
Ayana dan Aldi masuk ke dalam kelas. Suasana kelas masih terbilang sepi, hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang datang lebih awal.
Sorot mata Ayana tertuju pada Aryasa tengah membaca buku seraya menggunakan earphone di kedua telinganya.
Tanpa pikir panjang, Ayana langsung menghampiri pria itu.
Tok! Tok! Tok!
Ayana mengetuk meja Aryasa pelan, membuat pria itu tersadar kalau ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Aryasa menoleh, melihat Ayana yang berada di sampingnya. "Hai," sapa Ayana.
Aldi berjalan ke kursinya, hanya melihat Ayana dan Aryasa dari belakang.
"Aryasa baik-baik aja?" tanya Ayana hati-hati.
"Baik," jawab Aryasa dingin.
"Maaf ya Aryasa, tapi Ayana nggak yakin kalau Aryasa baik-baik aja, soalnya sorot mata Aryasa tuh keliatan kayak ada sesuatu gitu," ucap Ayana.
Aryasa terdiam, ia mematikan musik di ponselnya. Melihat Ayana dengan sorot matanya yang lekat.
"Ayana ada salah ngomong ya? Maaf ya Aryasa," ucap Ayana tidak enak, karena Aryasa terlihat tidak nyaman.
"Widih, masih pagi udah berduaan aja nih," ucap Nio dan Qausar kompak saat memasuki kelas melihat Ayana yang duduk di samping Aryasa.
Ayana langsung bangkit saat melihat teman-teman Aryasa datang. Ayana berjalan ke kursinya yang berada di samping Aldi.
"Udah PDKT nya?" tanya Aldi.
"Ayana nggak PDKT," jawab Ayana.
Aldi mengangguk, mempercayai ucapan Ayana.
Nio duduk di samping Aryasa, lalu berbisik pada temannya itu. "Kayaknya cocok lo sama Ayana."
Aryasa mendesis seraya menjauhkan dirinya dari Nio. "Apaan sih lo!"
*****
Setelah kelas selesai Aldi keluar terlebih dahulu karena sudah tidak tahan ingin ke toilet. Ia bergegas memasukkan bukunya dan berpamitan pada Ayana yang masih mencatat materi yang tadi di ajarkan.
"Ay, gue ke toilet dulu ya, nanti lo tunggu di parkiran aja ya," ucap Aldi yang disetujui oleh anggukan dari Ayana.
Aryasa bangkit, berjalan ke kursi Ayana. "Ay," panggil Aryasa dengan nada bicara yang terdengar dingin.
"Iya?"
"Lo hari ini ada acara nggak?" tanya Aryasa.
Nio, Qausar dan Satria saling melihat satu sama lain saat melihat Aryasa yang sedang berbicara dengan Ayana.
"Nggak ada, kenapa Aryasa?" tanya Ayana.
"Gue mau ngobrol berdua sama lo, bisa?"
Ayana menganggukan kepalanya. "Bisa, mau ngobrol dimana?"
"Lo ikut gue dulu aja, nanti gue kasih tahu," ucap Aryasa seraya melirik ke arah teman-temannya yang menguping pembicaraannya dengan Ayana.
"Okey. Ayo."
*****
Aldi sudah menunggu Ayana di parkiran mobil. Aldi sengaja tidak langsung masuk ke dalam mobil.
"Ay, lo lama banget sih—" ucapan Aldi terhenti saat melihat Aryasa yang berjalan di belakang Ayana.
Ayana mengulum bibirnya, ia sedikit merasa bingung untuk meminta izin pada Aldi kalau hari ini ia pergi dengan Aryasa. Tapi jika dipikir-pikir, kenapa ia harus meminta izin pada Aldi? Memangnya Aldi siapa? Aldi hanyalah seorang teman.
"Aldi," ucap Ayana.
Aldi terdiam.
"Aldi, hari ini Ayana nggak pulang bareng Aldi ya, hari ini Ayana mau pergi dulu sama Aryasa," ucap Ayana.
Ayana terdiam. Apakah Aldi marah? Kenapa Aldi hanya menjawab oke dan masuk ke dalam mobil? Tidak ada kata-kata lain?
Aldi melajukan mobilnya meninggalkan Ayana dan Aryasa yang masih berada di parkiran. Dengan sedikit rasa kesal yang hinggap di dalam dirinya tanpa sadar Aldi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Gue nggak boleh kesal, harusnya gue senang kalau Ayana dekat sama cowok lain, itu tandanya Ayana akan lebih mudah untuk lupain Argatha," ucap Aldi dalam hati.
*****
Aryasa membukakan pintu mobil untuk Ayana, mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Ayana terdiam saat melihat foto seorang gadis yang ada dashboard mobil Aryasa.
"Ini pacar Aryasa?" tanya Ayana.
"Agak susah sih jawabnya," jawab Aryasa.
"Kenapa?" tanya Ayana penasaran.
"Lo mau ketemu dia nggak?" tanya Aryasa.
"Emang boleh kenalan sama pacarnya Aryasa?" tanya Ayana balik.
"Boleh."
"Ayana mau kenalan sama pacar Aryasa."
Aryasa langsung memasang seat belt-nya dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
Sesekali Aryasa melirik Ayana yang tengah mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Lo udah lama temenan sama Aldi?" tanya Aryasa membuka pembicaraan.
Ayana menoleh, "Udah, dari kelas satu SMA Ayana udah satu kelas sama Aldi," jawab Ayana.
"Pacar Aryasa cantik ya," ucap Ayana seraya melihat kembali foto yang ada di dashboard mobil Aryasa.
Kedua sudut bibir Aryasa terangkat sedikit, sangat sedikit. "Iya, cantik."
*****
Aryasa menghentikan mobilnya di sebuah pemakaman umum. "Ayo turun," ucapnya.
Ayana mematung sejenak, melihat sekelilingnya yang dipenuhi oleh makam dan pohon kamboja. "Kok kita ke makam?" tanya Ayana.
"Nanti gue jelasin," jawab Aryasa.
Ayana membuka seat belt-nya, turun dari mobil mengikuti Aryasa.
Ayana merasa bingung kenapa Aryasa mengajaknya ke makam. Namun langkah Ayana tiba-tiba terhenti saat Aryasa berhenti di sebuah makam yang bertuliskan 'Aruna Xheivariz Damar' di batu nisan.
Ayana melihat tanggal lahir dan tanggal wafat yang tertulis di batu nisan. Lahir 6 Desember 2001 dan wafat 26 Februari 2018. Tanggal wafatnya sama persis seperti tanggal wafat Arken.
"Ini makam siapa?" tanya Ayana.
Aryasa berjongkok di pinggir makam seraya mencabut rumput-rumput liar yang berada di pinggirnya.
"Tadi lo bilang kan kalau gue nggak terlihat baik-baik aja dan seperti menyimpan sesuatu," ucap Aryasa.
"Sampai saat ini gue masih nyesal atas kematian Aruna," ucap Aryasa.
Ayana terdiam, mencoba menjadi pendengar yang baik untuk Aryasa.
"Harusnya gue yang di kubur di sini, bukan Aruna. Andai saat itu Aruna nggak ngorbanin dirinya demi gue, pasti yang ada di sini sekarang sama lo bukan gue tapi Aruna."
"Dulu gue pikir Aruna itu kembaran gue, karena mama sama papa gue bilang, gue dan dia itu kembar nggak identik, dan kita percaya itu. Tapi saat orang tua gue cerai, gue dan Aruna terpisah, gue ketemu lagi sama Aruna saat kita berumur tujuh belas tahun, tanpa sengaja dia masuk ke sekolah gue, kisah awal gue sama dia benar-benar lucu, banyak hal yang gue lewatin bareng dia, tapi tiba-tiba ada insiden yang harus ngebuat gue dan Aruna harus berpisah untuk selama-lamanya. Yang bikin gue sedih sampai saat ini adalah Aruna belum tahu kalau sebenarnya gue dan dia nggak kembar, padahal gue mau bilang ke Aruna kalau gue sama dia berhak untuk saling jatuh cinta." Aryasa bercerita dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
"Mungkin nggak seharusnya gue cerita ini ke lo, apalagi kita baru kenal, tapi entah kenapa saat lo bilang gue nggak baik-baik aja dan ada sesuatu yang gue simpan, gue berpikiran kalau lo bisa jadi pendengar yang baik buat gue," tambah Aryasa.
Ayana teringat kembali saat ia kehilangan Arken, apalagi tanggal wafat Aruna sama seperti Arken, hal itu semakin mengingat Ayana pada sosok pria yang mencintainya.
Ayana mengelus punggung Aryasa dengan sangat lembut. "Aryasa nggak boleh nyalahin diri Aryasa sendiri. Ayana yakin, pasti di surga sana Aruna bisa lihat semuanya, terutama bisa lihat Aryasa yang sampai saat ini masih cinta sama dia."
Ayana menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. "Ayana juga sama merasa kehilangan, Ayana kehilangan sosok laki-laki yang cinta sama Ayana, tapi sayangnya Ayana nggak bisa balas perasaannya. Awalnya Ayana nyesal, Ayana marah sama diri Ayana sendiri, tapi lama kelamaan Ayana sadar, kalau hidup terus berjalan. Ayana nggak bisa terus hidup dalam sebuah penyesalan. Jadi Ayana memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri. Ayana harap juga suatu saat nanti Aryasa bisa berdamai dengan diri sendiri," ucap Ayana seraya menunjukkan sebuah senyuman hangat.