School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Rahasia



Setelah hampir satu jam mencari jalan keluar, akhirnya Aldi dan Ayana kembali ke tempat awal saat Aldi menemukan Ayana yang tengah menangis. Aldi merasa lega, itu tandanya mereka sudah keluar dari hutan.


Ayana merasa Aldi sudah sangat kelelahan karena dari tadi terus menggendongnya. "Aldi turunin Ayana," pinta gadis itu.


Aldi pun menuruti ucapan Ayana, ia menurunkan gadis itu. "Sini gue bantu," Aldi memegang tangan Ayana untuk membantu gadis itu berjalan.


Sesekali Ayana melirik Aldi yang terus memegang tangannya untuk membantu ia berjalan. "Ayana nggak nyangka kalau Aldi akan se-baik ini," ucapnya dalam hati.


"Gue tahu gue ganteng, Ay. Jangan dilihatin terus gue nya," ucap Aldi sedikit tertawa.


Ayana mendesis, ia menarik rambut Aldi pelan. "Ih! Aldi kepedean banget!" decak Ayana.


Akhirnya tibalah mereka di camp. Farah, Gaeun dan Azka merasa lega setelah melihat Ayana dan Aldi kembali.


"Lo dari mana sih, Ay?" tanya Farah khawartir, ia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.


"Lo nemuin Ayana dimana, Di?" tanya Azka.


Aldi menceritakan bagaimana ia bertemu Ayana dan tersesat ke dalam hutan, hingga akhirnya bisa kembali ke camp.


"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja," ucap Gaeun.


"Kaki lo kenapa tuh?" tanya Farah yang melihat kaki Ayana memerah.


"Nggak apa-apa kok, cuma lecet aja," jawab Ayana.


"Far, urusin nih teman lo, suruh ganti baju, takut ketempelan penunggu hutan," ucap Aldi seraya masuk ke tendanya.


Farah, Gaeun dan Azka tertawa kecil mendengar ucapan Aldi. Farah dan Gaeun pun mengajak Ayana untuk masuk ke dalam ke tenda mereka.


*****


Azka membuat api unggun kecil di dekat tenda mereka. Tidak lupa Azka pun memasak air untuk menyeduh kopi.


"Ada yang mau kopi nggak nih?" tanya Azka seraya menunjukkan kopi hitam sachet pada teman-temannya.


"Tua banget lo minumnya kopi hitam," sahut Farah.


"Kalau bapak-bapak dengar omongan lo, bisa diamuk lo," ucap Azka pada Farah.


Aldi dan Gaeun tertawa. Sedangkan Ayana hanya terdiam dan fokus membersihkan luka di kakinya.


"Sini gue bantu," ucap Aldi seraya mengambil antiseptik dan kapas yang berada di tangan Ayana.


Aldi mengoleskan antiseptik di bagian kaki Ayana yang luka dengan sangat pelan, bahkan Aldi terlihat sangat telaten saat mengoleskannya.


Ayana sedikit meringis saat merasakan cairan antiseptik itu mengenai lukanya.


Farah, Gaeun dan Azka saling melihat satu sama lain. Mereka merasa ada yang aneh dengan Aldi.


"Si Aldi ketempelan penghuni hutan jenis apa? Bisa perhatian gitu ke Ayana," ucap Gaeun.


"Kayaknya Aldi ketempelan penghuni hutan yang punya love language deh," bisik Azka.


"Aldi masih suka kali ya sama Ayana?" bisik Farah.


"Ayana kan pacarnya Argatha, masa iya sih Aldi nikung teman sendiri," sahut Azka berbisik.


Ayana mendesis, ia menjauhkan kakinya dari Aldi, namun pria itu kembali menarik kakinya.


"Kalau lagi diobatin tuh diam," ucap Aldi yang masih fokus mengobati luka Ayana.


Aldi memajukan tubuhnya mendekati Ayana. Tatapan pria itu tidak beralih sedikitpun dari wajah cantik gadis itu.


Ayana merasakan oksigen di sekelilingnya menghilang, jantungnya pun berdetak tidak beraturan saat melihat wajah tampan Aldi yang sangat dekat dengannya. Wangi tubuh Aldi pun kembali tercium lagi setelah Ayana menciumnya saat pria itu menggendongnya tadi.


Ayana memundurkan tubuhnya dari Aldi, lalu memukul dada bidang milik pria itu. "Aldi bilang sebentar? Kita jalan keliling hutan hampir dua jam!"


Aldi menaruh antiseptik dan kapas bekas tersebut di tangan Ayana, lalu bangkit meninggalkan Ayana yang masih menggerutu. "Kaki gue aman-aman aja," ucapnya seraya menjulurkan lidahnya pada gadis itu.


*****


Malam pun tiba. Ayana, Aldi, Farah, Gaeun dan Azka duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Wih nggak nyangka sebentar lagi kita kuliah," ucap Azka membuka pembicaraan.


"Nggak sabar ketemu kakak tingkatan yang ganteng-ganteng, siapa tahu aja ada yang nyangkut," sahut Farah.


"Layangan kali ah, nyangkut," celetuk Aldi.


"Aldi emang benar lo mau kuliah di Universitas Maharja?" tanya Gaeun memastikan, karena sebelumnya Azka bercerita pada Gaeun kalau Aldi mendaftar di Universitas Maharja.


"Aldi mau kuliah di Universitas Maharja? Fakultas apa?" tanya Ayana excited.


"Kedokteran," jawab Aldi.


Kedua mata Ayana membulat, ia sangat senang mendengarnya, itu artinya ia dan Aldi akan berada di kampus yang sama dan fakultas yang sama.


"Nanti satu kampus dong sama gue dan Ayana?" tanya Farah yang juga mendaftar di Universitas Maharja, Fakultas Psikologi.


Aldi mendecak, membuang pandangannya malas. "Malas gue satu kampus sama lo berdua, sekolah tiga tahun ketemu lo, masa masih harus satu kampus juga."


Farah memukul Aldi. "Beda fakultas cuy! Beda kelas! Gue juga ogah ketemu lo lagi," kesal Farah.


"Kenapa Aldi nggak bilang ke Ayana kalau Aldi daftar di Universitas Maharja?"


"Masa gue harus bilang- bilang Ay ke orang kalau gue masuk Universitas Maharja, nanti dikira sombong," ucap Aldi.


Ayana mengangguk seraya mengiyakan ucapan Aldi. "Iya juga sih ya, Universitas Maharja lumayan mahal sih."


*****


Hari semakin larut. Ketiga gadis itu pun sudah tidur di dalam tenda mereka. Sedangkan Aldi dan Azka masih duduk di depan api unggun.


"Waktu sebelum kelulusan kan Ayana pernah bilang kalau lo itu suka sama dia dari awal ospek, apa sekarang lo masih suka, Di?" tanya Azka yang sedari tadi ingin menanyakan hal tersebut pada Aldi, tapi selalu terhalang oleh Ayana, Farah dan Gaeun.


"Lo kenapa nanya gitu?" tanya Aldi.


"Gue cowok, lo juga cowok, Di. Gue lihat dari cara lo natap Ayana, perhatiannya lo ke Ayana, itu beda banget, nggak kayak waktu masih ada Argatha. Sekarang lo lebih nunjukin diri lo yang suka sama Ayana," jawab Azka.


"Jadi maksud lo gue nggak boleh ekspresiin perasaan gue? Harus gue lanjutin aja perasaan yang selama tiga tahun ini gue pendam?" ucap Aldi dengan ekspresi yang tidak menunjukkan marah, namun tidak juga menunjukkan ekspresi baik-baik saja.


"Nggak gitu, Aldi. Argatha itu teman kita, masa lo tega sih nikung Argatha. Lo deketin Ayana saat Argatha lagi di Korea," ucap Azka dengan nada yang sedikit meninggi.


Aldi menarik napasnya pelan-pelan dan menghembuskannya. Aldi mengambil ponsel di dalam sakunya, menunjukkan pesan singkat yang Argatha kirim tadi siang.


Azka membeku di tempat. Ia tidak menyangka jika Argatha akan seperti ini. Bagaimana bisa Argatha melepaskan Ayana semudah itu? Sedangkan perjuangan Ayana sangat luar biasa untuk Argatha.


Azka jadi merasa tidak enak pada Aldi, namun ia juga merasa bingung harus melakukan apa untuk Ayana. "Terus Ayana gimana?" tanya Azka.


Aldi menaikkan kedua bahunya seraya tidak tahu harus melakukan apa ke depannya, karena jujur Aldi tidak berniat untuk menikung Argatha, apalagi sampai harus mendekati Ayana saat Argatha berkuliah di Korea.


"Tega banget Argatha mutusin Ayana secara se- pihak gitu, kalau Ayana tahu gimana?" ucap Azka.


"Lo rahasiain ini dulu ya, jangan sampai ada yang tahu, apalagi kalau Ayana tahu, gue nggak mau Ayana sedih," ucap Aldi.


Azka mengangguk mengerti. Ia sekarang paham kenapa Aldi melakukan semua hal itu pada Ayana.