldi.
"Ayana pikir Aldi—"
Aldi tersenyum. "Nggak Ay, gue nggak bisa marah ke lo," ucapnya.
Ayana tersenyum lebar, dengan senang Ayana menerima lampu warna-warni yang diberikan oleh Aldi.
"Makasih Aldi," ucap Ayana senang.
Ayana merasakan satu tangan Aldi membelai rambutnya hangat.