School Vibes Season 2

School Vibes Season 2
Bermain Bersama



Ayana mengambil ponselnya dan segera menghubungi Farah. Untung saja Farah segera menerima panggilan dari gadis itu.


"Farah, Farah harus tahu sesuatu," ucap Ayana heboh.


"Apa? Eh, kok suara lo kayak senang gitu, bukannya hari ini Argatha berangkat ke Korea ya?" tanya Farah dari seberang.


Ayana langsung menceritakan apa saja yang terjadi dengannya hari ini, mulai dari keberangkatan Argatha ke Korea, Aldi yang menemaninya, hingga berita Aldi yang ternyata anak sultan, semua Ayana ceritakan pada sahabatnya itu. Tapi ada satu yang tidak Ayana ceritakan pada Farah, yaitu permasalahan keluarga Aldi, karena Ayana tahu itu cukup menjadi rahasia diantara ia dan Aldi.


"Ha? Serius lo?" tanya Farah tidak menyangka, karena di sekolah Aldi terlihat biasa saja, tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan kalau Aldi adalah anak sultan.


"Serius, Ayana aja sampai kaget banget pas lihat mobil yang terparkir di garasinya Aldi, mulai dari mobil Alphard, Mini Cooper, Tesla, bahkan ada mobil Porsche di sana, gila banget," jelas Ayana.


"Dan satu lagi, pas Ayana masuk ke dalam rumah Aldi, para asisten rumah tangganya itu nyapa dengan ramah. Ayana benar-benar nggak nyangka banget sama Aldi," cerita Ayana dengan heboh.


Farah yang mendengar cerita Ayana pun juga tak kalah heboh dari Ayana. Gadis itu juga tidak menyangka.


"By the way, lo baik-baik aja kan, Ay? Nggak sedih?" tanya Farah hati-hati.


Kini Ayana terdiam sejenak, kembali mengingat kepergian Argatha.


"Ay?"


"Ayana baik-baik aja kok, Farah tenang aja," jawab Ayana.


"Syukur deh, kalau mau cerita sesuatu jangan sungkan ya, walaupun kita udah nggak sekolah lagi, lo harus ingat kalau gue ini masih sahabat lo, dan akan selalu jadi sahabat lo."


Ayana terkekeh, "Iya Farah, makasih ya udah mau dengarin cerita Ayana."


"Sama-sama Ay."


Setelah bercerita panjang mengenai kejadian hari ini, panggilan antara Ayana dan Farah pun berakhir. Ayana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memandang langit-langit kamarnya.


"Kenapa Ayana nggak peka sama perasaan Aldi ya? Padahal selama ini tuh Aldi selalu ada buat Ayana," ucapnya.


*****


Pukul sembilan pagi. Aldi sudah menunggu Ayana di depan rumah gadis itu, ia sudah berjanji untuk menemani Ayana bermain hari ini.


Ayana keluar dari rumahnya dengan senyum yang merekah. Ayana melihat Aldi yang tengah menyandarkan tubuhnya di mobil seraya memainkan ponselnya.


Aldi memperhatikan Ayana yang mengenakan sweater biru muda dengan celana jeans dan rambut yang di gulung ke atas, dandanan sederhana yang mampu membuat Aldi terpesona.


"Kirain bakal keluar pakai gaun," goda Aldi.


"Kenapa? Nggak cocok ya? Terlalu biasa ya? Ayana jadi nggak cantik ya?" tanya Ayana berbondong-bondong.


"Abisnya lo lama banget sih, hampir aja gue mengeras jadi batu karena kelamaan berdiri di sini," ucap Aldi nyeleneh.


Ayana memukul tubuh Aldi pelan. "Lebay!"


Aldi tertawa. "Mau kemana kita hari ini?" tanyanya dengan nada bicara yang seperti Dora.


"Enaknya ke mana ya?" tanya Ayana balik.


"Ke Mall?" tanya Aldi.


Ayana menggeleng tidak setuju dengan ide yang diberikan oleh Aldi.


"Hutan? Jurang? Atau ke Korea Utara ketemu bapak Kim Jong Un?" tanya Aldi.


Ayana kembali menggelengkan kepalanya.


Aha! Aldi mendapat ide, ia tahu harus mengajak Ayana ke mana.


"Gue tau kita harus ke mana, Ay," ucap Aldi.


"Ke mana?" tanya Ayana penasaran.


"Lo masuk mobil dulu, nanti juga tahu," ucap Aldi.


"Aldi nggak akan nyulik Ayana kan?"


Aldi terkekeh pelan. "Gue harus mikir seribu kali kalau mau nyulik lo, bukannya untung malah rugi gue," jawab Aldi.


Ayana mendesis pelan. "Ih! Se-merepotkan itukah Ayana?"


"Cepat masuk." Aldi langsung membukakan pintu mobil untuk Ayana seperti biasa, lalu menutupnya dengan sangat hati-hati.


Aldi memutar lagu 'Sekali Ini Saja' di audio mobilnya untuk memecah keheningan diantara ia dan Ayana.


"Aldi nggak akan ngajak Ayana ketemu bapak Kim Jong Un kan?" tanya Ayana.


"Kalau lo mau ketemu nggak apa-apa, gue pesan langsung tiketnya sekarang, kita berangkat ke Korea Utara," jawab Aldi sedikit tertawa.


"Nggak! Ayana nggak mau!"


*****


Aldi dan Ayana sudah tiba di sebuah wahana permainan. Kedua sudut bibir Ayana mengembang. Ia langsung menarik Aldi untuk membeli tiket masuk, karena sudah tidak sabar untuk mencoba wahana-wahana yang ada di dalamnya.


Setelah membeli tiket, mereka pun masuk ke dalam. "Kita mau naik apa dulu nih?" tanya Aldi.


Ayana melihat sekelilingnya, lalu menunjuk wahana kora-kora. "Aldi mau naik itu nggak?"


"Ayo." Aldi langsung menggandeng Ayana dan berjalan ke wahana tersebut.


Ayana memperhatikan wajah Aldi yang nampak tegang. "Aldi berani nggak?" tanya Ayana.


"Berani dong," jawab Aldi.


Setelah mengantri, kini tiba giliran Ayana dan Aldi yang menaiki wahana tersebut. Sekilas wahana tersebut terlihat biasa saja, bahkan banyak orang yang mengira wahana berbentuk perahu besar itu sebagai permainan untuk anak-anak. Padahal, wahana kora-kora mengayun-ayunkan pengunjung dengan kecepatan tinggi. Walaupun tidak melempar-lemparkan pengunjung dari ketinggian, namun wahana tersebut cukup ekstrim untuk orang yang takut ketinggian.


Ayana teriak lepas saat menaiki wahana tersebut, tapi berbeda dengan Aldi, pria itu hanya diam dan berpegangan erat. Setelah turun, Aldi mengatur napasnya.


"Aldi baik-baik aja?" tanya Ayana.


Aldi hanya mengangguk.


"Mau naik apa lagi?" tanya Aldi.


"Aldi, kita main Baku Toki yuk."


Keseruan menabrakkan mobil ke mobil lain, membuat Ayana sangat senang saat menaiki wahana Baku Toki tersebut. Berbeda saat menaiki wahana Kora-Kora tadi, kali ini Aldi terlihat sangat enjoy menaiki wahana tersebut.


Sudah puas mencoba wahana Baku Toki, kini Ayana dan Aldi sedang mengantri untuk naik wahana selanjutnya, yaitu Hysteria. Raut wajah Aldi kembali tegang, bahkan tangan Aldi berkeringat dingin.


Aldi mengatur napasnya saat duduk dan mengeratkan sabuk pengaman, berusaha untuk tenang dan tidak terlihat takut.


Wahana yang bergerak ke atas dan ke bawah dalam waktu singkat itu sangat menguji adrenalin. Saat naik ke atas, Aldi merasa nyawanya seperti di tarik, namun saat di hempas ke bawah, Aldi merasa jantungnya tertinggal di atas.


Ayana menoleh, melihat Aldi yang terus memejamkan matanya tanpa bersuara sedikitpun. "Aldi baik-baik aja kan?" tanya Ayana dengan keras, karena suaranya bertabrakan dengan suara angin.


"Gue takut ketinggian, Ay," jawab Aldi yang masih memejamkan matanya.


Kedua mata Ayana membulat. "Ha? Kenapa Aldi nggak ngomong kalau Aldi takut ketinggian? Terus gimana dong?" panik Ayana, ia takut terjadi sesuatu dengan Aldi.


Aldi terus mengatur napasnya seraya memejamkan matanya hingga wahana tersebut terhenti.


Ayana jadi merasa sangat bersalah karena sudah mengajak Aldi menaiki wahana-wahana yang ternyata membuat Aldi takut.


"Aldi, maaf ya Ayana nggak tahu kalau Aldi takut ketinggian."


"Nggak apa-apa kok, Ay," jawab Aldi masih dengan napas yang terengah-engah.


"Aldi tunggu sini dulu ya." Ayana meninggalkan Aldi yang duduk di kursi yang disediakan di tempat tersebut.


"Aldi minum dulu," Ayana memberikan sebotol air mineral yang ia beli di booth.


Aldi mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga habis. "Makasih, Ay."


"Kenapa Aldi nggak bilang sih kalau Aldi takut ketinggian?" tanya Ayana seraya mengelus-elus punggung Aldi.


"Gue nggak mau nolak ajakan lo," jawab Aldi jujur.


Ayana mengelus tangan Aldi. "Ya ampun Aldi, nggak kayak gini juga dong, kalau terjadi sesuatu sama Aldi gimana?"


Aldi terkekeh pelan, lalu menepuk kening Ayana. "Lebay lo!" ucapnya.


"Kok lebay? Kalau Aldi pingsan gimana? Ayana nggak kuat gendongnya," ucap Ayana.


"Kalau gue pingsan langsung lo tinggal aja, Ay. Nanti juga gue bangun sendiri," ucap Aldi tertawa.


Aldi bangkit dari duduknya, melihat ke suatu wahana yang menarik perhatiannya. "Naik itu yuk," ajak Aldi.


Kini Ayana yang menuruti Aldi, ia tidak ingin menolak ajakan Aldi, apalagi harus mengajak Aldi naik wahana yang membuat Aldi takut lagi.


"Mau naik ini?" tanya Aldi ketika sudah sampai di depan wahana komedi putar.


"Mau dong," jawab Ayana excited.


Siapa yang tidak mau menaiki wahana komedi putar, tidak ada alasan untuk menolak wahana tersebut. Wahana kuda-kudaan yang membawa penumpang berputar secara perlahan, wahana ringan yang cocok sekali untuk pengunjung yang ingin menikmati panorama sekitar.


Ayana sangat senang saat menaiki wahana tersebut, hal itu juga membuat Aldi senang. Suatu kesenangan untuk diri Aldi sendiri saat melihat Ayana tersenyum.


Aldi mengeluarkan ponselnya, lalu memotret Ayana tanpa sepengetahuan gadis itu. Dari sisi samping saja Ayana terlihat sangat cantik dengan rambut yang digulung ke atas melalui kamera ponselnya, gadis itu sangat menggemaskan.


"Ayana senang banget," ucap Ayana ketika turun dari wahana komedi putar.


"Gue juga senang," sahut Aldi.


"Ay, selfie yuk," ajak Aldi.


"Selfie berdua?" tanya Ayana.


Aldi mendesis pelan. "Nggak Ay, sama semua pengunjung Dufan beserta staffnya" jawab Aldi asal.


"Kita selfie berdua lah, masih nanya aja, heran!" tambah Aldi.


Ayana menggaruk kepalanya yang tak gagal seraya menyeringai tak berdosa.


Aldi memasang kamera depan dan berpose dengan jari yang menunjukkan 'pis', begitupun dengan Ayana yang mengikuti pose Aldi.


"Satu.. dua.. tiga.."


"Cis!"


*****


Aldi melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan bagi Aldi, tapi rasa senangnya jauh lebih besar dibandingkan lelahnya.


Tok! Tok!Tok!


Raut wajah Aldi yang berseri-seri seketika langsung berubah saat mendengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian pintu kamar Aldi terbuka.


"Aldi," ucap Pak Derawan yang masuk ke dalam kamar Aldi.


"Siapa yang suruh papa masuk?" ucap Aldi dengan nada bicara yang terdengar ketus.


Pak Derawan menarik napasnya, berusaha untuk sabar saat menghadapi anak semata wayangnya itu. "Perempuan tadi itu pacar kamu?" tanya Pak Derawan seraya berjalan mendekati Aldi yang berbaring di tempat tidurnya.


Aldi merubah posisinya menjadi duduk, melihat Pak Derawan dengan tatapan malas. "Sejak kapan Papa peduli sama aku? Pengen tahu orang-orang di sekitar aku?"


Pak Derawan menatap sedih anak laki-lakinya itu. "Kamu se-marah ini sama Papa, Di?"


Aldi tersenyum miring seraya mengedarkan pandangannya. "Papa masih bisa tanya ke aku? Kenapa Papa dulu waktu nikah sama Tante Dinda nggak tanya dulu sama aku? Aku setuju atau nggak Papa nikah lagi? Kenapa giliran sekarang Papa harus banyak tanya?"


"Udah ya Pa, Aldi nggak mau debat sama Papa, lebih baik Papa pulang sekarang, sekalian tuh ajak pulang istri baru Papa," tambah Aldi.


Pak Derawan menundukkan kepalanya seraya menahan rasa sedihnya. Ia tidak menyangka jika Aldi akan se-marah ini padanya.


"Baik, papa akan pulang," ucap Pak Derawan sedih.


"Tunggu Pa," suara dingin Aldi kembali terdengar.


Pak Derawan menoleh seraya tersenyum, berharap Aldi akan berubah pikiran dan bisa bersikap sedikit lembut padanya.


"Lain kali kalau Papa mau masuk ke kamar aku harus bilang dulu, jangan asal masuk aja setelah ketuk pintu."


Senyum di bibir Pak Derawan memudar, kemarahan anak laki-lakinya itu sepertinya sudah berada dipuncak kemarahan.