School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Perdebatan Batin Aldi



Tok! Tok! Tok!


Ayana mengetuk kaca mobil Aldi pelan. Aldi membuka matanya sayup-sayup setelah mendengar ketukan kaca.


Ayana melambaikan tangannya seraya tersenyum saat pria itu terbangun.


Aldi membuka kaca mobilnya, "Kenapa sih? Masih pagi ini, ganggu tidur gue aja lo," gerutunya.


Ayana menghela napasnya berat. " Masih pagi? Aldi lihat tuh jam di tangan Aldi," suruhnya.


Kedua mata Aldi membulat saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu siang. "Ay, kok lo baru bangunin gue sekarang sih?"


"Aldi itu tidur apa latihan jadi orang mati sih? Dari jam sembilan tuh Ayana udah ketuk-ketuk kaca mobil Aldi terus, tapi nggak bangun juga, kalau Ayana nggak ingat harga mobil Aldi ini milyaran, udah Ayana hancurin nih kaca," omel gadis itu.


Aldi menyeringai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sorry Ay, gue capek banget, jadi nggak sadar kalau tidurnya kepulesan."


"Gara-gara Ayana ya? Lagian ngapain sih Aldi ngasih surprise ke Ayana? Padahal kan capek banget abis dari camp."


Aldi membuka pintu mobilnya, lalu keluar menghampiri gadis itu. "Se-capek apapun gue, kalau itu untuk lo, akan gue lakuin, Ay," ucap Aldi dengan raut wajah serius.


Ayana tertawa seraya memukul tubuh Aldi keras. "Aldi belajar kata-kata romantis dari mana? Ayana kaget banget dengarnya."


"Ayana yakin nih, cewek yang jadi pendamping Aldi nantinya pasti merasa beruntung banget, akan di treat like a queen banget sama Aldi," tambah Ayana.


"Udah gue mau pulang, ngoceh mulu lo kayak burung beo." Aldi berjalan kembali ke mobilnya.


"Aldi, hati-hati ya, makasih hadiahnya," ucap Ayana seraya menunjukkan gelang yang ia pakai di tangan kanannya.


Aldi tersenyum senang melihat hadiah pemberiannya langsung di pakai oleh gadis itu. "Gue balik ya, Ay," pamit Aldi.


*****


Aldi memarkirkan mobilnya di jejeran mobil-mobil mewah yang berada di garasi rumahnya. Raut wajah Aldi mendadak berubah saat melihat sebuah mobil Mercy putih yang ikut terparkir di sana.


Aldi berjalan masuk ke dalam rumahnya disambut seperti biasa oleh para asisten rumah tangganya. "Mas Aldi dari mana aja? Kata mbak Retno, Mas Aldi kemarin udah pulang tapi langsung pergi lagi," ucap Bu Umi.


Kedua sudut bibir Aldi mengembang seraya memegang tangan Bu Umi. "Aldi nginap di rumah teman Bu, kasihan dia sendirian di rumah, Aldi takut terjadi sesuatu sama dia," jelas Aldi.


"Teman Mas Aldi yang waktu itu dibawa ke sini ya? Yang cantik itu?" tanya Bu Umi.


Aldi mengangguk. "Bu Umi tenang aja, Aldi tidur di mobil kok, sedangkan Ayana tidur di kamarnya," jelas Aldi, karena ia yakin Bu Umi akan salah paham jika Aldi tidak menceritakan sejelas-jelasnya.


Bu Umi tersenyum lega, Aldi dapat menjaga dirinya sendiri dan juga orang lain.


"Selamat pagi Aldi," ucap Tante Dinda yang berjalan mendekati Aldi.


"Pagi, Tante," sahut Aldi dengan nada bicaranya yang terdengar dingin.


"Aldi, ayo sarapan, Bu Retno udah siapin makanan di ruang makan," ucap Pak Derawan yang berjalan di belakang Tante Dinda.


"Aldi mau mandi dulu, Papa sama Tante Dinda sarapan duluan aja," ucap Aldi dingin dan langsung berjalan menuju kamarnya.


*****


Semenjak pernikahan Papanya dengan Tante Dinda lima tahun lalu, Aldi jadi menutup dirinya untuk sang Papa, ia merasa kecewa karena Papanya tiba-tiba pergi dan kembali membawa Tante Dinda dengan status mereka sebagai pasangan suami istri. Tidak mudah bagi Aldi untuk menerima itu semua, apalagi rentang waktu yang terlalu singkat untuk berpindah ke lain hati setelah sang Mama meninggal dunia karena penyakit jantung yang sudah lama di derita.


"Kamu harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab ya, Di. Sebesar apapun masalah kamu nanti dengan pasangan kamu, kamu tidak boleh melakukan kekerasan fisik, apalagi sampai meninggalkannya. Jika kamu marah, diam sejenak, renungkan, setelah itu baru kamu ajak bicara lagi dia. Kamu janji kan sama Mama untuk jadi laki-laki yang baik?" ucap Mama Aldi lima tahun lalu saat berbicara dengan Aldi di ruang ICU.


Ucapan itu selalu Aldi ingat hingga saat ini, ia selalu berusaha untuk menepati janjinya pada sang Mama untuk menjadi sosok laki-laki yang baik.


*****


Aldi keluar dari kamarnya menuju meja makan, langkahnya terhenti saat melihat Pak Derawan dan Tante Dinda yang masih berada di ruang makan. Mereka berdua menunggu Aldi untuk sarapan bersama.


"Ayo kita sarapan bareng, Di," ucap Pak Derawan dengan sebuah senyuman.


Aldi berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang berada di sana.


"Kamu kemarin abis camping ya?" tanya Tante Dinda seraya mengambil nasi dan lauk di piring Aldi.


Aldi tidak menjawab apapun. Ia hanya mengambil piringnya dari tangan Tante Dinda.


Bu Umi berjalan mendekati Aldi, berpura-pura untuk mengambil gelas yang berada di atas meja makan. Bu Umi mencolek tangan Aldi pelan, seraya memberikan kode agar Aldi menjawab pertanyaan Tante Dinda.


Aldi menghela napasnya berat. "Iya," jawabnya singkat, lalu menyantap makanan yang berada di hadapannya.


"Aldi, besok kamu masuk kuliah ya?" tanya Pak Derawan.


"Iya," jawab Aldi singkat.


Pak Derawan menarik napasnya panjang, berusaha untuk memperluas kesabarannya. Ia harus bisa membuat Aldi kembali seperti dulu, di mana semua hal Aldi ceritakan kepada sang Papa saat makan bersama di ruang makan.


"Besok ke kampus mau naik apa? Papa tadi udah suruh Pak Darto untuk bersihin semua mobil, jadi besok kalau kamu mau pakai udah bersih," ucap Pak Derawan lembut.


"Makasih," ucap Aldi singkat.


"Teman kamu yang waktu itu kamu ajak ke rumah cantik loh, siapa namanya?" Tante Dinda berusaha untuk banyak berkomunikasi dengan Aldi.


"Ayana," jawab Aldi.


"Namanya cantik ya Mas, seperti orangnya," ucap Tante Dinda pada Pak Derawan.


"Lain waktu kamu ajak ke rumah lagi ya Di, kita makan bareng sama Ayana," ucap Pak Derawan.


Aldi hanya mengangguk. Ia meneruskan makannya hingga habis.


Setelah makanannya susah habis, Aldi bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke kamar meninggalkan Pak Derawan dan Tante Dinda yang masih berada di meja makan tanpa berpamitan.


Pak Derawan tidak menyangka jika rasa kecewa Aldi sampai seperti ini. Anak semata wayangnya itu menjadi sangat tertutup, bahkan jika tidak dipaksa untuk berkomunikasi oleh pak Derawan dan Tante Dinda, Aldi mungkin tidak akan berbicara pada mereka.


"Maafin Mas Aldi ya Tuan, nanti saya akan bicara dengan Mas Aldi," ucap Bu Umi seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Nggak usah Bi, saya nggak mau Aldi semakin marah sama saya, biarin aja. Saya mau Aldi memaafkan saya sendiri setelah dia bisa menenangkan dirinya," ucap Pak Derawan.


Tante Dinda tersenyum seraya mengelus tangan pak Derawan dengan lembut.