
Aryasa mengemasi buku-bukunya lalu menghampiri Ayana yang duduk di belakang Satria.
"Ay..," panggilnya.
"Kenapa Aryasa?" tanya gadis itu.
"Perut lo udah nggak sakit?" tanya Aryasa basa-basi.
Ayana menggeleng. "Udah sembuh," jawabnya.
"Lo pulang naik apa? Pulang bareng gue yuk," ajak Aryasa.
Ayana terdiam sejenak, lalu menoleh ke Aldi yang duduk di sampingnya. Pria itu menghela napasnya berat.
"Ayana boleh pulang bareng sama Aryasa?" tanya Ayana pada Aldi.
Aldi tersenyum simpul, "Boleh dong," jawabnya.
"Aldi nggak apa-apa?" tanya Ayana memastikan.
"Emang gue kenapa?" tanya Aldi balik.
Ayana menoleh ke Aryasa, kembali melihat pria itu dengan raut wajah sungkan. "Maaf Aryasa, Ayana hari ini pulang sama Aldi aja," jawab Ayana.
Kedua mata Aldi membulat, ia langsung menghentikan kegiatannya seraya melihat Ayana bingung.
"Kenapa? Gue nggak ngelarang lo pulang sama Aryasa. Demi bumi beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya, gue nggak ngelarang lo, Ay. Silahkan kalau lo mau pulang bareng sama Aryasa," ucap Aldi sedikit nyeleneh.
"Ayana mau pulang sama Aldi," ucap Ayana tegas.
Aryasa tersenyum getir seraya menghela napasnya berat. "Yaudah Ay, gue balik duluan ya," pamit pria itu.
"Oke Aryasa. Hati-hati ya pulangnya," sahut Ayana melambaikan tangannya pada Aryasa.
Satria, Nio dan Qausar melihat Aryasa kasihan. Hari ini Ayana terlihat lebih condong ke Aldi. Entah apa yang terjadi diantara Ayana dan Aldi, tapi semua perlakuan Ayana sangat jelas terlihat.
*****
"Silahkan masuk tuan putri," ucap Aldi seraya membukakan pintu mobilnya untuk Ayana.
"Terima kasih pak supir," sahut Ayana terkekeh juga.
Aldi menutup pintu mobil dengan sangat hati-hati, lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Aldi.
Ayana menggeleng.
"Terus lo mau kemana?"
"Ayana mau ngobrol sama Mama Aldi," jawab Ayana.
"Ha? Maksudnya?" tanya Aldi tidak mengerti ucapan Ayana.
"Ayana mau kenal sama Mama Aldi," ucap Ayana penuh penekanan.
Aldi semakin tidak mengerti. Apa mungkin maksud Ayana adalah ingin mengobrol dan berkenalan dengan Tante Dinda? Mengingat beberapa kali Ayana bertemu dengan Tante Dinda hanya saling melihat wajah satu sama lain tanpa mengobrol banyak.
"Lo mau ke rumah gue?" tanya Aldi.
Ayana mendecak kesal, rupanya Aldi belum mengerti maksud dari ucapannya.
"Ayana mau ke makam Mama Aldi," ucap Ayana.
"Ngapain?"
Ayana mendesis seraya memajukan bibirnya beberapa sentimeter. "Aldi kenapa sekarang jadi banyak tanya sih?"
"Ya- ya gue bingung, lo mau ngapain ke makam Mama gue?"
"Jualan bunga sama air mawar di makam," jawab Ayana.
Aldi terkekeh seraya mengacak-acak pucuk rambut Ayana gemas. "Teman gue lucu banget sih, jadi pengen nikahin biar nggak bisa pergi sama cowok lain lagi," ucap Aldi pelan.
"Ha? Aldi ngomong apa tadi?" tanya Ayana yang tidak terlalu mendengar ucapan Aldi dengan jelas.
"Nggak, nggak usah dibahas."
"Ih! Aldi tadi ngomong apa? Ayana nggak dengar tadi," paksa Ayana.
"Udah ayo kita ke makam Mama gue." Aldi langsung melajukan mobilnya, tidak ingin membahas ucapannya tadi.
*****
"Aldi," panggil Ayana.
"I- iya?" sahut Aldi terbata-bata.
"Aldi kenapa?" tanya Ayana.
"Gimana caranya gue bilang ke Ayana ya, tapi gue udah terlanjur janji sama Mama, kalau cewek yang akan gue ajak ke makam Mama itu tandanya gue serius sama cewek itu," ucap Aldi dalam hati.
Ayana menepuk pundak Aldi, menyadarkan pria itu dari lamunannya. "Aldi! Kok malah bengong sih?"
"Kata papa Ayana jangan suka bengong, apalagi di pemakaman kayak gini, bisa kesurupan nanti," ucap Ayana.
"Ay, kita pulang aja yuk," ucap Aldi.
"Kenapa? Aldi takut kesurupan?" tanya Ayana dengan raut wajahnya yang polos.
"Kita pulang aja yuk."
"Kenapa? Aldi nggak mau kenalin Ayana ke Mama Aldi?"
"Nggak, bukan gitu."
"Terus kalau bukan gitu, gimana?"
"Gue nggak bisa ngenalin lo ke Mama, Ay," ucap Aldi.
"Kasih Ayana satu alasan kenapa Aldi nggak mau ajak Ayana ke makam Mama Aldi? Aldi kayak takut gitu, kenapa sih?" paksa Ayana.
"Karena gue udah terlanjur janji ke Mama gue, kalau gue ajak cewek ke makam Mama gue, itu tandanya gue serius dengan cewek itu, dan emang dia yang nantinya akan selalu gue ajak untuk ke makam Mama, nggak ada cewek lain," jelas Aldi.
Ayana terdiam, mencermati baik-baik ucapan yang keluar dari mulut pria yang sedang menatapnya lekat.
"Aldi udah janji untuk nggak akan tinggalin Ayana kan? Itu artinya, Aldi serius ke Ayana," ucap Ayana dengan raut wajahnya yang terlihat serius.
"Nggak gitu, Ay."
"Aldi dari tadi bilang nggak gitu terus, emang nggak ada kalimat yang lain?" omel Ayana.
Aldi menarik napasnya panjang, lalu membuangnya perlahan, berusaha untuk memperluas rasa sabarnya dalam menghadapi gadis itu.
"Gue laki-laki Ay, laki-laki itu yang dipegang omongannya. Gue nggak mau ingkar janji ke Mama gue, gue nggak bisa bawa sembarang cewek untuk dikenalin ke Mama gue," ucap Aldi.
"Laki-laki itu yang dipegang omongannya kan? Oke, berarti omongan Aldi yang udah janji untuk nggak akan tinggalin Ayana itu juga bisa dipegang ya. Aldi nggak boleh ingkar janji."
"Lagi pula Ayana bukan sembarang cewek yang Aldi kenalin ke Mama Aldi. Siapa tahu aja nantinya emang cuma Ayana cewek yang akan Aldi ajak terus ke makam untuk nengokin Mama Aldi, nggak ada cewek lain," tambah Ayana.
Tidak ingin berdebat lagi dengan Aldi, Ayana langsung menarik tangan Aldi, memaksanya untuk masuk ke dalam pemakaman, walaupun Ayana tidak tahu dimana letak makam Mama Aldi, tapi setidaknya ia sudah berhasil mengajak Aldi untuk masuk dengannya.
"Ay..," panggil Aldi.
"Apalagi? Aldi mau nggak bolehin Ayana ke makam Mama Aldi?"
"Bukan."
"Apa?"
"Salah arah, makam Mama gue itu ke kanan jalannya," ucap Aldi.
Ayana menyeringai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aldi harusnya bilang dari tadi dong, kalau kayak gini kan kita jadi harus putar balik," gerutu Ayana.
Aldi menghela napasnya. "Lo nggak nanya-nanya, lagian siapa yang suruh lo main narik tangan gue," sahut Aldi.
"Iya, iya cewek selalu salah," sahut Ayana.
Aldi dan Ayana berdiri tepat di makam yang bertuliskan 'Rasyel Ayudia Amanda' di sebuah batu nisan.
"Halo Tante," ucap Ayana seraya berjongkok di samping batu nisan.
"Tante, kenalin aku Ayana, temannya Aldi." Ayana memetik rumput-rumput kecil yang berada di atas makam Mama Aldi.
"Tante tahu nggak, ternyata Aldi bertanggung jawab loh," ucap Ayana.
Aldi hanya bisa melihat Ayana yang terus mengoceh di depan makam sang Mama.
"Ayana senang banget bisa kenal sama Aldi."
"Ma, maafin Aldi udah ingkar janji ke Mama. Aldi ngajak cewek ke makam Mama yang jelas-jelas nggak bisa Aldi milikkin, karena Ayana adalah pacar teman Aldi, Ma," ucap Aldi dalam hati.