School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Aldi & Bahasa Cintanya



Ayana membuka satu per satu laci di dapur. Mulai dari laci atas sampai laci yang berada di paling bawah ia periksa semuanya, berharap ia menemukan sesuatu yang bisa mengganjal rasa laparnya, namun sayang Ayana tidak menemukan apapun. Padahal tadi ia sempat makan bersama Aryasa, tapi kenapa masih merasa lapar?


Ayana melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Ayana merasa belum terlalu malam untuk membeli makanan di depan komplek perumahannya.


Ayana mengambil jaketnya, lalu keluar rumah untuk membeli nasi goreng yang berada di depan komplek.


Malam ini suasana komplek perumahan Ayana cukup berbeda dari biasanya, biasanya banyak bapak-bapak yang berjaga di pos keamanan, tapi hari ini tidak ada siapapun di pos keamanan. Jalanan pun sangat sepi, hanya ada lampu-lampu yang menemani setiap langkah gadis itu.


Ayana memesan nasi goreng spesial favoritnya yang berjualan di depan komplek perumahannya. "Pak, nasi goreng spesial satu ya pedasnya sedang aja," pesan Ayana pada penjual nasi goreng tersebut.


"Baik Neng, ditunggu ya," sahut si bapak penjual nasi goreng.


Setelah kurang lebih menunggu hampir lima belas menit, Ayana pun mendapatkan nasi goreng spesial pesanannya. Ayana segera pulang, karena jalanan sudah sangat sepi, apalagi jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Sepanjang jalan Ayana tidak berani menengok ke arah kanan dan kirinya, ia terus jalan lurus menghadap ke depan.


"Sendirian aja nih," ucap seorang pria yang berada di bawah pohon.


"Mau ditemenin nggak?" ucap pria lain.


Ayana tidak menjawab, ia terus berjalan dengan cepat. Kakinya terasa gemetar, tangannya pun mulai berkeringat dingin.


Dua pria itu terus mengikuti Ayana dari belakang seraya memperhatikan tubuh Ayana dari belakang.


"Kok jalannya sendirian sih? Nggak takut diculik?" ucap salah satu pria yang terus mengikuti Ayana.


Ayana menunduk, ia terus berjalan, berharap agar cepat sampai ke rumah ataupun ada seseorang yang lewat. Namun, dua pria tersebut menarik tangan Ayana, membuat Ayana berbalik menghadap dua pria itu.


"Sombong banget sih," ucap pria itu seraya mencolek dagu Ayana.


"Lepasin Ayana!" Ayana berusaha melepaskan genggaman tangan pemuda tersebut, namun dua pria itu menggenggamnya dengan sangat kuat.


"Kalau ngobrol sama kita dulu bisa kali ya." Pria tersebut memperhatikan Ayana mulai dari mata, hidung, bibir, hingga lekuk tubuhnya, gadis itu sangat cantik sekali.


Kedua mata Ayana memanas. Seluruh tubuhnya mendadak lemas, bahkan ia tidak memiliki daya dan upaya untuk melarikan diri dari dua pria itu.


Ayana hanya bisa pasrah, ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, tapi di dalam hatinya ia menyebut nama Aldi dan berharap bahwa Aldi akan hadir untuk menolongnya, walaupun itu tidak akan mungkin terjadi. Tidak mungkin Aldi tiba-tiba berada di komplek perumahan gadis itu, karena jarak dari rumah Ayana ke rumah Aldi lumayan jauh.


Bruk! Seseorang memukul salah satu pria tersebut dengan keras. Ayana menoleh saat pria tersebut jatuh tersungkur setelah mendapatkan pukulan.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Ayana melihat sosok Aldi yang berdiri di depannya.


Aldi segera menarik tubuh Ayana ke belakang tubuhnya.


Aldi kembali memukul dua pria tersebut, Aldi terlihat sangat marah, ia tidak peduli dengan dua pria itu yang sudah babak belur karena dihajar olehnya.


Salah satu pria itu meringis kesakitan saat merasakan wajahnya di pukul oleh Aldi.


"Sialan lo!" Aldi menendang kaki salah satu pria itu hingga jatuh tersungkur di hadapannya.


Aldi menarik kerah baju pria itu dan bersiap untuk mendaratkan kembali pukulan di wajah pria itu.


"Ampun bang," lirih salah satu pria itu.


"Maaf bang, maaf. Kita nggak akan gangguin pacar abang lagi," mohon pria yang satunya lagi.


Merasa sudah tidak bisa melawan Aldi, dua pria tersebut langsung pergi saat kemarahan Aldi sudah mereda.


Aldi menakupkan kedua tangannya di pipi Ayana, "Lo baik-baik aja kan? Ada yang luka nggak?" tanyanya khawatir.


Aldi hanya bisa membalas pelukan Ayana sambil menenangkan gadis itu. Ia membiarkan Ayana menangis di dalam pelukannya. Aldi sangat bersyukur bisa datang tepat waktu dan menolong Ayana.


"Ayo pulang, lo jangan takut, ada gue," ucap Aldi lembut.


Ayana melepaskan pelukannya dan berjalan terlebih dulu, namun dengan cepat Aldi menyamai langkahnya dan menggandeng tangan Ayana erat.


"Makasih Aldi," ucap Ayana setelah beberapa menit lalu hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Kok Aldi bisa ada di sini malam-malam gini?" Ayana memberanikan dirinya untuk bertanya, daripada ia nanti tidak bisa tidur danĀ  memikirkan mengapa Aldi bisa berada di komplek perumahannya.


"Tadi gue ke rumah lo, kata tetangga lo tadi lihat lo keluar rumah, jadi ya gue cari lo aja," jawab Aldi.


Kedua mata Ayana memanas, ia merasa sangat bersalah karena telah melontarkan kata-kata yang kurang baik pada Aldi beberapa hari lalu.


"Aldi nggak apa-apa kan?" tanya Ayana seraya memegang tangan Aldi.


"Aw.," ringis Aldi saat Ayana memegang jari tangan kanannya yang terluka karena memukul dua pria tadi dengan keras.


"Tangan Aldi luka?" tanya Ayana khawatir.


"Luka sedikit doang, Ay," jawab Aldi.


"Sakit ya?" tanya Ayana polos saat melihat punggung tangan Aldi yang berdarah.


Aldi menghela napasnya berat. "Namanya luka pasti sakit, Ay," decaknya.


"Aldi ke rumah Ayana ya, nanti Ayana obatin lukanya." Terlihat jelas sebuah kekhawatiran di sorot mata Ayana.


Aldi mengangguk setuju.


*****


Aldi memperhatikan Ayana yang sangat serius mengobati luka di punggung tangannya.


Perlahan kedua sudut bibir Aldi mengembang. "Tadi lo kemana sama Aryasa?" tanya Aldi membuka pembicaraan.


"Ayana tadi siang ke hutan kota. Aldi tahu nggak, tadi Ayana tuh main layang-layang loh sama Aryasa, itu pertama kalinya Ayana main layang-layang," Ayana sangat antusias menceritakan apa yang tadi siang ia lakukan dengan Aryasa.


Aldi tersenyum mendengarnya, Aldi bisa mengambil kesimpulan kalau Ayana bahagia bersama Aryasa.


"Kenapa lo malam-malam keluar?" tanya Aldi.


"Ayana lapar."


"Kenapa nggak pesan online aja?"


"Ayana pengennya nasi goreng yang di depan komplek," jawab Ayana.


Aldi mendecak. "Kenapa nggak telepon gue? Lo kan bisa bilang ke gue kalau lo lapar pengen nasi goreng depan komplek, gue langsung beliin, Ay."


Ayana menundukkan kepalanya, "Ayana nggak enak ngerepotin Aldi, Ayana merasa bersalah sama Aldi karena udah ngomong yang mungkin bikin Aldi sakit hati," lirih gadis itu.


Aldi tersenyum, perlahan ia mengelus rambut gadis itu lembut. "Gue nggak pernah merasa direpotkan sama lo Ay. Kan gue pernah bilang, kalau lo butuh gue, gue selalu siap buat lo."


"Untuk omongan lo beberapa hari lalu lupain aja, gue nggak marah kok sama lo, jadi lo jangan merasa bersalah ya. Lagi pula omongan lo benar kok, kita kan emang cuma teman aja," tambah Aldi.