School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Khawatir



Aryasa melemparkan tubuhnya seraya memandang langit-langit kamarnya. Hari ini bersama Ayana di makam Aruna dan menceritakan tentang Aruna pada gadis itu membuat perasaan Aryasa sedikit lega. Sebuah penyesalan yang selama ini Aryasa simpan, sedikit berkurang.


Kedua sudut bibir Aryasa mengembang sedikit saat membayangkan ucapan Ayana tadi. Ternyata Aryasa tidak salah memilih Ayana untuk menjadi pendengar tentang penyesalan hidupnya.


*****


Ayana mengecek ponselnya beberapa kali, tapi tidak ada satu pun notifikasi dari Aldi.


Sejak pulang kuliah, Aldi tidak mengirimkan pesan ataupun menelponnya. Sepintas timbul pertanyaan dalam pikiran Ayana. Apakah Aldi marah?


Ayana mencoba mengirimi Aldi sebuah pesan singkat.


Ayana R Udara : Aldi.


Ayana R Udara : Aldi, marah ya?


Tidak ada balasan dari Aldi. Tanpa pikir panjang, Ayana langsung memesan ojek online, bergegas ke rumah Aldi untuk memastikan apakah Aldi marah padanya atau tidak?


*****


Tibalah Ayana di depan gerbang yang menjulang tinggi. Ayana memberanikan dirinya untuk menekan bel.


Krek! Terdengar suara seseorang membuka gerbang. Dilihatnya dua penjaga yang waktu itu memberikan hormat saat mobil Aldi masuk ke dalam rumah.


"Cari siapa ya?" tanya salah satu penjaga saat melihat Ayana yang berdiri di depan gerbang.


"Aldi nya ada pak?" tanya Ayana.


"Ada keperluan apa ya cari Mas Aldi?" tanya penjaga lain.


"Saya mau ketemu Aldi Pak, saya temannya," jawab Ayana.


Dua penjaga tersebut saling melihat satu sama lain. Mereka merasa aneh dengan kehadiran Ayana yang mengaku sebagai teman Aldi, karena sebelumnya, Aldi belum pernah membawa teman ke rumah. Mengingat saat Ayana ke rumah Aldi, dua penjaga itu tidak melihatnya, karena kaca mobil Aldi tertutup saat kedua penjaga itu memberikan hormat.


Bu Retno menyipitkan kedua matanya, memastikan kalau sosok yang ia lihat di depan gerbang adalah gadis yang beberapa hari lalu di ajak ke rumah oleh Aldi. Bu Retno pun mendekati dua penjaga itu dan juga Ayana.


"Bu," sapa Ayana seraya membungkukkan sedikit tubuhnya saat melihat Bu Retno yang berjalan ke arahnya.


Dua penjaga itu menoleh ke arah Bu Retno. "Kamu kenal anak ini? Katanya dia mau ketemu Mas Aldi," ucap penjaga itu pada Bu Retno.


Bu Retno memukul tubuh salah satu penjaga itu pelan seraya mendesis. "Ish! Kamu gimana sih? Ini tuh pacarnya Mas Aldi."


Ayana yang mendengar ucapan Bu Retno langsung membulatkan matanya. Kenapa Bu Retno menyebut kalau ia pacar Aldi? Namun untuk saat ini itu tidak penting, yang terpenting untuk Ayana adalah ia bisa menemui Aldi sekarang.


"Ada apa ya malam-malam ke sini, Non?" tanya Bu Retno dengan ramah.


"Aldi nya ada, Bu?" tanya Ayana.


"Mas Aldi belum pulang sejak berangkat kuliah tadi pagi. Emangnya pulang kuliah tadi nggak bareng sama kamu? Atau Mas Aldi nggak bilang mau kemana gitu setelah pulang kuliah?" tanya Bu Retno balik.


Ayana menggeleng lemah. "Nggak Bu, hari ini saya nggak pulang bareng Aldi," jawab Ayana.


"Yaudah Bu, saya pamit ya, kalau nanti Aldi pulang tolong bilang ke Aldi kalau saya tadi ke sini," ucap Ayana dengan raut wajahnya yang sendu.


"Baik Non, hati-hati ya pulangnya," ucap Bu Retno.


*****


Ayana mencoba menghubungi Aldi lagi, tapi nomor pria itu tidak aktif. Ayana semakin merasa khawatir. Ayana bingung harus mencari pria itu kemana? Apalagi ini sudah malam. Apa Aldi baik-baik saja?


Saat Ayana tengah menyusuri jalan, tiba-tiba terdengar gemuruh petir dan hujan yang turun dengan sangat deras. Ayana bergegas ke halte yang berada tidak jauh darinya untuk berteduh.


Ayana merasakan kedua matanya yang memanas. Ayana terus meremas jari jemarinya seraya menahan air matanya yang ingin terjatuh.


Ayana terdiam melihat air hujan yang jatuh membasahi seluruh sudut kota. Tanpa sadar air matanya yang sedari tadi ia tahan pun terjatuh membasahi pipi halusnya.


Sebuah mobil Tesla berwarna hitam berhenti tepat di depan halte. Seorang pria turun dari mobil, menggunakan payung berwarna kuning dan mendekati Ayana.


"Aldi kemana aja? Tadi Ayana ke rumah Aldi, tapi kata Bu Retno, Aldi belum pulang. Aldi kemana? Kenapa telepon Ayana nggak di angkat?" tanya Ayana berbondong-bondong.


"Masuk ke mobil dulu yuk, nanti gue jelasin," ucap Aldi.


Aldi memayungi Ayana agar tubuh gadis itu tidak terkena hujan. Ayana menuruti ucapan Aldi, ia pun masuk ke dalam mobil Aldi.


"Ya ampun Ay, lo ngapain sih ke rumah gue malam-malam gini?" tanya Aldi dengan sorot matanya yang menunjukkan kekhawatiran pada gadis yang bersamanya saat ini.


"Ayana khawatir karena Aldi nggak balas chat Ayana, Ayana coba telpon juga Aldi nggak angkat," ucap Ayana.


"Ya ampun Ay."


"Ayana minta maaf ya karena tadi nggak pulang bareng Aldi, bukannya Ayana nggak mau bareng Aldi, tapi Ayana udah janji sama Aryasa. Aldi jangan marah ya," lirih Ayana.


Aldi membelai rambut Ayana hangat. Senyumnya pun tak lupa ia tunjukkan pada gadis itu.


"Nggak apa-apa Ay, gue nggak marah kok."


"Aldi serius nggak marah?" tanya Ayana memastikan.


Aldi mengangguk. "Iya, Ayana Ryandra Udara."


Ayana tersenyum.


"Aldi abis dari mana? Kok baru pulang?" tanya Ayana mengingat pria itu baru ingin pulang ke rumah.


"Ke makam Mama gue," jawab Aldi.


Ayana terdiam. Ia jadi merasa tidak enak karena tidak menemani Aldi ke makam Mama nya, sedangkan tadi sore Ayana malah menemani Aryasa ke makam Aruna.


"Maaf ya Ay, gue nggak angkat telepon lo karena handphone gue mati, lupa bawa charger," ucap Aldi mengalihkan topik pembicaraan.


"Lain kali jangan kayak gini ya Ay, jangan bikin gue khawatir," ucap Aldi dengan sangat lembut.


Ayana merasakan kedua matanya yang kembali memanas. Setiap Ayana mendengar ucapan Aldi yang menyentuh hatinya, rasanya Ayana ingin sekali menangis dengan kencang dan memeluk Aldi dengan erat.


"Aldi yang bikin Ayana khawatir, Ayana takut terjadi sesuatu sama Aldi. Setelah Argatha hilang kabar, cuma Aldi yang selalu nemenin Ayana, selalu khawatirin Ayana. Aldi jangan tinggalin Ayana ya." Air mata Ayana kembali terjatuh.


Aldi tersenyum, perlahan tangannya menghapus air mata Ayana yang terjatuh. "Gue akan selalu di sini Ay, gue nggak akan pernah ninggalin lo."


*****


Aldi menghentikan mobilnya di depan rumah Ayana. Membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Aldi, janji ya jangan pernah marah sama Ayana," ucap Ayana seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada pria yang berada di hadapannya.


"Gue akan marah kalau lo ngelakuin hal kayak tadi," ucap Aldi.


Senyum di bibir Ayana sedikit memudar. "Ayana ngelakuin hal tadi karena Aldi. Ayana takut Aldi marah," lirih gadis itu.


Aldi langsung memeluk Ayana dengan erat. "Gue minta maaf ya, Ay."


Ayana mematung. Ia yang membuat kesalahan kenapa Aldi yang meminta maaf? Harusnya Ayana lah yang meminta maaf pada Aldi.


Ayana melepaskan pelukannya, melihat Aldi dengan lekat. "Ini salah Ayana—"


Aldi menggeleng. Tangannya mengelus rambut Ayana. "Nggak, ini salah gue. Kalau gue nggak bikin lo khawatir, pasti lo nggak akan keluar malam-malam gini. Maafin gue ya, Ay."


Ayana tersenyum lebar. Ayana tak segan untuk memeluk Aldi. "Ayana sayang banget sama Aldi."


"Beneran?"


"Iya. Makasih ya Aldi, Aldi udah jadi teman yang sangat baik buat Ayana," ucap Ayana.


Sebuah senyuman getir mengembang di bibir Aldi. Ternyata Ayana masih menganggapnya hanya sebatas teman saja. Apa masih ada Argatha di hati Ayana? Atau Ayana yang masih belum peka dengan semua perlakuan yang Aldi berikan?