
Aldi masuk ke dalam kelas, kebetulan hanya ada Satria yang berada di dalam kelas. Satria melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu melihat Aldi.
"Tumben udah dateng lo?" tanya Satria.
Aldi berjalan menuju kursinya seraya mengusap wajahnya. "Kepagian," jawabnya.
Aldi menaruh tasnya di atas meja, lalu menjadikan tasnya sebagai bantalan.
"Kok lo berangkat sendiri? Biasanya sama Ayana," ucap Satria seraya memutar posisi duduknya.
"Gue kepagian, jadi nggak bareng Ayana," jawab Aldi.
"Kepagian atau emang sengaja lo lagi ngehindar dari Ayana?"
Deg! Aldi terdiam sejenak. Ia mengangkat kepalanya, melihat Satria tajam.
"Kenapa gue harus ngehindar dari Ayana?" tanya Aldi.
"Ya gue nggak tahu, yang punya jawabannya itu kan lo," jawab Satria.
Aldi kembali menaruh kepalanya di atas tas, tak lupa juga Aldi memasang earphone di telinganya, kurang lebih masih ada satu jam sebelum kelas di mulai, lebih baik Aldi gunakan untuk melanjutkan tidurnya.
*****
Aldi membuka matanya sayup-sayup saat mendengar suasana kelas yang mulai riuh. Aldi mengangkat kepalanya, melihat sudah banyak orang di dalam kelas, ia juga melihat ke samping, sudah ada Ayana.
"Selamat pagi Aldi," sapa Ayana.
Aldi tidak merespon. Ia melepaskan earphone di telinganya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Aldi berangkat jam berapa tadi? Kata Satria tadi Aldi masuknya kepagian," ucap Ayana.
"Jam tujuh," jawab Aldi.
"Aldi udah sarapan?" tanya Ayana.
"Belum," jawab Aldi singkat.
Perlahan tangan Ayana merapikan rambut Aldi yang sedikit berantakan karena tertidur tadi.
Kedua mata Aldi membulat saat Ayana menyentuh rambutnya.
"Aldi berangkat ke kampus udah mandi kan?" tanya Ayana.
"Udah."
"Pakai air kan mandinya? mandi air?"
"Mandi bola," jawab Aldi.
Ayana terkekeh pelan, ia terus merapikan rambut Aldi. Tanpa Ayana sadari, sorot mata Aldi tidak lepas sedikitpun dari wajahnya. "Gimana caranya supaya gue bisa buang perasaan gue ini ke lo, Ay. Gue nggak bisa kayak gini terus, gue akan ngerasa sakit nantinya kalau suatu saat lo nemuin pendamping hidup, sedangkan gue masih nyimpan rasa yang dalam ke lo," ucap Aldi dalam hati.
Aryasa menoleh, melihat Ayana yang sedang merapikan rambut Aldi. Jujur ia sedikit merasa iri dengan Aldi, karena tanpa Aldi minta Ayana memberikan perhatiannya secara khusus, tapi Aryasa ingat, tujuan ia mendekati Ayana bukanlah karena cinta semata, melainkan hanya untuk melupakan rasa bersalah pada Aruna, cinta pertamanya.
*****
Aldi berjalan menuju mobilnya, namun langkahnya terhenti saat Ayana menarik tangannya.
Aldi menoleh, lalu menaikkan satu alisnya. "Kenapa, Ay?" tanyanya bingung.
"Aldi kenapa buru-buru banget pulangnya?"
"Mau kasih makan kucing gue," jawab Aldi asal.
Kerutan-kerutan kecil muncul di kening Ayana. "Kucing? Sejak kapan Aldi punya kucing?" tanya gadis itu.
"Kemarin, kemarin baru beli di pet shop," jawab Aldi bohong.
Ayana mengangguk percaya.
"Yaudah gue balik duluan ya," pamit Aldi seraya membuka pintu mobilnya.
Dengan cepat Ayana mencegahnya, "Aldi nggak lagi ngehindar dari Ayana kan?"
"Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Aldi balik.
"Ayana merasa kalau Aldi beda, sekarang Aldi sedikit cuek ke Ayana. Aldi kenapa?"
Aldi tersenyum seraya mengacak-acak pucuk rambut gadis yang berada di hadapannya itu pelan. "Perasaan lo aja kali. Udah sana lo pulang sama Aryasa, udah nungguin tuh dia," ucap Aldi seraya melihat Aryasa yang berada tidak jauh dari mereka.
Aldi kembali membuka mobilnya dan masuk. Ia segera melajukan mobilnya, meninggalkan Ayana yang mematung di tempat.
"Apa benar Aldi nggak menghindar dari Ayana?"
Aryasa menghampiri Ayana, "Ayo Ay kita pulang," ucapnya.
*****
Ayana melihat foto langit pantai yang berwarna biru cerah, lalu menunjukkan pada pria disampingnya yang sedang menyetir mobil.
"Bagus banget ya, Yas," ucapnya.
"Lo mau ke pantai?" tanya Aryasa.
Ayana mengangguk antusias.
"Besok kan kita libur, lo mau mau ke pantai sama gue?"
"Emang Aryasa nggak sibuk? Atau ada acara gitu?"
Aryasa tersenyum. "Nggak ada, lo mau?"
"Mau," jawab Ayana senang.
*****
Aryasa menghentikan mobilnya di depan rumah Ayana.
"Besok jam tiga sore gue jemput ya," ucap Aryasa dari dalam mobil.
"Oke," jawab Ayana lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Ayana tersenyum senang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya, apalagi saat sedang bersama Aryasa.
Pak Ferdy yang melihat Ayana senyum-senyum sendiri nampak heran dengan anak perempuannya itu. "Anak Papa sehat kan?" tanyanya seraya berjalan mendekati Ayana.
Pak Ferdy menyipitkan matanya, "Anak papa lagi senang ya?"
Ayana tersenyum seraya menganggukan kepalanya. "Pa, kayaknya Ayana lagi jatuh cinta lagi deh," ucap Ayana.
"Jatuh cinta lagi? Maksudnya?" Pak Ferdy bingung.
"Kayaknya Ayana suka sama teman kampus Ayana deh," jawab gadis itu.
"Aldi?" tanya Pak Ferdy, mengingat beberapa hari lalu Aldi pernah mengantarkan Ayana pulang.
Ayana menggeleng. "Bukan, namanya Aryasa," jawabnya.
Pak Ferdy semakin bingung. Bukankah anaknya berpacaran dengan Argatha? Lalu beberapa hari lalu diantar pulang oleh Aldi? Lantas Aryasa ini siapa lagi?
"Ceritanya panjang Pa, Ayana nggak bisa ceritain ke Papa, Ayana takut nanti Papa malah jadi benci sama Argatha," ucap Ayana.
"Udah ya Pa, Ayana mau masuk ke kamar dulu. Dadah papa," ucapnya seraya mencium pipi kanan sang Papa lalu berlari kecil menuju kamarnya.
Pak Ferdy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi diantara Ayana dan Argatha? Sehingga anak perempuannya itu membuka hati untuk orang lain.
*****
Sesekali Aryasa mencuri pandangan pada gadis yang saat ini duduk di sampingnya.
Dengan dress berwarna putih selutut serta kamera kecil yang menggantung di leher Ayana, membuat gadis itu terlihat sangat manis.
Aryasa memasangkan earphone ke telinga Ayana, membuat gadis itu sedikit terkejut. Reflek, Ayana langsung menoleh. Melihat Aryasa yang berada sangat dekat dengannya, jantung Ayana berdetak sangat kencang, tidak ingin seperti kemarin, Ayana langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
Aryasa tersenyum, ia langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju pantai.
Setibanya di pantai, Ayana sangat excited, langit di pantai benar-benar berwarna biru cerah, ditambah lagi ada gumpalan awan putih yang membuat siapa saja yang melihatnya enggan untuk mengalihkan pandangannya.
Ayana langsung menarik tangan Aryasa mengajak pria itu untuk sedikit lebih dekat dengan air.
Aryasa tertawa melihat tingkah Ayana. Gadis itu terlihat sangat senang saat ombak mengenai kakinya.
"Aryasa foto dulu dong," ucap Ayana mengarahkan kamera yang ia bawa ke Aryasa yang sama sekali belum siap untuk berpose.
Cekrek!
Ayana tertawa saat melihat hasil fotonya, "Lucu banget," ucapnya seraya menunjukkan hasil fotonya pada Aryasa.
Aryasa ikut tertawa, foto tersebut sangat jelas terlihat kalau Aryasa belum siap, bahkan rambut Aryasa sedikit berantakan karena tertiup angin.
"Sini gantian gue fotoin."
Ayana memberikan kameranya pada Aryasa. Pria itu pun siap mengarahkan kamera ke arah Ayana.
Cekrek!
Dengan pose candid Ayana yang menghadap kanan, membuat kecantikan gadis itu terlihat sangat tidak nyata. Bagaimana bisa ada perempuan secantik Ayana?
"Cantik," ucap Aryasa.
"Ha? Apa?" tanya Ayana seraya berjalan mendekati Aryasa karena tidak terlalu jelas mendengar ucapan pria itu.
"Lo cantik," ucap Aryasa seraya menatap Ayana dengan lekat.
Ayana kembali merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Ayana memegang ujung dress-nya kuat, berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah di depan Aryasa.
Aryasa mengarahkan kamera ke arah dan Ayana, "Ayo kita foto," ucapnya seraya merangkul gadis itu.
Kedua sudut bibir Ayana mengembang, ia melihat ke lensa kamera.
"1..2..3.."
Cekrek!
Aryasa menoleh, melihat wajah Ayana yang sangat dekat dengannya. Pandangan Aryasa dari wajah turun ke hidung, hingga ke bibir gadis itu.
Aryasa semakin mendekatkan wajahnya dengan Ayana. Saat Aryasa ingin lebih dekat, Ayana langsung mengalihkan pandangannya.
"Ih mataharinya bulat," ucap Ayana mengalihkan suasana seraya menunjukkan matahari yang akan terbenam.
Aryasa tersadar, hampir saja ia mencium bibir Ayana jika gadis itu tidak mengalihkan pandangannya.
"Ay, maaf," ucap Aryasa merasa tidak enak.
Ayana meremas jari-jarinya, ia merasa gugup, untung saja ia bisa mengalihkan suasana saat Aryasa ingin menciumnya.
"Gue tadi-"
"Nggak apa-apa, lagi pula kan nggak kena," ucap Ayana sedikit terkekeh untuk memecah kecanggungan.
"Emang kenapa kalau kena?"
"Nggak boleh, ini untuk pendamping Ayana nanti," ucap Ayana seraya menunjukkan bibirnya sendiri.
Aryasa tersenyum. "Lo lucu ya," ucapnya.
"Lucu kenapa?" bingung Ayana.
"Ya lucu aja."
Ayana mendesis seraya memukul Aryasa pelan. "Aryasa nggak jelas."
Ayana melihat ombak yang sedang menggulung kecil, matahari pun perlahan terbenam. "Seseorang pernah cium kening Ayana, Ayana juga pernah cium pipinya, tapi sekarang Ayana dan orang itu udah nggak saling bertukar kabar, itu sebabnya Ayana nggak mau salah lagi," ucapnya.
"Pacar lo?"
Ayana mengangguk. "Iya, cinta pertama Ayana."
Aryasa menggenggam tangan Ayana. "Lo masih sayang sama pacar lo?"
"Ayana udah nggak pacaran sama Argatha."
"Argatha sendiri yang minta Ayana untuk lupain dia, jadi ya Ayana udah nggak mau anggap Argatha itu pacar Ayana lagi," tambah Ayana.
"Lo mau buka hati untuk orang lain?" tanya Aryasa dengan raut wajah yang serius.
"Ayana akan coba," jawab gadis itu.
"Apa gue ada kesempatan untuk masuk ke hati lo?"