
Kedua sudut bibir Aldi mengembang saat melihat Ayana yang mengenakan dress mendiang mamanya.
Ayana merasa canggung karena sorot mata Aldi yang tidak lepas darinya. "Aldi, maaf ya Ayana pakai dress mamanya Aldi." Ayana benar-benar merasa tidak enak.
Aldi terkekeh, "Santai aja Ay, lo kayak baru temenan sama gue aja," ucapnya.
"Ayo makan." Aldi menarikkan kursi untuk Ayana dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk.
Ayana menurut, ia duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Kedua mata Ayana membulat saat melihat beberapa makanan yang dihidangkan di atas meja.
"Aldi, Ayana nggak nyangka kalau Aldi anak sultan," ucap Ayana.
"Lo nggak nyangka kan? Sama gue juga nggak nyangka kalau gue terlahir di keluarga sultan," sahut Aldi terkekeh.
Ayana terus mengoceh sembari menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Ayana menoleh, melihat sebuah foto keluarga yang di pajang di dinding.
"Aldi anak tunggal?" tanya Ayana.
Aldi menyeringai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Anak tunggal kaya raya," jawabnya.
Ayana tertawa, bukan hanya Ayana, tapi para asisten rumah tangga di rumah Aldi ikut tertawa ketika mendengarnya, mereka baru kali ini melihat Aldi sangat terbuka dengan seorang perempuan, walaupun di sekolah Aldi terlihat tipe orang yang friendly, tapi jika di rumah, Aldi menjadi sosok anak yang introvert. Berbeda tempat beda juga kepribadian pada diri Aldi.
Aldi menghentikan makannya, raut wajahnya berubah seketika saat mendengar suara sepatu yang mendekat.
"Aldi kenapa?" tanya Ayana.
"Lo makannya udah belum?" tanya Aldi.
"Hai anak papa yang ganteng," ucap seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluh lima tahun bersama seorang wanita yang juga seusianya.
Aldi mengedarkan pandangannya malas. Raut wajah Aldi mendadak berubah dingin. "Ayo Ay," ajak Aldi pergi dari ruang makan.
Ayana merasa bingung, kenapa mereka harus pergi setelah kedatangan orang tua Aldi?
Aldi menarik tangan Ayana, mengajak gadis itu meninggalkan orang tuanya.
"Aldi," panggil Pak Derawan, Papa Aldi.
"Aldi!" panggil Pak Derawan lagi.
Aldi terus menarik tangan Ayana, tidak peduli dengan sang Papa yang terus memanggilnya.
Seorang wanita yang berada di samping Pak Derawan memegang tangannya, mencegah Pak Derawan untuk mengikuti Aldi.
"Mas udah Mas, kalau Mas keras ke Aldi, nanti Aldi malah makin nggak suka," ucap Tante Dinda dengan lembut.
Pak Derawan menghela napasnya berat. Walaupun sudah hampir lima tahun yang lalu, Aldi masih marah dan belum bisa menerima kehadiran Tante Dinda sebagai mama sambungnya.
Aldi membukakan pintu mobil untuk Ayana dan menyuruh gadis itu untuk masuk. Lagi-lagi Ayana hanya diam dan menuruti Aldi, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Aldi langsung masuk ke dalam mobil, memundurkan mobilnya dan melaju menjauh dari rumah.
Ayana masih tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini. Jika tadi adalah orang tua Aldi, lantas kenapa sosok wanita yang bersama Papa Aldi berbeda dengan wanita yang berada di foto keluarga yang di pajang di ruang makan?
Ayana ingin menanyakan hal tersebut pada Aldi, namun Ayana merasa ini bukan waktu yang tepat, melihat wajah Aldi yang sedang menahan emosi.
Aldi menoleh, melihat Ayana yang merasa tidak nyaman dengan suasana saat ini. Aldi menepikan mobilnya, lalu berhenti.
Ayana melihat ke arah Aldi saat pria itu menghentikan mobilnya.
"Lo pasti bingung ya sama ini semua?" ucap Aldi membuka pembicaraan.
"Ayana mau tanya sesuatu boleh nggak?" Ayana memberanikan dirinya untuk menanyakan suatu hal yang dari tadi menganggu pikirannya.
"Boleh Ay, tanya aja," sahut Aldi dengan raut wajah yang kembali ceria, sepertinya suasana hati Aldi sudah mulai membaik.
"Yang tadi itu papanya Aldi?" tanya Ayana sedikit takut, jujur saja sebenarnya mengajukan pertanyaan ini membuat jantung Ayana berdegup tidak beraturan, rasanya seperti sedang interview dengan seorang HRD di sebuah perusahaan ternama.
"Lo pasti mau tanya tentang wanita yang sama Papa gue kan?" ucap Aldi yang sudah mengira kalau Ayana ingin tahu tentang itu.
Aldi menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. "Wanita tadi itu Mama sambung gue, namanya Tante Dinda, setelah enam bulan Mama gue meninggal, Papa dengan mudahnya langsung menikah lagi sama Tante Dinda tanpa persetujuan gue, itu sebabnya gue benci banget sama mereka. Padahal belum lama Mama gue meninggal, tapi Papa dengan cepat udah nemuin pengganti Mama gue." Aldi membagikan cerita yang selama ini pendam sendiri tanpa ada orang lain yang tahu, terkecuali para asisten rumah tangganya.
"Maaf Aldi, Ayana nggak bermaksud ingin tahu permasalahan keluarga Aldi, maaf karena Ayana udah lancang nanya-nanya hal itu." Ayana semakin merasa tidak enak, ia takut jika Aldi akan berpikir yang tidak-tidak.
Aldi terkekeh seraya mengacak-acak pucuk rambut Ayana. "Santai aja Ay, jangan kaku gitu," sahutnya.
"Aldi, ini beneran mobil Aldi kan? Bukan nge- rental?" goda Ayana seraya mencairkan suasana yang sedari tadi menegang.
"Ini mobil hasil hadiah dari chiki, Ay," jawab Aldi tertawa.
Kini Ayana mengerti kenapa Aldi selalu ceria dan berusaha konyol untuk menghibur orang lain. Ayana jadi teringat dengan ucapan Argatha yang pernah ditujukkan pria itu untuknya. "Lo selalu ceria di depan orang banyak, Ay. Padahal lo punya kesedihan yang mendalam." Ternyata ucapan Argatha benar, orang yang selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan orang lain adalah orang yang sedang berusaha keras untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
"Farah, Gaeun dan Azka tahu kalau Aldi anak orang kaya?" tanya Ayana.
Aldi menggelengkan kepalanya. "Yang tahu cuma lo," jawabnya.
"Gue nggak pengen teman-teman gue tahu kalau gue ini anak orang kaya, gue nggak mau kejadian waktu gue SMP terulang lagi," tambah Aldi.
"Waktu SMP saat teman-teman gue tahu kalau gue ini anak orang kaya, mereka sering manfaatin gue, gue merasa mereka temenan sama gue itu nggak tulus, mereka punya maksud tertentu, apalagi Papa gue salah satu orang berpengaruh di sekolah." Aldi merasa Ayana bisa menjadi pendengar yang baik, jadi Aldi percaya dan mulai membuka dirinya untuk menceritakan semua yang selama ini ia pendam sendirian.
*****
Aldi mengantarkan Ayana pulang, mengingat langit juga sudah mulai gelap. Aldi harus mengembalikan gadis itu ke rumahnya.
Aldi membukakan pintu mobil untuk Ayana. Aldi benar-benar memperlakukan Ayana bak seorang putri.
"Aldi, makasih ya, maaf hari ini Ayana banyak ngerepotin Aldi," ucap Ayana. Hari ini Aldi sudah menemaninya untuk menghilangkan rasa sedihnya karena kepergian Argatha.
"Lo udah biasa ngerepotin gue kan," sahut Aldi tersenyum.
Ayana mendesis, lalu memukul Aldi pelan. "Kumat deh, Aldi."
Aldi terkekeh, "Yaudah gue balik ya, Ay. Lo jangan sedih lagi," ucapnya.
Ayana tersenyum seraya bergaya hormat bak prajurit ke arah Aldi. "Siap komandan!"
Baru Aldi ingin melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam mobil, Ayana kembali memanggilnya.
"Aldi."
"Kenapa Ay?" tanya Aldi seraya menoleh.
"Besok Aldi sibuk nggak?" tanya Ayana.
"Sibuk. Besok gue harus bangun siang, makan siang, terus main play station sampai ketiduran lagi, terus bangun lagi makan malam dan kembali tidur lagi," jawab Aldi nyeleneh.
"Ih! Aldi jawabnya yang serius dong," kesal Ayana.
"Gue nggak sibuk Ay. Kenapa?" tanya Aldi dengan nada yang sangat lembut.
"Besok kita main yuk," ajak Ayana.
Aldi memperhatikan Ayana yang tersenyum. "Iya, besok jam sembilan gue jemput lo," jawab Aldi.
"Yes!" ucap Ayana senang, ia meloncat-loncat seperti anak kecil.
"Yaudah Ayana masuk dulu ya. Aldi pulangnya hati-hati ya, nyetir mobilnya jangan ngebut-ngebut ya."
Aldi mengangguk seraya mengiyakan ucapan gadis itu.
Ayana langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Aldi yang masih berada di depan gerbang rumah Ayana.
Aldi hanya bisa tersenyum seraya melihat Ayana yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Gue harap lo akan selalu tersenyum, Ay."