
Ayana keluar dari bandara dengan raut wajahnya yang sendu. Ayana berusaha kuat untuk menahan air matanya yang ingin terjatuh.
Ayana merasakan rintikan hujan yang perlahan mengenai wajahnya. Ia mengangkat kepalanya, menikmati hujan yang turun semakin deras.
Tiba-tiba ada sebuah payung berwarna kuning berada tepat di atas kepala Ayana yang memayungi gadis itu. Ayana melihat ke seseorang yang membawa payung itu.
“Aldi?”
Ayana menatap Aldi, kedua matanya memanas karena terus menahan air matanya.
“Ngapain lo hujan-hujanan nggak jelas kayak gini?” tanya Aldi.
Ayana terdiam. Dadanya terasa sangat sesak, ia ingin sekali meluapkan rasa sedihnya.
Aldi langsung memeluk Ayana dengan erat sembari memegangi payung agar tubuh gadis itu tidak basah kuyup.
“Gue nggak mau lo sedih,” ucap Aldi lembut.
Tangis Ayana pecah saat Aldi memeluknya, ia tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya.
"Sebaiknya kita masuk ke mobil ya Ay, hujannya gede banget," ucap Aldi.
Ayana menggelengkan kepalanya seraya melepaskan pelukan Aldi. Perlahan gadis itu memundurkan langkahnya, membiarkan derasnya guyuran air hujan membasahi tubuhnya.
"Ay, jangan hujan-hujanan, nanti lo bisa demam," ucap Aldi khawatir, karena tubuh Ayana hampir basah kuyup karena hujan yang disertai angin membuat air hujan tersebut bergerak tidak beraturan.
Ayana mendonggakkan kepalanya, sengaja membiarkan air hujan menyatu dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Kalau Aldi mau masuk ke mobil, masuk aja," ucap Ayana.
Kedua sorot mata Aldi berkaca-kaca, ia tidak tega melihat Ayana yang sedih seperti saat ini. Aldi langsung menutup payungnya, membuat tubuhnya ikut terkena guyuran air hujan.
Aldi mendekati Ayana, kembali memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan membiarkan Ayana menangis dengan puas di bawah derasnya guyuran air hujan.
Ayana sudah cukup tenang dan tangisnya pun mulai mereda beberapa menit lalu. Kini, Ayana mengatur napasnya, berusaha untuk melepaskan kepergian Argatha yang ingin melanjutkan kuliahnya di Korea.
Ayana mengusap wajahnya yang basah, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang saat ini tengah memeluknya.
"Aldi kenapa ikut hujan-hujanan? Kenapa nggak masuk mobil aja?"
"Nggak apa-apa Ay, lo lanjut nangis lagi aja, gue temenin di sini," ucap Aldi tidak peduli dengan tubuhnya yang mulai merasa kedinginan.
Air mata Ayana kembali terjatuh, lagi-lagi Ayana bertemu dengan orang yang tulus padanya.
Aldi merasakan tubuh Ayana yang dingin, mengingat sudah cukup lama tubuh mungil gadis itu terkena air hujan.
"Ayana, kita masuk mobil ya, hujannya makin deras ini, gue nggak mau lo sakit." Aldi kembali menyuruh Ayana agar masuk ke dalam mobilnya.
Ayana menurut, ia segera masuk, disusul Aldi yang ikut masuk ke dalam mobil.
Ayana merasakan tubuhnya menggigil. Ayana tak kuat lagi, ia langsung melipat kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri.
Aldi meraba-raba tempat duduk di belakang, mencari sesuatu yang bisa menghangatkan Ayana. Aldi menemukan jaketnya dan memberikannya pada Ayana.
"Pakai nih, Ay," ucapnya.
"Tapi nanti jaketnya—"
"Jaket gue nggak ada apa-apanya di banding lo, gue lebih takut lo sakit daripada jaket gue basah," tegas Aldi.
Ayana mengambilnya, lalu menutupi tubuh depannya dengan jaket Aldi.
Aldi mematikan AC di mobilnya. Sorot mata Aldi tidak lepas memperhatikan Ayana. Aldi melihat jelas bahwa bibir Ayana memucat, tubuh gadis itu juga gemetar.
"Aldi nggak kedinginan? Yang dari tadi kena hujan kan Aldi," ucap Ayana.
Kedua sudut bibir Aldi terangkat sedikit. "Nggak, gue nggak kedinginan kok." Sebenernya Aldi merasa dingin, tapi jika ia jujur, pasti Ayana akan memberikan jaketnya pada Aldi.
Kedua mata Ayana memanas, Ayana segera memalingkan wajahnya dari Aldi saat air matanya kembali terjatuh.
Aldi menyadari Ayana yang kembali menangis. Aldi menggenggam tangan gadis itu, seraya menenangkannya.
"Lo masih sedih?" tanya Aldi dengan lembut.
"Kenapa sih Aldi baik banget sama Ayana?" tanya Ayana balik seraya cepat-cepat menghapus air matanya.
"Karena gue itu teman lo," jawab Aldi.
Ayana menggeleng. "Aldi tulus banget ke Ayana, tapi Ayana nggak pernah sadar kalau ternyata dari dulu Aldi tuh suka sama Ayana." Lagi-lagi air mata Ayana kembali terjun dengan bebas, padahal Ayana sudah berusaha untuk tidak menangis lagi.
Aldi menatap Ayana lekat. "Gue nggak pernah mempermasalahkan lo sadar atau nggak sadar tentang perasaan gue, cukup lo selalu ada di dekat gue, itu udah lebih dari cukup, mangkanya gue selama ini pendam perasaan gue dan lebih milih untuk jadi teman lo aja."
"Aldi jangan tinggalin Ayana ya," ucap Ayana dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
Aldi mengangguk seraya mengiyakan ucapan gadis itu. Aldi merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Ayana sesuai permintaan Arken dan Argatha.
"Gue antar lo pulang ya," ucap Aldi.
Ayana menggeleng. "Ayana nggak mau pulang, pasti Ayana akan ngerasa kesepian kalau di rumah. Kalau Aldi mau pulang nggak apa-apa, nanti turunin Ayana di pertigaan depan aja," ucap Ayana.
Aldi tidak akan tega membiarkan Ayana sendirian di saat seperti ini.
"Lo mau ke rumah gue?" tanya Aldi dengan lembut.
Aldi tersenyum, perlahan tangannya mengelus rambut Ayana dengan lembut.
"Pasti boleh dong."
*****
Ayana tertegun saat melihat gerbang megah yang terbuka lebar. Dari dalam mobil, Ayana dapat melihat para penjaga yang membungkukkan tubuh mereka seraya memberikan hormat, padahal kondisi kaca mobil tertutup, tapi para penjaga tetap memberikan hormat pada mobil yang baru saja masuk ke halaman rumah.
Aldi memarkirkan mobilnya, lalu turun, tak lupa ia membukakan pintu mobil untuk Ayana.
Ayana melihat sekelilingnya, bukan hanya mobil Aldi yang terparkir di sana melainkan dengan empat mobil mewah lainnya.
"Ayo masuk," ajak Aldi.
Ayana hanya mengangguk, ia tidak menyangka jika rumah Aldi sebesar ini, seperti istana princess yang sering ia tonton dulu saat ia menginjak sekolah dasar. Selama Ayana berteman dengan Aldi, pria itu tidak pernah membahas tentang keluarganya ataupun mengajak teman-temannya untuk main ke rumah.
Ayana berjalan memasuki rumah mewah Aldi. Para asisten rumah tangga pun berbaris rapi menyambut kedatangan Aldi dan Ayana bak seorang raja dan ratu yang tiba di istana.
"Selamat siang, Mas Aldi," ucap seorang asisten rumah tangga yang bernama Bu Umi.
Aldi tersenyum simpul.
Bu Umi memegang tubuh Aldi yang basah, begitu juga dengan Ayana, mereka berdua basah kuyup.
"Mas Aldi kok bisa basah gini?" tanya Bu Umi khawatir.
Aldi tersenyum, menyahut dengan sangat ramah. "Tadi kehujanan, Bu."
Lagi-lagi Aldi membuat Ayana tertegun. Nada bicara Aldi yang lembut membuat Ayana hampir tidak percaya jika pria yang bersamanya saat ini adalah Aldi, karena sosok Aldi yang Ayana kenal adalah pria yang konyol dan selalu berbicara nyeleneh.
"Bu, tolong kasih teman Aldi baju ganti ya, pasti dia kedinginan," ucap Aldi.
"Baik, Mas Aldi," sahut para asisten rumah tangga.
"Ay, gue ke kamar dulu ya ganti baju, nanti lo tunggu di ruang makan aja," ucap Aldi.
Ayana hanya mengangguk.
Para asisten rumah tangga Aldi tersebut mengajak Ayana untuk mengganti pakaian di salah satu kamar yang berada di lantai satu, sedangkan Aldi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Pacarnya Mas Aldi ya?" tanya Bu Umi seraya mencari baju untuk Ayana di dalam lemari.
"Bukan bu, saya teman sekolahnya," jawab Ayana.
"Mas Aldi nggak pernah bawa teman ke rumah loh, apalagi perempuan, kamu yang pertama kalinya," ucap Bu Retno, asisten rumah tangga yang lain.
Bu Umi memberikan Ayana sebuah dress berwarna putih bekas peninggalan almarhum Mama Aldi yang sengaja di simpan oleh para asisten rumah tangga untuk mengenang majikannya itu.
"Ini baju siapa, Bu? Cantik banget bajunya," ucap Ayana.
"Ini milik Bu Rasyel, Mamanya mas Aldi," jawab Bu Retno.
Ayana mengembalikan dress tersebut ke Bu Umi. Ayana merasa tidak enak jika harus memakai baju milik Mama Aldi. "Maaf Bu, saya nggak bisa pakai ini, nggak enak kalau pakai baju Mamanya Aldi," ucapnya.
Bu Umi tersenyum. "Dress ini sudah tidak di pakai lagi, dress ini sengaja di simpan untuk mengenang Bu Rasyel," ucapnya.
Mengenang? Ayang mematung, otaknya berpikir dengan sangat keras, namun ia tetap tidak mengerti.
"Kamu nggak tahu ya kalau Mamanya Mas Aldi itu udah meninggal," ucap Bu Retno.
Deg! Ayana yang sudah mengenal Aldi hampir tiga tahun tapi tidak mengetahui kalau Aldi tidak punya mama sama seperti dirinya.
"Cepat di pakai ya, Mas Aldi pasti udah nungguin kamu di ruang makan," ucap Bu Umi.
Ayana mengangguk, ia segera mengganti pakaiannya. Ayana berdiri di depan cermin, dress yang dipakai sangat cocok dengannya, bahkan Bu Umi dan Bu Retno terlihat sangat senang.
"Kamu cocok banget pakai dressnya Bu Rasyel," ucap Bu Retno senang.
"Mirip sekali dengan Bu Rasyel waktu awal-awal menikah dengan pak Derawan," ucap Bu Umi.
Ayana tersenyum malu.
Bu Retno merapikan rambut gadis itu. "Mas Aldi pasti suka sama kamu ya? Kamu sampai dibawa ke rumah gini," ucapnya.
"Kamu pengen tahu aja urusan anak muda," sahut Bu Umi.
Bu Retno terkekeh pelan.
"Udah cantik, sana ke ruang makan, pasti Mas Aldi udah nunggu kamu," ucap Bu Umi pada Ayana.
"Terima kasih ya Bu," ucap Ayana yang disahuti dengan anggukan kepala dari Bu Umi dan Bu Retno.
Ayana langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.
Aldi mematung saat melihat Ayana yang berjalan mendekat ke arahnya. Ayana terlihat sangat cantik ketika mengenakan dress milik almarhum Mamanya.
Aldi seolah tidak bisa berkedip, ia benar-benar terpesona dengan kecantikan Ayana.
Bu Umi dan Bu Retno, serta asisten rumah tangga yang lain mengintip dari balik dinding, karena untuk pertama kalinya Aldi mengajak teman ke rumah, apalagi temannya adalah seorang perempuan.