School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Jantung Yang Berdegup Kencang



Seoul, Korea Selatan.


Argatha memusatkan pandangannya ke luar jendela apartemen, entah kenapa setelah melihat pesan yang Aldi kirimkan beberapa waktu lalu, membuat Argatha tidak henti-hentinya untuk memikirkan Ayana.


Argatha membuka bukunya, berusaha untuk tenang dan memusatkan pikirannya dengan materi perkuliahan yang tadi diajarkan, tapi lagi-lagi Argatha malah teringat Ayana. Bayang-bayang Ayana terus terlintas di dalam pikirannya, apalagi kenangan manisnya bersama gadis itu.


Argatha menggaruk kepalanya frustasi, jika seperti ini terus pasti akan mengganggunya. Terasa sangat sulit untuk melupakan Ayana dan membuang bayang-bayang gadis itu, padahal ini sudah beberapa bulan Argatha berada di Korea dan tidak menghubungi Ayana.


Argatha mengambil ponselnya, membuka galerinya, melihat foto-fotonya bersama Ayana yang masih tersimpan.


"Maaf Ay, tapi gue nggak mau lo terus mengganggu pikiran gue," ucap Argatha seraya menghapus foto-fotonya bersama Ayana yang tersimpan di ponselnya.


*****


Jakarta, Indonesia.


Aryasa mengajak Ayana membeli sebuah layang-layang yang di jual di hutan kota.


"Bisa main ini nggak?" tanya Aryasa pada Ayana.


Ayana menggeleng, "Nggak," jawab Ayana seraya menyeringai tak berdosa.


"Aryasa bisa?" tanya Ayana balik.


Aryasa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue belum pernah main layang-layang," jawab Aryasa jujur.


Ayana menahan senyumnya.


"Kenapa?"


"Aryasa lucu, terus kenapa beli layang-layang kalau nggak bisa mainnya?"


"Gue mau mencoba, gue mau pertama kali main layang-layang sama lo," ucap Aryasa.


Ayana mengulum bibirnya, menahan bibirnya agar tidak mengembang. "Aryasa jangan kayak gini dong! Nanti kalau Ayana suka sama Aryasa gimana?"


"Ya bagus dong, berarti lo bisa lupain pacar lo yang ngeselin itu," jawab Aryasa.


"Emang Aryasa mau kalau Ayana suka sama Aryasa?"


Aryasa berpura-pura berpikir. "Hm, masih harus dipikirkan dulu," godanya.


Ayana mendesis pelan, " Udah ah ayo kita naikin layang-layang nya kayak mereka," ucap Ayana seraya menunjuk beberapa orang yang berhasil menaikkan layang-layang mereka hingga tinggi.


"Lo pegang layang-layang nya ya," ucap Aryasa.


"Siap bos."


Ayana memegang layang-layangnya ke arah Aryasa, Aryasa pun perlahan memudarkan langkahnya seraya membawa gulungan benang tersebut sedikit menjauh dari Ayana.


Setelah melihat benang tersebut sudah cukup panjang, Aryasa pun memberikan kode pada Ayana untuk menerbangkan layang-layang tersebut.


Menuruti kode Aryasa, Ayana pun menerbangkan layang-layang yang dibarengi oleh Aryasa yang menarik-narik benang untuk membuat layang-layang tersebut naik secara perlahan.


"Ay, udah naik, Ay," ucap Aryasa senang ketika layang-layang nya mulai mengudara seperti layang-layang yang lain.


Ayana berlari kecil mendekati Aryasa. "Wih, hebat layang-layang kita naik," ucapnya sangat senang.


"Nih pegang," Aryasa memberikan gulungan benang yang berada di tangannya ke Ayana, agar gadis itu merasakan bermain layang-layang.


Ayana sangat antusias, karena ini pertama kalinya Ayana bermain layang-layang dan langsung berhasil terbang pada percobaan pertama.


Aryasa tersenyum. Tidak ingin kehilangan momen manis ini, Aryasa mengeluarkan ponselnya dan memotret Ayana tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Aryasa tolongin Ayana, layang-layang nya goyang," ucap Ayana panik saat layang-layang nya bergerak ke kanan kiri.


Aryasa terkekeh, ia dengan sigap membantu Ayana memegang gulungan benang tersebut. Namun, keduanya seketika terdiam saat tanpa sengaja Aryasa memegang tangan Ayana.


Jantung Aryasa berdegup sangat kencang, Aryasa kembali merasakan seperti ini setelah sekitar satu tahun lalu kehilangan Aruna. Apa mungkin ia jatuh cinta dengan Ayana?


*****


Aryasa tersenyum seraya menoleh ke gadis yang saat ini duduk disampingnya seraya memakan ice cream vanilla.


Aryasa tidak sadar kalau ice cream yang berada di tangganya meleleh, karena pusat perhatiannya teralihkan oleh Ayana.


"Ya ampun Aryasa, ice creamnya mencair," Ayana mengambil tisu basah yang berada di dalam tasnya dan memberikannya pada Aryasa.


Pandangan Aryasa tertuju pada ice cream yang sudah mencair di tangannya. Bukannya panik seperti Ayana, Aryasa justru terkekeh.


"Kok malah ketawa sih?" tanya Ayana.


"Kok bisa mencair ya?" tanya Aryasa balik.


Ayana menaikkan satu alisnya, kini Ayana merasa bukan hanya ia satu-satunya orang aneh yang berada di muka bumi, ternyata ada orang lain yang juga aneh, yaitu Aryasa.


"Aryasa ngelihatin apa sih sampai nggak fokus gitu," Ayana perlahan mengelap tangan Aryasa dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya lagi masih memegang ice cream vanilla miliknya.


"Ngelihatin lo," jawab Aryasa seraya menatap Ayana dengan lekat.


Jantung Ayana tiba-tiba berdegup tidak karuan. Ia langsung memukul tubuh Aryasa pelan, berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak terlihat salah tingkah di depan Aryasa.


"Aryasa kayak anak kecil, masa makan ice cream aja sampai mencair di tangan," ucap Ayana salah tingkah.


Aryasa menarik dagu Ayana pelan, membuat kedua mata Ayana menatapnya. Jantung Ayana semakin berdegup sangat kencang, Ayana takut suara jantungnya yang berdegup kencang bisa di dengar oleh pria yang berada sangat dekat dengannya saat ini.


Karena jarak yang terlalu dekat, Aryasa dapat merasakan aroma parfum Ayana. Begitu juga dengan Ayana, ia dapat merasakan hembusan napas Aryasa.


Ayana mengepal tangannya kuat seraya menahan rasa salah tingkahnya karena ditatap oleh Aryasa terlalu dalam.


Ayana memperhatikan dahi Aryasa, hidung, hingga bibir pria itu. Ketampanan Aryasa meningkat sepuluh kali lipat dari biasanya jika dipandang dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Tentu hal itu membuat napas Ayana terasa terhenti, oksigen di sekelilingnya seolah menghilang. Rasanya Ayana sangat sulit sekali untuk mengontrol dirinya agar terlihat tidak gugup.


Perlahan kedua sudut bibir Aryasa mengembang. Terlihat sebuah senyuman hangat yang terhias di bibir tipis pria itu.


"Lo grogi ya?" goda Aryasa yang melihat wajah Ayana memerah saat kedua mata mereka saling menatap.


Ayana gelagapan, ia tidak tahu harus berkata apa saat ini. Ia benar-benar salah tingkah.


Tiba-tiba hujan turun tanpa permisi, membuat Aryasa dan Ayana berlari mencari tempat untuk berteduh. Mereka berlari ke sebuah warung kecil yang berada di sana dan berteduh. Hujan yang sangat deras membuat baju Ayana sedikit basah.


Aryasa sekilas melirik ke arah gadis yang berada di sampingnya. Aryasa menurunkan resleting jaketnya, lalu membukanya dan memberikannya pada Ayana.


"Pakai biar nggak kedinginan," ucap Aryasa seraya memakaikan jaket ke tubuh Ayana.


"Aryasa?"


"Lo pakai aja."


Ayana mengangguk. Ayana mengenakan jaket yang diberikan Aryasa. Kedua sudut bibir Ayana mengembang sedikit. Ayana jadi teringat saat ia dan Aldi berteduh di halte, Aldi juga melakukan hal yang sama kepadanya. Tidak hanya saat di halte, saat pulang mengantar Argatha ke bandara, Aldi juga memberikan jaketnya ke Ayana agar tidak kedinginan, tanpa mempedulikan dirinya sendiri yang saat itu sama-sama basah.


Ayana menggelengkan kepalanya, seraya menyadarkan dirinya yang melamun. Kenapa Ayana jadi teringat dengan Aldi?