School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Hadiah Untuk Aldi



"Ayana," ucap Nio seraya menghampiri gadis itu di kursinya.


"Kenapa?" tanya Ayana saat Nio duduk di kursi kosong yang berada di samping Satria


"Lusa Aryasa ulang tahun, bantuin bikin surprise dong," ucap Nio.


"Lusa?"


Nio mengangguk. "Bantuin ya bikin surprise buat Aryasa, soalnya kalau cuma gue, Satria sama Qausar yang kasih surprise pasti Aryasa marah," mohon Nio.


Satria memutar posisi duduknya, "Aryasa itu nggak suka dikasih surprise ulang tahun," ucapnya.


Nio mendecak seraya menyenggol tubuh pria yang duduk disampingnya itu. "Lo diam aja, jangan ikut ngomong," bisik Nio.


Aldi yang kebetulan berada di samping Ayana hanya bisa diam, menunggu jawaban dari gadis itu, apakah Ayana bersedia membantu Nio membuat surprise untuk ulang tahun Aryasa atau tidak?


"Bantuin kita ya, Ay. Kita mau bikin Aryasa senang di hari ulang tahunnya, supaya dia nggak ingat sama Aruna lagi," ucap Qausar.


"Oke deh, Ayana bantu," jawab gadis itu.


Tiba-tiba Aryasa masuk ke dalam kelas, hari ini pria itu sedikit terlambat masuk ke dalam kelas, tidak seperti biasanya yang selalu menjadi penghuni kedua yang datang lebih awal setelah Satria.


Aryasa sedikit merasa aneh karena Nio dan Qausar mengobrol bersama dengan Ayana di tempat Satria.


Aryasa melihat teman-temannya itu satu per satu.


"Kenapa lo ngelihatin kita?" tanya Nio.


"Suka-suka mata gue mau ngelihatin siapa," jawab Aryasa seraya duduk di kursinya.


"Biasa aja dong Yas, nge-gas mulu lo kayak cewek datang bulan," celetuk Qausar.


Aryasa tidak menghiraukan kedua sahabatnya itu, ia lebih memilih menyadarkan kepalanya di atas meja dengan kedua telinganya yang ia pasangkan earphone.


"Aldi, nanti pulang kampus temenin Ayana ke Mall ya," bisik Ayana pada Aldi yang tengah asyik menggambar di belakang buku tulisnya.


"Ngapain?" tanya Aldi.


"Belanja sayur," jawab Ayana asal.


Aldi menoleh, "Ngapain ke Mall? Di depan kampus ada tuh tukang sayur gerobak," ucapnya.


Ayana mendecak seraya menyentil kening Aldi pelan. "Ih! Aldi masa nggak ngerti sih? Ayana tuh mau beliin Aryasa kado ulang tahun," ucap gadis itu.


"Nggak bisa, gue sibuk," tolak Aldi.


"Sibuk ngapain? Paling juga Aldi sampai rumah main play station," ucap Ayana yang sudah hapal betul dengan kegiatan Aldi di rumah.


"Gue mau ngasih makan ikan gue di rumah."


"Bohong!"


"Lo nggak percaya?"


"Nggak."


"Papa gue baru beli ikan piranha, gue harus ngasih makan nanti pulang kampus," bohong Aldi.


Ayana menyipitkan matanya, ia tidak percaya dengan ucapan Aldi, mana mungkin Pak Derawan membeli ikan piranha untuk di pelihara. "Bohong! Ngapain Papanya Aldi pelihara ikan piranha?"


"Ya nggak tahu papa gue, orang kaya mah bebas mau beli apaan aja," jawab Aldi.


"Kenapa harus ikan piranha? Kenapa nggak lele? Ikan sapu-sapu? atau Ikan badut?"


Aldi menghela napasnya berat. Melakukan kebohongan pada Ayana dengan menggunakan alasan yang tidak masuk akal membuat Aldi terjebak dalam ucapan sendiri.


"Tuh kan Aldi nggak bisa jawab, berarti Aldi bohong," ucap Ayana.


"Kenapa sih Aldi nggak mau anterin Ayana ke Mall? Aldi tega Ayana ke Mall sendirian?" lirih Ayana.


Melihat Ayana yang memasang raut wajah sendu, membuat Aldi tidak tega. Kebohongan yang ia ucapkan seketika ia tarik kembali.


"Yaudah gue anterin ke Mall nanti," ucap Aldi.


"Oke, makasih Aldi," ucap Ayana senang.


Setelah pulang kampus, Aldi benar-benar mengantarkan Ayana ke Mall, menemani gadis itu untuk memilih kado ulang tahun untuk Aryasa.


"Menurut Aldi, kado yang cocok untuk Aryasa apa ya?"


"Nggak tahu," jawab Aldi dengan pandangannya yang ia fokuskan pada ponselnya.


Ayana merampas ponsel Aldi, lalu memasukkannya ke dalam tas. "Aldi jangan main handphone terus, dari tadi Ayana nanya dicuekin," decak gadis itu.


"Lo mau kemana? Gue ikutin kemanapun kaki lo melangkah," ucap Aldi pasrah.


"Ih! Nggak gitu!"


"Terus gimana?"


"Aldi kasih Ayana ide buat kasih kado ke Aryasa."


"Gue nggak tahu cowok biasanya di kado apa," jawab Aldi jujur.


"Biasanya Aldi kalau ulang tahun dikasih kado apa?" tanya Ayana.


Aldi terdiam, entah ia harus memberikan jawaban apa pada Ayana, karena jujur Aldi tidak pernah mendapatkan kado ulang tahun.


"Aldi, kok malah diam? Lama-lama Aldi jadi batu kalau diam terus," ucap Ayana.


Kedua mata Ayana terbelalak. "Serius? Aldi jangan bohong," ucap gadis itu tidak percaya.


"Serius, gue selalu ditransferin uang sama papa gue, jadi gue nggak tahu kalau biasanya cowok tuh dikasih kado apa," jelas Aldi.


Kedua sudut bibir Ayana mengembang sedikit. Ia menggandeng tangan Aldi, mengajaknya ke sebuah toko jam.


Ayana melihat-lihat jam tangan yang berada di etalase toko. Berbagai merk dan warna jam tersedia di sana.


"Menurut Aldi bagusan yang mana?" tanya Ayana.


Aldi ikut melihat-lihat, sorot mata Aldi tertuju pada sebuah jam Luminox 1051 berwarna hitam. "Ini bagus nih, Ay," ucapnya seraya menunjuk jam tersebut.


Ayana melihat jam yang ditunjuk oleh Aldi, lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan pria itu, sepertinya Aldi memang menyukai model jam seperti itu.


"Mba, saya mau jam yang ini ya," ucap Ayana pada penjaga toko.


"Baik kak." Penjaga toko tersebut langsung mengambil jam dan membungkusnya.


"Pembayarannya mau menggunakan cash, debit card atau credit card, kak?"


"Debit card aja mba."


"Ini ya mba," Ayana memberikan debit card-nya pada penjaga toko tersebut.


Penjaga toko tersebut mengangguk dan mengambil mesin EDC untuk melakukan transaksi menggunakan debit card.


"Makasih mba," ucapnya seraya mengambil debit card-nya kembali dan tentunya mengambil jam yang telah ia beli.


"Terima kasih kembali kak."


Ayana dan Aldi keluar dari toko jam tersebut. "Mau kemana lagi, Ay?" tanya Aldi.


"Cacing Ayana udah demo, kita harus makan dulu," ucap Ayana.


"Oke."


Aldi mengajak Ayana ke sebuah restoran bernuansa tradisional, tentunya disana banyak sekali makanan khas Nusantara.


Ayana melihat-lihat daftar menu, mencari makanan apa yang akan ia santap sore ini bersama Aldi.


"Udah pilih mau makan apa?" tanya Aldi pada Ayana yang foku melihat menu seperti mengerjakan soal ujian nasional.


"Udah," jawab Ayana.


"Mas," panggil Aldi pada pelayan.


"Iya, mau pesan apa kak?" tanya pelayan tersebut.


"Mie Aceh sama es teh manis," ucap Aldi.


"Saya pesan Ayam betutu sama es jeruk aja," ucap Ayana.


"Baik kak, pesanannya akan diproses dulu ya, mohon ditunggu ya kak," ucap pelayan dengan sangat ramah.


"Ay, minta handphone," pinta Aldi.


"Nggak," tolak Ayana.


"Kenapa?"


"Nanti Aldi cuekin Ayana lagi," jawab gadis itu.


Aldi menghela napasnya. "Yaudah lo pegang aja handphone gue."


Ayana membuka kotak jam tersebut, lalu mengeluarkannya. "Bagus ya," ucapnya.


"Iya bagus, cocok kalau dipakai Aryasa," sahut Aldi.


Ayana mengangkat kepalanya seraya melihat raut wajah pria yang duduk di depannya.


"Ini bukan buat Aryasa," ucap Ayana.


Aldi mengerutkan keningnya. "Lah, terus lo beli buat siapa? Tadi katanya lo mau ngasih kado Aryasa?"


Ayana menggelengkan kepalanya, lalu menarik tangan Aldi.


Aldi semakin dibuat bingung oleh Ayana, karena gadis itu membuka jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tuh kan cocok di tangan Aldi," ucap Ayana ketika sudah selesai memasangkan jam yang ia beli ke tangan Aldi.


"Ayana beli jam ini bukan buat Aryasa, tapi buat Aldi," ucapnya.


"Apaan sih Ay? Lo kan mau beliin Aryasa kado, kenapa jadi ngasih gue?" bingung Aldi.


"Gue bisa beli jam sendiri, Ay," tambah Aldi.


"Ayana tahu Aldi bisa beli jam sendiri, bahkan kalau Aldi mau, Aldi juga bisa beli tokonya sekalian, tapi kalau Ayana yang beliin rasanya beda, ada rasa tertentu yang nggak bisa Aldi rasain kalau beli sendiri."


Aldi terdiam, ucapan Ayana membuat hatinya terasa goyah.


"Aldi suka kan?"


Aldi mengangguk. "Suka."


Kedua sudut bibir Ayana mengembang. Ia menunjukkan gelang yang Aldi berikan sebagai kado ulang tahun untuknya. "Ayana juga bisa beli gelang ini sendiri, tapi ada rasa tertentu yang nggak bisa Ayana jelasin ketika Aldi ngasih gelang ini ke Ayana."


Kedua sorot mata Aldi berkaca-kaca seraya menatap Ayana lekat. "Walaupun gue nggak bisa milikkin lo, tapi ini semua lebih dari cukup buat gue, Ay," ucap Aldi dalam hati.