
Ayana terus memikirkan ucapan Aryasa kemarin. Apa mungkin ia harus membuka hati untuk Aryasa dan membiarkan Aryasa mempunyai tempat di hatinya?
"Ay," panggil Aldi pelan.
Tidak ada jawaban dari Ayana.
"Ay," panggil Aldi lagi dengan nada sedikit keras.
Tetap tidak ada jawaban dari Ayana. Gadis itu tetap asyik dengan pikirannya sendiri.
"Ayana!" ucap Aldi tepat di telinga Ayana dengan keras.
Sontak suara Aldi membuat orang-orang yang berada di dalam kelas melihat ke arahnya dan juga Ayana.
"Ih! Apa sih? Aldi manggilnya biasa aja dong, telinga Ayana masih berfungsi dengan baik kok," gerutu Ayana.
Aldi mendecak. "Gimana gue manggil lo nggak kencang? Orang lo udah gue panggil tiga kali tetap nggak respon," ucap Aldi.
Ayana menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya menyeringai tak berdosa. "Maaf Aldi, Ayana lagi kepikiran sesuatu," ucap gadis itu.
"Lo kenapa, Ay? Lagi ada masalah?" tanya Aldi dengan raut wajahnya yang berubah serius.
"Ayana kepikiran sesuatu," jawab Ayana.
"Apa?"
Ayana bangkit, lalu menarik tangan Aldi untuk ikut dengannya keluar kelas.
Semua mata orang-orang yang berada di dalam kelas tertuju pada Ayana yang menarik tangan Aldi, tidak terkecuali Aryasa, Satria, Nio dan Qausar.
"Mau kemana tuh anak berdua?" tanya Nio pada Satria yang posisi duduknya tepat di depan kursi Aldi dan Ayana.
"Nggak tahu," jawab Satria singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke buku yang sedang ia baca.
Ayana terus menarik tangan Aldi hingga mereka di tangga darurat.
"Ayana mau ngomong sesuatu ke Aldi," ucap gadis itu dengan serius.
"Ngomong apa?" tanya Aldi penasaran.
Ayana menarik napasnya panjang, lalu membuangnya perlahan seraya mengumpulkan keberanian untuk menceritakan pada Aldi tentang ucapan Aryasa kemarin.
"Ay, ngomong dong! Jangan bikin gue penasaran. Lo kenapa?" tanya Aldi.
"Ayana itu kepikiran sesuatu."
"Kepikiran apa? Lo baik-baik aja kan?"
"Kemarin Aryasa nanya ke Ayana, apa Ayana mau buka hati buat Aryasa?" tanya Ayana pada Aldi, setelah seluruh keberaniannya sudah terkumpul.
Deg! Detak jantung Aldi seolah berhenti berdetak. Seketika tubuh Aldi terasa sangat lemas.
"Aldi," panggil Ayana.
Aldi masih terdiam, mencerna ucapan Ayana baik-baik.
Ayana mendecak kesal. "Ih! Aldi kenapa sih?" ucapnya seraya memukul tubuh Aldi pelan.
"Ha? Kenapa, Ay?" tanya Aldi setelah sadar dari lamunannya.
"Dari tadi Aldi tuh dengerin Ayana ngomong nggak sih?" kesal Ayana.
"Maaf Ay," lirih Aldi.
Ayana menghela napasnya berat. Ia memegang kedua pundak Aldi. "Menurut Aldi, Ayana harus berani buka hati buat Aryasa atau nggak?"
Aldi mengembangkan kedua sudut bibirnya. Perlahan tangan Aldi mengelus rambut gadis yang berada di hadapannya dengan lembut.
"Lo nggak harus tanya gue, yang harus lo tanya itu hati lo. Kalau menurut hati lo, lo udah siap untuk menerima orang baru, lo berhak untuk ngelakuin itu," ucap Aldi.
"Semua keputusan ada di diri lo, Ay," tambah Aldi.
Ayana tersenyum senang. "Oke. Ayana akan ikutin kata hati Ayana," ucapnya.
"Apa kata hati lo?"
"Ayana akan coba buka hati untuk Aryasa," jawab gadis itu tersenyum.
Aldi mengacak-acak pucuk rambut Ayana. "Nah gitu dong, ikutin kata hati lo sendiri, bukan kata gue."
"Gue mau ke toilet dulu ya, lo balik ke kelas duluan aja."
"Oke siap bos!"
Aldi berjalan meninggalkan Ayana. Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar ucapan Ayana yang akan membuka hati untuk Aryasa, itu tandanya Aldi tidak punya tempat di dalam hati Ayana dan hanya akan selalu menjadi teman untuk Ayana.
Air mata Aldi tiba-tiba terjatuh tanpa ia sadari. Tidak ingin terlihat cengeng, Aldi pun langsung menyeka air matanya. Semua yang ia lakukan selama tiga tahun akan terus ia lakukan selamanya, yaitu mengalah dan membiarkan Ayana bersama dengan pria yang berhasil mendapatkan tempat di hati gadis itu.
Aldi melihat dirinya di cermin. Mengasihani dirinya sendiri yang hanya mampu menjadi teman Ayana. Semua yang ia lakukan tidak menjadikan dirinya sebagai orang yang mendapatkan tempat di hati gadis itu.
"Gue harus bisa ngejauh dari Ayana, gue harus bisa mengubur perasaan gue dalam-dalam. Lagi pula Ayana udah nggak butuh gue lagi untuk ngejaga dia, udah ada Aryasa yang akan selalu jaga dia dan bikin dia bahagia," ucap Aldi sendiri.
"Ikhlas Di, ikhlas! Ayana udah bisa ngelupain Argatha, udah bisa juga buka hati untuk orang baru. Lo juga harus bisa untuk buat perasaan lo jauh-jauh untuk Ayana," tambahnya lagi.
*****
Aryasa mengajak Ayana untuk ke apartemennya karena Ayana meminta Aryasa untuk menjelaskan ulang materi kuliah yang belum ia pahami.
"Aryasa, kita bisa nggak langsung belajar nggak?" ucap Ayana ketika melihat Aryasa mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas.
"Lo mau makan dulu?" tanya Aryasa.
Ayana mengangguk.
"Mau makan apa? Biar gue pesan. Mau chicken? Burger? Pizza? Rice box atau apa?" tanya Aryasa.
Ayana menggelengkan kepalanya. "Ayana mau makan mie instan. Di apartemen Aryasa ada mie instan nggak?"
Satu alis Aryasa terangkat, ia sedikit heran karena Ayana lebih memilih untuk makan mie instan dibandingkan dengan beberapa makanan yang ia tawari.
"Serius mau mie instan? Nggak mau pesan makanan yang lain aja?" tanya Aryasa memastikan.
"Ayana udah lama nggak makan mie instan, kayaknya enak makan mie instan sore-sore kayak gini," jawab gadis itu.
"Di apartemen Aryasa ada mie instan kan?" tanya Ayana, takut permintaannya malah merepotkan Aryasa.
"Ada kok," jawab Aryasa.
"Kalau lo beneran mau makan mie instan, langsung gue masakin nih," ucap Aryasa seraya bangkit dari duduknya.
Ayana pun ikut bangkit. "Ayo, Ayana bantu masak mie-nya."
"Nggak usah lo tunggu sini aja, biar gue yang masakin untuk tamu gue yang spesial," ucap Aryasa.
"Spesial? Emang Ayana martabak," sahut Ayana terkekeh.
"Udah ayo, Ayana bantuin masak mie."
Aryasa mengangguk, menuruti Ayana, lalu berjalan menuju ke dapurnya. Aryasa membuka laci yang berada di dapurnya dan mengambil dua bungkus mie instan.
"Ayana bantu ya," ucap gadis itu.
Aryasa mengambil dua mangkok dan telur yang berada di dalam kulkas.
Ayana mengambil saucepan dan mengambil air lalu, lalu menyalakan kompor.
Aryasa tersenyum saat melihat apa yang dilakukan Ayana. "Kenapa jadi tamunya yang semangat masak?" goda Aryasa.
Ayana terkekeh seraya membuka bungkus mie instan yang berada yang berada di atas meja dan memasukkan bumbu mie tersebut ke dalam mangkok yang sudah disediakan oleh Aryasa.
Aryasa mendekati Ayana, mengambil karet gelang yang berada di atas meja dan mengikatkannya ke rambut Ayana.
Ayana terdiam, detak jantungnya tidak bisa di kontrol. Ayana merasa sangat lemah jika mendapat sebuah perlakuan kecil yang manis dari seorang laki-laki.
Ayana mengulum bibirnya seraya menahan kedua sudut bibirnya untuk mengembang. Tanpa Ayana sadari, ia tidak sengaja memegang saucepan panas. "Aw.," lirih gadis itu.
"Kenapa, Ay?" tanya Aryasa terkejut.
"Ayana nggak sengaja pegang saucepan," jawab Ayana tertawa.
Aryasa ikut tertawa, Ayana benar-benar gadis yang unik, gadis itu malah tertawa setelah memegang saucepan panas.
"Panas ya, Ay?" Aryasa melihat tangan Ayana yang memerah, karena tidak sengaja memegang saucepan.
Aryasa bergegas mengambil kotak PK3 untuk mengobati tangan Ayana. Ayana semakin tertawa. "Nggak usah Ay, nanti juga sembuh sendiri, udah taruh lagi sana kotak P3K-nya."