School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Happy Birthday Ayana



Ayana melemparkan tubuhnya ke tempat tidur setibanya di rumah. Ayana merasa sangat lelah, matanya terasa sangat berat. Tidurnya semalam di camp tidak tenang, sedikit-sedikit ia terbangun karena nyamuk yang hinggap di kaki dan tangannya.


Dring.. Dring...!


Baru Ayana ingin memejamkan matanya, ponselnya malah berbunyi. Dengan cepat gadis itu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.


"Selamat ulang tahun anak papa yang cantik, maaf ya hari ini papa belum bisa pulang, papa janji akan cepat pulang dan kasih hadiah ke kamu," ucap Pak Ferdy dari seberang.


"Makasih papa, semangat ya kerjanya. Ayana tunggu hadiahnya," jawab Ayana.


"Kamu jaga diri di rumah ya. Papa mau lanjut kerja lagi. Bye sayang."


"Bye, Pa."


Ayana mengakhiri panggilan tersebut dan menaruh ponselnya di atas bantal. Ayana merasa sedih, karena ulang tahunnya kali ini ia sendirian.


Ayana kembali mengambil ponselnya, mengecek pesan yang ia kirim ke Argatha, ponsel Argatha sepertinya tidak aktif. Ayana mencoba mengirimi pesan lagi pada Argatha.


Ayana R Udara : Argatha sibuk ya persiapan masuk SNU?


Ayana R Udara : Argatha kapan mulai kuliah di SNU?


Ayana R Udara : Kemarin Ayana camp sama teman-teman yang lain, tapi sayang kurang Argatha.


Ayana R Udara : Ayana kemarin tersesat di hutan, untung aja Aldi bisa temuin Ayana, Ayana takut banget.


Ayana R Udara : Argatha, hari ini Ayana ulang tahun loh, Argatha nggak mau ucapan selamat ulang tahun ke Ayana?


Ayana menghela napasnya. "Katanya Argatha janji mau kasih kabar, tapi baru beberapa minggu di Korea Argatha malah hilang kayak gini," lirihnya.


Dring.. Dring...!


Ponsel Ayana kembali berdering. Tertera nama Farah yang berada di layar ponselnya.


"Halo, Far," ucap Ayana.


"Ay, bukain pintu dong, gue di depan pintu rumah lo nih," ucap Farah dari telepon.


"Nggak di kunci kok, langsung masuk aja, biasanya juga gitu," ucap Ayana.


"Cepat bukain atau gue rusakin nih pintu rumah lo!" 


Farah langsung memutuskan panggilan tersebut. Dengan terpaksa Ayana harus beranjak dari tempat tidurnya dan turun ke bawah untuk membukakan pintu Farah.


Dengan raut wajahnya yang sendu, Ayana membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Ayana mematung di tempat saat melihat ada Aldi, Farah, Gaeun dan Azka yang membawa kue ulang tahun, balon dan memakai topi ulang tahun.


"Selamat ulang tahun," ucapnya kompak.


Ayana mengulum bibirnya seraya menahan air matanya yang ingin terjatuh. Jujur saja, ia tidak pernah menduga jika teman-temannya akan memberikan surprise seperti ini, karena selama di camp dan perjalanan pulang, teman-temannya tidak menyinggung soal ulang tahun Ayana, bahkan tanggal hari ini.


"Mau bengong sampai kapan, Ay? Pegel ini megangin kue," ucap Aldi menyadarkan Ayana dari lamunannya.


Ayana mengangguk seraya mempersilahkan teman-temannya untuk masuk.


"Selamat ulang tahun, Ay," ucap Aldi menyodorkan kue ulang tahun di tangannya.


Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya terjatuh. Ayana segera menyeka-nya.


"Tiup lilinnya," ucap Farah.


"Buat wish dulu, baru tiup lilinnya," ucap Gaeun.


Ayana tidak terpikirkan untuk membuat wish apa, karena saat ini otaknya masih didominasi keterkejutan.


Fush! Ayana langsung meniup lilin tanpa membuat wish.


Kedua mata teman-temannya membulat. "Lo nggak buat wish?" tanya Aldi.


"Ayana bingung mau buat wish apa?" jawab Ayana jujur.


Azka menggeleng tidak habis pikir, begitupun juga dengan Farah dan Gaeun.


Aldi menaruh kue ulang tahun tersebut di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya. "Nih buat lo."


"Boleh di buka sekarang?" tanya Ayana seraya melihat Aldi.


"Tahun depan aja bukanya, nunggu lo ulang tahun lagi," jawab Aldi asal.


Ayana terkekeh, ia segera membuka kado dari Aldi. Kedua mata Ayana terbelalak saat melihat sebuah gelang emas putih dengan bandulan kupu-kupu.


"Gambar kambing itu, Ay," sahut Aldi.


Farah dan Gaeun mendekati Ayana, melihat hadiah pemberian Aldi. "Ini emas asli, Di?" tanya Gaeun saat memegang gelang yang diberikan pada Ayana.


"Itu ada suratnya juga, kalau mau di jual bisa," jawab Aldi santai.


"Kalau nanti Ayana nggak punya uang, ini boleh dijual, Di?" ucap Ayana enteng.


Aldi menggaruk kepalanya frustasi. Walaupun sudah tiga tahun bersama Ayana, Aldi masih harus menambah kesabarannya saat bersama gadis itu.


Ayana tersenyum bahagia, senyumnya tak bisa ia hilangkan dari paras cantiknya. "Ayana suka banget sama hadiahnya, makasih ya Aldi."


Aldi sangat lega mendengarnya, hadiah yang ia berikan dapat diterima dengan senang hati oleh Ayana.


"Aldi, motor lo nggak dijual kan gara-gara buat beli gelang ini?" goda Gaeun.


Aldi terkekeh, "Nggak sih, cuma jual ikan lohan bokap gue aja," jawabnya asal.


"Nggak mungkin lah jual motor, kamu nggak lihat itu mobil Tesla di depan?" ucap Azka seraya menyenggol gadis yang duduk di sampingnya.


Gaeun terkekeh seraya melirik ke Aldi. "Oh iya, baginda raja kita yang satu ini bawa Tesla," godanya.


*****


Setelah merayakan ulang tahun Ayana, Farah, Gaeun dan Azka berpamitan untuk pulang. Sedangkan Aldi masih tertidur pulas di sofa rumah Ayana.


"Tuh si Aldi kebo banget, dari awal datang sampai pulang masih tidur aja," ucap Farah.


"Semalem di camp Aldi nggak tidur," sahut Azka yang tahu sendiri kalau Aldi di dalam tenda tidak tidur, melainkan bermain mobile legend.


"Yaudahlah ayo pulang, biarin aja nanti Aldi pulang sendiri, lagi pula Aldi bawa mobil," ucap Gaeun seraya menarik tangan Azka.


Mereka bertiga pun beranjak dari rumah Ayana. Meninggalkan gadis itu dan juga Aldi yang masih berada di alam mimpi.


Aldi membuka matanya sayup-sayup, melihat sekelilingnya yang nampak sepi, tidak terdengar lagi suara riuh dari teman-temannya yang tadi bermain uno.


Aldi merubah posisinya menjadi duduk seraya mengucek matanya yang masih terasa ngantuk. "Yang lain pada kemana, Ay?" tanya Aldi.


Ayana terpelonjak kaget, karena Aldi tiba-tiba bangun dan mengeluarkan suara. "Astaga Aldi bikin kaget aja!"


Aldi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Gilaaa! Lo kenapa nggak bangunin gue, Ay?" kaget Aldi, ia tidak menyangka akan tidur selama itu.


"Yaudah sana Aldi pulang," usir Ayana.


"Lo ngusir gue?"


"Iya," jawab Ayana.


"Tega banget lo, Ay. Lo tuh kayak istri-istri durhaka yang jahat sama suaminya," ucap Aldi mendramatisir keadaan.


"Istri? Emang Aldi mau jadi suami Ayana?" tanya Ayana enteng.


Sebuah pertanyaan asal yang keluar dari mulut Ayana mampu membuat Aldi terdiam seribu bahasa.


Ayana tersenyum seraya mendekati Aldi yang terlihat salah tingkah. "Ayana cuma bercanda Aldi, jangan grogi gitu," ucapnya.


Aldi menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tidak tahu harus berkata apa untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"U-udah malam, gue pulang ya Ay, lo nggak apa-apa kan sendirian?" ucap Aldi mengalihkan pembicaraan.


"Aldi mau pulang?" tanya Ayana.


"Ya iyalah, masa mau mangkal, Ay," jawab Aldi asal.


Ayana melihat jam, semenjak kejadian pilu yang menimpa Arken, membuat Ayana sangat trauma jika siapapun pulang saat malam hari. Ia tidak ingin kejadian yang menimpa Arken terulang kembali.


"Kalau Ayana larang Aldi pulang, gimana?" tanya Ayana.


"Ha?" Kedua mata Aldi langsung terbuka lebar-lebar. Ia sedikit terkejut dengan ucapan Ayana barusan.


"I-ini udah malam, Ayana takut terjadi apa-apa sama Aldi, Ayana nggak mau Aldi—" ucap Ayana menggantung.


Aldi mengangguk mengerti, tanpa Ayana menjelaskan maksud ucapannya, Aldi sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu. "Oke, gue tidur di mobil ya, Ay."


"Aldi nggak jadi pulang?" tanya Ayana memastikan.


Aldi melangkahkan kakinya mendekati Ayana. Aldi langsung menarik Ayana ke dalam pelukannya. "Gue akan selalu ada untuk lo Ay, sampai lo nemuin pendamping yg hidup yang tepat buat lo. Gue janji," ucap Aldi dalam hati.